|
|
|
|
Kecanduan
Cinta
|
|
|
Oleh Jacinta F. Rini, MSi.
|
|
|
Team e-psikologi
|
|
|
Jakarta,
18 Maret 2002
|
|
|
Istilah
kecanduan cinta mungkin bukan istilah yang umum
terdengar. Istilah yang sudah umum beredar seperti
kecanduan minum, alkohol, narkoba, rokok, kerja, dan
lain sebagainya. Meski pun “barang” nya cinta, bukan
berarti aman-aman saja bagi pecandunya dan tidak membawa
dampak apapun juga. Justru, dampak dari kecanduan cinta
ini sama buruknya untuk kesehatan jiwa seseorang.
Buktinya, sudah banyak kasus bunuh diri atau pembunuhan
yang terjadi akibat kecanduan cinta meski korban maupun
pelaku sama-sama tidak menyadarinya...Nah, artikel di
bawah ini akan mengulas sekelumit hal-hal yang berkaitan
dengan kecanduan cinta.
|
|
|
|
|
|
Kecanduan
Psikologis
|
|
|
Di
dalam masyarakat sudah banyak sekali kesalahan dalam
mempersepsi atau mengartikan cinta sejati dengan cinta
yang bersifat candu. Berbagai film, sinetron, atau pun
lagu-lagu turut andil dalam menyaru-kan kondisi
kecanduan cinta dengan cinta sejati. Akibatnya, banyak
orang terjebak dalam pengertian yang keliru antara
kecanduan cinta dengan cinta sejati. Contoh ekstrimnya,
ada orang yang bunuh diri karena ditinggal pergi kekasih
– dan orang menilai bahwa cerita ini mencerminkan
kisah cinta sejati.
|
|
|
|
|
|
Tanda-tanda
|
|
|
|
|
|
Pada
umumnya individu yang mengalami kecanduan cinta
menunjukkan tanda-tanda:
|
|
|
-
Adanya
pikiran obsesif, misalnya terus-menerus curiga akan
kesetiaan pasangan, terus- menerus takut
ditinggalkan pasangan sehingga selalu ikut ke mana
pun perginya sang kekasih/pasangan.
-
Selalu
menuntut perhatian dari waktu ke waktu, tanpa ada
toleransi dan pengertian
-
Manipulatif,
berbuat sesuatu agar pasangan mengikuti kehendaknya/memenuhi
kebutuhannya, misalnya : mengancam akan memutuskan
hubungan jika mementingkan hobi-nya
-
Selalu
bergantung pada pasangan dalam segala hal, apapun
juga, mulai dari minta pendapat, mengambil keputusan
sampai dengan memilih warna pakaian
-
Menuntut
waktu, perhatian, pengabdian dan pelayanan total
sang kekasih/pasangan. Jadi, pasangan tidak bisa
menekuni hobi-nya, jalan-jalan dengan teman-teman
kelompoknya, atau bahkan memberikan sebagian
waktunya untuk orang tua/keluarga.
-
Menggunakan
sex sebagai alat untuk mengendalikan pasangan
-
Menganggap
sex adalah cinta dan sarana untuk mengekspresikan
cinta
-
Tidak
bisa memutuskan hubungan, meski merasa amat tertekan
karena “berharap” pada janji-janji surga
pasangan
-
Kehilangan
salah satu hal terpenting dalam hidup, misalnya
pekerjaan atau /keluarga inti demi mempertahankan
hubungan
|
|
|
Jadi,
tidak ada istilah “puas” dalam setiap hubungan yang
terjalin antara orang yang kecanduan cinta dengan
pasangannya; ibaratnya seperti mengisi gelas bocor yang
tidak pernah bisa penuh jika diisi, karena begitu airnya
dituang lantas langsung keluar lagi dan airnya tidak
pernah luber. Demikian juga orang kecanduan cinta,
mereka tidak pernah mampu membagikan cinta secara tulus
pada orang lain karena selalu merasa kehausan cinta.
Oleh sebab itu, banyak di antara mereka yang sering
berganti pasangan karena merasa harapan mereka tidak
dapat dipenuhi sang kekasih. Padahal, meski puluhan kali
mereka berganti pasangan, individu yang kecanduan cinta
akan sulit membangun hubungan yang stabil dan abadi.
Sayangnya, banyak dari mereka yang tidak sadar, bahwa
sumber masalah justru ada pada diri sendiri – mereka
lebih sering menyalahkan mantan-mantan kekasihnya/pasangannya.
|
|
|
|
|
|
Penyebab
|
|
|
Sebenarnya,
kecanduan cinta itu adalah kecanduan yang bersifat
psikologis karena tidak terpenuhinya kebutuhan
psikologis (seperti kasih sayang, perhatian, kehangatan
dan penerimaan seutuhnya) di masa kecil. Menurut Erik
Erikson - seorang pakar perkembangan psikososial, orang
yang pada masa batita-nya tidak mengalami
hubungan kelekatan emosional yang stabil, positif dan
hangat dengan lingkungannya (baca : orang tua dan
keluarga), akan sulit mempercayai orang lain – bahkan
sulit mempercayai dirinya sendiri. Selain itu, trauma
psikologis yang pernah dialami seperti penyiksaan
emosional dan fisik pada usia dini, atau menyaksikan
sikap dan tindakan salah satu orang tua yang agresif dan
kasar terhadap pasangan, dapat
menghambat proses kematangan identitas
kepribadian dan kestabilan emosinya. Pemandangan dan
pengalaman tersebut kelak berpotensi mempengaruhi pola
interaksinya dengan orang lain.
