|
|
 |
Menggali
Kekuatan Diri
|
|
Oleh: Ubaydillah,
AN
|
|
|
Jakarta, 23 Juni 2004 |
|
Siapa yang tak ingin punya
kekuatan? Selama ini kita mengasosiasikan kekuatan dengan
harta dan materi, jabatan, kekuasaan atau keahlian.
Menurut Hukum Sebab-Akibat (The law of cause and
effect) pengertian kekuatan di atas lebih banyak
mengarah pada pengertian kekuatan sebagai akibat dari pada
sebuah sebab. Kepemilikan materi adalah akibat, karena
tidak ada orang yang lahir dengan materi. Jabatan adalah
akibat karena jabatan tidak pernah mendatangi seseorang
kecuali setelah kita memiliki alasan untuk menerima
jabatan (kehormatan). Keahlian pun akibat karena tidak
semua orang yang punya ilmu atau punya pengalaman bisa
dikatakan ahli kecuali setelah ada usaha mensinergikan
keduanya. Jadi, jika ada akibat, pastilah ada sebabnya.
Lalu apakah atau siapakah yang layak menjadi sebab itu?
Jawabannya adalah, kekuatan diri…
|
|
Perjuangan,
Keputusan,
dan
Tanggung
Jawab
|
|
|
Kekuatan
diri adalah kekuatan yang lahir dari dalam diri pribadi
kita. Kalau menurut pengalaman sejumlah orang
berprestasi di bidangnya dan pendapat para pakar SDM,
kekuatan diri ini bisa bermacam-macam bentuknya tetapi
mengacu pada sebuah poin penting berikut ini.
Arnold
Schwarzenegger menyimpulkan bahwa kekuatan itu tidak
didapat dari kemenangan (winning) misalnya saja
kekuasaan, kekayaan atau keahlian tetapi dari perjuangan
meraih kemenangan itu. “Ketika kamu terus berjuang
melawan rintangan dan bersumpah tidak akan menyerah,
maka itulah kekuatan”. Kalau kita menang lalu
kemenangan itu akan membuat kita kuat, tentu ini sudah
pasti, tetapi adakah kemenangan yang diraih oleh
lemahanya perjuangan?
Perjuangan
(baca: Usaha) akan membuat orang dari yang semula bukan
apa-apa berubah menjadi apa-apa; mengubah seseorang dari
yang semula tidak memiliki apa-apa menjadi memiliki apa
yang diinginkan. Sebaliknya tanpa kekuatan dan
perjuangan akan membuat orang yang semula memiliki,
berubah menjadi tidak memiliki; mengubah orang yang
semula ‘menjadi’ ke tidak menjadi.
Kekuatan
diri juga mengacu pada kekuatan keputusan hidup. Semua
orang pada dasarnya sudah mengambil keputusan untuk
hidupnya dan sepanjang hidupnya. Tetapi, ada keputusan
yang mencerminkan kekuatan diri dan ada pula keputusan
yang mencerminkan kelemahan. Keputusan yang pertama
adalah keputusan yang lahir dari dalam diri kita dengan
kesadaran bahwa kita sedang memutuskan sesuatu; dengan
pemahaman bahwa keputusan yang kita ambil tidak
bertentangan dengan aspek ke-diri-an kita, kemampuan
kita dan arah hidup yang kita tuju. Lao-Tzu menyimpulkan
bahwa orang yang sudah menang melawan dirinya (baca:
bisa menyuruh dan melarang) adalah orang yang punya
kekuatan.
Sementara
keputusan yang kedua adalah, keputusan yang
didapat dengan cara menerima semua pendapat orang
lain ATAU menolak semua pendapat orang lain. Menerima
seluruhnya adalah kelemahan sedangkan menolak seluruhnya
adalah kekerasan-kepala (stubborn) yang juga cermin dari
kelemahan.
Menerima dan menolak seluruhnya adalah cerminan
dari keputusan yang bukan dengan kesadaran dan pemahaman
dari dalam melainkan ikut-ikutan pada tawaran (stimuli)
dari luar tanpa proses pengolahan di dalam, atau bisa
jadi karena impulsivitas emosi. Sehingga, ketika
keputusan itu dijalankan, perbuatan yang dilahirkan oleh
keputusan itu biasanya bukanlah aksi (tindakan atas
dasar niat) tetapi reaksi (tindakan tanpa niat).
