|
Kenapa
kosentrasi itu penting?
Kalau dijawab dengan menggunakan teori dan
praktek yang sudah umum, mungkin penjelasan yang bisa
diterima adalah antara lain:
1.
Kecepatan
Kemampuan kita dalam berkonsentarsi akan
mempengaruhi kecepatan dalam menangkap materi yang kita
butuhkan. Seorang pelajar / mahasiswa yang punya
kemampuan bagus dalam berkonsentrasi akan lebih cepat
bisa menangkap materi yang seharusnya ia serap. Seorang
karyawan yang bisa berkonsentrasi, ia akan cepat
menangkap (menguasai) berbagai jenis keahlian yang ia
butuhkan. Seorang olahragawan yang bisa berkonsentrasi
dengan bagus akan lebih cepat dalam menguasi
tehnik-tehnik dan jurus-jurus yang ia butuhkan untuk
menjadi bintang. Saking pentingnya konsentrasi ini, Kurt
Vonnegut pernah menulis begini: “The
secret to success in any human endeavor is total
concentration”.
2.
Kekuatan
Konsentrasi, adalah sumber kekuatan. Apa
hubungannya antara konsentrasi dengan kekuatan? Satu
dari sekian penjelasan yang bisa menggambarkannya itu
adalah cara kerja pikiran. Konon, pikiran kita akan
bekerja berdasarkan “ingat” dan “lupa”. Pikiran kita
tidak bisa bekerja untuk lupa dan untuk ingat dalam satu
waktu. Lupa dan ingat akan dilakukan secara bergantian
dalam tingkat kecepatan yang sangat maha super. Kalau
anda ingat kebaikan orang, saat itu juga kita melupakan
kejelekannya. Sebaliknya, kalau kita mengingat
kejelekannya, maka saat itu juga kita melupakan
kebaikannya. Teori Neouroscience-nya mengatakan bahwa
otak manusia ini berubah sesuai dengan penggunaan.
Kemana kita mengarahkan konsentrasi akan diikuti dengan
perubahan struktur fisik otak itu (Neuroscience,
Funderstanding, 1998-2001)
Kaitannya dengan katahanan seseorang
terletak pada porsi dan frekuensinya. Kalau pikiran ini
lebih sering kita gunakan untuk mengingat atau melihat
hal-hal positif dari diri kita, dari keadaan dan dari
orang lain di sekitar kita, maka kesimpulan yang
tercetak di dalam diri kita adalah kesimpulan positif.
Kalau sudah kesimpulan ini yang terbentuk, maka energi
yang muncul adalah energi positif. Kekuatan dalam
menghadapi kerasnya kenyataan hidup ini terkait dengan
energi positif. Berdasarkan pengalamannya,
Bruce Lee menyimpulkan bahwa seorang jagoan itu
sebenarnya adalah manusia biasa. Bedanya adalah
kemampuannya dalam menggunakan konsentrasi seperti sinar
laser.
Contoh yang dekat itu misalnya kita gagal,
entah itu gagal masuk UMPTN atau gagal masuk kerja. Jika
yang kita ingat dan yang kita lihat adalah sisi-sisi
yang mengecewakan dari kegagalan itu dan dari keadaan
itu, maka sekuat apapun fisik kita pasti akan terasa
berat untuk melangkah ke opsi lain. Akan beda rasanya
ketika kita masih bisa melihat opsi dan alternatif lain
atau bisa mengingat-ingat tujuan hidup kita dalam potret
yang lebih besar (perspektif jangka panjang).
Meski kegagalan itu tetaplah kegagalan,
tetapi energi yang keluar dari diri kita berbeda. Yang
satu menambah kekuatan dan yang satunya malah mengurangi
kekuatan. Untuk bisa mengingat yang positif, untuk bisa
cepat melupakan hal yang negatif, dan untuk bisa melihat
yang positif, tentu ini terkait dengan kemampuan
berkonsentrasi. Mahatma Gandhi menggunakan teknik
“ingat” dan “lupa” untuk memperkuat perjuangannya.
Ketika dirinya hampir mau putus asa menghadapi
penjajahan, Gandhi kemudian memprogram pikirannya untuk
ingat bahwa perjuangan menegakkan kebenaran itu selalu
akan berakhir menang meski kelihatannya kalah di babak
awal.
