|
|
|
Konsep
Diri
|
|
Oleh Jacinta F. Rini
|
|
Team
e-psikologi
|
|
Jakarta,
16 Mei 2002
|
|
Masalah-masalah rumit yang dialami manusia, seringkali
dan bahkan hampir semua, sebenarnya berasal dari dalam
diri. Mereka tanpa sadar menciptakan mata rantai masalah
yang berakar dari problem konsep diri. Dengan kemampuan
berpikir dan menilai, manusia malah suka menilai yang
macam-macam terhadap diri sendiri maupun sesuatu atau
orang lain – dan bahkan meyakini persepsinya yang
belum tentu obyektif. Dari situlah muncul problem
seperti inferioritas, kurang percaya diri, dan hobi
mengkritik diri sendiri. Artikel berikut akan mengulas
tentang konsep diri, apa dan bagaimana konsep diri
berpengaruh terhadap munculnya problem yang dialami
manusia sehari-hari.
|
|
Konsep Diri
|
|
Konsep diri dapat didefinisikan secara umum sebagai
keyakinan, pandangan atau penilaian seseorang terhadap
dirinya. Seseorang dikatakan mempunyai konsep diri
negatif jika ia meyakini dan memandang bahwa dirinya
lemah, tidak berdaya, tidak dapat berbuat apa-apa, tidak
kompeten, gagal, malang, tidak menarik, tidak disukai
dan kehilangan daya tarik terhadap hidup. Orang dengan
konsep diri negatif akan cenderung bersikap pesimistik
terhadap kehidupan dan kesempatan yang dihadapinya. Ia
tidak melihat tantangan sebagai kesempatan, namun lebih
sebagai halangan. Orang dengan konsep diri negatif, akan
mudah menyerah sebelum berperang dan jika gagal, akan
ada dua pihak yang disalahkan, entah itu menyalahkan
diri sendiri (secara negatif) atau menyalahkan orang
lain.
Sebaliknya
seseorang dengan konsep diri yang positif akan terlihat
lebih optimis, penuh percaya diri dan selalu bersikap
positif terhadap segala sesuatu, juga terhadap kegagalan
yang dialaminya. Kegagalan bukan dipandang sebagai
kematian, namun lebih menjadikannya sebagai penemuan dan
pelajaran berharga untuk melangkah ke depan. Orang
dengan konsep diri yang positif akan mampu menghargai
dirinya dan melihat hal-hal yang positif yang dapat
dilakukan demi keberhasilan di masa yang akan datang.
|
|
Proses
Pembentukan Konsep Diri
|
|
Konsep diri terbentuk melalui proses belajar sejak
masa pertumbuhan seorang manusia dari kecil hingga
dewasa. Lingkungan, pengalaman dan pola asuh orang tua
turut memberikan pengaruh yang signifikan terhadap
konsep diri yang terbentuk. Sikap atau respon orang tua
dan lingkungan akan menjadi bahan informasi bagi anak
untuk menilai siapa dirinya. Oleh sebab itu, seringkali
anak-anak yang tumbuh dan dibesarkan dalam pola asuh
yang keliru dan negatif, atau pun lingkungan yang kurang
mendukung, cenderung mempunyai konsep diri yang negatif.
Hal ini disebabkan sikap orang tua yang misalnya : suka
memukul, mengabaikan, kurang memperhatikan, melecehkan,
menghina, bersikap tidak adil, tidak pernah memuji, suka
marah-marah, dsb - dianggap sebagai hukuman akibat
kekurangan, kesalahan atau pun kebodohan dirinya. Jadi
anak menilai dirinya berdasarkan apa yang dia alami dan
dapatkan dari lingkungan. Jika lingkungan memberikan
sikap yang baik dan positif, maka anak akan merasa
dirinya cukup berharga sehingga tumbuhlah konsep diri
yang positif.
Konsep
diri ini mempunyai sifat yang dinamis, artinya tidak
luput dari perubahan. Ada aspek-aspek yang bisa bertahan
dalam jangka waktu tertentu, namun ada pula yang mudah
sekali berubah sesuai dengan situasi sesaat. Misalnya,
seorang merasa dirinya pandai dan selalu berhasil
mendapatkan nilai baik, namun suatu ketika dia mendapat
angka merah. Bisa saja saat itu ia jadi merasa “bodoh”,
namun karena dasar keyakinannya yang positif, ia
berusaha memperbaiki nilai.
