|
|
 |
Apakah
Definisi Kegagalan Bagi Saya ?
|
|
Oleh: Ubaydillah,
AN
|
|
Jakarta, 21 Mei 2004 |
|
Ketika jumlah kegagalan Edison sudah mencapai 9999,
seorang wartawan bertanya kepadanya, “Apakah anda akan
terus melakukan kegagalan sampai 10. 000 kali?” Jawab
Edison: “I have not failed. I have just found 10.000
ways that will not work”. Saya belum gagal, tapi saya
menemukan 10 ribu cara yang tidak bisa digunakan. “Saya
tidak berkecil hati sebab setiap kegagalan adalah bentuk
lain dari langkah maju.”
“Hanya karena sesuatu terjadi meleset dari
skenario perencanaan tidak berarti sia-sia tanpa guna.”
Ketika Kolonel Harlan
Sander (pendiri KFC) memulai usaha menjajakan konsep
menggoreng ayam, beliau tidak langsung mendapat sambutan
positif dari sejumlah restoran. Konon jumlah penolakan
yang dialami sebelum akhirnya ada orang yang mengatakan YA
mencapai 1009 kali, padahal saat itu usia pak kolonel
adalah usia pensiunan yang menurut kacamata umum bukanlah
usia yang layak untuk merintis usaha hanya untuk menerima
penolakan sebanyak itu.
Ketika
Mr. Bata memutuskan pindah usaha dari garasi rumahnya di
Zlin Cekoslowakia ke
Kanada bersama saudaranya yang selama ini
mendampingi dirinya dalam berusaha,
tak tahunya di tengah jalan musibah tabrakan
terjadi hingga membuat saudaranya meninggal. Jadilah
akhirnya Mr. Bata melanjutkan usahanya seorang diri.
|
|
|
Tiga contoh di atas
memang terjadi pada orang lain dan di negara lain,
tetapi kalau kita lihat lebih jauh lagi ternyata bukan
kisah pada orang yang bernama si anu dan karena hidup di
negara anu tetapi kisah tentang seorang anak manusia,
hamba Tuhan, yang taat pada tatanan hukum alam tentang
bagaimana sebuah ide atau peristiwa, dijadikan petunjuk
untuk bertindak dan bagaimana tindakan itu pada akhirnya
menjadi sebuah prestasi. Di sini pun kita mengenal nama
sejumlah pengusaha yang juga mengalami kisah perjalanan
serupa termasuk misalnya Pak Hengky pemilik Bakmi Japos,
dan lain-lain.
Salah
satu pertanyaan yang pantas kita ajukan kepada diri kita
adalah, mengapa mereka punya sedemikian besarnya
ketahanan, punya sedemikian hebatnya ketaatan? Terlalu
mengada-ngadakah bila kita bersumpah tidak gagal padahal
kegagalan itu nyata-nyata terjadi di depan mata atau
dialami oleh diri kita? |
|
|
Batasan
DEFINISI Kegagalan |
|
|
Menurut kamus, definisi
adalah batasan, atau
pernyataan mental yang kita gunakan untuk
membatasi guna mendapatkan perbedaan (the statement that
defines). Perbedaan di tingkat definisi inilah faktor
mendasar yang membedakan Mr. Bata dan bata yang lain,
Edison dan edison
yang lain, atau Sander dan sejumlah sander lain
di dunia ini.
Menelaah
hasil pengalaman alamiah sejumlah orang berprestasi dan
hasil temuan ilmiah para pakar, ada tiga batasan (definisi)
mendasar yang membedakan, yaitu:
|
|
|
a. |
Batasan
Kuantitas
|
|
|
|
Batasan Kuantitas ini
adalah hitungan angka atau semacamnya yang kita gunakan
untuk mendefinisikan kegagalan kita. Belajar dari kisah di atas dan sejumlah orang lain yang sudah
berprestasi ternyata mereka menetapkan batas yang lebih
luas atau batasan yang tidak terbatas. Edison tidak
menjadikan hitungan
kegagalan sebagai batas, kolonel sander tidak menjadikan
angka umur dan angka penolakan sebagai batas. Mereka
menjadikan kesetiaan yang tak terbatas sebagai batas
sehingga kegagalan yang dialami menempati posisi yang
tidak berlawanan dengan kesuksesan yang diinginkan.
Hal ini berbeda dengan
yang bisa ditemukan di kebanyakan orang yang menggunakan
angka frekuensi, angka umur atau angka nominal sebagai
pembatas untuk menghakimi gagal dan tidaknya sebuah
usaha. Tidak berarti salah total memang, tetapi yang
perlu kita audit adalah, jangan-jangan ketetapan angka
yang kita bikin sendiri itulah yang menyiksa kita selama
ini. Sebab kalau kita teliti lebih jauh, ternyata angka
bukanlah berperan sekedar angka tetapi punya pengaruh
riil terhadap ketahanan dan ketaatan kita dilapangan.
