|
Memanipulasi
pendapat berangkat dari tesis berpikir bahwa keharuman
reputasi perlu diciptakan dengan mengubah / mengontrol
pendapat orang lain. Tesis
demikian jelas tidak rasional. Meskipun iklan
bisa kita bikin tetapi keputusan tentang bunyi pendapat
tetaplah merupakan wilayah yang di luar kontrol. Selain
itu, memanipulasi sama dengan
mengangkat kedudukan orang lain sebagai penyebab
atas diri kita sementara posisi kita bergeser menjadi
akibat. Pergeseran posisi ini bisa menghambat
proses perkembangan diri untuk menjadi lebih baik
dan lebih maju.
Pergeseran dapat
mengakibatkan praktek menyerahkan naskah-diri asli
kepada orang lain. Praktek ini akan mematahkan proses
yang bekerja menuju ‘the real self’
digantikan oleh proses menciptakan ‘the perceived
self’, definisi-diri bayangan. Padahal di dalam ‘the
real self’ itulah
keunggulan-diri berada yang akan kita gunakan
untuk menelusuri arah menuju ‘the ideal self’.
Di dalam ‘the real self’ itulah kunci fokus
dan kepemilikan tanggung jawab hidup bisa
kita temukan. Begitu naskah asli kita serahkan
maka orang lain akan mengisi sesuai dengan kepentingan
pribadinya (self interest).
Pergeseran
ini juga dapat menyuburkan ketidakyakinan atas prinsip
kebenaran yang kita yakini benar. Bentuk ketidakyakinan
itu bisa berupa perilaku mencari muka yang pada umumnya
kita
masukkan ke dalam perilaku terlarang secara
moral. Bentuk mencari muka paling halus dan perlu
diwaspadai adalah ketika kita khawatir bahwa perilaku
mencari muka oleh orang lain akan bisa mengalahkan kita.
Kekhawatiran demikian merupakan produk ketidakyakinan
akan kebenaran prinsip yang kita yakini benar. Meskipun
di mulut kita menyalahkan tetapi kekhawatiran itu bisa
mendorong kita melakukan perilaku yang sama apabila
muncul kesempatan dan keahlian.
Pergeseran posisi juga
mengakibatkan munculnya virus ketidakpercayaan diri.
Bentuk dari ketidakpercyaan diri adalah apabila kita
menjadikan diri kita bukan sebagai sumber kualitas hidup
yang kita inginkan. Ketidakpercayaan itu membisikkan
kalimat bahwa untuk meraih reputasi yang harum kita
membutuhkan sesuatu yang tidak kita miliki saat ini
tetapi dimiliki oleh orang lain.
Lingkaran setan akibat itu
tidak akan ketemu ujung-pangkalnya kalau tidak dipotong
dengan penegasan bahwa kita adalah sebab dari kualitas
hidup yang kita inginkan. Kalau kita berpikir bahwa
menjaga reputasi tanpa manipulasi itu tidak bisa kita
lakukan karena kondisi yang melilit hari ini dan lilitan
itu diakibatkan oleh keterbatasan dan keterbatasan itu
diakibatkan oleh warisan dan warisan itu juga
diakibatkan oleh warisan masa lalu, maka yang terjadi
hanyalah self excusing yang membawa kita pada
wilayah hidup dengan perasaan hampa kemampuan (rasa
tidak berdaya).
Kalau dikembalikan pada
hukum keterkaitan (The law of interconnectedness) di
dalam diri kita, maka ketiga akibat pergeseran itu tidak
saja bekerja di wilayah hubungan kita dengan orang lain
melainkan hubungan kita dengan diri sendiri. Pengalaman
Mahatma Gandhi menyimpulkan bahwa anda tidak bisa
melakukan sesuatu secara benar di salah satu sendi
kehidupan ketika anda melakukan kesalahan di sendi
kehidupan lainnya.
Contoh yang sering
dikemukakan adalah ego kebenaran sendiri. Ternyata hal
tersebut tidak bisa kita mengatakan hanya berakibat
buruk kepada
orang lain akan
tetapi dampak
buruk paling besar adalah diri kita. Kalau dikaji
berdasarkan temuan kecerdasan emosi (Emotional
Intelligence) maka egoisme kebenaran sendiri hanya
mengakibatkan satu bahaya (tidak langsung)
kepada orang lain tetapi tiga bahaya (langsung)
kepada kita. Interaksi tidak emphatic adalah
dampak buruk yang secara tidak langsung menimpa orang
lain. Sementara hilangnya kesadaran diri yang mengakibatkan
terkuburnya bakat (keunggulan), hilangnya keseimbangan
diri yang mengakibatkan pikiran kita menjadi sampah
masalah, dan hilangnya tanggung jawab-diri yang
mengakibatkan nasib kita dibentuk oleh orang lain
merupakan dampak langsung dari egoisme kebenaran sendiri.
|