|
Mengapa
optimisme diperlukan?
Apakah Anda seorang yang optimis dalam menghadapi
bulan-bulan ke depan di tahun 2007 ini? Tunggu dulu.
Kita orang optimis atau pesimis tidak penting diutarakan
secara verbal di hadapan orang lain. Kitalah orang yang
paling tahu apakah kita seorang yang optimis atau
pesimis. Tingkat ke-optimis-an dan ke-pesimis-an kita
tidak bisa diukur dengan ucapan mulut. Mulut kita memang
bisa saja mengatakan kita ini orang optimis. Meski
begitu, jika yang kita praktekkan sehari-hari justru
bertentangan dengan kaidah-kaidah optimisme, maka kita
bukanlah orang yang optimis.
Optimisme memiliki dua pengertian. Pertama, optimisme
adalah doktrin hidup yang mengajarkan kita untuk
meyakini adanya kehidupan yang lebih bagus buat kita (punya
harapan). Kedua, optimisme berarti kecenderungan batin
untuk merencanakan aksi, peristiwa atau hasil yang lebih
bagus. Kalau dipendekkan, optimis berarti kita meyakini
adanya kehidupan yang lebih bagus dan keyakinan itu kita
GUNAKAN untuk menjalankan aksi yang lebih bagus guna
meraih hasil yang lebih bagus.
Optimisme seperti itu dalam prakteknya sangat diperlukan.
Ini antara lain dengan alasan-alasan:
Pertama,
energi positif (dorongan). Kalau bicara harapan sebatas
harapan (baca: harapan mulut), tentunya kita sudah tahu
kalau harapan itu tidak bisa mengubah apa-apa. Lalu
untuk apa kita membutuhkan harapan (optimisme)? Ini
untuk mengeluarkan energi positif. Untuk menciptakan
langkah dan hasil yang lebih bagus dibutuhkan harapan
yang lebih bagus agar energinya lebih bagus. Memiliki
harapan yang lebih bagus akan memunculkan energi
dorongan yang lebih bagus.
Sekarang, coba kita bayangkan apa yang
akan kita rasakan seandainya kita sudah tidak memiliki
harapan adanya kehidupan yang lebih bagus di masa datang?
Kemungkinan yang paling dekat adalah kita tidak
terdorong untuk melakukan sesuatu yang lebih bagus,
terasa hambar, terasa biasa-biasa saja. Kehidupan yang
lebih bagus memang tidak bisa diwujudkan dengan hanya
harapan, namun untuk meraihnya dibutuhkan harapan yang
bagus. Karena itu ada yang mengatakan, selama harapan
itu masih ada berarti kehidupan kita masih ada. Collin
Powell sendiri mengakui: “Optimism is a force
multiplier.
Kedua,
perlawanan. Tingkat perlawanan seseorang terhadap
masalah atau hambatan yang dihadapinya juga terkait
dengan tingkat keoptimisannya. Orang dengan optimisme
yang kuat biasanya punya perlawanan yang kuat untuk
menyelesaikan masalah atau hambatan. Sebaliknya, orang
dengan optimisme rendah (pesimis), biasanya punya
tingkat perlawanan yang lebih rendah, cenderung lebih
mudah pasrah pada realitas atau keadaan ketimbang
memperjuangkannya.
Secara agak lebih ekstrim sedikit, kita bisa membagi
manusia dalam menghadapi masalah / hambatan itu menjadi
tiga kelompok, seperti yang ditulis Less Brown dalam
“Learn To Be Winner” (Top Achievement: 2000]. Ketiga
kelompok itu adalah the winner (pemenang), the
loser (pecundang) dan the potential winner (calon
pemenang). Menurut Kevin Costner, yang disebut pemenang
itu adalah orang yang jatuh, gagal dan kurang, tetapi
pada akhirnya menang karena pendirian, keyakinan dan
komitmen yang dipegangnya dengan teguh untuk mencapai
impiannya."
Apa yang membuat seseorang menjadi pemenang dan
pecundang? Tentu banyak faktor yang terlibat. Tapi kalau
mau melihat kondisi faktor internal, tentu peranan
harapan atau optimisme tidak bisa dielakkan. Kalau mau
pakai pedoman pendapat Greg Phillip (The ultimate
potential: 2004), faktor internal yang terlibat itu
adalah: a) harapan, b) keyakinan, c) kontrol-diri, dan
d) sikap mental.