Kalau kita menetapkan
hitungan seribu kali setidaknya meskipun kita gagal
tujuh ratus kali, semangat kita masih hidup tetapi
ketika batasan kita hanya ke angka lima ratus, angka
kegagalan sebanyak tujuh ratus kali adalah angka yang
sangat membebani pikiran kita. Beban di pikiran akan
berpengaruh pada beban di praktek, beban di praktek akan
berpengaruh pada beban di hasil, beban di hasil akan
berpengaruh pada beban di kehidupan kita. Bisa jadi
kalau batasan yang kita tetapkan terlalu sempit,
kegagalan kita sebenarnya tidak membatasi usaha kita
meraih kesuksesan tetapi opini kita tentang kegagalanlah
yang membatasinya.
Hal lain yang perlu kita
waspadai dengan angka yang kita ciptakan sendiri. Samuel
Somerset pernah
mengatakan, kita umumnya menolak sesuatu (kecuali
sesuatu yang kita inginkan), namun justru sesuatu itulah
yang sering ditawarkan kepada kita oleh hidup ini.
Ketika kita sudah menetapkan angka 100 hari adalah batas
untuk menghakimi usaha – biasanya yang terjadi justru
meleset. Dalam hari yang ke-100 usaha kita belum juga
membawa hasil yang jelas karena berbagai proses yang
dihadapi selama perjalanan usaha.
|
|
|
b. |
Batasan
Kualitas
|
|
|
|
Batasan Kualitas yang dimaksudkan
di sini adalah sasaran dari usaha kita. Belajar dari
tradisi kehidupan orang berprestasi tinggi, ternyata
mereka punya sasaran hidup yang tinggi bahkan tidak
menjadikan sasaran itu sebagai batas akhir
(destination), tetapi sasaran perantara untuk mencapai
sasaran berikutnya. Sasaran yang tinggi seperti yang
diakui oleh Mohamad Ali adalah hiburan yang bisa
menyembuhkan kita dari kebrutalan realita. Sasaran yang
tinggi menurut Jackie Chan bisa membuat kita mampu
memaafkan kegagalan kecil yang tidak menjadi ukuran
utama.
Menurut aritmatika
kehidupan, apa yang dikatakan oleh Zig Ziglar
nampaknya banyak terjadi dalam kehidupan
sehari-hari bahwa kalau usaha kita punya sasaran
menembus bulan, setidak-tidaknya walaupun meleset,
landing-nya akan ke bintang. Mungkin inilah yang bisa
menjawab rahasia mengapa orangtua kita dulu menyarankan
bercita-cita tinggi. Kalau kita tidak untung dari hasil
cita-cita setidaknya kita akan untung dari hasil
semangat cita-cita.
Hal
ini akan berbeda ketika sasaran dari aktivitas kita
rendah. Tidak berarti salah – karena kita juga
terkadang perlu memperhitungkan banyak hal – tetapi
yang terpenting adalah, jangan sampai hidup kita terlalu
mudah disiksa oleh problem yang muncul di tengah-tengah
usaha mencapai sasaran. Lebih-lebih lagi jika sasaran
yang rendah itu kita yakini dan tetapi hidup mati.
Munculnya problem bukanlah jembatan bagi kita untuk naik
tetapi bisa semacam tanah longsor yang mengubur
imajinasi kita.
|
|
|
c. |
Batasan
Rasionalitas
|
|
|
|
Apa yang saya maksudkan dengan Batasan Rasionalitas di
sini adalah batasan yang rasional antara usaha dan
manusia yang menciptakan usaha. Belajar dari mereka yang
sudah berprestasi di bidangnya ternyata mereka sudah
mampu membedakan antara definisi “Apa & Siapa”.
Usaha mereka memang gagal tetapi mereka tidak
menciptakan definisi-diri sebagai orang gagal, dan
inilah yang lebih rasional. Karena mereka tetap berpikir
sebagai orang yang punya alasan untuk sukses maka
kegagalan yang terjadi pada usahanya tidak membuat
mereka menggagalkan diri.
Hal ini akan berbeda ketika kita gagal dalam usaha,
lantas membuat definisi yang menyamaratakan antara kita
dan usaha kita. Dalam praktek hidup, kegagalan usaha itu
bukanlah pilihan tetapi konsekuensi yang tidak bisa
dipilih sedangkan definisi-diri sebagai orang gagal
adalah pilihan kita. Definisi-diri ini sudah diakui oleh
baik temuan ilmiah atau ajaran kitab suci apapun sebagai
kekuatan yang punya pengaruh riil terhadap prilaku kita.
Ketika kita putus asa dapat dipastikan bahwa
definisi-diri yang kita ciptakan atas diri kita bukanlah
seorang warrior (jagoan) tetapi seorang loser (pecundang).
Para
pakar pengetahuan sudah bekerja banyak mengabarkan
sesuatu kepada kita bahwa level harga-diri (self-esteem)
adalah level yang menentukan level semangat untuk
mengalahkan kegagalan atau dikalahkan oleh kegagalan.
