|
|
 |
|
|
Memperkokoh
Fondasi Personal
|
|
Oleh: Ubaydillah,
AN
|
|
Jakarta,
16 Januari 2003
|
|
Dalam
sebuah tanya
jawab di televisi, ada penelpon yang meresahkan kondisi
masyarakat di mana kejahatan telah mengubah citra bangsa
yang dikenal peramah; epidemi KKN yang tidak dapat
diberangus oleh kekuasaan;
professionalitas dan etos kerja produktif hanya
sebuah human talk, bukan human commitment.
“Padahal, kata si
penelpon,
kurang apa lagi kita, warisan budaya leluhur telah
banyak mengajarkan pemahaman berbasis agama
maupun
pengetahuan,
di samping juga negeri ini subur dan
kaya sumber daya”.
Intinya, penelpon tadi menanyakan dimanakah letak
Pancasila dalam kehidupan bangsa ini. “Benar, kata sang nara
sumber menanggapi pertanyaan tersebut, tetapi memang
masih ada kelemahan mendasar di tingkat gaya hidup
masyarakat di mana sumber-sumber nilai masih dipahami
secara parsial. Manajemen hanya dipahami ketika di dalam
kantor, leadership hanya di politik, Tuhan hanya
disanjung ketika di tempat ibadah, dan Pancasila saat
upacara. Inilah
split personality, kepribadian yang tanpa format,
kocar-kacir. Oleh karena itu perlu dicanangkan kampanye
budaya gaya hidup sinergis dan
integrative melalui program pemberdayaan”.
Sayangnya, nara sumber tadi tidak diberi waktu untuk
menjelaskan apa itu gaya hidup sinergis atau integrative
dan bagaimana memulainya.
|
|
Tujuan
Hidup
|
|
Pada umumnya kelemahan mendasar dari gaya
hidup di sejumlah negara berkembang dan terbelakang
adalah individu atau pribadi yang tidak memiliki tatanan
personal yang kokoh dan lebih banyak menggunakan senjata
blaming others atau kambing hitam, menuding pihak
lain sebagai penyebab kekacauan, cenderung menunggu
kebijakan atau undang-undang dari penguasa, sehingga
perubahan di tingkat individu ke arah yang lebih baik
sulit tercipta. Padahal jika saja individu mau menyadari
bahwa akan selalu ada hal-hal yang dapat dilakukan untuk
mengatasi suatu kondisi terburuk sekalipun, maka
menuding pihak lain sebagai penyebab kekacauan mungkin
dapat dihindarkan.
Ralp
Marston dalam artikel yang berjudul Choose Your
Response (Greatday 2001), menulis, “selalu tersisa
pekerjaan yang bisa anda lakukan sebagai bagian dari
solusi dalam keadaan apapun”. Intinya ia mau
mengatakan bahwa pasti ada sesuatu yang bisa anda
lakukan untuk memperbaiki hidup anda sendiri. Kampanye
nasional budaya gaya hidup sinergis dan integrative
mungkin hanya merupakan kewenangan penguasa dan mungkin
membutuhkan dana besar yang saat ini sangat sulit
diperoleh. Oleh karena itu, mungkin saja penantian
terhadap kampanye tersebut, kebijakan atau perpu hanya
merupakan pekerjaan yang sia-sia. Dengan kondisi
demikian maka anda sebaiknya tidak menunggu apapun atau
siapa pun untuk memperbaiki hidup anda. Mulailah dari
dalam diri sendiri dan lakukan sekarang juga. Bentuklah
tatanan pribadi anda dengan baik sehingga andamenjadi
pribadi yang tahan uji dan mampu keluar dari berbagai
krisis yang menimpa.
