|
|
 |
|
|
Self-Defeating
|
|
Oleh: Ubaydillah,
AN
|
|
Jakarta,
12 Mei 2003
|
|
Seorang
pria setengah baya terpaku ketika membaca sebuah kalimat
dalam sebuah tabloid yang sedang dibacanya. Kalimat
tersebut berbunyi: "Usia empat puluh tahun
adalah saat menentukan kelanjutan hidup, tidak lagi
mencari-cari tetapi melanjutkan apa yang sudah
dirintis". Kalimat tersebut segera membangkitkan
ingatan masa lalu ketika kampus mengeluarkan
pemecatan sehingga penyelesaian studinya terhambat. Tak
hanya itu perjalanan karirnya juga bernasib sama: selalu
berakhir di tengah jalan karena berhenti dan
diberhentikan akibat bentrok yang akhirnya membuat dia
harus menjalani pekerjaan asal-asalan dan sampai
sekarang belum menemukan suatu kepastian karir. Kalau
dipikir panjang, sikap konfrontatif
untuk menunjukkan ketidaksetujuan pada orang
lain, kejadian di kampus atau di kantor itu, tidaklah
seluruhnya salah tetapi yang menjadi bahan renungan
mengapa dirinya yang menjadi korban?
|
|
Renungan di atas
bisa jadi mewakili sekian banyak pribadi dan
mungkin termasuk anda yang merasa gagal menjaga
hubungan dalam
hal karir, pendidikan, keluarga, dan lain-lain. Dengan
alasan kebenaran yang anda yakini dan atas kesalahan yang
dilakukan orang lain mungkin sekali sikap
mengakhiri hubungan itu benar tetapi yang perlu
anda renungkan lagi adalah
sudahkah anda bersikap benar terhadap diri anda
sendiri? Kalau akhirnya
malah akan membuat perjalanan hidup anda terhambat,
padahal perjalanan itu adalah tanggung jawab yang tidak
bisa didelegasikan dengan menyalahkan orang lain, lalu
siapa yang menanggung semua kerugian?
|
|
|
Self-Defeating
|
|
|
Self-defeating di
sini adalah istilah yang dapat menjelaskan peristiwa
khusus berupa "tindakan bunuh diri" dengan
klaim hanya karena orang lain telah melakukan kesalahan,
bukan karena keinginan diri sendiri untuk menjadi lebih
baik. Dalam peristiwa lelaki di atas, persoalan mendasar
bukan terletak pada kuantitas dan intensitas
bentrok dengan
pihak kampus dan pihak perusahaan tetapi akibat cara
bentrok yang membuat perjalanan akademik dan karirnya
jalan di tempat. Sangat
dimungkinkan sikap lelaki di atas terhadap perilaku
orang lain punya alasan benar tetapi yang patut
disayangkan sikap itu tidak didasari oleh keinginan
untuk menjadi lebih baik paska bentrok. Bukankah itu
pantas dikatakan sebagai tindakan bunuh diri?
Pendek kata, bentrok hanya
untuk bentrok atau
cerai hanya untuk cerai, seringkali mewariskan
karakter dan kepribadian bentrok yang menggeneralisasi
semua peristiwa yang menyangkut hubungan dengan pihak
lain. Padahal antara bentrok karena pembelaan prinsip
kebenaran senilai hidup-mati dengan bentrok pembelaan
egoisme sesaat ATAU antara bentrok karena semata orang
lain salah dan bentrok karena keinginan untuk
memperbaiki diri adalah peristiwa spesifik yang berbeda.
Tetapi secara umum dapat dikatakan bahwa bentrok dalam
arti self-defeating adalah bentrok yang tidak
menjadikan aktivitas hubungan sebagai materi untuk
meningkatkan kemampuan menjalin hubungan dengan orang
lain.
Padahal menjalin hubungan
dengan orang lain berperan dominan dalam mempengaruhi
sukses atau gagal perlajanan hidup seseorang. Menyimak
pendapat para pakar tentang peranan hubungan,
meskipun diberikan secara terpisah, tetapi
kalau digabungkan kira-kira akan mengarah pada
kesimpulan bahwa setiap orang punya tiga wilayah
yaitu wilayah public: profesi, bisnis atau
lain; wilayah
private: keluarga, sahabat, atau teman;
dan wilayah secret: anda dengan anda tentang anda
(Stephen R. Covey, dalam The Quality
Life: 1992).
Wilayah pertama dan kedua merupakan wilayah
saling memberi-menerima pengaruh (influential zone),
dimana kenyataannya
mayoritas waktu hidup semua orang dicurahkan.
Kalau dikalkulasikan, jumlah
pengaruh yang dihasilkan dari interaksi itu mencapai 40
aspek dalam diri setiap orang dimana peranan yang
dimainkan cukup besar
dalam kaitan dengan
sukses-gagal perjalanan seseorang (Anne S. Doody, dalam Peach
of Mind- Fact or Fiction: 2001). Bahkan kalau bicara
kekuatan yang berperan mempengaruhi sukses-gagal
perjalanan hidup, hubungan (relationship)
menempati urutan pertama
dari tiga kekuatan dominan yang mempengaruhi
sukses-gagal perjalanan seseorang sebelum
kekuatan lain yaitu: personal integrity
dan personal exploration (Keller & Berry,
dalam One American in Ten Tells the Other Nine How to
Vote, Where to Eat, and What to buy. Free Press:
2003).
