|
|
 |
|
|
Pede
atau Egois?
|
|
Oleh: Ubaydillah,
AN
|
|
Jakarta,
18 Juli 2003
|
|
Pendapat para ahli yang
diilhami kenyataan menyimpulkan bahwa rasa percaya diri
atau sering diistilahkan dengan 'pede' merupakan kualitas
personal yang dibutuhkan. Dengan merasa pede berarti kita
sudah memulai perjalanan hidup yang berlandaskan pada
keunggulan-diri, arah kiblat (direction) yang sudah
kita tentukan, fokus hidup yang telah kita pilih,
keputusan hidup yang telah kita ambil dan kemudian membuat
kita merasa punya hak untuk mendapatkan apa yang
benar-benar kita inginkan. Kekuatan pede juga membuat kita
yakin bahwa tantangan apapun yang menghadang masih berada
dalam kapasitas kita untuk diselesaikan.
Tetapi dalam praktek, kata
pede sudah mengalami 'over-used' dan tidak jarang
didefinisikan secara kabur antara pede yang kita butuhkan
dan pede yang seharusnya tidak kita miliki (penyimpangan).
Orang sering salah mengalamatkan penilaian
antara pede dengan ego-centered (egoisme),
menang sendiri atau merasa benar sendiri.
Padahal kalau kita telusuri sampai ke akar,
perbedaan antara pede yang menyimpang dan pede yang lurus (self
confidence) bukan
karena persoalan kadar melainkan murni berbeda di tingkat
sumber motif. Artinya, baik praktek perilaku, sifat, dan
sikap egois bukanlah karena kadar rasa percaya diri yang
terlalu kuat melainkan justru karena kurang dari kadar
yang dibutuhkan dan akhirnya menyimpang
|
|
|
Motif
|
|
|
Pede
yang menyimpang berangkat dari sumber motif
berupa perasaan yang merasa kurang (feeling of lack)
secara berlebihan (excessive). Ketika orang
membangun asumsi dasar tentang dirinya bahwa ia tidak
memiliki kemampuan potensial yang cukup untuk diolah
menjadi keunggulan guna mengalahkan tantangan atau
meraih apa yang benar-benar diinginkan, maka perasaan
tersebut pada kadar yang terus dibiarkan akan menggumpal
bersama keyakinan bahwa untuk mendapatkan seseuatu tidak
ada jalan lain lagi kecuali mengambil dari luar.
Keyakinan demikian akan menghasilkan praktek yang
bertabrakan dengan kepentingan orang lain yang memiliki
keyakinan serupa. Di level internal, keyakinan demikian
sering membuat orang merasa tidak punya alasan untuk
menghargai dirinya secara positif, misalnya saja
munculnya perasaan Self-laziness atau "The
I cannot attitude". Pede yang yang menyimpang (cth:
ego-centered, dll) juga berangkat dari sumber
perasaan yang merasa takut secara berlebihan (feeling
of fear). Asumsi personal yang sering dipakai adalah
ketika kita mulai merasa bahwa sumber keamanan (penyelesaian
masalah) berada di luar diri dan sangat terbatas
jumlahnya sehingga sedikit saja tersenggol oleh
kepentingan atau keinginan orang lain akan membuat kita merasa sulit memaafkan orang tersebut seumur hidup. Kita
menjadi cepat tersinggung dengan letupan amarah yang
tidak terkontrol. Rasa takut yang negatif juga sering
membuat pagar mental berupa ketakutan menghadapi
tantangan yang merupakan risiko hidup. Kedua perasaan
itulah yang kemudian menghasilkan kesimpulan rasa rendah
diri (inferioritas) yang bisa ditampilkan dalam
bentuk perilaku, sifat, atau sikap secara aggressive
atau submissive. Orang yang pede dalam arti 'self
confidence' bukanlah orang yang
tidak memiliki rasa takut atau rasa kurang tetapi
ia memiliki kemampuan bagaimana
menguasainya (self mastery) agar tetap
berada dalam norma kadar yang bisa dikendalikan. Asumsi
dasar yang digunakan berangkat dari perasaan memiliki
kemampuan (self-sufficient) untuk mengatasi
tantangan dan merealisasikan apa yang diinginkan. Rasa
Percaya diri seperti inilah yang sebenarnya kita
butuhkan. Bedanya lagi, pede yang terakhir adalah murni
berupa pencapaian kualitas hidup yang diraih seseorang
melalui proses usaha, sementara pede yang menyimpang
bisa kita katakan sebagai limbah yang berarti untuk
mencapainya tidak diperlukan proses atau usaha
pun.
|
|
|
Kompas
|
|
|
Di dalam diri kita
sebenarnya sudah diciptakan kompas (patokan) yang dapat
membedakan antara pede
yang meyimpang dan pede yang benar-benar kita
butuhkan, yaitu:
-
Perasaan (Emotional)
-
Hati (Spiritual)
-
Akal (Intellectual)
Ketiga
kompas di atas adalah anugerah (kemampuan potensial).
Agar bisa bekerja membantu kita dibutuhkan syarat yaitu menciptakan
usaha untuk mencerdaskannya secara terus-menerus.
Perasaan adalah perangkat
internal untuk merasakan impuls atau stimuli (godaan
& tawaran) yang dapat membedakan bad dan good.