Dengan kata lain, ketahanan seseorang itu
tidak semata-mata terkait dengan kekuatan fisiknya.
Bukti-bukti yang ada lebih sering menunjukkan bahwa
ketahanan itu terkait dengan kemana seseorang
memfokuskan konsentrasinya. Konsentrasi, karena itu
disebut sumber kekuatan. Kalau anda melihat kesulitan
sebagai sebagai kesulitan, ini rasanya seperti bara api.
Tapi kalau kita melihat kesulitan sebagai rangkaian yang
terpisahkan dari tujuan yang kita inginkan, ini rasa-batinnya
akan beda. Kesulitan di sini kita anggap sebagai
tantangan (challenge), bukan sebagai tekanan (pressure
and tense).
3.
Keseimbangan
Semakin bagus kemampuan Anda dalam
berkonsentrasi, maka semakin cepat Anda bisa menangkap
signal dari dalam diri tentang apa yang kurang, apa yang
kebablasan, apa yang perlu dilakukan atau apa yang perlu
dihindari, apa yang baik dan apa yang tidak baik. Dengan
ini semua maka hidup kita cepat seimbang atau stabil.
Sopir yang punya kemampuan berkonsentrasi bagus akan
tajam sensitivitasnya. Kalau membaca penjelasan para
ahli seputar Kecerdasan Multiple (Multiple
Intelligence), konsentrasi ini terkait dengan apa
yang mereka sebut dengan istilah Intra-personal
intelligence, yaitu: kemampuan seseorang untuk bisa “connect”
dengan dirinya (Seven Ways of Knowing: Teaching for
Multiple Intelligences, David Lazear. 1991)
Temuan di bidang olahraga (Calming The
Mind So The Body Can Perform, Robert M. Nideffer, Ph.D.,
1995) mengungkap bahwa seorang atlet yang “being in
zone” memiliki kualitas antara lain:
§ Punya
perasaan dapat mengontrol dirinya secara penuh dan punya
kepercayaan diri lebih kuat
§ Bisa
memperkirakan apa yang akan terjadi dalam pertandingan
sebelum benar-benar terjadi
§
Waktu berjalan secara normal
§
Objek tampak lebih luas dan tampak lebih gamblang (pandangan
yang cerah)
§ Bisa
beraksi dengan usaha yang tidak terlalu memeras keringat
(semua berjalan secara “flow”)
§
Munculnya rasa senang / riang
§
Bisa menampilkan kualitas permainan yang melebih harapan
Jadi, konsentrasi adalah penggunaan yang proporsional
terhadap pikiran untuk bisa fokus pada sasaran yang kita
inginkan. Ini berarti konsentrasi itu adalah
jalan-tengah (the proper way) di antara dua sisi
yang ekstrim, yaitu: distraksi dan “tensi” (tension).
Kalau kita tegang, biasanya bukan konsentrasi yang
muncul, tetapi adalah over-concentration (pandangan
sempit). Sebaliknya, bila kita terkena distraksi:
sesuatu yang tidak penting, tidak mendesak dan tidak
prioritas untuk kita pikirkan, maka ini adalah under-concentration
(ngelantur). |
|
|
Apa yang menyebabkan seseorang sulit
berkonsentrasi? Wah, sebab-sebabnya tentu banyak. Ini
terkait dengan lapisan yang menyusun diri kita. Ada
lapisan raga dan ada lapisan jiwa. Jika raga kita
bermasalah, katakanlah sakit gigi, ini juga bisa
mengganggu konsentrasi. Begitu juga kalau kita lapar
atau belum ngopi bagi yang sudah kecanduan. Namun begitu,
jika masalah ini sudah berlanjut (akut), umumnya ini
terkait dengan soal jiwa (batin). Inipun terkadang sulit
dimutlakkan dengan satu penjelasan. Karena itu, di bawah
ini saya mencoba merangkum beberapa penjelasan yang
mudah-mudahan relevan dengan apa yang anda rasakan:
1.