Ketiga,
sistem pendukung. Harapan optimisme juga berfungsi
sebagai sistem pendukung. Kalau kita menginginkan
keberhasilan, lalu kita berpikir berhasil, punya kemauan
untuk berhasil, punya sikap yang dibutuhkan untuk
berhasil dan melakukan hal-hal yang dibutuhkan untuk
keberhasilan itu, maka logikanya kita pasti berhasil.
Soal kapannya itu urusan lain.
Yang menjadi masalah buat kita adalah kita menginginkan
keberhasilan tetapi kita malas-malas (tidak punya
kemauan), punya sikap yang tidak mendukung, berpikir
negatif, harapannya pesimis, dan lebih sering tidak
melakukan hal-hal yang kita butuhkan untuk berhasil.
Ibarat mesin, jika yang aktif hanya satu sistem,
sementara sistem yang lain mati atau bekerja untuk
hal-hal yang tidak kita inginkan, maka operasi sistem
itu kurang optimal.
Intinya, harapan di sini bukan tujuan, apalagi tempat
bergantung. Kita tidak boleh menggantungkan harapan pada
harapan itu, melainkan pada usaha. Harapan di sini
adalah metode atau jalan agar kita bisa mengeluarkan
energi positif, bisa mengatasi masalah secara positif
sepositif harapan kita dan bisa memiliki mesin prestasi
yang seluruh sistemnya bergerak secara positif.
Sebuah temuan mengungkap bahwa orang yang memiliki
harapan optimis, umumnya memiliki kualitas di dalam diri
yang antara lain:
§ Punya
fokus langkah yang selektif, punya sasaran usaha yang
jelas
§ Bisa
menerima fakta hidup dengan kesadaran, tanpa banyak
mengeluh atau memprotes
§
Memiliki bentuk keyakinan yang membangkitkan
§
Punya perasaan diberkati rahmat Tuhan
§
Punya kemampuan untuk menikmati kehidupan
§ Punya
kemampuan dalam menggunakan akal sehatnya dalam
menghadapi tantangan hidup
§ Punya
kemampuan untuk menjalankan agenda perbaikan diri secara
terus menerus
§ Punya
penghayatan yang bagus terhadap praktek hidup yang
dijalankan sehingga bisa membedakan praktek yang salah
dan praktek yang benar; praktek yang tepat dan praktek
yang menyimpang
§
Punya kepercayaan yang bagus terhadap kemampuannya
§
Punya perasaan yang bagus terhadap dirinya
Apa yang
perlu dihindari dalam berharap?
Meski untuk berharap itu tidak ada peraturannya, namun
berdasarkan pengalaman dan kebiasaan, ada beberapa hal
yang akan lebih bagus kalau dihindari. Beberapa hal itu
antara lain:
Pertama, harapan mulut (wish). Seperti apa
harapan mulut itu? Kalau kita berharap adanya hari esok
yang lebih bagus, namun itu hanya kita gunakan dalam
ucapan atau tulisan, tanpa diiringi dengan tujuan,
perencanaan, strategi, tehnik dan pelaksanaannya (aksi),
ya ini namanya harapan mulut. Biasanya, harapan seperti
ini tidak mengubah apa-apa. Harapan seperti ini sama
seperti fantasi atau keinginan-keinginan yang sifatnya
masih umu.
Para pakar pengembangan diri umumnya membedakan antara “wish”
dengan “goal” (tujuan atau keinginan yang jelas).
Katanya, orang lemah biasanya hanya punya wish;
sementara orang kuat biasanya memiliki goal.
Goal adalah keinginan dengan sasaran yang jelas dan
jelas-jelas kita usahakan. Sekedar punya wish
dalam pengertian seperti ini, tentu semua orang bisa.
Sayangnya, praktek hidup ini tidak peduli dengan
berbagai wish yang kita ucapkan.
Kedua, terlalu berharap (over-expectation).
“Jangan terlalu berharap nanti kecewa sendiri”, itu
pesan yang sering kita dengar. Memang ini tidak pasti
tetapi biasanya begitu. Terlalu berharap itu berbeda
dengan memiliki harapan yang kuat (optimis). Harapan
yang kuat berujung pada aksi atau usaha yang kuat.
Seperti yang sudah kita bahas, optimisme itu artinya
kita menciptakan keyakinan dan menggunakannya dalam
bertindak. Sementara, terlalu berharap biasanya hanya
berhenti pada mengharap, untuk mengharap dan selalu
mengharap. Ada pepatah yang berpesan begini: “Jika kau
mengharapkan sesuatu, jangan terlalu mengharapkannya.”