Urutan itu memang sejalan
dengan kebenaran fakta bahwa
relationship punya andil besar dalam
mempengaruhi pencapaian kualitas hidup di wilayah
sentral: karir, keluarga, bisnis, sosial dan lain-lain.
Oleh karena itu Alf Cattel mengatakan bahwa jika sudah
ditakdirkan semua manusia hidup dengan business of
selling maka relationship is product. Senada
dengan Cattel,
A.H. Smith, mantan presiden perusahaan kereta api
di Amerika Serikat, mengatakan: “Kereta api adalah
95 % manusia dan 5 % besi”.
|
|
|
Indikasi
|
|
|
Terlepas dari alasan apapun
yang menyebabkan hubungan anda dengan pihak lain harus
berakhir, satu hal yang perlu anda jaga adalah
jangan sampai mengakhiri hanya untuk mengakhiri yang
justru akan merusak perkembangan berikutnya. Supaya
tidak merusak, rasakanlah sebagian indikasi berikut
bekerja di dalam diri anda:
|
|
|
1.
|
Kreasi
|
|
|
|
Seperti yang diakui lelaki
di atas bahwa tidak cukup hanya mengandalkan kebenaran
yang anda pegang teguh sebagai alasan untuk mengakhiri
hubungan dengan si X, tetapi apakah keputusan itu bisa
mengaktifkan daya
kreasi anda berikutnya? Kalau anda memilih putus
hubungan dengan perusahaan tetapi senjata anda hanya
menulis surat lamaran yang tidak tahu kapan
mendapat jawaban, apalagi sering anda lakukan, benarkan
anda merasa tidak menyiksa diri?
|
|
|
2.
|
Kebahagiaan
|
|
|
|
Salah satu sumber kebahagian
adalah keharmonisan hubungan dengan orang lain. Dan
kebahagiaan adalah
sumber kesuksesan, minimalnya sumber kesuksesa di dalam.
Tidak sebaliknya. Jika anda memilih mengakhiri hubungan
dengan si X, benarkah anda akan merasa lebih bahagia
dalam arti yang sebenarnya?
Kalau orang bercerai hanya sekali untuk
memperbaiki hidup mungkin masih bisa dibenarkan tetapi
kalau dilakukan berkali-kali apalagi meninggalkan
warisan anak dimana-mana, benarkah peristiwa itu tidak
menggangu kebahagiannya? Bahagia dan tidak bahagia
adalah spectrum kondisi internal yang pada
akhirnya tidak punya kaitan dengan apa yang dirasakan
orang lain tetapi kembali pada apa yang anda rasakan
tentang diri anda.
|
|
|
3.
|
Kekuatan
|
|
|
|
Musuh yang mengancam
kekuatan seseorang secara mayoritas dapat dikatakan
bukan musuh dari luar tetapi anda melawan anda. Tidak
sulit menemukan jalan untuk mengakhiri hubungan dengan
orang lain dengan alasan kalkulasi kekuatan. Tetapi yang
perlu anda pertimbangankan adalah karakter
bentrok yang diwariskan.
Kalau anda sudah biasa dengan
karakter dan kebiasaan tertentu maka sulit bagi anda
melihat cara lain yang lebih baik. Di samping juga
karakter memiliki daya tarik. Karakter bentrok akan
selalu mendapatkan kesempatan lebih banyak untuk bentrok
seperti juga penjahat yang senantiasa menemukan jalan
untuk berbuat jahat. Padahal fakta alamiyah menunjukkan
semakin banyak bentrok yang anda menangkan tidak berarti
semakin banyak jumlah kekuatan yang anda dapat, tetapi
justru sebaliknya.
|
|
|
Pembelajaran
Diri
|
|
|
Salah satu solusi yang bisa
menghindarkan anda dari self-defeating adalah
dengan melakukan pembelajaran diri. Prinsip dasar
pembelajaran-diri adalah mengaktifkan kemampuan pasif
yang sudah disediakan sejak lahir untuk menggapai
kualitas hidup lebih baik dari kemarin dan hari ini.
Menjaga keharmonisan hubungan menuntut kemampuan
manajemen diri yang terus ditingkatkan.
Materi yang dapat anda jadikan ajang
pembelajaran-diri adalah:
|
|
|
1.
|
Kebiasaan
Bereaksi
|
|
|
|
Mayoritas orang menjalankan
keputusan didasarkan
pada kebiasaan reaksi pertama. Tidak ada masalah kalau
kebiasaan itu menghasilkan tindakan yang tidak fatal
yang mengarah pada self defeating, tetapi
sayangnya reaksi pertama lebih banyak menimbulkan
penyesalan di akhir tindakan. Reaksi pertama
mencerminkan mentalitas ‘jump to conclusion’
yang secara ilmiah telah terbukti banyak mengurangi
bobot kualitas keputusan karena lebih kuat mengakar pada
kebenaran sendiri dalam arti pertahanan posisi egoisme.