Kekuatan diri juga bisa
berbentuk tanggung jawab untuk mengambil, memilih dan
melaksanakan tugas-tugas yang diperlukan untuk menjadi
penyebab (sumber solusi) bagi diri kita. Memang, manusia
lahir sebagai akibat dari kreativitas Tuhan. Namun kita
pun diberi tugas untuk mengubah keadaan kita yang
awalnya “hanya” sebagai akibat, menjadi sebab.
Sebenarnya, kita sudah
diberi kemampuan untuk menjadikan tugas sebagai sebab,
namun kemampuan itu masih bersifat laten (tidak actual/termanifestasikan).
Kita sendiri yang harus menggali, mengasah dan
mengembangkan kemampuan yang ada (potensi, prestasi,
keahlian, ketrampilan), yang sejauh ini masih bersifat
latent.
Agar kita tidak terlalu
lama “menganggur” dan jadi “passive” dalam
status “akibat”, adalah dengan mengubah paradigma
berpikir kita, dan memperbaharui pemahaman diri –
bahwa kita adalah penyebab. Konsekuensinya, kita harus
makin bertanggung jawab pada hidup dan diri kita sendiri,
karena kitalah yang menginginkan hidup ini menjadi lebih
baik. Besar-kecilnya rasa tanggung jawab seseorang
terhadap perubahan status hidupnya, dari akibat menjadi
penyebab – akan menentukan besar-kecilnya aksi serta
usaha yang dikeluarkan untuk meraih prestasi. George
Washington Carver menyimpulkan bahwa 99 % kegagalan,
justru berasal dari sikap mental kita yang membiarkan
diri ber-status “akibat”.
Selama kita tidak pernah
mengaktifkan potensi itu menjadi prestasi atau pun
kemampuan aktual, selama itu pula kita tidak akan pernah
tahu kelebihan kita.
Seperti yang dikatakan oleh Martina Grim bahwa
kreasi yang kita hasilkan, sesungguhnya merupakan materi
yang menunjukkan siapa diri kita. Selama kita
menyalahkan orangtua, lembaga, atau lingkungan sebagai
penyebab kelemahan kita, selama itu pula kita tidak
pernah berusaha untuk memperkuat diri. Kathy Simmons
dalam “EQ: What Smart Managers Know” (Executive
Update: 2001) menyimpulkan bahwa kekuatan diri, akan
selalu dibangun di atas keahlian dan kecerdasan
emosional. Oleh sebab itu, manusia sebaiknya bersikap
proaktif dalam menyambut dan mengambil tanggung jawab
demi mengubah keadaan diri sendiri, dari sumber
persoalan – menjadi sumber solusi.
|
|
|
Proses
Belajar
|
|
Ada
beberapa strategi yang mungkin sekali dapat kita pilih
sebagai cara untuk menambah kekuatan diri, yaitu:
|
|
|
a. |
Learning
to be
|
|
|
|
Kalau
materi adalah kekuatan, keahlian adalah kekuatan atau
jabatan adalah kekuatan, maka semua itu benar dan semua
itu sudah diketahui oleh hampir setiap orang. Tetapi,
hanya sedikit orang yang tahu, apa yang membuat diri kita
memiliki kekuatan internal yang diinginkan. Memang,
“memiliki” (to get – to have) adalah
keinginan umum semua orang -
sementara, “menjadi” belum tentu keinginan
semua orang. “menjadi” atau to be, adalah
sebuah keinginan spesifik untuk mewujudkan apa yang sesuai
dengan kesejatian diri kita.
Charles
Handy pernah menulis yang isinya antara lain menyayangkan
mengapa sebagian besar orang mengedepankan cara berpikir
untuk memiliki lebih dulu (to get / to have),
bukannya “menjadi” (to be) lebih dulu. Tidak
berarti salah, tetapi memiliki itu lebih banyak bernuansa
“akibat” yang diciptakan oleh “sebab”. Berpikir
untuk “Memiliki” (to get/to have) bersumber
dari pendekatan hidup yang memposisikan kekuatan eksternal
sebagai Sebab yang berarti diri kita adalah Akibat. Jadi,
dalam konteks demikian, diri kita menjadi peserta pasif
dalam hidup kita sendiri, bukan lah pelaku atau sebab,
melainkan obyek penderita – alias akibat.
