|
|
 |
|
|
Konsep
Kerja Cerdas
|
|
Oleh: Ubaydillah,
AN
|
|
Jakarta,
26 Februari 2003
|
|
Mula-mula
ekonom Itali bernama Vilfredo Pareto (1848 - 1923)
itu baru setengah kaget dengan hasil penelitiannya.
Bahwa 80% kekayaan negara hanya dinikmati oleh
20% kelompok tertentu dari penduduk. Dengan kata lain,
80% dari penduduk hanya berkesempatan menikmati 20%
dari kekayaan negara. Katakanlah kalau diasumsikan
jumlah penduduk seluruhnya mencapai 100 juta jiwa,
berarti hanya 20 juta jiwa yang kaya raya dengan
mendapat 80% kekayaan negara. Sisa penduduk yang
berjumlah 80 juta jiwa hidup pas-pasan karena kue negara yang hanya 20% harus dibagi-bagi.
Karena setengah kaget dengan hasil penelitian tersebut, Pareto kemudian mengadakan
penelitian di lain negara, ternyata hasilnya sama atau
hampir sama.
Hasil
penelitian Pareto ini sejak tahun 1897 akhirnya
diresmikan
menjadi sebuah rumus atau formula dengan berbagai macam
nama: Pareto Principle; The Pareto Law; The 80/20
rule;
The Principle of Least Effort; atau The principle
of Imbalance. Konon karena Pareto dinilai kurang
artikulatif dalam menjajakan temuannya ini berdasarkan
perkembangan metodologi dan konteks penelitian, akhirnya
mendorong para pakar untuk ikut terjun
melengkapi rumus atau temuan yang dinilai sangat berguna
bagi pencerahan peradaban manusia ini. Tahun 1949, George K
Zipf, seorang professor dari Harvard University, mengembangkan wilayah penelitian dengan menjadikan
temuan Pareto sebagai acuan. Hasilnya bahwa manusia,
benda-benda, waktu, keahlian, atau semua alat produksi
telah memiliki aturan alamiah yang berkaitan antara
hasil dan aktivitas dengan jumlah perbandingan mulai
dari 80/20 atau 70/30. Contoh:
|
|
Karena dianggap memberi pencerahan, rumus
tersebut lalu
diterapkan ke dalam pengembangan pribadi . Ternyata para
pakar di bidangnya masing-masing menemukan sesuatu yang
kira-kira sama dengan temuan Pareto. Artinya jika bicara
hasil, ketepatan proses, dan kualitas maka hal-hal
tersebut erat
hubungannya dengan how well atau how good are you
doing,
bukan how often dan how long. Dengan kata lain hasil
yang diperoleh ditentukan sejauhmana anda bisa
bekerja secara cerdas. Beberapa contoh:
|
|
-
Dalam dunia bisnis, untuk merebut pasar anda
harus berpikir minimalistis dalam arti ketepatan
strategi yang tidak melebihi kebutuhan pasar.
Artinya temukan 20% dari strategi yang bisa merebut
80% daya tarik pasar dengan memberi 80% premiun
solusi kepada 20% pelanggan setia. Jangan mengobral
strategi yang justru menghabiskan 80% cost padahal
hanya akan menciptakan 20% rate of return
(Mack Hanan, dalam Fast Growth Strategy, McGraw-Hill
International, Singapore, 1987).
-
Penelitian dalam hal efektivitas dan efisiensi
waktu menemukan bahwa 80% prestasi seseorang di
bidang apapun diraih dari 20% waktu yang
dikeluarkan. Dan 80% kebahagian hidup ditentukan
dari 20% waktu yang digunakan untuk mencarinya.
Tanyalah pada diri anda, berapa jumlah waktu yang
benar-benar anda gunakan dalam kaitan dengan tujuan
anda pergi ke kantor selain waktu macet, ngobrol,
atau melamun, atau membicarakan persoalan lain
dengan kawan kerja? Jika jawaban anda ternyata
menggunakan rumus yang sebaliknya maka anda tidak
memiliki perbedaan dengan orang lain dan itu smaa
artinya bahwa anda belum menerapkan cara kerja
cerdas.
|
|
|
Aplikasi
Kerja Cerdas
|
|
Sebagai bangsa yang agamis sekaligus kaya budaya
leluhur, sebenarnya seruan kerja cerdas ini bukanlah
barang baru. Tetapi persoalannya lagi - lagi berupa tools
yang tidak di-update. Selain disampaikan
dengan "bahasa langit" yang seringkali menafikan proses
pemahaman secara ilmiah dan alamiah pun juga tidak
dilakukan elaborasi kontekstual. Akibatnya pemahaman
tentang ajaran agama dan budaya hanya bekerja pada
persoalan yang bersifat minoritas dalam kehidupan nyata. Sebelum
Pareto mengumumkan hasil penelitiannya dengan formula 80/20, kita
sudah diajarkan menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan
mubazir atau yang tidak perlu. Sayangnya, ajaran mubazir yang kita pahami hanya
sebatas kalau kita membuang makanan yang tersisa. Amat
jarang kita berpikir mubazir secara profesi, ekonomi, atau
strategi.
