|
Semua orang sudah memiliki
keberanian tetapi hambatan yang dihadapi adalah kemauan
menjalani pembelajaran untuk menguasai rasa takut yang
biasanya diciptakan dari paradigma populer yang
salah. Mengubah paradigma hidup dari kongkurensi menjadi
kompetisi membutuhkan keberanian melawan tipuan rasa takut
yang kita praktekkan dalam bentuk sikap menuntut /
menunggu perubahan orang lain; seakan-akan kalau kita yang mengawali maka kitalah korban. Di
sinilah hukum paradok antara "kelihatan" dan
"kenyataan" terjadi.
Kalau kita menunggu
perubahan orang lain sebagai syarat mutlak, maka "kelihatannya"
kita menang dan orang lain menjadi korban tetapi "kenyataannya"
justru kita menempatkan diri sendiri sebagai korban
perubahan orang lain padahal kemenangan
bukan hak bagi orang yang sedang memilih menjadi
korban. Di samping itu, orang lain
juga mempunyai pemahaman yang sama: menunggu kita
berubah. Kalau kita takut dan orang lain juga takut maka
keadaan yang terjadi sama dengan membudidayakan akibat
supaya beranak akibat.
Belajar dari pengalaman
orang sukses di dunia, tehnik menghilangkan ketakutan
adalah melawannya dengan
keberanian menjalankan apa yang kita takuti.
Umumnya ketakutan itu hanya terjadi di alam mental-emosional
bukan ada di alam fisik. Keberanian memulai
merupakan tangga menuju
pengerahan fokus perhatian pada pengembangan ke dalam (keunggulan-diri)
untuk dikeluarkan guna menciptakan benefit bagi
kita dan orang lain atau kemenangan (winning).
Kalau dikaji dari Hukum
Sebab Akibat, kemenangan adalah akibat dan sebabnya adalah
menciptakan "The best" yang paling
optimal dari kemampuan kita. Pendapat para ahli dari mulai tokoh peperangan klasik,
olah raga (atletik) sampai bisnis modern punya kesimpulan
sama. Hanya dengan menjadi the best kita bisa bebas
dari kompetisi yang dipraktekkan dengan kongkurensi. The
best yang dimaksudkan adalah the best dari
dalam (optimum effort). Meskipun bisa jadi di
bawah grade orang lain, tetapi kalau kita sudah
menjadi the best dari dalam, maka kita tidak mudah
merasa dikalahkan oleh orang lain dan yang pasti sudah
menang dengan diri sendiri.
Menjadi the best dari
dalam kalau dikaji dari doktrin kejuaran atletik menuntut
aplikasi tiga hal ( Dennis B. Weis dalam Mind Power
Doctrine of an Iron Warrior: 2003). Pertama,
kepercayaan diri dan keyakinan prinsip. Sehebat apa
pun bakat dasar seorang atlet kalau dirinya tidak yakin
adanya bakat itu, maka kehebatan itu bukan keunggulan yang
bisa dijadikan the best (baca juga artikel: Konsep
Diri). Kedua, rumusan yang jelas
tentang tujuan jangka panjang, menengah, dan pendek. Semua
atlet hanya akan diizinkan menunjukkan keunggulan
berdasarkan tingkatan kemajuan. Tidak langsung besar atau
hanya puas dengan yang sudah ada. Dan ketiga, metode
atau manajemen aktivitas latihan. Dari sudut
pandang Hukum Kompetisi, kita adalah atlet kehidupan yang
harus memiliki disiplin-diri untuk menjalani pengasahan
keunggulan dengan metode yang telah kita rasakan paling
efektif.
Metode yang mendesak untuk
ditemukan adalah mengalihkan
(transformasi) objek sasaran kongkurensi.
Kalau dulu kongkurensi kita arahkan pada
orang lain, maka sudah saatnya kita perlu sedikit
demi sedikit mengalihkan wilayah objek ke dalam, yaitu
kelemahan-diri yang kerapkali menghambat munculnya
keunggulan. Memang mustahil kelemahan itu dihilangkan
sebab yang dibutuhkan adalah menguasainya. Seperti
dikatakan dalam ajaran samurai, kalau anda ingin
dikelilingi pasukan yang unggul maka lebih dahulu anda
harus menjadi unggul.
Seiring dengan kecepatan
perubahan, tuntutan itu semakin mendesak, mengingat begitu
kelemahan-diri tidak ditaklukkan maka ia akan menjadi
pemenang. Kalau kita kalah, kebiasaan hidup yang sering
muncul adalah: kepada Tuhan kita melempar tanggung jawab
untuk mengubah nasib; Kepada orang lain kita ingin
mengalahkan; Kepada keadaan kita pasrah; Kepada diri
sendiri kita membenci. Padahal yang diperintahkan adalah:
kepada Tuhan kita menghamba, kepada diri sendiri kita
memimpin, kepada orang lain kita bersinergi dan kepada
keadaan kita melawan / mengatasi. Semoga berguna.(jp)
|