Pertanyaannya adalah apa
yang dapat dijadikan dasar untuk memperkokoh tatanan
pribadi atau pondasi personal dan darimana harus
memulainya? Jawabnya adalah dengan memiliki
rumusan tentang tujuan hidup yang dipahami sebagai gaya
hidup, komitmen atau karakter pribadi.
|
|
Definisi
|
|
Dalam prakteknya, tujuan
hidup diletakkan dalam satu keranjang sampah dengan
khayalan, mimpi dan akivitas. Oleh karena itu anda perlu
memahami definisi yang membedakannya secara jelas. Dalam
Reader’s Digest Oxford Dictionary
dijelaskan bahwa goal (tujuan) adalah
obyek personal yang menjadi sasaran utama suatu usaha
atau cita-cita. Goal is destination, kawasan
dimana kaki anda mendarat. Sementara dream (khayalan
atau lamunan) adalah suatu gambar atau peristiwa yang
melintas di alam fantasi pikiran anda – bukan sasaran
[ Hillary Jones and Frank Gilbert, dalam Choosing
Better Life, Oxford 1999].
Sementara aktivitas merupakan media dari goal
atau destination. contoh: keberangkatan anda ke
bandara untuk mereservasi tiket dengan memilih pesawat
tertentu adalah aktivitas dan kota dimana anda akan
berhenti itulah yang menjadi tujuan.
Mengacu pada definisi di
atas segera anda dapat menyimpulkan bahwa nilai hidup
seluhur apapun ketika masih dipahami sebagai dream,
maka tentu saja ia tidak bisa bekerja mengubah
konstruksi realitas. Begitu juga aktivitas. Sangat
mustahil membawa rumusan Paretto tentang kerja cerdas di
mana 20 % effort mestinya menghasilkan 80 % required
result ke dalam budaya kerja anda, selama anda
memahami aktivitas sebagai tujuan.
|
|
Alasan
Mendasar
|
|
Ada tiga alasan mendasar,
mengapa rumusan tentang tujuan hidup perlu anda miliki
yaitu: kontrol diri, umpan daya tarik, dan sinergi
kekuatan. Dalam kehidupan sehari-hari, terkadang muncul
secara tiba-tiba baik dari dalam atau ajakan dari luar,
sesuatu yang mestinya tidak memiliki hubungan apapun
dengan apa yang benar-benar anda inginkan tetapi menyita
banyak energi, waktu dan pikiran. Itulah distraksi –
sesuatu yang menggoda anda meninggalkan perhatian pada
tujuan. Oleh karena itu diperlukan kontrol diri.
Jika anda menyaksikan dunia
ini bekerja, mengapa orang kaya malah gampang mendapat
kekayaan, orang pintar gampang mendapat kedudukan, dst.
Bukan nasib dalam pengertian gift tetapi daya
tarik dalam makna achievement.
Bahkan mengapa orang yang sudah jahat merasa
kesulitan untuk berbuat baik meskipun hanya dengan
senyuman yang gratis? Tujuan yang telah anda rumuskan
untuk membidik satu objek akan menarik anda secara
‘tersembunyi’ ke
arah yang anda maksudkan. Dengan satu syarat: setelah
anda memiliki persiapan sempurna untuk menerimanya!
Semua orang menggantungkan
harapan kepada dunia yang bisa dikatakan sama: hidup
terhormat, memiliki kemakmuran, meninggalkan warisan
yang cukup, dan mati masuk surga. Sama sekali tidak
salah dengan harapan itu, sebab semua manusia sudah
diberi potensi dasar untuk mencapainya. Anda memiliki
imajinasi, pikiran, tindakan, dan perangkat lain. Tetapi
persoalannya, bagaimana menyatukan perangkat tersebut
menjadi satu kekuatan utuh untuk mencapai sasaran?
Tujuan yang telah anda rumuskan akan menjadi media
efektif bagi anda untuk menyatukan seluruh kekuatan yang
anda miliki.
|
|
Merumuskan
|
|
Dari
sekian banyak referensi
tekhnis tentang cara merumuskan tujuan hidup, anda dapat
mengacu pada formula berikut:
|
|
|
1.
|
Konseptualisasi
|
|
|
Mulailah
dengan menyusun rumusan secara tertulis tentang apa yang
benar-benar anda inginkan. Rumusan tersebut selain
tertulis di atas kertas putih, kertas pikiran, juga
dinyatakan ke dalam bentuk kalimat positif. Lukislah
tujuan anda dengan imajinasi untuk memberi otak kanan
anda bekerja secara adil.
|
|
|
2.
|
Keterkaitan
Rasional
|
|
|
Rumusan
tersebut harus memiliki keterkaitan rasional dengan
kemampuan dan keberadaan anda saat ini. Sebab jika tidak,
akan muncul masa frustrasi yang melelahkan.