|
|
Faktor yang
Mempengaruhi Konsep Diri
|
|
Berbagai faktor dapat mempengaruhi proses
pembentukan konsep diri seseorang, seperti :
|
|
Pola asuh orang tua
|
|
Pola asuh orang tua seperti
sudah diuraikan di atas turut menjadi faktor
signifikan dalam mempengaruhi konsep diri yang
terbentuk. Sikap positif orang tua yang terbaca oleh
anak, akan menumbuhkan konsep dan pemikiran yang
positif serta sikap menghargai diri sendiri. Sikap
negatif orang tua akan mengundang pertanyaan pada anak,
dan menimbulkan asumsi bahwa dirinya tidak cukup
berharga untuk dikasihi, untuk disayangi dan dihargai;
dan semua itu akibat kekurangan yang ada padanya
sehingga orang tua tidak sayang.
|
|
Kegagalan
|
|
Kegagalan yang terus menerus
dialami seringkali menimbulkan pertanyaan kepada diri
sendiri dan berakhir dengan kesimpulan bahwa semua
penyebabnya terletak pada kelemahan diri. Kegagalan
membuat orang merasa dirinya tidak berguna.
|
|
Depresi
|
|
Orang yang sedang mengalami
depresi akan mempunyai pemikiran yang cenderung
negatif dalam memandang dan merespon segala sesuatunya,
termasuk menilai diri sendiri. Segala situasi atau
stimulus yang netral akan dipersepsi secara negatif.
Misalnya, tidak diundang ke sebuah pesta, maka
berpikir bahwa karena saya “miskin” maka saya
tidak pantas diundang. Orang yang depresi sulit
melihat apakah dirinya mampu survive menjalani
kehidupan selanjutnya. Orang yang depresi akan menjadi
super sensitif dan cenderung mudah tersinggung atau
“termakan” ucapan orang.
|
|
Kritik internal
|
|
Terkadang,
mengkritik diri sendiri memang dibutuhkan untuk
menyadarkan seseorang akan perbuatan yang telah
dilakukan. Kritik terhadap diri sendiri sering
berfungsi menjadi regulator atau rambu-rambu dalam
bertindak dan berperilaku agar keberadaan kita
diterima oleh masyarakat dan dapat beradaptasi dengan
baik.
|
|
Merubah
Konsep Diri
|
|
Seringkali diri kita sendirilah yang menyebabkan
persoalan bertambah rumit dengan berpikir yang tidak-tidak
terhadap suatu keadaan atau terhadap diri kita sendiri.
Namun, dengan sifatnya yang dinamis, konsep diri dapat
mengalami perubahan ke arah yang lebih positif.
Langkah-langkah yang perlu diambil untuk memiliki konsep
diri yang positif :
|
|
Bersikap obyektif dalam mengenali diri sendiri
|
|
Jangan abaikan pengalaman
positif atau pun keberhasilan sekecil apapun yang pernah
dicapai. Lihatlah talenta, bakat dan potensi diri dan
carilah cara dan kesempatan untuk mengembangkannya.
Janganlah terlalu berharap bahwa Anda dapat
membahagiakan semua orang atau melakukan segala sesuatu
sekaligus. You
can’t be all things to all people, you can’t do all
things at once, you just do the best you could in every
way....
|
|
Hargailah diri sendiri
|
|
Tidak ada orang lain yang lebih menghargai diri kita
selain diri sendiri. Jikalau kita tidak bisa menghargai diri sendiri,
tidak dapat melihat kebaikan yang ada pada diri sendiri,
tidak mampu memandang hal-hal baik dan positif terhadap
diri, bagaimana kita bisa menghargai orang lain dan
melihat hal-hal baik yang ada dalam diri orang lain secara
positif? Jika kita tidak bisa menghargai orang lain,
bagaimana orang lain bisa menghargai diri kita ?
|
|
Jangan memusuhi diri sendiri
|
|
Peperangan terbesar dan paling melelahkan adalah
peperangan yang terjadi dalam diri sendiri. Sikap
menyalahkan diri sendiri secara berlebihan merupakan
pertanda bahwa ada permusuhan dan peperangan antara
harapan ideal dengan kenyataan diri sejati (real
self). Akibatnya, akan timbul kelelahan mental dan
rasa frustrasi yang dalam serta makin lemah dan negatif
konsep dirinya.
|
|
Berpikir positif dan rasional
|
|
We
are what we think. All that we are arises with our
thoughts. With our thoughts, we make the world (The
Buddha).
Jadi,
semua itu banyak tergantung pada cara kita memandang
segala sesuatu, baik itu persoalan maupun terhadap
seseorang. Jadi, kendalikan pikiran kita jika pikiran
itu mulai menyesatkan jiwa dan raga.
(jp)
|
| |
_____________________________
|
|