|
|
 |
|
|
Menguji
Ketahanan Fokus
|
|
Oleh: Ubaydillah,
AN
|
|
Jakarta,
11 April 2003
|
|
Dalam bukunya “Only The Paranoid Survive” (Currency
New York :1996), Andy Grove menceritakan banyak hal
tentang lingkungan bisnis, keputusan dan eksekusi yang
dijalankan dengan posisinya sebagai CEO Intel. Langkah
Grove mengubah core business dari chip memory ke
microprocessor dinilai banyak pihak sebagai kesuksesan
bertindak. Sebelumnya, Intel dihadapkan pada banyak
dilemma menghadapi serangan produk Jepang yang telah
lebih dulu menguasai pasar chip memory di samping juga
dilihat dari resource usaha,
manufacture Jepang itu lebih kuat. Saat itu Grove
menghadapi tiga pilihan yang sama-sama tidak mudah.
|
|
Mengambil hikmah dari permainan tersebut diatas,
kalau kita semua bisa menciptakan peristiwa dengan
instruksi mental terhadap benda kecil, mestinya kita pun
bisa menciptakan sesuatu terhadap benda atau hal
lain yang berharga, misalnya saja target atau tujuan hidup
kita sendiri. Sebab dari permainan itu terbukti bahwa
kekuatan internal bisa berkomunikasi untuk menciptakan
kesepakatan kinerja dengan kekuatan eksternal dengan
syarat dikomunikasikan dengan mengerahkan fokus atau
konsentrasi yang mencapai tingkat dominasi tinggi.
Persoalannya jelas bahwa untuk mengerahkan fokus pada
permainan di atas selain
membutuhkan durasi terbatas juga berlangsung tanpa
godaan atau tantangan. Kondisi itu tentu amat
berbeda dengan target atau tujuan hidup yang biasanya
penuh dengan godaan dan tantangan. Apa saja godaan atau
tantangan itu? Lalu bagaimana kita mempertahankan diri
agar tetap fokus?
|
|
|
Situasi:
Fair vs Unfair
|
|
|
Ibarat mengarungi lautan, situasi yang dihadapi
dalam kehidupan sehari-hari bisa normal dalam arti
menciptakan perlakuan yang fair dan juga
bisa sebaliknya. Dalam situasi fair semua
berjalan sebagaimana direncanakan sekaligus tidak ada
gangguan ombak yang menciptakan kekhawatian. Pada
tingkat ini nyaris tidak ditemukan perbedaan antara
nahkoda yang ahli dan amatiran karena bisa sama-sama
mengarahkan kapal sesuai peta dan sampai ke tujuan.
Dalam situasi seperti ini maka benar apa yang dikatakan
orang bahwa laut yang tenang tidak pernah melahirkan
pelaut yang tangguh. Tetapi bagaimana kalau
tiba-tiba terjadi ombak besar; situasi berkabut; rute
tidak pasti dan tidak lagi bisa dijawab kapan bisa
sampai ke daerah tujuan?
Itulah ilustrasi persoalan situasi yang konkrit.
Dalam kondisi konkrit yang demikian, mampukah anda
menjaga agar diri tetap fokus; mengerahkan energi
konsentrasi di tengah-tengah situasi yang terkadang bisa
dikontrol tetapi terkadang liar? Jawabannya mungkin agak
sulit untuk anda jawab. Inilah alasan mengapa permainan
di atas mungkin tidak bisa dilakukan oleh semua orang.
Kalau diandaikan, kemungkinan besar semua atau mayoritas
orang bisa sukses dengan gagasannya kalau situasi
selamanya menciptakan perlakuan yang fair dalam
arti tidak ada masalah hidup selain melakukan sesuatu
untuk memenuhi target agar tujuan
tercapai.
Untuk bisa memfokus pada tujuan atau hal-hal
berharga, pola
pandangan anda terhadap situasi tidak boleh tunggal: fair
atau unfair. Karena pandangan tunggal sering
memberi jebakan berupa pengabaian terhadap pendidikan
situasi. Jika anda berpandangan situasi itu hanya fair
padahal kenyataannya musibah, godaan, atau pun
kesengsaraan bisa menimpa siapa saja tak peduli orang
baik; baik-baik; setengah baik; atau orang jahat, maka
pandangan anda bertentangan dengan situasi konkrit yang
berarti memudahkan jawaban putus asa atau kebencian
personal. Dengan memiliki pandangan ganda, maka situasi
dapat diletakkan dalam perspektif uji-ketahanan fokus.
Konon James O. Jackson, penulis dan senior editor
majalah Time, punya ketahanan fokus dan
konsentrasi yang mengagumkan. Selain profesinya yang
mengharuskannya untuk terus-menerus berhadapan
dengan deadline yang ketat, uncertainity,
pun juga masalah di luar profesi yang diliputi chaos.
Namun dalam kondisi tersebut ia tetap dapat
berkonsentrasi, meramu sejumlah besar informasi hanya
dalam hitungan jam, dan menghasilkan tulisan bermutu.