Gangguan keseimbangan emosional
Berbagai studi telah mengungkap bahwa
stress, distress, depresi dan lain-lain bisa merusak
memori (impaired memory) dan konsentrasi (inability
to concentrate). Kalau kita kembalikan ke awal (akar),
munculnya berbagai gangguan mental itu terkait dengan
persoalan pola hidup sehat (positif). Ini sepertinya
sudah semacam “hukum alam”. Semakin banyak pikiran
negatif, sikap negatif, atau tindakan negatif yang kita
biarkan, ya semakin rentan kita terhadap berbagai
gangguan itu. Apa ada orang yang selalu positif? Tentu
tidak ada. Yang membedakan adalah kemampuan
“membersihkan” diri. Konon, 60-75 % penyakit fisik itu
terkait dengan soal pikiran yang tidak sehat.
2.
Kekosongan emosi
Mahasiswa / pelajar yang sudah tidak
memiliki alasan kuat kenapa melanjutkan sekolah, apa
targetnya, apa tujuan besarnya, apa program-program
pribadinya untuk mencapai target itu, akan cenderung
mudah merasa kosong batinnya, hambar hidupnya, atau
kecil kepeduliaannya terhadap statusnya sebagai pelajar.
Kalau sudah begini, konsentrasi belajar pun rendah.
Peduli akan memunculkan kemauan yang keras. Kemauanlah
yang membuat hidup kita dinamis, selalu terisi dari
waktu ke waktu.
Begitu juga dengan pasangan rumah tangga
yang sudah tidak jelas lagi alasan-alasannya, arahnya,
program-programnya. Kekosongan batin ini kerap mereduksi
konsentrasi dalam membangun keluarga (to develop).
Kalau konsentrasi terus menurun, ya tentunya banyak
penyimpangan yang muncul. Ini bisa dari yang masih
berstadium rendah sampai ke yang berstadium tinggi,
misalnya saja perceraian atau kehampaan rasa
ber-rumah-tangga.
3.
Manajemen pikiran
Konon, pikiran kita itu memproduksi 60.000
–an percikan pemikiran (thought) dalam setiap
harinya. Jumlah yang sebanyak itu tentu ada yang melawan
dan ada yang mendukung. Nah, supaya bisa mendukung, maka
dibutuhkan manajemen. Salah satu unsur manajemen yang
paling mendasar di sini adalah kemampuan menangkap (catching).
Menangkap di sini maksudnya kita mengetahui apa yang
dikerjakan oleh pikiran kita. Kita menyadari apa yang
sedang dipikirkan oleh pikiran kita.
Kalau kita sedang mendengarkan ceramah
dosen lalu pikiran kita ngelantur kemana-mana dan kita
pun tidak menyadarinya, ya pasti saja ngelanturnya
kebablasan. Tapi jika kita cepat mengetahui dan
menyadari, ya kita akan cepat bisa mengalihkannya.
Artinya, konsentrasi kita bisa rusak lantaran kita tidak
cepat mengetahui dan menyadari apa yang sedang
dipikirkan oleh pikiran kita.
Bagaimana
Mengasah Ketajaman Konsentrasi?
Seperti yang sudah kita bahas, bahwa
penyebab menurunnya konsentrasi itu seabrek. Namun
begitu, jika kita merasa apa yang sudah kita bahas itu
relevan dengan masalah yang kita hadapi, mungkin kita
bisa melakukan latihan (drill) di bawah ini:
1.
Perjelas target Anda
Target di sini banyak kegunaannya. Selain
akan menjadi bimbingan, ia pun bisa mendinamiskan hidup.
Dikatakan bimbingan karena kita tidak bisa menyuruhkan
pikiran ini berkonsentrasi kalau tidak ada sasarannya.
Target adalah sasaran untuk dipikirkan oleh pikiran kita.
Pikiran yang kita gunakan untuk memikirkan sasaran demi
sasaran akan membuat hidup dinamis. Orang yang hidupnya
dinamis dengan target-target yang dimiliki akan jauh
dari gangguan dan kekosongan emosi. Jadi, beri tugas
pada pikiran untuk memikirkan sasaran, program atau
target yang Anda buat.
2.
Lakukan dan libatkan
Tentu tidak cukup dengan hanya membuat
program atau target di atas kertas. Agar target itu
benar-benar bermanfaat dalam membimbing dan
mendinamiskan, ya dibutuhkan disiplin diri dalam
menjalankannya. Lakukan sesuatu yang dapat mendekatkan
anda dengan target yang Anda buat. Selain melakukan
sesuatu, hal yang terpenting di sini adalah melibatkan
diri pada lingkungan yang pas dengan kita (environment
system).