Untuk menjauhkan diri dari tindakan yang mubazir dalam
kaitan dengan realisasi kerja cerdas harus dimulai dari
langkah-langkah berikut:
|
|
|
1.
|
Fokus pada skala pengembangan
|
|
|
|
Jika anda yakin bahwa diri anda memiliki keunggulan
atau bakat alamiah, disamping memiliki kelemahan yang
diakibatkan oleh faktor heriditas atau lingkungan, maka
yang benar-benar anda butuhkan adalah hidup dengan
keunggulan tersebut secara cerdas (living with
the advantage competitive factors). Hanya jika anda menemukan strategi
hidup dengan keunggulan, maka anda akan keluar dari batas
rata-rata prestasi lingkungan. Sebelum itu, paling
maksimal yang bisa anda capai adalah kualitas hidup
seperti orang lain atau seperti yang diraih oleh
sepuluh orang yang anda kenal paling dekat.
Lalu ke mana keunggulan tersebut diarahkan? Jelas,
keunggulan itu harus diarahkan untuk mengoptimalkan apa
yang disebut dalam rumusan Pareto dengan 20% of determining
factors (factor penentu). Oleh karena itu,
temukan apa saja yang menjadi faktor penentu
keberhasilan anda dari sekian daftar kegiatan yang anda
lakukan dalam hidup. Tinggalkan hal-hal yang tidak perlu
dan fgokuskan hanya pada hal-hal yang berpotensi untuk
pengembangan diri.
|
|
|
2.
|
Berani Berkorban
|
|
|
|
Di dalam dunia yang sebesar ini terdapat sekian
banyak "persoalan kecil" yang kalau anda tidak
berani
berkorban untuk memaafkannya bisa jadi persoalan itu akan
mendominasi muatan pikiran anda yang akhirnya bisa
membuat anda melupakan sisi keunggulan, cita-cita,
fokus pengembangan diri, dan
lain-lain. Contoh yang paling sederhana dan sering
terjadi di
depan mata kita adalah ketika sedang di jalan raya.
Di luar dari persoalan tabrakan serius, terkadang hanya
karena mobilnya tersenggol sedikit saja orang rela membuang
banyak waktu dan kebahagiannya pergi ke kantor. Bahkan
bisa berkembang ke arah baku hantam.
Padahal kalau dimaafkan (mau berkorban sedikit dengan
kehilangan uang beberapa ratus ribu saja untuk
memperbaiki mobil yang lecet), maka semua urusan selesai.
Auditlah
pikiran anda, persoalan apa saja yang kalau anda
memaafkannya tidak akan merugikan anda secara misi atau
visi dan tidak mengganti isi pikiran anda dengan muatan
negatif. Untuk mengetahui apakah persoalan yang sedang
anda hadapi tidak akan merugikan anda , gunakan standard audit
berikut:
|
|
|
|
-
Apa saja yang menurut anda menjadi prioritas
utama dalam kehidupan
-
Apa saja yang menurut anda didefinisikan sebagai
persoalan penting dan tidak penting
-
Apa saja yang menurut anda didefinisikan sebagai
persoalan darurat dan tidak darurat yang bisa jadi
tidak penting dan tidak prioritas
-
Apa saja yang menurut anda didefinisikan sebagai
persoalan "sampah" - tidak penting, tidak
mendesak dan bukan prioritas utama. Namun dalam hal
ini anda perlu menyeleksi secara ketat dan hati-hati,
sebab bahayanya kalau anda secara mudah memasukan
persoalan ke tong sampah ini maka anda bisa terjebak
untuk meninggalkan misi atau fokus hidup hanya
karena alasan mempertahankan posisi atau kondisi
yang ada. Jika anda terjebak maka akhirnya rumus
yang terjadi bukanlah 80/20 tetapi sebaliknya.
|
|
|
3.
|
Membuat
Sekat Pembatas
|
|
|
|
Pada
akhirnya anda harus menentukan batasan-batasan tentang
apa yang ingin dicapai, bagaimana mencapainya, apa modal
yang dimiliki, dan akan kemana anda mengarahkan hidup
anda. Dalam proses inilah terjadi seleksi dan pengecualian. Dari sekian luas dunia
dan isinya, apa saja yang telah anda seleksi menjadi hal
yang benar-benar anda inginkan sesuai format pondasi
personal anda seperti: kiblat hidup, cita-cita,
tujuan, target dan tindakan.
|
|
|
Semakin jelas anda memiliki format seleksi dan
pengecualian, fokus pada pengembangan diri diiringi
keberanian berkorban dengan memahami, mengakui,
membuang sesuatu yang tidak dibutuhkan dalam diri anda,
maka akan semakin jelas wilayah dunia yang menjadi
"hak" anda sehingga semakin tersimpulkan apa
yang menjadi determining factors to success itu.
Artinya faktor penentu semakin sedikit dan semakin
sederhana dan biasanya yang sederhana itu justru akan
bisa bekerja optimal. Sementara yang cenderung pelik,
ruwet dan kompleks biasanya mandul.
Semoga berguna. (jp)
|
| |
_____________________________
|
|