|
Bentuk
– bentuk Bakat
Seandainya ada
polling yang menanyakan tentang masalah apa saja yang
dihadapi orang
remaja-dewasa, boleh jadi masalah menemukan bakat termasuk
yang populer, selain masalah stress akibat putus cinta
atau masalah strategi menggaet calon kekasih. Menurut
hasil renungan Dale Carnegie, yang diresahkan oleh manusia
di dunia ini adalah dua hal. Pertama, manusia selalu resah
tentang sebutan apakah yang nanti akan saya sandang
sebelum mayat saya dikebumikan. Apakah saya seorang
dokter, pengusaha, penulis, pegawai, wanita karir, dosen,
guru, presenter, atau apa ya….?
Kedua, manusia
resah tentang siapakah pasangan saya nanti? Manusia model
seperti apakah yang akan menjadi ayah atau ibu dari anak
saya? Apakah jodoh saya nanti orang yang baru saya kenal
ataukah orang yang sudah saya kenal sebelumnya? Resah di
sini punya pengertian bukan bingung atau sedih, tetapi
resah dalam arti sebuah kondisi batin yang dihasilkan dari
munculnya tanda tanya yang selalu mendorong kita untuk
menemukan jawabannya.
Nah, kembali
pada soal bakat, sebenarnya apa sih bakat itu? Apakah saya
punya bakat? Makhluk semesterius apa sih bakat itu? Dimana
bakat saya? Bagaimana cara menemukannya? Kepada siapa
sebetulnya saya harus bertanya tentang bakat saya? Dan
seterusnya.
Sebelum kita
membahas pertanyaan-pertanyaan semacam di atas, saya ingin
mengatakan bahwa bakat menurut penjelasan teoritisnya
memang punya wilayah bahasan yang cukup luas. Di dalam
literatur ilmiah, ada istilah talent,
ada istilah giftedness,
ada istilah traits,
ada istilah intelligence seperti dalam “multiple intelligence, aptitude, dan
seterusnya. Selain harus berurusan dengan istilah-istilah
yang mungkin tidak dimengerti bagi kebanyakan orang, pun
juga tidak semua orang “boleh” memberikan penilaian
tentang bakat seseorang. Hanya bagi orang-orang yang sudah
bersertifikat di bidang ini yang “disahkan” memberikan
penilaian.
Tetapi, bakat
dalam pengertian bahasa atau dalam pengertian yang umum
kita pahami, adalah kelebihan / keunggulan alamiah yang
melekat pada diri kita dan menjadi pembeda antara kita
dengan orang lain. Kamus Advance, misalnya, mengartikan talent
dengan “natural power to do something well.” Dalam kamus
Marriam-Webster’s, dikatakan “natural
endowments of person.” Dalam percakapan sehari-hari
kita sering mengatakan si anu berbakat di nyanyi, di
bisnis, di IT dan seterusnya.
Rupanya, bakat dalam
pengertian kedua ini juga dipakai oleh Thomas Amstrong,
pakar pendidikan dari Harvard University yang sering
berkolaborsi dengan Howard Gardner dalam membahas
kecerdasan. Dalam tulisannya, Little
Geniuses, yang pernah diterbitkan majalah Parenting
(1989), ia menjelaskan, bakat manusia bisa muncul dalam
berbagai bentuk. Perhatikan daftar kemampuan (ability)
di bawah ini lalu deteksi mana yang paling kuat di dalam
diri Anda:
Acting Ability (akting / gerakan)
Adventuresomeness (kepetualangan)
Aesthetic perceptiveness (estitika)
Artistic Talent (artistik)
Athletic prowess (ke-atlit-an)
Common sense (pengetahuan umum)
Compassion (peduli orang lain, mudah tersentuh)
Courage (keberanian)
Creativity (kreativitas)
Emotional maturity (kematangan emosi)
Excellent memory (kehebatan menyimpan data / menghafal)
Imagination (imajinasi)
Inquiring mind (keingintahuan)
Intuition (intuisi)
Inventiveness (daya cipta, penemuan)
Knowledge of a given subject (Pengetahuan spesifik)
Leadership abilities (kepemimpinan)
Literary aptitude (bakat kesastraan)
Logical-reasoning ability (kemampuan berlogika)
Manual dexterity (ketangkasan manual / ketrampilan tangan)
Mathematical ability (kemampuan matematis)
Mechanical know-how (penguasaan mekanis)
Moral character (karakter moral)
Musicality (permusikan)
Passionate interest in a specific topic (kegairahan
mengikuti / mendalami topik tertentu)
Patience (kesabaran)
Persistence (ketangguhan)
Physical coordination (kerapian fisik)
Political astuteness (kelihaian berpolitik)
Problem-solving capacity (kemampuan menghadapi masalah)
Reflectiveness (kemampuan merefleksikan)
Resourcefulness (kepandaian mengatasi masalah)
Self-discipline (disiplin-diri)
Sense of humor (naluri melucu)
Social savvy (pemahaman sosial)
Spiritual sensibility (ketajaman spiritual)
Strong will (kemauan keras)
Verbal ability (kemampuan mengungkapkan secara verbal)
Daftar di atas
baru sebagian dari sekian. Masih banyak kemampuan alamiah
manusia yang belum atau tidak bisa dijabarkan. Dan lagi,
kalau kita perhatikan praktek hidup, amat sangat jarang
ada orang yang hanya diberi satu kemampuan dari daftar di
atas. Dalam diri setiap manusia ada sekian kemampuan dari
daftar di atas. Orang yang hebat di bidang IT tidak
berarti hanya dibekali kemampuan tekun dalam
meng-otak-atik komputer. Ia juga punya kemauan keras,
punya disiplin, kreatif, mau mempelajari hal-hal baru dan
seterusnya. Seorang tokoh agama tidak berarti hanya
dibekali kemampuan spiritual sensibility saja. Ia juga
punya kemampuan lain yang mendukung keunggulannya, seperti
verbal, sosial, dan lain-lain.
Hal lain yang perlu kita
ingat adalah penjelasan Dr. Sternberg, pakar Psikologi
dari Yale University (Practical Intelligence, John
Meunier, Fall, 2003)). Selama bertahun-tahun mengkaji
kemampuan manusia, ia berkesimpulan bahwa kemampuan
manusia itu bukanlah sebuah kemampuan yang sifatnya sudah
baku pada satu bentuk atau titik tertentu (not
fixed ability), tetapi sebuah kemampuan yang sifatnya
terus berkembang (developing abilities).
|