|
|
 |
|
|
Hidup
Ini Sandiwara, Bukan Belaka!
|
|
Oleh: Ubaydillah,
AN
|
|
Jakarta,
24 Juli 2003
|
|
Dari
kecil kita mendengar hidup ini sandiwara tetapi karena –
mungkin – ditambah embel-embel “belaka” akhirnya
konotasi yang melekat terkesan hidup ini main-main,
apalagi terkadang masih ditambah di depannya kata “hanyalah”.
Lengkaplah kesan main-main itu. Padahal sandiwara adalah
exhibisi permainan (the game) yang berbeda dengan
main-main. Permainan memiliki konsekuensi penilaian kalah
dan menang. Konsekuensi itu juga melahirkan dampak
psikologis bagi pemain dan bentuk penerimaan di tingkat
penonton. Kalau permainan dapat dimenangkan
maka akan membuat pemain (baca: kita) merasa puas (satisfied)
dan membuat penonton
memberi reward. Sebaliknya jika kalah maka pemain
merasa kecewa (dissapointed) dan penonton tidak punya
alasan riil untuk memberi reward. Tidak hanya itu
saja, bahkan kekalahan itu sering menghabiskan waktu,
energi, dan perhatian kita untuk membuat
“pembelaan-diri” dengan segala cara agar penonton
tidak mengecam kekalahan.
Bagian paling
mendasar agar kualitas permainan (sandiwara)
membuat kita satisfied adalah memahami naskah
sebelum memahami peta geografi panggung dan demografi
penonton. Seorang pemain yang tidak memahami naskah
sandiwara akan membuat space panggung lebih besar
dari space pikirannya. Kalau dipaksakan main maka
akan membuat banyak peristiwa panggung yang tidak
terpikirkan (missing-link) atau mudah terkena
penyakit demam panggung. Kalau hal ini terjadi maka bentuk
pembelaan-diri apapun di hadapan penonton tidak bermanfaat
untuk menangkis peristiwa yang tidak diinginkan terjadi.
Kiasan diatas mewakili
gambaran yang terjadi di seluruh wilayah hidup kita.
Seorang pemimpin perusahaan yang tidak memahami naskah
akan membuat dirinya mudah kecolongan/kebobolan yang tidak jarang justru
berakhir dengan kebangkrutan. Seorang sopir yang space
fisik mobil lebih besar dari space pikirannya akan
membuat ia tidak tahu ke mana mobil harus diarahkan dan
kalau tetap menjalankannya juga maka akan gampang terjadi
kecelakaan. Demikian juga dengan diri kita. Bedanya, kita
adalah pemain sekaligus penyusun naskah. Karena kitalah
yang (mestinya)
tahu peta panggung internal dan eksternal sekaligus
lingkungan khalayak penonton.
|
|
|
Naskah
|
|
|
Pendekatan membuat naskah
skenario dalam konteks organisasi telah dikenal
bertahun-tahun dengan sebutan ‘strategic
thinking’ dan telah
dibuktikan dapat menghasilkan banyak manfaat
bagi organisasi yang menggunakannya, terutama
sekali pemahaman peta (naskah) dari mana memulai (konteks
sejarah), di mana sekarang dan kemana harus melangkah.
Model berpikir strategis ini bertumpu pada lima kriteria,
yaitu: organization, observation, driving force,
view, dan ideal position (dalam: Strategic
management thinking:
Women business center, Dallas TX, 1997).
Kalau kriteria itu kita olah menjadi model
kemasan yang mungkin untuk diterapkan dalam skala mikro (organisasi
personal) yaitu diri kita, maka dapat dijelaskan
sebagai berikut:
|
|
|
1.
|
Organisasi
|
|
|
|
Naskah hidup harus disusun
berdasarkan pertimbangan, pengetahuan dan pemahaman
tentang siapa orang-orang
yang akan terlibat mendukung agar menjadi tontonan
sandiwara yang memuaskan diri kita dan menarik buat
penonton. Kalau tidak terjadi nota kesepahaman
psikologis antara
kita dengan sejumlah orang yang kita ajak bermitra,
akibatnya permainan sandiwara mengecewakan semua pihak.
Dukungan bisa kita ciptakan
dari real
networking (mitra/rekanan) , kelompok master mind
(sahabat/teman), relationship (keluarga). Bentuk
dukungan yang kita butuhkan bisa berupa kontribusi riil
(material) dan kontribusi mental (mental
support). Idealnya, kita membutuhkan kedua hal itu.
Kalau kita membutuhkan uang tetapi mendatangi sosok yang
punya keterbatasan uang juga, maka judul akhirnya
problem plus problem.
