INFORMASI PSIKOLOGI ONLINE
 
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Anak & Balita

 

 

 

 

Remaja

 

 

 

 

Dewasa

 

 

 

 

Lanjut Usia

 

 

 

 

Keluarga

 

 

 

 

Pengembangan Karir

 

 

 

 

Sosial & Budaya

 

 

 

 

Wirausaha

 

 

 

 

Masalah Psikologis Dalam Organisasi

 

 

 

 

Manajemen SDM

 

 

 

 

Ruang Konseling

 

 

 

 

Komunitas

 

 

 

 

Komentar Anda

 

 

 

 

Tentang Kami

 

 

 

 

Hubungi Kami

 

 

 

Membuat Sekat Pembatas

Oleh:  Ubaydillah, AN

Jakarta, 16 Juni 2003

Kenyataan di lapangan  menunjukkan,  kalau bisnis yang dijalankan bersama-sama oleh sekelompok orang yang memiliki hubungan persahabatan tidak berjalan dengan lancar atau bangkrut, maka persahabatan pun ikut kena getahnya. Dengan kata lain, mudah terjadi tumpang-tindih persoalan yang dimunculkan oleh kebutuhan kita terhadap hubungan. Satu sisi kita membutuhkan tetapi di sisi lain hubungan punya limbah konflik yang harus dibuang. Persoalannya bagimana agar konflik tersebut tidak menciptakan masalah yang tumpang-tindih. Artinya, kita tetap punya kemampuan memilih jalur menuju penyelesaian konflik secara damai tanpa menggangu konsentarasi kita merealisasikan misi  bernilai.

Diterima atau tidak, konflik merupakan ruang yang harus dilewati  dan mengandung pilihan makna ganda. Bisa berarti arena untuk menghilangkan  orisinilitas diri dan juga bisa berupa arena memperkokoh jati diri. Makna kedua ini yang seharusnya dimiliki dan untuk memilikinya diperlukan perangkat kemampuan yang oleh pada pakar pengembangan diri disebut kemampuan Setting Boundaries. Dilihat dari pengertian yang dikandung, istilah ini bukan hal baru di dalam tatanan budaya kita. Kalau didapatkan seorang boss berpacaran dengan sekretaris, tentu hal itu bukan berarti bahwa lelaki dilarang jatuh cinta dengan perempuan kesayangannya, tetapi jika ditemukan adanya larangan maka hal itu adalah semata-mata untuk sekat hubungan antara professional dan personal. 

Setting Boundaries 

"Setting Boundaries" adalah kemampuan menciptakan sekat pembatas persoalan personal dan fungsional atau aplikasi manajemen konflik dalam kehidupan personal. Disebut kemampuan berarti mengandung ' process of making thing happens' dalam arti perlu belajar mengubah ketidakmampuan lama menjadi kemampuan baru sebagai manifestasi pencapaian kualitas hidup yang lebih baik. Merujuk pada pendapat Maria Marsala dalam artikelnya berjudul Strength-Focused Questions (Coach Maria: 2000),  setting boundaries adalah wujud dari kepedulian diri untuk membangun rasa percaya, rasa cinta, dan rasa menghargai  hubungan pada level interpersonal dan  situasi dalam bentuk  'to negotiate life event'.

Dikatakan negosiasi berarti upaya merencanakan hasil yang masih di dalam kapasitas kontrol untuk  membedakan antara yang dibutuhkan dan tidak. Sehingga semua persoalan bisa dialokasikan dan mendapat disposisi pada porsi masing-masing. Kalau kita kembalikan kepada kenyataan di mana tuntutan untuk memenuhi kebutuhan hubungan semakin kuat yang juga menuntut perbedaan peranan, maka solusi hubungan yang harus diciptakan adalah win-win solution dan  sikap proaktif agar ketika konflik hubungan atau peranan terjadi, konflik tersebut tidak merenggut sudut pandang merealisasikan gagasan hidup yang lain.

Oleh sebab itu, Stephen R. Covey (1992) dalam tulisannya The Quality Life,  mengatakan bahwa  untuk membangun kualitas hidup menjadi lebih baik dibutuhkan upaya memproporsionalkan masalah ke dalam wilayahnya masing-masing. Covey berpendapat bahwa semua orang memiliki tiga wilayah hidup, yaitu: Public lives, Private lives, dan Secret lives. Public lives  adalah wilayah yang saling mempengaruhi, melihat dan mendengarkan dalam menjalankan misi fungsional, seperti bisnis, asosiasi, profesi, dll. Sedangkan Private lives adalah wilayah interaksi secara lebih intim misalnya keluarga, pasangan atau sahabat. Sementara Secret lives adalah wilayah bebas interaksi kecuali dengan dan tentang diri sendiri.

Sekedar contoh yang dapat dipetik sebagai pelajaran tentang wilayah atau pun sekat pembatas adalah adegan di sebuah film yang diperankan Alpacino, sang kepala polisi, dan Robert De niro, si kepala penjahat. Secara pribadi, private lives, mereka adalah teman, tetapi secara fungsional, public lives, mereka adalah musuh. Sehingga dalam acara makan bersama, keduanya bersepakat untuk memberi peluang fungsional di mana keharusan fungsional polisi menangkap penjahat  sebaliknya penjahat merasa punya 'hak' membela diri  dalam keadaan kepepet untuk mengeluarkan pistol. Ternyata benar, gembong penjahat harus rela mati di tangan kepala polisi. Sayangnya adegan tersebut hanya dalam film.

