|
|
 |
Reformasi
Busana Mindset
|
|
Oleh: Ubaydillah,
AN
|
|
Jakarta,
11 September 2003
|
|
Busana
bukanlah sebatas persoalan kain yang dikenakan seseorang
melainkan kreasi design yang sengaja dipilih
setelah disesuaikan dengan keadaan
seseorang. Meskipun kopyah, dasi, sarung, jilbab
atau jean
sama-sama kain tetapi orang tidak akan
mengenakannya tanpa pemahaman atas pernyataan diri
berdasarkan kebiasaan
atau hukum yang berlaku. Busana oleh karena itu
bisa dikatakan bagian dari simbol yang dapat menjelaskan
identitas diri seseorang.
Demikian
juga dengan busana mindset (kerangka pikir) kita.
Bukan sekedar
percikan pemikiran, perasaan, atau keyakinan tetapi
desain muatan tertentu yang kita pilih
menurut selera
lalu
kita jadikan paradigma hidup. Paradigma inilah yang
melahirkan gaya hidup, kebiasaan dan hukum diri (You
are the law of yourself). Persoalan yang muncul
kemudian adalah hukum alam tidak pernah membedakan apakah
kita memilih desain mindset dengan sadar atau tidak.
Pokoknya kita akan menerima konsekuensi dari semua pilihan
yang kita tentukan.
Menengok
ke realita aktual, busana hidup yang seharusnya kita
tanggalkan adalah busana orang gagal. Mestinya semua orang
punya "bakat" sukses di bidang apapun yang
dijalaninya, tetapi yang seringkali menghambat adalah
membuang busana orang gagal di dalam dirinya. Padahal
untuk sukses, tawaran hukum alam yang tidak bisa
dinegoisasikan adalah mengganti busana gagal dengan busana
sukses. Artinya, bukan sekedar menjiplak warna dan model
disain tetapi yang paling dibutuhkan adalah mereformasi
paradigma mindset. Perlu kita ingat, kesuksesan
seseorang yang terlihat oleh mata kita di luar adalah
akibat sementara kesuksesan di dalam diri seseorang adalah
penyebab (baca artikel: Antara
Sebab & Akibat).
Jadi sama sekali tidak cukup mempelajari atau meniru
tindakan (baca: busana kain) orang sukses.
|
|
|
Produk
Mindset
|
|
|
Mindset
memproduksi paradigma pemahaman tentang nasib.
Sebagaimana pernah dijelaskan, nasib adalah bagian
keadaan hidup yang terjadi secara sirkulatif dalam diri
kita. Berdasarkan hukum memilih, keadaan hidup itu
diciptakan dari pilihan desain yang kita tentukan. Kalau
dikembalikan pada
hukum sebab akibat, keadaan hidup itu adalah
akibat.
Kapankah
busana mindset perlu direformasi? jawabnya adalah
ketika kita memahami bahwa nasib adalah penyebab yang
menciptakan keadaan diri kita sekarang ini. Meskipun itu
hak pilih dan tidak akan ada mahkamah formal yang
menghukum tetapi telah bertentangan dengan sejumlah
dalil di atas. Di samping itu kalau dilihat dari hukum
untung-rugi, pemahaman tentang kemutlakan nasib lebih
banyak ruginya ketimbang untungnya. Mengapa? Kalau kita
tidak mau berubah, kekuatan eksternal akan memaksa
mengubah diri kita. Tekanan dipaksa oleh kekuatan
eksternal itulah yang menyebabkan kita tidak bisa
menerima sepenuhnya keadaan-diri.
Ajaran
teologi menjelaskan bahwa sebagian besar manusia sudah
merasakan kejutan "hari kiamat" ketika masih
di dunia di mana mereka bertanya: "Mengapa hidup
saya menjadi begini?".