|
|
|
|
|
|
Keterbatasan
respon/perhatian dari lingkungan pada waktu itu,
dipersepsi olehnya sebagai suatu bentuk penolakan; dan
penolakan itu (menurut pemahaman seorang anak)
disebabkan kekurangan dirinya. Nah, pada banyak orang,
masalah ini rupanya tidak terselesaikan dan akibatnya,
sepanjang hidup ia berjuang untuk mengendalikan
lingkungan atau orang-orang terdekat supaya selalu
memperhatikannya. Orang demikian berusaha membuat
dirinya diterima dan dimiliki oleh orang lain – meski
harus “mengorbankan” diri. Orang ini begitu cemas
dan takut jika kehilangan orang yang selama ini
memilikinya; karena perasaan “dimiliki” ini identik
dengan harga dirinya – dan sebaliknya ia akan
kehilangan harga diri jika kehilangan pemilik.
|
|
|
|
|
|
Dampak
|
|
|
|
|
|
Akibat
kecanduan cinta bisa dirasakan secara langsung oleh yang
bersangkutan, karena orang itu tidak dapat menikmati
hubungan yang terjalin karena pikiran dan perasaannya
selalu diliputi ketakutan. Dan tidak jarang ketakutan
tersebut makin tidak rasional dan melahirkan tindakan yang
tidak rasional pula, misalnya tidak memperbolehkan
pasangannya pergi kerja karena takut direbut orang.
|
|
|
|
|
|
Bagi
Individu Bersangkutan
|
|
|
Akibat
jangka menengah dan jangka panjang adalah individu yang
bersangkutan akan berada dalam kondisi emosi yang labil
dan menjadi terlalu sensitif.
Individu tersebut mudah curiga pada teman,
sahabat, kegiatan, pekerjaan, bahkan keluarga
pasangannya. Selain itu ia menjadi mudah marah,
cepat tersinggung dan bagi sebagian orang bahkan ada
yang bertindak agresif dan kasar demi mengendalikan
keinginan dan kehidupan pasangannya. Pasangannya tidak
diijinkan untuk punya agenda tersendiri; pokoknya harus
mengikuti keinginannya dan 100% memperhatikannya.
Individu tersebut juga mudah merasa lemah, lelah dan
lemas. Pasalnya, seluruh energinya sudah dipergunakan
untuk mengantisipasi ketakutan yang tidak beralasan dan
melakukan tindakan untuk menjaga pertahanannya. Nah,
kehidupan demikian membuat dirinya menjadi manusia tidak
produktif. Sehari-hari yang dipikirkan dan diusahkan
hanyalah bagaimana supaya “miliknya terjaga”.
|
|
|
Bagi
Pasangan
|
|
|
Banyak
orang yang tidak sadar kalau dirinya terlibat dalam pola
hubungan yang addictive sampai akhirnya ia merasa
stress, tertekan namun tidak berani/takut/tidak berdaya
untuk memutuskan hubungan yang sudah berjalan beberapa
waktu. Bagi sebagian orang yang cukup sadar dan mempunyai
kekuatan pribadi, ia akan berani mengambil sikap tegas
dalam menentukan arahnya sendiri. Namun, banyak pula orang
yang “memilih” untuk tetap dalam lingkaran demand-supply
tersebut karena ternyata dirinya sendiri juga mengalami
masalah dan kebutuhan yang sama. Jika demikian halnya,
maka hubungan yang ada bukannya mengembangkan dan
mendewasakan kedua belah pihak, namun malah semakin
memperkuat ketergantungan cinta keduanya. Situasi ini lah
yang sering dikaburkan dengan hubungan yang romantis dan
cinta buta.
|
|
|
Penanggulangan
|
|
|
|
|
|
Menurut
para ahli psikologi dan kesehatan mental, salah satu
syarat utama untuk dapat menjalin hubungan yang sehat dan
sekaligus menjalani kehidupan yang produktif adalah
mempunyai kesehatan mental yang sehat dan identitas diri
yang solid. Kondisi positif demikian akan menumbuhkan rasa
percaya diri yang kuat sehingga orang tersebut tidak
membutuhkan dukungan dan pengakuan orang lain untuk
memperkuat sense of self-nya. Jadi, untuk
mengembalikan seseorang pada bentuk hubungan yang sehat,
langkah awal yang diperlukan adalah memperkuat pribadinya
terlebih dahulu. Dengan meningkatkan sumber kekuatan
psikologis secara internal, akan mengurangi
ketergantungannya pada kekuatan eksternal. Orang itu harus
merasa aman dan percaya dengan dirinya sendiri untuk bisa
merasa aman dalam setiap jalinan hubungan dengan orang
lain. Ada kalanya, orang-orang demikian membutuhkan
bantuan para profesional untuk membimbing dan mengarahkan
mereka membangun pribadi yang positif. (jr)
|
|
|
|
|
|
_____________________________
|
|