Semua itu tak bisa dilepaskan dari harga yang kita patok
buat diri kita.
|
|
|
Proses
Belajar
|
|
|
Hidup ini 20 % skill dan
80 % strategi, begitulah kira-kira yang pernah
disimpulkan oleh Jim Rohn. Hidup ini 10 % apa yang
terjadi dan 90 % adalah stretagi mengatasi apa yang
terjadi, kata Charles Swindoll. Keberhasilan itu 20 %
bakat dan 80 % adalah stretegi mengembangkan bakat, kata
temuan Harvard University tahun 1990-an. Kemenangan itu
50 % fisik dan skill dan 50 % strategi mental, menurut
falsafah psikologi olahraga. Mungkin inilah rahasia
mengapa individu, masyarakat atau bangsa yang sudah maju
itu lebih gampang meraih kemajuan karena mereka sudah
lebih banyak mengantongi strategi yang diwariskan atau
yang didapatkan
Kalau
itu bisa kita jadikan petunjuk berarti semua orang tanpa
terkecuali punya potensi untuk kalah oleh kegagalan dan
potensi untuk menang melawan kegagalan, tergantung
sebagian besarnya pada strategi yang dipilih. Sebagai
salah satu strategi berikut ini bisa kita pilih sebagai
acuan: |
|
|
a. |
Manajemen |
|
|
|
Strategi
membutuhkan manajamen berpikir dan bertindak yang
berbeda. Berpikir, ber-cita-cita, ber-sasaran, ber-target,
dan bergagasan memang harus tinggi setinggi bintang yang
kita bayangkan tetapi giliran bertindak, berjalan, dan
ber-praktek harus dimulai dari yang terkecil, terdekat,
dan dari “asset” atau kemampuan yang paling banyak
tersedia di dalam diri kita sehingga ketika kegagalan
terjadi masih bisa kita deteksi asal-usulnya. Apa yang
menimpa perusahaan besar sama seperti apa yang menimpa
diri kita bahwa munculnya ‘gap knowing-doing’ adalah
sumber pemborosan energi dan materi karena lemahnya
manajemen berpikir dan bertindak.
|
|
|
b.
|
Berpedoman
kompas |
|
|
|
Berpedoman
pada kompas berarti menjadikan arah (direction), tujuan
(goal) dan target sebagai petunjuk dan sebagai ukuran.
Berarti pula kita perlu meninggalkan gaya hidup yang
diatur oleh angka-angka
“jam kegagalan” karena angka itu bukan tujuan atau
sasaran kita. Anthony Robbin menyarankan, gunakan waktu
untuk memikirkan angka kegagalan 10 % saja dan gunakan
90 % waktu
untuk berpikir kompas solusi, penyelesaian, kemajuan dan
tindakan. |
|
|
c.
|
Mencari
sumber keteladanan
|
|
|
|
Untuk
memperluas definisi kegagalan yang sempit, sumber
teladan yang kita butuhkan adalah orang yang sudah lebih
tinggi prestasinya dari kita; orang yang lebih kuat daya
tahannya dari kita. Mark Twin pernah menulis, mendekati
orang besar akan menambah keyakinan-diri bahwa kita pun
bisa menjadi besar seperti orang itu. Dari saluran
‘energi ketularan’ yang mengalir secara alamiah,
tehnik perbandingan positif ini (positive
comparison game) ternyata
telah mampu menolong banyak orang. |
|
|
d. |
Pembaharuan
Diri |
|
|
|
Strategi
pembaharuan (self-renewal) yang sudah teruji secara
ilmiah dan alamiah adalah menambah 3 P (pengetahuan,
pengalaman dan pembelajaran). Hal ini seperti yang
diakui oleh Gib Atkin bahwa pembelajaran yang kita
tambah bukanlah sekedar kekayaan yang kita miliki tetapi
juga kekuatan yang membentuk definisi-diri yang baru.
Berubahnya isi mindset (pikiran, perasaan dan
keyakinan) akan menjadi jembatan berubahnya sikap
mental, menjadi jembatan berubahnya sistem tindakan dan
menjadi jembatan berubahnya hasil. |
|
|
e. |
Membuktikan
keyakinan |
|
|
|
Mahatma Gandhi mengakui
bahwa tebalnya tembok penjara penjajah masih belum
setebal tembok pembatas yang kita bangun sendiri di
dalam (self-limiting belief). Meskipun sebenarnya kita
punya ketahanan dan bakat untuk sukses di bidang kita
tetapi kalau kita sudah tidak yakin, kemungkinan besar
kemampuan kita mubazir. Apa yang kita yakini adalah apa
yang sering terjadi dan apa yang sudah biasa terjadi
adalah apa yang sudah sering kita yakini.
Merobohkan
tembok mental semacam itu seringkali tidak cukup dengan
mulut atau dengan mengganti keyakinan tetapi juga perlu
pembuktian (challenging belief) melalui aksi pribadi.
Benarnya materi keyakinan kita sudah dibenarkan oleh
orang lain ribuan tahun lalu tetapi itu akan menjadi
tidak benar buat kita kalau kita tidak benar-benar
melakukan pembuktian sendiri. Jika kita yakin tak ada
kesuksesan tanpa kegagalan, ini namanya kebenaran umum
yang sudah jelas benar tetapi benar dan tidaknya buat
kita tergantung pembuktian kita. Selamat membuktikan!(Jr) |
|
|
|
|
| |
_____________________________
|
|