|
|
 |
|
|
Merdeka
atau Mati!
|
|
Oleh: Ubaydillah,
AN
|
|
Jakarta,
19 Agustus 2003
|
|
Lebih dari 58 tahun lalu,
bangsa Indonesia pernah punya semboyan: Merdeka atau Mati!
Dikaji lebih jauh, ternyata semboyan itu tidak sekedar
punya arti lebih baik mati daripada tidak merdeka.
Kalau dirujukkan pada hukum alam, semboyan itu juga
punya arti pilihan hidup. Kalau kita tidak bisa hidup
dengan kemerdekaan maka kita
akan menjalani hidup dengan kematian. Bentuk
kematian hidup itu apabila dirujukkan pada pendapat Robin
S. Sharma adalah konflik-diri yang mengakibatkan potensi
tidak bisa diaktualkan secara optimal.
“Too many people die at 20 and are buried at 80.
Too many people coast through life, never manifesting
their potential and using only a fraction of their
personal talents”. Ajaran kitab suci memberi istilah
dengan hari kiamat di mana kebanyakan orang bertanya-tanya:
“Mengapa nasib saya seperti ini?”
Secara harfiah, kemerdekaan
adalah kemandirian hidup, kebebasan, dan ketegasan. Dalam
kamus, kemerdekaan diartikan sebagai self governing,
free from intimidation, acting or thinking upon one’s
own-line. Kemerdekaan hidup seperti yang termaktub
dalam teks proklamasi adalah hak (asasi). Menurut hukum
sebab akibat hak adalah akibat yang diciptakan oleh sebab
bernama kewajiban. Hukum alam menjadikan kewajiban sebagai
syarat mutlak mendapatkan hak atau menyuruh mendahulukan
kepatuhan terhadap kewajiban ketimbang mendahulukan
tuntutan hak. Sayangnya
kita secara mental-kultural lebih menomorsatukan hak dari
pada kewajiban, minimalnya dalam ungkapan pembahasaan
hidup harian. Mulut kita sudah terlatih mengucapkan hak
dan kewajiban ketimbang kewajiban dan hak. Secara mindset
kita lebih berat memikirkan apa yang tertinggal (dari
hak) ketimbang memikirkan apa yang kita tinggalkan (dari
kewajiban).
|
|
|
Kemandirian
|
|
|
Kemerdekaan adalah
kemandirian (self governing) yang sering
diartikan dengan kalimat berdiri di atas kaki sendiri.
Kalimat itu mengisyaratkan bahwa orang yang mandiri itu
adalah orang berdiri tegak
dengan kakinya.
Salah satu lawan kata dari berdiri-tegak adalah
lari yang oleh Jalaluddin Rumi,
diistilah dalam puisinya dengan kalimat lari dari
kemauan bebas. “Seluruh
makhluk melarikan diri dari kemauan bebas dan
keberadaan-diri mereka menuju ke diri mereka yang tak
sadar”. Kalau
kita ingin bebas dengan mencari kebebasan maka
sebenarnya yang telah kita lakukan adalah menciptakan
belenggu karena kebebasan (kemauan bebas atau kemerdekan)
adalah pencapaian dari usaha menciptakan diri /
memandirikan diri. Lantas, apa yang sering mendorong
orang ingin lari dari kemerdekaan untuk mencari
kebebasan?
Akar penyebabnya adalah
kekalahan atas musuh-diri di dalam sehingga ia
tidak menjadi self governor.
Musuh-diri itu menurut Jim Rohn dalam tulisannya
berjudul “Facing the enemy within” (2002)
umumnya ada lima,
yaitu ketakutan (fear), kekhawatiran (worry),
keragu-raguan (doubt), plin-plan (indecision),
dan terlalu hati-hati (over-caution).
Kalau ketakutan yang menang maka kita tidak
menjadi pemberani padahal keberanian itu dibutuhkan.
Kalau kekhawatiran yang menang, kita tidak menjadi orang
yang bahagia dengan diri sendiri (happiness
manufacture). Kalau keragu-raguan yang menang maka
kita tidak menjadi orang yang yakin dengan kebenaran
keyakinan. Kalau plin-plan yang menang maka kita tidak
menjadi sosok yang telah kita putuskan. Demikian halnya
kalau terlalu hati-hati yang menang maka kita tidak
pernah menjadi orang yang sederhana, padahal biasanya the
simple is the real
Kalau dikaitkan dengan
pendapat Robin S.