Dalam prakteknya, ada kecenderungan yang masih menempatkan persoalan hidup pada wilayah yang belum jelas. Sehingga kita mudah dibentuk oleh preseden atau pressure persoalan yang diakibatkan oleh hubungan. Apa yang menjadi akar  kecenderungan tersebut? Menurut  Covey dari ketiga wilayah tersebut, secret lives merupakan kunci utama memahami wilayah lain sebab dengan porsi kunjungan yang adil, kemampuan unik berupa self awareness dapat digali.

Beberapa Cara 

Sayangnya, seperti dikatakan Covey, para eksekutif atau mungkin bisa dikatakan mayoritas manusia, kehilangan kesempatan untuk mengunjugi wilayah yang disebut 'secret lives' ini. Padahal dari sinilah kemampuan menciptakan sekat pembatas mulai digali yang diawali dengan menemukan kesadaran-diri kemudian terbentuknya definisi-diri yang secara tidak langsung merupakan sekat pembatas.  Supaya kunjungan yang adil bisa diciptakan terhadap semua wilayah dalam kaitan meningkatkan ketrampilan menciptakan sekat pembatas, maka dibutuhkan implementasi prinsip belajar  yang terdiri atas: belajar menyatakan TIDAK, belajar mengakui perbedaan personal-fungsional, dan
belajar memperlakukan diri sendiri sebagaimana anda mengharapkan orang lain memperlakukan anda.

1.

Menyatakan Tidak

Siklus pengaruh dalam wilayah kehidupan publik di satu sisi menawarkan distraksi yang justru  bisa menjauhkan anda dari misi dan definisi diri.  Sementara semua orang secara secara alamiah cenderung terbawa arus untuk mengatakan YA suatu tawaran yang sebenarnya mengandung unsur distraksi. Kalau sedang berkonsentrasi tentang satu persoalan di kantor kemudian telephone berdering menawarkan sesuatu yang mengenakkan atau pun menjengkelkan, maka gampang sekali kita tergoda meninggalkan konsentrasi pertama. Padahal masih ditemukan waktu lain yang bisa untuk memikirkannya dan memberi solusi riil terhadap tawaran tersebut.

Oleh karena itu belajarlah mengatakan TIDAK  secara assertive yang berarti menjunjung tinggi misi dan definisi personal tanpa mengabaikan kepentingan atau pun tawaran orang lain. Berani mengatakan TIDAK secara assertive memang menuntut kemampuan mengekspresikan perasaan dangan penguasaan bahasa hidup yang sopan tetapi tegas.

2.

Mengakui Perbedaan 

Unutk mampu meletakkan persoalan yang menyangkut hubungan diri dengan orang lain pada porsi yang tepat di wilayah masing-masing dibutuhkan pembelajaran mengakui perbedaan, bukan mengadili secara hitam putih suatu perbedaan.  Ajaran kepemimpinan mengatakan  kalau ingin mengubah bawahan, maka ubahlah kesalahan dari tindakan itu bukan mengubah pribadinya agar sama dengan anda. Setelah itu barulah diberikan kesempatan pada sang bawahan untuk menemukan pribadi  yang cocok. Bahkan Kahlil Gibran mengatakan, "Anak bukanlah milik anda tetapi menjadi tanggung jawab anda (untuk mendidik)". Artinya pendidikan adalah pengakuan yang mengantarkan peserta didik menemukan dirinya, bukan malah menghapus lalu digantikan kepribadian lain.

Jika dasar menciptakan hubungan dengan orang lain berupa pengakuan akan adanya perbedaan maka secara otomatis akan mengurangi bentuk pembuangan konsentrasi secara sia-sia terhadap persoalan pengadilan personal. Pengakuan perbedaan merupakan manifestasi kualitas kematangan pondasi personal yang akan menghindarkan kita dari praktek pemaksaan atau dipaksa, situasi intimidasi. Sebab ketika praktek pemaksaan terjadi, maka tidak ada lagi sekat pembatas antara anda dan situasi sehingga kemampuan sikap proaktif menjadi lumpuh.

3.

Memperlakukan Diri

Diakui atau pun tidak, perlakuan orang lain dan bahkan situasi hidup yang dialami seseorang merupakan feedback bagaimana orang tersebut memperlakukan dirinya sendiri. Sulit mengharapkan citra diri yang baik dari orang lain sementara terhadap diri sendiri justru membangun citra diri yang buruk. Ketika sudah demikian, maka imbasnya adalah bad image  kepada orang dan keadaan.  Sebagai feedback, maka begitu juga orang dan keadaan memberikan perlakuan.  

Maka tepat jika dikatakan, membangun sekat pembatas adalah  wujud dari bentuk perlakuan  untuk  membangung self-confidence, self-trust, positive self-image, self-value atau self-esteem.  Jika individu tidak memiliki sekat pembatas yang memperjelas definisi tentang dirinya, orang lain dan keadaan, maka secara tidak langsung ia pun tidak punya kemampuan bagaimana memahamkan orang lain dan keadaan serta bagaimana memberi perlakuan. Sayangnya, jebakan yang sering diikuti adalan memaksa orang lain untuk memahami kita sebelum memahami dan memahamkan materi kepada orang lain tentang  definisi kita. Semoga berguna. (jp)

 

_____________________________


Copyright (c) 2000, e-psikologi.com. All rights reserved
Situs ini didesain oleh e-psikologi.com