Pendapat
di atas rasa-rasanya sudah klop dengan ajaran leluhur kita
yang mengutamakan cita-cita (willing to be) lebih
dulu. Hampir semua orangtua sudah terbiasa menanamkan
semangat untuk “menjadi” (to be) lebih dulu
kepada putera-puterinya ketimbang semangat untuk
“memiliki” (to get/to have). Dari tipikal
kehidupan masyarakat yang demikian ini, seharusnya
sebagian besar dari kita dipastikan sudah mempunyai
gambaran mental untuk menjadi (to be). Persoalan
bahwa ada gambaran mental yang masih cocok dan ada yang
meleset sama sekali, atau ada yang belum cocok, tentu ini
urusan lain alias tergantung pilihan kita dan
proses-proses kehidupan yang akan kita lalui: bisa
diperkecil, disesuaikan, diperjuangkan, di-break-down,
dilanjutkan dan seterusnya.
|
|
|
|
b. |
To know |
|
|
|
Untuk
“menjadi” menurut apa yang kita inginkan, jelas
bukan gratis tetapi membutuhkan cakupan pengetahuan yang
disyaratkan oleh hukum alamiah dan tatanan ilmiah yang
sifatnya sangat spesifik, yaitu : tergantung pada
pilihan kita (depend on our own choice).
Bagaimana agar kita mengetahui apa yang dibutuhkan untuk
bisa merealisasikan proyek-proyek pengembangan diri kita
untuk “menjadi” ? Ada beberapa cara :
▪
1. Mengetahui
diri kita (self-knowledge): keinginan / peluang
kemampuan / kekuatan, hambatan dan kelemahan.
▪
2. Mengetahui
situasi dan kondisi, tuntutan dan tantangan yang akan,
perlu dan harus dihadapi sebagai konsekuensi dari
pilihan yang kita ambil untuk “menjadi”
▪
3.Mengetahui
beberapa alternative cara yang disajikan oleh berbagai
pengetahuan dan pengalaman kita untuk menjadi seperti
apa yang kita inginkan.
Pengetahuan
menyeluruh dan spesifik tentang aspek diri, kita akan
membuat kita tahu tentang hal yang penting dan yang
tidak penting bagi kita. Kalau kita menyimpulkan gelar
akademik itu tidak penting tetapi keinginan kita untuk
“menjadi” (to be) secara riil mensyaratkan
adanya gelar itu, berarti pemahaman kita belum akurat.
|
|
|
c. |
To
Do |
|
|
|
Dalam
hal kekuatan, unsur mendasar dalam melakukan adalah
kecocokan. Melakukan asal melakukan (ber-aktivitas harian)
sudah dijalani oleh semua orang, tetapi sedikit orang yang
menjalankan apa yang memang cocok dengan pengetahuan dan
keinginan – sesuai dengan tujuannya untuk “menjadi”.
Melakukan seperti ini jelas membutuhkan rumusan tujuan (goal),
sasaran kecil (target) dan perencanaan beraksi (action
plan) yang fleksibel dan kokoh sehingga kita tidak
terjebak dalam praktek yang menjadikan aktivitas sebagai
tujuan.
|
|
|
Menjadi
(To be), Mengetahui (To know), dan
Melakukan (To do) adalah tiga elemen yang punya
relevansi tinggi dengan kadar perjuangan, bobot
keputusan ber-aksi, dan kadar tanggung jawab.
Tinggi-rendahnya keinginan kita untuk “menjadi”
berhubungan dengan tinggi-rendahnya daya juang kita
mengalahkan tantangan. Keinginan (standar prestasi) yang
rendah akan menggoda kita untuk melihat tantangan kecil
menjadi besar dan sebaliknya keinginan yang tinggi akan
memberikan pil “ketidakrelaan” kalau kita sampai
dikalahkan oleh tantangan kecil maupun besar.
“Mengetahui”
(to know) punya hubungan dengan keputusan untuk
bertindak (decision to do). Seperti kata Jhon C.
Maxwell, kalau kita benar-benar tahu apa yang kita
inginkan maka tidak sulit bagi kita untuk melakukan apa
yang kita ketahui. Dengan menjalankan keputusan menurut
apa yang dijabarkan oleh pengetahuan yang kita dapatkan
dari konsep dan praktek, akan membuat keputusan itu
bergerak maju (beraksi), dari dalam ke luar, bukan hanya
aktivitas, kesibukan dan gerakan yang tidak jelas
arahnya (reaksi).
“Melakukan”
(to do) punya hubungan dengan kemampuan kita
menjawab (tanggung jawab). Aksi seseorang tidak lahir
dari pemikiran, tetapi lahir dari kesediaan untuk
menjawab tanggung jawab atas dirinya”, begitulah kata
Dietrich Bonhoeffer. Tanggung jawab adalah aksi yang
bisa melahirkan solusi, kalau tidak seluruhnya ya
sebagiannya atau minimalnya tidak menambah jumlah
problem. Semoga bermanfaat dan selamat mempraktekkan!
|
| |
_____________________________
|
|