Sharma di atas, maka kemerdekaan diri itu tidak bisa
dicari tetapi diciptakan dengan menjalani disiplin-diri
untuk menemukan / menggunakan keunggulan (potensi).
Hukum paradok yang berlaku di sini adalah kemerdekaan
itu diperoleh dengan kepatuhan disiplin atau berdiri
tegak bukan lari atau bebas dari disiplin. Alasannya,
seluruh keunggulan manusia itu baru dapat ditemukan dan
digunakan setelah menjalani disiplin pembelajaran untuk
memperbaiki yang salah, menambah yang kurang dan
menggunakan yang masih nganggur
dalam kurun waktu yang tidak bisa secara one-off.
Dikaitkan dengan pesan kitab suci di atas, kiamat
duniawi itu disebabkan oleh pengabaian / tidak disiplin
(indisipliner) untuk menjalani perbaikan yang dikiaskan
hanya sekecil biji peluru tetapi akibatnya sebesar hidup
merdeka dan hidup mati..
|
|
|
Bebas
Intimidasi
|
|
|
Kemerdekaan adalah bebas
dari intimidasi orang lain yang umumnya
berupa intimidasi tanggung jawab (hutang) dan
intimidasi tekanan (penjajahan) orang lain. Sudah menjadi
titah alam kalau kita diberi jalan merealisasikan
keinginan dengan menciptakan kesepakatan dengan orang
lain. Sehebat apapun seseorang sebagai pribadi tetapi
kalau tidak mendapatkan kesepakatan dengan orang maka
kehebatan itu hanya sebatas hebat bagi diri sendiri.
Seseorang dipanggil presiden, CEO perusahaan atau menjadi
bawahan karena
mendapat kesepakatan / dukungan dari / dengan orang lain.
Bahkan oleh temuan survey dikatakan bahwa sebagian
besar tawaran rasa bahagia dan nestapa terjadi dari
interaksi, lalu sebagian kecilnya dari self
accomplishment.
Cukup beralasan kalau
Michael Angier berani mengatakan, sembilan puluh persen
dari problem kemanusiaan adalah masalah ketaatan terhadap
kesepakatan yang dibikin dengan orang lain. “Your
agreement show your integrity . About 90 percent of world
problem result from people do not keeping their agreement"
(2002). Tentu
maksud dari kata problem di sini adalah hilangnya
kemerdekaan karena mencari kebebasan. Setiap kesepakatan
yang kita ciptakan dengan orang lain pasti mengandung
kontrak tanggung jawab baik secara psikologis atau juridis
dan begitu tanggung jawab itu kita abaikan maka yang lahir
adalah intimidasi. Tak salah, kalau
pesan kenabian mengingatkan agar kita
mengantisipasi kemungkinan adanya hutang (tanggung jawab)
di mana resource
untuk membayar tidak kita miliki.
Intimidasi memang
dikeluarkan dari orang lain tetapi sebabnya diciptakan
oleh bobot ketaatan kita atas kesepakatan. Kalau merujuk
pada hukum daya tarik, sebenarnya jurus-hidup yang paling
selamat adalah menarik orang lain (to attract)
dengan menciptakan daya tarik-diri yang menarik
ketertarikan. Pada dasarnya jurus ini lebih mudah kita
jalankan hanya saja kebanyakan kita telah biasa lebih
dahulu memulai dari start dengan menggunakan jurus yang
sebaliknya: mendorong orang lain (to push). Jadi
yang terjadi bukan tidak mampu melainkan sudah terlanjur
salah memilih start. Meskipun salah tetapi masih sangat
terlalu mungkin untuk diperbaiki dengan cara menaikkan
kemampuan menaati (the ability of obedience) dan
menurunkan janji sehingga masih tersisa peluang untuk
memberi orang lain lebih dari sekedar yang kita janjikan.
Di sini, musuh kita adalah nafsu untuk mengambil lebih
banyak dari pemberian sedikit.