Bahkan Samuel Somarset mengamati bahwa terlalu
mengharapkan sesuatu kerapkali malah mengundang
datangnya sesuatu yang tidak kita harapkan. Inilah
anehnya hidup itu.
Ketiga, berharap dengan setengah takut (ragu-ragu).
Biasanya, harapan seperti ini lahir dari ketidaktahuan
kita secara akurat. Jika kita mengharapkan hari esok
yang lebih bagus, namun kita tidak tahu apa alasan kita
berharap seperti itu, ya mau tidak mau harapan kita
tidak steril. Harapan kita masih bercampur dengan
ketakutan dan keragu-raguan. Seperti kata Coach Bear
Bryant, yang membedakan orang per-orang itu bukan
harapannya pada keberhasilan, tetapi persiapannya. Semua
orang mengharapkan keberhasilan, tetapi hanya orang yang
punya persiapan matang yang berpeluang untuk berhasil.
Keempat, menggantungkan harapan pada
kenyataan.Kalau kita hari ini punya harapan cerah karena
sehabis terima bonus tahunan, kemudian bulan depan kita
berharap lesu karena tidak ada bonus, ini namanya
menggantungkan harapan pada kenyataan. Artinya, kita
men-set harapan itu sesuai dengan kenyataan-sementara
yang kita hadapi.
Pada ukuran yang wajar, bisalah kita sebut ini
kelemahan-manusiawi yang wajar. Dibilang tidak bagus
memang tidak bagus tetapi ini dimiliki oleh semua
manusia. Nah, agar kewajaran ini tidak membuahkan
kerugian atau kefatalan, maka kita diajarkan untuk
menggantungkan harapan pada Tuhan(iman), bukan pada
realitas. Artinya, kita perlu belajar menemukan alasan
yang kuat untuk bisa memiliki harapan optimisme,
terlepas realitas-sementara yang kita hadapi. Seperti
pesan Einstein, orang optimis bisa melihat sinar di
ujung kegelapan; bisa melihat tanda-tanda peluang di
balik kesulitan.
Kelima, mempertentangkan harapan dan kenyataan.
Apa yang membuat orang stress berkepanjangan? Apa yang
membuat orang terkena konflik-diri terlalu lama? Salah
satunya adalah kurang bisa me-manage gap antara harapan
dan kenyataan. Orang yang bisa me-manage, biasanya
menjadikan kenyataan sebagai dorongan untuk mewujudkan
harapannya. Mereka bisa menggunakan ketidakpuasan
sebagai dorongan untuk menciptakan perubahan. Banyak kan
orang yang akhirnya mendapatkan “berkah” dari kenyataan
buruk yang dihadapinya?
Sebaliknya, orang yang belum bisa me-manage, kerapkali
menjadikan kenyataan ini sebagai killer harapannya.
Mereka menjadikan kenyataan sebagai penyubur apatisme
dan pesimisme. Meski sama-sama menghadapi kenyataan yang
sama, namun karena sikap mentalnya berbeda, ya akan
berbeda hasilnya. Tidak sedikit kan orang yang selalu
menuding kenyataan dan menjadikan kenyataan itu sebagai
dalil pembenar untuk hopeless?
Bagaimana
menciptakan harapan yang optimis?
Harapan optimistik berbeda dengan harapan pesimistik.
Bedanya dimana? Bedanya adalah, yang pertama harus
diciptakan, sedangkan yang kedua tidak usah diciptakan.
Pertanyaannya adalah, bagaimana menciptakan harapan
optimistik itu? Di bawah ini ada beberapa pilihan yang
bisa kita jadikan acuan:
Pertama, memiliki tujuan atau sasaran aktivitas
yang jelas. Apa tujuan yang hendak anda raih di tahun
2007 ini? Kalau anda pelajar/ mahasiswa, tentukan tujuan
atau standar prestasi yang benar-benar ingin anda raih.
Kalau anda seorang karyawan, tentukan tujuan atau
standar prestasi yang hendak anda wujudkan. Kalau anda
seorang pengusaha, tentukan tujuan usaha anda yang lebih
tinggi dari yang kemarin.
Banyak studi yang sudah mengungkap bahwa keoptimisan
seseorang itu terkait dengan “internal value” dan
“standard”. Memiliki harapan optimistik tidak bisa
dibuat-buat. Sejauh di dalam batin kita ada standar, ada
sasaran atau tujuan yang benar-benar berarti buat kita
dan benar-benar kita perjuangkan, maka secara otomatis
harapan itu muncul. Seperti kata C.R. Synder, Ph.D,
penulis buku “The Psychology of Hope”, bahwa menentukan
tujuan merupakan cara untuk membangkitkan harapan.