Pertanyaan "mengapa" menandakan adanya
konflik internal antara harapan dan kenyataan; antara
perubahan di luar dan perubahan di dalam yang tidak
sebanding. Munculnya "kiamat-diri" disebabkan
oleh akumulasi pengabaian untuk memperbaiki diri atau
mereformasi mindset. Pengabaian yang kita lakukan
dari sejak kecil hingga dewasa telah membuat pengabaian
tersebut lebih perkasa mengubah diri kita. Maka wajarlah
bila sebagian dari diri kita belum secara keseluruhan
memahami nasib adalah akibat pilihan. (baca juga artikel:
Mengubah
Nasib) Produk
mindset lain adalah kebiasaan atau gaya hidup
yang terwakili oleh apa dan bagaimana
kita melakukan, membicarakan, dan menyikapi
sesuatu yang terjadi di dalam diri, orang lain dan
keadaan. Kebiasaan atau gaya hidup oleh sebab itu
dikatakan sebagai hukum-diri di mana kita adalah anak
dari kebiasaan itu. Teori kreativitas menjelaskan kalau
kita melakukan sesuatu dengan cara dan substansi yang
sama maka jangan pernah berharap kalau kita akan
menerima hasil yang berbeda. Kebiasaan kita hari ini
sebenarnya sudah masuk ke CPU kehidupan yang akan
menjadi bahan cetakan (print-out) nasib esok hari. Kebiasaan
yang perlu kita reformasi adalah kebiasaan orang gagal
yang bertentangan dengan keinginan kita menjadi orang
sukses. Beberapa dalil yang bisa kita jadikan untuk
mempertegas pemahaman mengapa kita perlu mereformasi
kebiasaan orang gagal adalah dalil akumulasi, dalil
kombinasi dan dalil habituasi yang telah dipelajari para
ahli dari kebiasaan orang sukses. Kesuksesan itu diciptakan
dari akumulasi kebiasaan sukses kecil-kecil dari sejak
apa yang kita lakukan ketika bangun tidur sampai nanti
malam. Aristotle berkata: "excellent is not
action but habituation". Senada dengan ucapan
itu, Fannie Mae mengatakan: “Jangan percaya dengan
magical event atau one turning point. It was combination
of things". Mengubah
kebiasaan identik dengan menghancurkan tembok penghalang
di dalam diri kita berupa gumpalan raksasa pengabaian
yang sudah bertahun-tahun kita bangun. Kalau yang kita
inginkan kebiasaan bisa berubah atas inisitif kita tanpa
pengorbanan / kerugian maka tidak ada cara lain kecuali
menjalani titah hukum di atas. Kecuali kita rela diubah
oleh kekuatan peristiwa yang berdaya ledak tinggi,
seperti kegagalan fatal atau penyakit. Itupun akan
berakhir dengan pilihan kita. Contoh sepele adalah
kebiasaan merokok. Umumnya orang baru memilih berhenti
setelah penyakit menimpa.
Pengamatan
para ahli di lapangan menunjukkan bahwa para pemimpin
perusahaan yang sudah berkuasa lama dengan kesuksesannya
punya kebiasaann gagal yang dapat menghancurkan usaha
yang dibangun. Penyebabnya bukan mereka tidak paham
manajemen, akunting, peta pasar atau lainnya tetapi
menutup diri yang membuat dirinya tidak tahu dengan
merasa tahu. Karena tidak ada orang di sekitarnya yang
berani mengingatkan kebiasaan itu, maka hanya kalau
usahanya bangkrutlah, kesadaran untuk memperbaiki diri
muncul.
|
|
|
Hambatan
|
|
|
Belajar
dari perjalanan reformasi di negara kita yang ternyata
butuh proses transformasi maka demikian juga proses
reformasi atas
busana mindset. Proses transformasi adalah hukum
alam yang bersifat mutlak. Kemutlakan proses inilah yang
sering menciptakan masalah di tingkat pemahaman kita
ketika pemahaman itu bertentangan. Dari masalah yang
sering muncul mengapa orang gagal mereformasi busana mindset
adalah:
|
|
|
1.
|
Jaminan
|
|
|
|
Kemajuan
atau kesuksesan diri menuntut perubahan kebiasaan dan
paradigma, tetapi tidak semua perubahan dapat menjamin
kemajuan, sebab kunci persoalan bukan pada perubahan
tetapi keyakinan, perasaan, dan pikiran kita. Lika-liku
menjalani proses perubahan dari forrmat lama ke format
baru terkadang dipahami sebagai stimuli untuk berpikir
lebih baik; atau lebih untung menghentikan langkah yang
sudah ada ketimbang melanjutkan karena tidak ada garansi
akan menjadi lebih baik.
|
|
|
2.
|
Tujuan
|
|
|
|
Kemauan
merubah busana mindset seringkali dipahami sebagai
destinasi dari gagal menuju sukses atau dari hidup yang
penuh masalah langsung tidak ada masalah. Padahal,
perubahan bukanlah tujuan tetapi proses yang harus jalani
secara terus-menerus untuk menciptakan prestasi waktu.