Namun demikian, perlu diakui bahwa terlalu lamban
menentukan reaksi dalam menyelesaikan hubungan dengan
pihak lain juga tidak dijamin keputusan itu lebih
berkualitas. Bahkan seringkali lebih bisa diartikan sebagai pengabaian,
tidak kritis, dan tidak sensitif, atau hangus.
Sebagai pembelajaran,
ciptakan kebiasaan
mengendapkan persoalan dari luar untuk diolah di
dalam sampai benar-benar masak sebelum
disuguhkan kepada orang lain. Di sini yang
dibutuhkan adalah penguasaan ‘the art of cooking’
dalam arti memahami ukuran api dan ukuran kematangan
masakan. Kalau dipikir semua orang punya bahan yang sama
untuk dimasak tetapi yang benar-benar membedakan adalah
kualitas bagaimana orang itu memasak dan seni
menyuguhkan. Kalau anda menangkap semua aksi orang lain
dengan reaksi yang menjunjung tinggi kepentingan sesaat
tanpa pengendapan (baca: dimasak),
berarti sama dengan menyuguhkan masakan yang
masih mentah.
|
|
|
2.
|
Penguasaan
Bahasa Hidup
|
|
|
|
Ucapkan terima kasih kepada
lingkungan dan lembaga sekolah yang telah mengajarkan
anda kata-kata dan ilmu bahasa. Tetapi tidak cukup
dengan menggunakan apa yang telah secara optimal
diberikan orang lain tentang bahasa tetapi anda perlu
menjadikan semua pemberian itu sebagai modal dasar
memahami bahasa hidup yang mungkin tidak diajarkan
tetapi dapat dipelajari (learning the unteachable
materials). Anda bisa memahami bahasa hidup dengan
mempelajari kultur dan tradisi, mempelajari bagaimana
kata-kata menciptakan dampak psikologis atau symbol
of status tertentu,
dan mempelajari cara pengungkapan kata secara assertive,
diplomatis, dan ekspresif.
Bahasa
adalah the art of serving, seni bagaimana
menyajikan keputusan yang yang telah anda masak sebagai
reaksi terhadap aksi orang lain. Sebagus apapun masakah
yang anda olah tetapi kalau disuguhkan dengan cara yang
menunjukkan semangat-bahasa
bertentangan maka sangat mungkin melahirkan
pemahaman yang berbeda. Sebagai gambaran bahwa setiap
orang secara alamiah
sebenarnyaa membutuhkan koreksi orang lain
dari tindakannya yang salah; tetapi kenyataannya orang
menolak untuk dikoreksi sebab yang diinginkan adalah
koreksi yang disuguhkan dengan cara yang sesuai
keinginannya.
|
|
|
3.
|
Kontrak
Rahasia
|
|
|
|
Hubungan dengan orang lain
tidak bisa dipisahkan dengan pemahaman isi Kontrak Tak
Tertulis yang menciptakan pengaruh riil. Kontrak Tak
Tertulis atau Kontrak Rahasia inilah yang sering
diistilah dengan Kontrak Psikologis. Menjaga hubungan
tidak cukup dengan mengatakan semua yang anda tahu
tentang seseorang atau mengatakan semua yang anda tidak
tahu atau hanya tahu setengah-setengah. Dan juga tidak
cukup dengan memberi reaksi terhadap aksi orang lain
atau mengabaikan semua aksi. Oleh karena itu pahamilah ‘written
rule of relationship’ untuk ditaati tetapi jangan
lupa memahami ‘the unwritten rule’
dalam bentuk pengecualian atau isyarat.
Menjaga hubungan yang
berjalan sesuai keinginan anda untuk memperbaiki
kemampuan dalam menjalin hubungan, dibangun di atas
pemahaman bahwa semua orang mengajukan Kontrak Tak
Tertulis yang isinya sama: tolong pahami saya. Supaya
tidak terjadi bongkar pasang atau bertentangan dengan
keinginan anda, maka yang dituntut
adalah keberanian berkorban lebih dulu untuk
memahami orang lain tanpa syarat. Hanya itu dan titik.
Sebab fakta alamiah menunjukkan kalau anda lebih
dulu memahami tidak berarti anda yang merugi tetapi
justru menjadi jalan untuk dipahami orang lain.
|
|
|
Akhir kata, dari uraian
diatas dapat diperoleh kesimpulan bahwa menjalin
hubungan adalah kualitas yang diperlukan untuk mencapai
kesejahteraan hidup. Karena kualitas-mencapai berarti
masih terbuka dipahami sebagai pilihan, maka tidak perlu
harus menunggu usia
empat puluh tahun untuk memiliki menjalin hubungan yang
baik. Tetapi bisa dimulai dari sekarang dengan usia
berapa pun. Selamat mencoba.(jp)
|
| |
_____________________________
|
|