Dalam rumah tangga sangat perlu dilakukan
kebiasaan saling mendukung dan ketergantungan antgara
satu dengan yang lain. Seorang suami mungkin memerlukan
kontribusi mental dari istri dalam menjalankan tugas
sebagai kepala keluarga, anak membutuhkan kontribusi
dari orangtua, dsb. Dukungan tidak dapat diperoleh
dengan gratis tetapi – meminjam istilah Covey –
perlu dibentuk kebiasaan
kesalingbergantungan; saling mendukung.
|
|
|
2.
|
Observasi
|
|
|
|
Naskah hidup seyogyanga
disusun berdasarkan pemetaan mental dan observasi
lapangan untuk mengurangi gap antara hal apa yang masih
konseptual dan hal apa yang merupakan faktual.
Agar hasil observasi lebih akurat dan
representative, maka para ahli di bidang model berpikir
strategis menawarkan kiat “Airplane thinking”
yaitu sebuah kiat di mana kita memposisikan diri berada
di atas pesawat mental. Dengan posisi di atas akan
membuat penglihatan kita lebih luas dan menjangkau
seluruh wilayah yang ada di bumi (panggung realitas).
Pesan bijak bilang, orang yang tidak dapat memahami
persoalan dari wilayah strategis (baca: spektrum yang
lebih luas) akan membuat dirinya hanya berputar-putar di
sekeliling problem dan sulit menyusun prioritas (fokus
pengembangan).
Tangga pesawat mental akan
memudahkan kita merasakan adanya keterkaitan antar objek,
membuat kesimpulan menyeluruh, dan mudah membedakan
sekian alternative yang ada. Sebaliknya dalam posisi
mental di bawah akan membuat penglihatan kita terbatas
pada ruangan yang sempit sehingga mudah mengalami stuck
dan tidak tahu alternative. Bisa jadi, naskah yang
disusun dengan keterbatasan observasi tidak dapat
menjabarkan konteks pembahasan
yang lebih luas. Kalau meminjam istilah yang
dipakai anak ABG (anak baru gede), orang yang "kuper"
(kurang pergaulan) membuat dunia yang
sangat luas ini menjadi sekecil daun kelor.
|
|
|
3.
|
Sudut
Pandang
|
|
|
|
Naskah
hidup sebaiknya disusun tidak selamanya berdasarkan
format pandangan lama tetapi harus mendapat sentuhan “different
way of thinking”. Dalam teori berpikir strategis,
ada empat sudut pandang yang perlu dipertimbangan untuk
membentuk skenario yaitu sudut pandang atas lingkungan, marketplace,
proyek, dan ukuran proyek. Sudut pandang itu dibutuhkan
dalam rangka mengidentifikasi hasil yang diinginkan
(outcome), identifikasi elemen kritis, dan mengukur
tingkat kesesuaian antara ide dan tindakan
Untuk
memperjelas, sudut pandang ini dapat kita kaitkan dengan
ungkapan lama bahwa setiap manusia memperoleh
“penghidupan” dengan cara menjalani bisnis penjualan
(business of selling). Siapa pun dan apapun kita
tidak akan mendapatkan sesuatu yang diinginkan - yang
kebetulan masih di tangan orang lain - kecuali ada yang
kita jual kepada mereka. Agar barang kita laku, maka
tidak semestinya kita menjual apapun kepada siapapun dan
kapanpun dengan cara apapaun. Profesi yang dipilih para
nabi sarat dengan sudut pandang yang matang atas keempat
faktor di atas, di mana mereka umumnya memilih profesi
bidang pertanian, kelautan, atau industri
tekstil . Tak terkecuali Inul kalau tidak boyong
ke Jakarta demi “menjual” goyang ngebornya
kemungkinan besar tidak seheboh seperti sekarang ini.
|
|
|
4.
|
Sumber
Kekuatan
|
|
|
|
Dalam teori berpikir
strategis, sumber kekuatan dapat dipetakan menjadi
sumber kekuatan kualitatif (cth: visi, keyakinan
berprinsip, tujuan hidup), sumber kekuatan produktif (cth:
misi dan fungsi), dan sumber kekuatan kuantitatif (cth:
pengalaman, pencapaian prestasi, dll). Peta sumber
kekuatan teoritis itu dapat kita jadikan acuan bahwa
naskah hidup yang kita rumuskan sebaiknya jangan
membabi-buta tetapi sarat dengan perhitungan matang atas
faktor kekuatan pemicu, pendorong, dan penopang.