Perasaan tidak memiliki mata tetapi lebih banyak
memiliki telinga, 'pendengaran' sehingga ketika
sensitivitasnya tajam (dicerdaskan) akan membuat orang
langsung bisa
merasakan mana pede yang good (confidence)
di antara pede yang bad (egoism) meskipun tidak
kelihatan. Hati berfungsi untuk memaknai
kebenaran hukum
alam yang sudah diformalkan atau yang belum. Meskipun
manusia bisa meng-elaborasi kebenaran
menjadi sekian bentuk sesuai kepentingan
masing-masing, tetapi hatilah yang akan berbicara dengan
'suara hati kecil'. Dilihat dari sebutannya saja sudah
bisa ditebak mengapa kita jarang mendengarkannya. Sudah
lokasinya di dalam, bentuknya kecil selain itu suaranya
pun kecil. Kalau tidak dicerdaskan akan membuat telinga
kita (perasaan) sulit mendengarkan suara hati apalagi
penglihatan. Akal berfungsi untuk menalar
antara materi yang tepat (correct) dan
yang tidak tepat (incorrect). Akal memiliki
banyak penglihatan sehingga dikatakan 'the window',
pintu exit-permit yang bisa menyumbangkan
muatan perasaan atau keyakinan. Patut diakui di
antara penyebab penyimpangan adalah adanya pengetahuan
oleh akal yang tidak bisa menghasilkan pemahaman
personal secara definitive antara rasa percaya
diri dan egoisme. Pengetahuan yang rancau, abstrak, dan
berada pada level umum sulit mendorong kita pada
keputusan hidup yang definitif. Walhasil kita
berperilaku egois karena egois yang kita pahami adalah
egois dalam pengertian rasa percaya diri menurut kita. Ketiga
kompas internal di atas
dapat bekerja secara proporsional (saling
mendukung-melengkapi) apabila usaha yang kita jalankan
dalam rangka mencerdaskan tidak terjadi
anak-emas dan anak tiri atau anak yatim.
Pengalaman mengajarkan, perlakuan dikotomis atas kompas
internal di atas melahirkan sifat, watak dan perilaku
yang kontradiktif
dan pincang. Ada orang yang sebagian waktunya
digunakan berada di tempat ibadah dengan khusuk tetapi
giliran punya persoalan air dengan tetangga perasaannya
tidak berfungsi secara proporsional.
|
|
|
Beberapa
Saran
|
|
|
Penyimpangan adalah
persoalan manusiawi dan normal tetapi yang sering
bikin abnormal adalah kebablasan yang berkelanjutan dan
tidak kita perbaiki. Beberapa materi pembelajaran
berikut dapat kita jadikan acuan untuk mempertebal rasa
percaya diri agar tidak menyimpang ke praktek yang tidak
diinginkan:
|
|
|
1.
|
Kebiasaan
|
|
|
|
Memiliki kebiasaan untuk
mencerdaskan pikiran, perasaan, dan hati adalah
kebutuhan mutlak. Tanpa dicerdaskan tidak berarti stabil
sebab impuls dan stimuli dunia terus berubah di mana
kalau kita tidak diiringi dengan perubahan diri akan
mudah terjebak. Pikiran yang dicerdaskan dengan
pengetahuan akan memperbaiki sudut pandang yang akan
menjadi sumber rasa percaya diri. Perasaan yang
dicerdaskan akan memperbaiki pemahaman 'merasakan' apa
yang terjadi pada diri sendiri, orang lain dan dunia (wilayah
kita). Hati yang dicerdaskan dengan kebiasaan memaknai
akan mempertebal keyakinan bahwa semua yang kita lakukan
baik atau buruk, kecil atau besar pada akhirnya akan
mendapat balasan.
|
|
|
2.
|
Kekuatan
|
|
|
|
Rasa percaya diri identik
dengan kekuatan pribadi (personal power) yang
bisa kita bangun dengan menggunakan dua jurus yaitu
menyerang dan mempertahankan. Untuk mempertebal rasa
percaya diri, jurus menyerang
harus kita gunakan untuk melawan kecenderungan
internal yang menawarkan godaan untuk menyimpang
sementara jurus mempertahankan
kita gunakan untuk memperkuat pertahanan dari
serangan luar. Penggunaan yang salah dengan membalik
fungsi akan
memperlemah personal power yang berarti dapat
memperlemah rasa percaya diri.
|
|
|
3.
|
Komitmen
|
|
|
|
Memiliki komitmen untuk
merealisasikan gagasan ke tindakan secara sirkulatif
bisa mempertebal rasa percaya diri dengan syarat sampai
mendapat apa yang disebut 'the moment of truth' atau
sampai benar-benar berhasil. Apa yang sering menjadi
persoalan adalah kita sering menggunakan ideology 'mencoba'
tanpa komitmen sampai berhasil. Ideologi demikian sulit
diharapkan bisa mempertebal rasa percaya diri. Bahkan
kalau sering gagal lalu kita tinggalkan dengan mengganti
yang lain dan akhirnya gagal juga malah akan membuat
kita ragu-ragu.
|
|
|
Sekelumit penjelasan di atas
hanyalah mewakili dari sekian tampilan monitor sikap, perilaku
dan sifat yang awalnya dibedakan pada tingkat sumber
motif di dalam. Tidak kelihatan, kecil, dan sering kita
anggap tidak membahayakan bagi diri kita apalagi orang
lain. Meskipun demikian, Tuhan telah memberikan
perangkat yang bisa membenahi sebelum akhirnya tampil di
monitor. Di luar ketiga perangkat yang sudah ada,
terdapat satu perangkat yang inti, yaitu kemauan. Semoga
berguna.
(jp)
|
| |
_____________________________
|
|