Temukan orang lain yang kira-kira bisa
membuat Anda selalu “connect” dengan program atau
target Anda. Temukan lingkungan yang sejiwa dengan Anda.
Kalau Anda punya target ingin jago di IT, misalnya,
tetapi Anda tidak mengenal orang IT, tidak masuk
komunitas IT, jauh dari masyarakat IT, ya tentu saja
konsentrasi Anda kurang mendapat dukungan. Pedagang
ber-komunitas dengan pedagang. Olahragawan atau seniman
ber-komunitas dengan orang-orang yang sejiwa dengan
mereka. Anda pun perlu mencontoh begitu.
3.
Sering-sering berkomunikasi dengan diri sendiri
Ini misalnya menyepi (bukan menyendiri).
Menyepi di sini maksudnya Anda memberi ruang dan
kesempatan untuk diri sendiri supaya berbicara dengan
diri sendiri, self-dialog, self-talk,
meditasi, evaluasi, koreksi, refleksi, dan lain-lain.
Ini berarti kita tidak perlu ke gunung untuk menyepi.
Menyepi dalam pengertian yang luas bisa kita lakukan di
tengah keramaian, misalnya di kampus, di kendaraan umum,
di perpustakaan, dan lain-lain.
Yang penting esensinya di sini adalah kita
“ingat” pada diri kita, memikirkan diri kita, memikirkan
target kita, memikiran apa yang sudah kita lakukan.
Banyak orang yang hampir tidak pernah memikirkan dirinya
dalam arti yang positif. Dari pagi sampai malam yang
dipikirin orang lain, ingat orang lain, ngobrol ke sana
ke mari tentang orang lain, dan seterusnya. Mestinya
yang bagus adalah seimbang.
4.
Ciptakan sarana (mean)
Ini bisa dilakukan dengan membuat tulisan,
catatan, gambar atau apa saja yang memudahkan kita
mengingat dan melihat target, program atau bidang-bidang
yang penting menurut kita. Ini bisa kita taruh di buku,
di meja, di HP, di komputer, dan lain-lain. Artinya,
ciptakan sarana yang membuat pikiran ini mudah melihat
dan mengingat. Temukan acara teve atau radio yang
mendukung agenda. Baca buku atau koran atau majalah yang
mendukung. Temui orang yang bisa diajak ngobrol tentang
apa yang kita pikirkan.
5.
Tingkatkan kepedulian
Peduli terhadap diri sendiri berbeda
pengertiannya dengan mementingkan diri sendiri. Peduli
di sini artinya kita berperan seoptimal mungkin
berdasarkan status kita. Pelajar yang peduli adalah
pelajar yang berusaha berperan seoptimal mungkin sebagai
pelajar: ya belajar, ya berorganisasi, ya demo secara
positif, ya bergaul, ya mau menghormati guru / dosen, ya
macam-macam. Karyawan yang peduli adalah karyawan yang
berperan seoptimal mungkin berdasarkan status dirinya
sebagai karyawan: ya belajar, ya bisa menerima bimbingan,
ya bekerja keras, ya belajar bekerja cerdas, ya tidak
ngambek-kan, ya macam-macam.
Kenapa peduli ini penting? Alasannya,
ketika kita menolak peranan yang seharusnya kita lakukan
berdasarkan status kita, maka yang muncul adalah konflik
di batin, stress, depresi, distress, dan lain-lain. Ini
biasanya diikuti oleh rombongannya, katakanlah seperti:
keinginan yang tidak realistis dan akurat, pikiran yang
tidak jelas fokus dan sasarannya, hasil yang tidak pasti,
munculnya pikiran-pikiran negatif terhadap diri sendiri,
terhadap orang lain dan terhadap keadaan.
Meski kita sering mengasosiasikan
konsentrasi itu dengan cara kerja pikiran, tetapi kalau
perasaan kita terluka atau terganggu, akibatnya pikiran
juga terganggu. Banyak hal yang tidak bisa kita pikirkan
dan tidak bisa kita lakukan dengan bagus karena kita
sedang menyimpan perasaan yang tidak bagus. Benar nggak
begitu? Semoga ini bermanfaat. |