Naskah hidup harus mampu menjelaskan:
|
|
|
|
-
Visi (tujuan jangka panjang
antara 8 sampai 25 tahun mendatang)
-
Definisi Tujuan (manajemen
keinginan)
-
Prinsip hidup (keyakinan
totalitas dan tidak menerima kompromi)
-
Rumusan Implementasi sesuai
dengan kapabilitas saat ini dan berdasarkan
kemampuan riil menurut apa yang telah kita alami dan
telah kita capai
Kasarnya, jangan sampai
asal-asalan terjun payung nekat tanpa menggunakan
parasut cadangan, karena hidup ini bukan main-main.
|
|
|
5.
|
Destinasi Dinamis
|
|
|
|
Posisi ideal
dalam berpikir strategis menggambarkan keadaan
hidup tertentu yang akan kita nikmati apabila seluruh
kandungan naskah ini dapat diterjemahkan sesuai rencana
mencakup respon penonton, keunggulan yang bakal kita
miliki, dan peluang yang kita raih. Pendek kata, posisi
ideal adalah wilayah untuk mengekspresikan energi
visualisasi kreatif di mana kita akan terinspirasi untuk
meraihnya. Tanpa sentuhan ‘khayalan’ mungkin
kandungan naskah menjadi hambar dan penonton pun tidak
tertarik. Kita bisa menarik pelajaran dani kesuksesan
film Titanic. Awalnya cerita itu adalah besi besar
bernama kapal yang tenggelam di dasar laut tetapi oleh
penulis naskah yang kreatif disulap menjadi sebuah
tragedi yang diiringi dengan petualangan cinta antara
dua kasta yang menarik sehingga membuat penonton
histeris dan ketagihan.
Dalam kaitannya dengan diri
kita, naskah hidup perlu disusun tidak semata-mata
berdasarkan “apa adanya” tetapi perlu melibatkan
khayalan ‘‘apa yang semestinya” terjadi atau harus
terinspirasi dengan cita-cita murni sebagaimana saat
masih bayi. Seperti
kata orang, tidak selamanya orang gagal itu karena
cita-cita hidup yang lebih besar dari kemampuan tetapi
seringkali cita-cita yang (dibikin) berstandar rendah
dan tidak tercapai seratus persen”. Jadi, posisi ideal
bukanlah destinasi akhir tetapi titik proses di mana
akhir adalah awal untuk memulai.
|
|
|
Karakter
Permainan
|
|
|
Penguasaan isi naskah yang
dibuat secara orisinil dan didasarkan pada pendekatan
model berpikir strategis akan menghasilkan kualitas
karakter permainan sebagai berikut:
|
|
|
-
Menciptakan dialog (kerja
sama) yang hidup, dinamis dan komunikatif yang
didasarkan atas pemahaman peranan dirinya dan orang
lain (supportive people). Dialog yang hidup itu
merupakan cermin dari negosiasi dalam berbagai
transaksi kepentingan hidup.
-
Memiliki penguasaan panggung
yang lebih akurat sehingga ketika mendadak terjadi
kegagapan, orang yang telah menguasai naskah gampang
menyusun improvisasi panggung.
-
Memiliki penampilan yang
menarik karena memiliki otoritas mental untuk
berkreasi secara kreatif dan berinovasi, sehingga
tidak membuat bosan atau monoton.
-
Memiliki pemahaman bagaimana
“menempatkan diri” di atas panggung yang tidak
berposisi kontradiktif dengan pemain lain atau
apalagi membelakangi penonton. Meminjam istilah
Musashi, pemahaman demikian dinamakan “ordered
flexibility” yang menggambarkan watak air
berbentuk tanpa egoisme bentuk.
-
Memiliki semangat permainan
yang tinggi karena terdorong oleh cita-citanya.
Semangat ini pada gilirannya akan menciptakan daya
tarik terhadap penonton sehingga mereka menjadi
bersemangat.
|
|
|
Belajar
dari karakter para pemain yang sukses, umumnya
mereka memiliki karakteristik yang sama yaitu:
penguasaan naskah, penguasaan panggung dan penguasaan
emosi penonton. Bagi penonton pemain itulah “the
world”. Kiasan ini bisa membuat kesimpulan serupa
kalau kita belajar dari kehidupan orang sukses bukan
saja dari effect tindakannya tetapi dari isi
pikiran dan karakter bertindak. Ciri khas yang umumnya
sama adalah mereka menguasa dirinya (personal
mastery), menguasai bidangnya (life focus
mastery) dan menguasai reaksi lingkungan. Contohnya:
menurut cerita para orang tua, kalau Pak Karno lagi
berpidato, para petani di Jawa Timur rela membawa
radionya ke sawah karena tidak ingin kehilangan apa yang
akan disampaikan Soekarno.
Memang tidak semua orang
punya panggung dan jumlah penonton sebesar dan sebanyak
Soekarno, tetapi prinsipnya semua orang punya tugas
mendesain naskah hidupnya, punya tugas menguasai pangung,
dan punya tugas menguasai reaksi penonton yang umumnya
hanya berkisar kecaman dan pujaan. Kalau tidak dapat
menguasai reaksi penonton, atau dengan kata lain apabila
anda mengukur sukses hanya sebatas pujaan dan kritik,
maka kegelisahan anda tidak akan pernah berakhir. Reaksi
adalah effect dari aksi menguasai naskah. Semoga
menjadi bahan menyusun naskah hidup anda.(jp)
|
| |
_____________________________
|
|