Hari ini lebih baik dari hari kemarin dan hari esok
menjadi lebih baik dari hari ini dengan memperbaiki
paradigma dan kebiasaan hari ini. Salah satu kebohongan
hidup yang seringkali menggoda adalah ketika kita memahami
bahwa kalau kita sukses maka masalah hidup tidak akan
pernah kita hadapi lagi. Padahal sesukses apapun orang
dengan gagasannya tidak mungkin bebas dari masalah kecuali
mati.
|
|
|
3.
|
Eliminasi
|
|
|
|
Mereformasi
busana mindset menuntut eleminasi (penghancuran)
busana lama secara total sebagai syarat untuk melahirkan
desain busana baru. Hukum alam menegaskan, munculnya musim
semi sebagai tanda berakhirnya musim gugur, musim kemarau
menggantikan posisi musim hujan. Jika kita ingin mengganti
busana mindset baru tetapi tidak ingin membunuh mindset
lama, maka pada akhirnya hampir dapat dipastikan bahwa
proses reformasi yang kita jalani sering tersandung.
Belajar dari reformasi di negeri ini, meskipun sistem
diubah tetapi mindset dipertahankan, kenyataannya
reformasi menghadapi masalah lingkaran setan. Demikian
juga dengan diri kita.
|
|
|
Membaca
Buku
|
|
|
Mereformasi
busana mindset dan kebiasaan atau gaya hidup
menuntut aplikasi kebiasaan membaca buku sebagai media
mendapatkan pengetahuan yang akan diolah di dalam diri
menjadi pemahaman untuk dijadikan keputusan atau
pengadilan hidup. Di alam ini ada dua buku yang dapat
dijadikan sumber bacaan yaitu buku-buku yang sudah
diterbitkan dan buku yang belum / tidak diterbitkan tetapi
mengandung pengetahuan yang kita butuhkan. Buku yang belum
diterbitkan itu adalah watak manusia dan watak keadaan.
Kalau anda sudah merasa setengah putus-asa menjalani
proses transformasi dari ide ke realisasi karena kegagalan
lalu membaca buku Edison dan ternyata kegagalan anda belum
ada apa-apanya ketimbang Edison, maka rasa putus asa itu
akan malu dan lalu pergi.
Dengan
kata lain bukan sekedar asal-asalan membaca buku tetapi
yang paling penting merencanakan dengan pilihan sadar
tentang materi buku yang akan anda baca. Selain bisa
mengubah filosofi hidup seseorang, membaca buku juga dapat
dijadikan ajang untuk mempertarungkan ego pemahaman
kebenaran sendiri dengan pemahaman orang lain. Kalau
ternyata pemahaman orang lain itu lebih benar maka dengan
sendirinya kesadaran untuk mengakui kesalahan muncul.
Kesadaran-diri merupakan teguran paling perkasa.
Membaca
buku juga dapat membuat seseorang semakin butuh untuk
mengetahui dari persoalan yang dirasakan semakin banyak
tidak diketahui yang akan membuat dirinya punya banyak
pilihan. Paradoknya, semakin lama orang meninggalkan
ajaran membaca buku, semakin merasa tidak butuh mengetahui
karena merasa sudah tahu banyak persoalan yang pada
hakekatnya tidak tahu.
Karena sudah merasa tahu dengan tidak tahu itu,
maka pilihan
hidup yang sanggup diciptakan semakin sedikit.
Meskipun
demikian, membaca buku barulah tahapan menanam pepohonan
baru bagi kebun mindset. Supaya tanaman itu bisa
berbuah dan menjadi hiasan busana baru yang lebih bagus
dibutuhkan juga upaya merawat secara kontinyu dan
model desain arsitektur visual yang tidak larut
oleh sejarah disain masa lalu. Dari pengalaman empiris
sebagian besar orang ditemukan bahwa mengubah kebiasaan,
gaya hidup, atau paradigma itu sama dengan menerbangkan
pesawat. Selain
dibutuhkan keberanian menekan tombol start-on, juga
sebagian besar bahan bakar yang ada dihabiskan paling
banyak ketika saat mau take-off. Begitu anda sudah
biasa "terbang" dengan membaca buku, bisa-bisa
anda protes kalau disuruh berhenti. Semoga berguna.(jp)
|
| |
_____________________________
|
|