Bentuk intimidasi lain
adalah penjajahan yang disebabkan oleh kelemahan (personal
weakness). Jalan untuk memerdekakan diri dari
penjajahan orang lain saat menjalin kesepakatan bukanlah
lari menghindari melainkan, seperti disarankan oleh
Charles Handy, memperkuat power. Ada tiga power yang bisa
kita pilih sesuai keadaan-diri untuk memperkuat bargain
position, yaitu: 1) Resource power ( kekayaan, kekuatan fisik, kecantikan, ketampanan, dst); 2) Position
power (jabatan, kepemimpinan, pekerjaan, dst); 3) Expert
Power (pengetahuan khusus, penguasaan informasi,
spesialisasi, dst). Kalau tidak memiliki keseluruhan
ambillah yang sebagian tetapi jangan sampai tidak memiliki
bagian dari salah satu di antara ketiganya.
Senada dengan Charles, pesan
bijak juga menyarankan, kalau anda ingin memimpin orang
lain maka milikilah power kekayaan dan power ilmu
pengetahuan. Kekayaan bisa anda jadikan senjata untuk
menyelesaikan persoalan dengan orang lain dalam kategori
kelas umum sedangkan ilmu pengetahuan adalah senjata yang
bisa anda gunakan untuk menyelesaikan persoalan dengan
orang lain dalam kategori kelas khusus.
|
|
|
Ketegasan
|
|
|
Ketegasan adalah kemampuan
menyelaraskan apa yang kita putuskan di tingkat kreasi
mental dengan apa yang kita lakukan (eksekusi) di tingkat
kreasi fisik sesuai proses yang sudah diakarkan pada
prinsip. Kreasi mental baru angka nol kalau tidak diolah
berdasarkan proses yang berprinsip tidak beranak menjadi
angka satu yang berkelanjutan menjadi dua, tiga dan
seterusnya tetapi tetap angka nol atau hanya satu. Dalam
praktek harian, hampir seluruh konsep hidup itu bagus
tetapi tidak selamanya menghasilkan praktek (hasil) yang
bagus. Sebabnya bukan karena tidak tahu atau tidak mampu
tetapi kurang tegas dalam memperjuangkan proses menurut
akar prinsip.
Ketegasan juga punya arti
keputusan yang kita putuskan dengan memutuskan atau
pilihan hidup yang kita tentukan dengan kesadaran memilih.
Masalah pelanggaran yang kerapkali kita lakukan terhadap hukum
memilih (baca: life is choice and consequence)
adalah lupa atau tidak sadar bahwa kita telah menentukan
pilihan. Kepada orang lain dan diri kita mungkin kita
masih punya alasan untuk dimaafkan tetapi hukum sebab
akibat ini sama sekali tidak punya ampun. Begitu kita
memilih terlepas
sadar atau tidak sadar, lupa atau ingat, maka pilihan itu
secara otomatis menghasilkan konsekuensi. Begitu luasnya
wilayah hidup yang tidak terjamah oleh ingatan kita maka
ajaran ketuhanan menyediakan pintu di mana do’a
dikatakan sebagai kekuatan untuk menunda, mengalihkan,
membatalkan akibat dari pilihan yang salah tetapi di luar
kontrol ingatan kita.
Kedua arti ketegasan di atas
adalah kemerdekaan. Kalau kita sering menyimpang dari
jalur proses yang benar maka kita akan dijajah oleh
kesalahan atau kegagalan yang bertubi-tubi. Kita dibikin
capek oleh nafsu bongkar-pasang konsep hidup karena
praktek coba-coba bukan uji coba. Teori manajemen
mengajarkan, buatlah rencana dengan cepat tetapi jangan
cepat-cepat mengubah rencana kalau inspirasi untuk
mengubah tidak datang dari
melakukan rencana. Demikian juga kalau kita sering
lupa atau tidak sadar. Agar kita selalu ingat maka langkah
yang bisa kita lakukan adalah pembiasaan. Pesan bijak
bilang kebiasaan melahirkan kesempurnaan. Pengulangan
adalah ibu kesempurnaan.
|
|
|
Akhirnya,
kemerdekaan ternyata tidak saja cukup dengan kita
peringati tetapi perlu kita tanggapi (response) dengan
pilihan untuk memerdekakan diri. Menurut kata pengamat,
undangan kepada penjajahan baru adalah kebodohan,
keterbelakangan dan kemiskinan dalam arti yang luaaas.
Mari memerdekakan diri. Semoga berguna.(jp)
|
| |
_____________________________
|
|