Keterkaitan rasional adalah sesuatu yang attainable
(paling mungkin diraih) berdasarkan kemampuan,
keahlian dan kekuatan anda.
|
|
|
3.
|
Spesifik
|
|
|
Tujuan
harus dirumuskan menjadi bentuk representasi padanan
fisik yang khusus dan jelas. Tidaklah cukup hanya dengan
menulis bahwa anda ingin kaya atau terhormat karena hal
itu tidak memenuhi unsur kejelasan dan spesifik. Dengan
kata lain, spesifik yang dimaksudkan disini adalah bahwa
rumusan tujuan hidup anda harus memiliki tolok ukur (ada
suatu standard yang ingin dicapai)dan measurable
(dapat diukur sejauh mana perkembangan anda dalam
mendekatakn diri pada tujuan).
|
|
|
4.
|
Bermakna
|
|
|
Tujuan
hidup harus berupa sesuatu yang relevan dengan kondisi
diri anda. Artinya sesuatu tersebut harus berupa objek
yang berguna bagi anda. Jika anda sedang menganggur, maka tujuan hidup yang paling
bijak adalah mendapatkan atau menciptakan pekerjaan.
|
|
|
5.
|
Batas
Waktu
|
|
|
Tulislah
batas waktu yang jelas,
kapan tujuan hidup anda bisa dicapai dengan pentahapannya.
Klasifikasikan tujuan hidup anda menjadi tiga: jangka
pendek – menengah – jangka panjang.
|
|
Dengan memahami rumusan tekhnis
di atas, bisa saja dielaborasi sesuai kepentingan,
cobalah mengaplikasikannya ke dalam wilayah – wilayah
sentral. Umumnya manusia memiliki sejumlah wilayah
sentral tertentu: karir, keluarga, kesehatan fisik,
format lingkungan yang anda pilih,
pengembangan SDM, kematangan spiritual dan moral,
status social dan budaya.
|
|
Realisasi
|
|
Untuk dapat
merealisasikan tujuan hidup anda maka diperlukan
beberapa langkah sebagai berikut:
|
|
|
1.
|
Pentahapan
|
|
|
Jangan
tergoda untuk menjalankan seluruh keinginan
sekali dalam satu projek hanya karena nafsu ingin
cepat yang hakekatnya malah memperlambat. Pikiran anda
hanya akan bekerja untuk satu objek tunggal yang
spesifik. Yakinilah, jika anda bisa menyelesaikan
persoalan dari bagian yang paling kecil berarti anda
mampu menyelesaikan banyak hal yang besar. Persoalannya
terkadang langkah pentahapan berdasarkan kemampuan yang
sering anda lupakan. Kesuksesan dengan kata lain adalah
proses realisasi ide-ide perbaikan secara terus-menerus
berdasarkan pentahapan.
|
|
|
2.
|
Visualisasi
|
|
|
Visualisasi
adalah membendakan sesuatu yang masih gaib melalui
penglihatan mental. Lihatlah model rumah yang anda
inginkan di kepala anda secara lengkap dengan taman atau
letak kamar mandinya. Peganglah erat-erat, semua kreasi
diciptakan melalui dua tahap, yaitu tahapan mental dan
terakhir tahapan fisik. Visualisasikan sesuatu yang anda
inginkan sampai benar-benar mengalami kristalisasi
mental atau feel of becoming or having –
merasakan seakan-akan anda sudah menjadi atau memiliki
sesuatu yang anda inginkan. Berilah imajinasi anda
bekerja untuk membantu bukan melawan anda.
|
|
|
3.
|
Inspirasi
|
|
|
Inspirasi
adalah percikan ide-ide kreatif yang waktu dan tempatnya
jarang anda kenali, kecuali anda sudah melatih-diri
dengan pembiasaan. Inspirasi adalah akibat-hasil dari
proses pengembangan diri.