Kedua, ciptakan opini-diri yang bagus. Orang itu
memang bermacam-macam. Terkait dengan opini-diri ini,
ada orang yang meng-opini-kan dirinya sebagai orang
lemah, tidak memiliki apa-apa, merasa tidak sanggup
untuk merealisasikan tujuannya, merasa tidak punya
alasan untuk berhasil, merasa tidak memiliki resource
yang dibutuhkan, dan lain-lain. Ada juga orang yang
berusaha meng-opini-kan dirinya sebagai orang kuat
(warrior), merasa yakin dan mampu akan dapat mewujudkan
tujuannya, merasa punya alasan yang kuat untuk berhasil,
tahu apa yang harus dilakukan, tahu resource yang bisa
digunakan, dan seterusnya.
Opini-diri mana yang lebih positif untuk kita miliki?
Tentu saja yang kuat. Opini-diri yang kuat memang tidak
otomatis dapat merealisasikan tujuan-tujuan atau sasaran
yang kita buat. Tetapi perlu diingat, untuk
merealisasikan tujuan itu dibutuhkan opini-diri yang
bagus. Coba saja kita membiarkan opini-diri yang lemah,
mana mungkin kita sanggup untuk sekedar punya harapan
yang optimistik.
Jhon C. Maxwell pernah berpesan begini: “Ketika anda
mengubah pikiran anda maka keyakinan anda akan berubah.
Ketika anda mengubah keyakinan anda maka harapan anda
berubah. Ketika anda mengubah harapan anda maka sikap
anda akan berubah. Ketika anda mengubah sikap anda maka
prilaku anda akan berubah. Ketika anda mengubah prilaku
anda maka performansi anda akan berubah. Ketika anda
mengubah performansi anda maka hidup anda akan berubah.”
Ketiga, miliki sikap dan pandangan yang sehat
tentang hidup ini. Konon, salah satu penyebab yang
membuat orang gagal memiliki harapan optimistik adalah
sikapnya yang kurang sehat. Bagaimana sikap dan
pandangan yang kurang sehat itu? Salah satunya adalah
ketika kita tidak bisa menerima kenyataan dengan
berbagai macam warna-warninya (fakta kehidupan). Ketika
kita tidak belajar menerima kehidupan ini seperti adanya
untuk kita usahakan seperti yang kita inginkan, memang
yang kerap terjadi malah membikin kita mudah terkena
stress atau tekanan. Kalau sudah begini, harapan kita
juga terancan. Tetaplah berharap akan adanya kehidupan
yang lebih bagus tetapi juga harus mengakui dengan
kesadaran akan fakta hidup yang ada: terkadang ada OK
dan terkadang tidak OK.
Keempat, temukan model. Model yang dimaksudkan di
sini adalah orang. Temukan orang yang kira-kira budaya
hidupnya bisa anda contoh. Temukan orang yang kira-kira
pendapatnya tentang diri anda dan dunia ini bisa
membangkitkan anda. Temukan orang yang bisa
meng-inspirasi anda. Saran Mark Twin, jangan mendekati
orang yang ucapannya malah menghancurkan harapan anda (menggembosi).
Jangan pula mencontoh orang yang tidak punya harapan
optimistik apabila kita ingin punya harapan optimistik.
Orang seperti itu bisa orang yang anda di sekeliling
anda, kenalan, atau orang yang anda kenal lewat karyanya
saja. Di majalan Fast Company edisi 20 Desember 2006 ini,
ada kalimat yang bagus untuk kita ingat. Kalimat itu
bunyinya begini:
"Often the most important people in our network are
those who are acquaintances."
Acquaintances itu belum menjadi friend
apalagi close friend, tetapi kenalan.
Intinya, kita tidak perlu pusing mencari model orang
karena ada dimana-mana dan bisa siapa saja.
Kelima,
tingkatkan keimanan. Salah satu esensi keimanan adalah
adanya kesadaran bahwa kita ini “dimiliki” (being
owned) oleh Tuhan atau munculnya perasaan
“kebersamaan” dengan Tuhan. Semakin kuat keimanan itu,
semakin kuat juga kesadaran itu dan rasa kebersamaan itu.
Punya kesadaran yang kuat bahwa kita ini “dimiliki” akan
membuat kita tidak mudah merasa sendirian atau merasa
tidak memiliki siapa-siapa dalam menatap masa depan.
“Keimanan”, menurut kesimpulan Margo Jones, adalah
prasyarat bagi semua usaha.
Semoga bermanfaat !
|