Inspirasi merupakan penemuan momentum of
“Aha”. Inspirasi dapat anda munculkan dengan ‘conditioning’.
Caranya? Temukan momen khusus yang menjadi kebiasaan
untuk membuka dialog-diri, misalnya tengah malam atau di
kamar mandi, atau lain. Agendakan untuk bertemu kenalan
tanpa konsekuensi atau interest apapun selain
silaturrohim. Pelajari sebanyak mungkin prestasi yang
dihasilkan.
|
|
|
4.
|
Target
|
|
|
Buatlah
target pencapaian dari apa yang benar-benar anda
inginkan. Memenuhi target bisa dilakukan dengan dua cara,
yaitu, pertama deadline matematis di mana anda
menjadikan target sebagai tujuan mikro dengan waktunya
yang detail. Kedua dengan cara kristalisasi
mental di mana anda SEKARANG ini seakan-akan sudah
merasakan vibrasi fisiknya dari apa yang anda inginkan.
Jangan sekali-kali mengundang kehadiran virus "NANTI"
karena ia seringkali menawarkan bujukan yang berarti
tidak pernah terjadi. Dengan berpikir NANTI, anda telah
kehilangan daya tarik ke arah “Menjadi” atau
“Memiliki” saat ini.
|
|
|
5.
|
Keyakinan
|
|
|
Keyakinan
menentukan karakter hidup terutama ketika anda
menghadapi tantangan. Karakter sukses diciptakan dari
keyakinan sukses dan begitu sebaliknya. Di tengah anda
menjalani proses realisasi,
mudah sekali virus muncul dan hanya bisa dilawan
dengan keyakinan anda. Virus itu adalah rasa ragu-ragu,
pesimisme, rasa tidak berdaya melawan tantangan, rasa
malas, rasa putus asa, dan pasrah terhadap kemauan
realitas. Oleh karena itu, ciptakan keyakinan sukses
dengan mendatangkan sejumlah alasan yang bisa diterima
oleh keyakinan anda.
|
|
|
6.
|
Kesadaran
Proses
|
|
|
Kalau
anda menyaksikan bahwa ada seseorang yang hanya
berjualan air putih bisa hidup mandiri tetapi kemudian
anda dapatkan pemegang gelar akademik tidak mandiri,
maka pembedanya tidak lain adalah kesadaran proses.
Penjual itu telah menempuh proses yang memungkinkan
terbentuknya sistem hidup mulai dari mana ia mengambil
air lalu kepada siapa ia menjualnya, dst. Sistem
bergerak stabil. Keahlian,
ketrampilan, atau ijazah akademik tidak bisa mengganti
peranan proses oleh karena itu siapa pun anda, maka anda
harus tetap menempuh tangga proses yang sudah menjadi
undang-undang hukum alam.
|
|
|
7.
|
Interaksi
|
|
|
Anda
tidak mungkin sukses meraih tujuan tujuan itu seorang
diri. Ibarat baterai, sebesar apapun kandungan watt-nya
maka selamanya tidak akan menciptakan cahaya selama
tidak diinteraksikan dengan perangkat lain yang menjadi
pasangannya. Sama juga dengan tujuan anda.
Seni bagaimana tujuan anda diinteraksikan kepada
pihak lain yang menjadi pesangannya harus anda miliki.
Mengapa seni itu diperlukan? Terkadang anda mencipatakan
interaksi tujuan bukan dengan pasangannya sehingga
melahirkan dua kemungkinan yaitu interaksi tersebut
tidak bekerja atau malah merusak tatanan.
|
|
Uraian singkat di atas
setidaknya bisa memberi gambaran bahwa ibarat mendirikan
bangunan gedung, maka fondasilah yang pertama kali harus
dipikirkan. Tak ubahnya juga dengan hidup anda. Jika
anda sudah memahami bahwa setiap hari berpikir untuk
mengubah tatanan konstruksi bagian atas, bahkan bisa
jadi berniat untuk mengubah bangunan menjadi gedung
bertingkat, sudahkah anda memikirkan tentang pondasi
personal anda?. Semoga berguna.(jp)
|
| |
_____________________________
|
|