Sementara ia masih tetap bisa bercanda, dan
menyelesaikan masalah orang lain. Tentu masih
banyak tokoh sukses yang anda kenal yang dapat
berkonsentrasi di tengah gelombang. Lalu apa rahasianya?
|
|
|
Sudut
Pandang
|
|
|
Memetik pelajaran dari kehidupan Jackson, seperti
yang dikutip oleh Steven J Stein, dalam The EQ Edge:
Emotional Intelligence and Your Success, (Howard E
Book: Toronto 2000), bahwa rahasia di balik ketahanannya
adalah kepercayaan pada kemampuan sendiri. Yakin pada
apa yang dapat dilakukan dengan kualitas terbaik
sekaligus tidak membiarkan jebakan emosi menguasai diri
akibat orang lain atau situasi. Kemampuan tersebut
adalah rumusan sudut pandang sendiri dalam melihat peta
situasi yang menyangkut isu tentang orang dan peristiwa.
Jika tiba-tiba bawahan atau atasan atau istri
atau pembantu anda menelpon bahwa ada orang yang mencari
anda dan karena tidak ketemu atau terlalu lama menunggu,
maka orang tersebut harus pamitan dengan menampakkan
muka kusut. Karena sudut pandang berbeda, 'muka kusut'
bisa dilaporkan kepada anda bahwa orang tersebut
jengkel atau pantas menerima kasihan. Padahal faktanya
adalah sangat mungkin sekali kalau tiba-tiba anda datang
dengan membawa sudut pandang sendiri dengan orang itu,
maka 'muka kusut' ya hanya sekedar muka kusut
tanpa embel-embel jengkel atau pantas dikasihani. Dan
begitu mendengar apa maksudnya lalu anda mengatakan YA
atau TIDAK, lalu urusan selesai.
Belajar dari Jackson, rumusan tentang ketahanan
hidup bertumpu pada tiga unsur kunci:
|
|
|
-
Kemampuan merencanakan tindakan positif untuk
membatasi dan menampung stress.
-
Kemampuan untuk tetap optimis meskipun mengalami
hal-hal negatif atau menghadapi perubahan mendadak
-
Kemampuan untuk merasa bahwa anda bisa
mengendalikan atau sekurang-kurangnya mengatasi
peristiwa yang menimpulkan stress.
|
|
|
Kebanyakan manusia hanya bisa melakukan hal-hal
positif atau fokus pada tujuan pada saat situasi fair
dan selebihnya sedikit saja situasi berubah, maka
berubah pola format tindakan. Kalau situasi hidup hanya
berubah sekali tidak apa-apa, tetapi situasi berubah
sepanjang hidup. Jadi konsentrasi pun berubah. Kalau
konsentrasi berubah, maka jangankan terhadap tujuan
hidup, terhadap benda kecil dalam permainan di atas pun
tidak bisa menciptakan 'thing happens'.
Di sisi lain, tindakan bukanlah peristiwa tunggal
melainkan dipicu dari bentuk sudut pandang tertentu.
Bukan kemampuan istimewa jika anda punya optimisme di
saat situasi normal sebab yang benar-benar dibutuhkan
adalah mampukah anda melihat secercah cahaya pada saat
situasi terkadang berkabut. Maka melihat situasi disebut
"Kemampuan", dalam arti 'quality of
achievement'. Sebelum Teh Sosro dipasarkan konon
riset pemasaran perusahaan multinasional tersebut justru
mengatakan TIDAK, tetapi sudut pandang Sutjipto
Sosrodjojo mengatakan YA.
|
|
|
Beberapa
Saran
|
|
|
Jika persoalan fokus dan konsentrasi berpusat
pada orisinilitas sudut pandang tentang orang dan
peristiwa, maka yang perlu anda lakukan adalah menjalani
pendidikan situasi yang materinya antara lain: Jangan
larut; Jangan lari; dan Jangan kalut. Atau menempuh
proses pembelajaran diri melalui perubahan situasi.
|
|
|
1.
|
Jangan
Larut
|
|
|
|
Untuk bisa fokus pada tujuan hidup di tengah
situasi eksternal yang terkadang fair dan unfair,
dituntut ketahanan untuk tetap utuh. Jika anda larut di
dalamnya maka itu artinya anda terbawa ke dalam situasi;
hanyut dan tenggelam di dalamnya. Manusia secara umum
punya kecenderungan untuk larut dalam situasi yang
diakibatkan oleh kebiasaan reaktif, konformitas dan
kehilangan jarak yang memisahkan space personal dan
situasi.
Reaktif. Kebiasaan ini merupakan akibat
dari pengabaian terhadap pengembangan kesadaran proaktif
dalam arti kemampuan untuk memilih. Kesadaran
Proaktif bahwa anda sedang berhadapan dengan
situasi yang menuntut untuk memilih merupakan
modal dasar. Begitu anda kehilangan sudut
pandang untuk memilih maka dengan sendirinya anda
terbawa oleh sudut pandang 'absolute truth' (kebenaran
mutlak) yang berarti munculnya keharusan yang tidak anda
sadari untuk larut.
Konformitas. Seperti yang sudah sering
dijelaskan, konformitas adalah musuh utama kreativitas
yang dalam kaitan dengan menjaga fokus dapat bermakna
kehilangan keaslian sudut pandang personal. Terimalah
kenyataan bahwa untuk persoalan tertentu sudah tercipta
sudut pandang kolektif tertentu tetapi yang mestinya
tidak boleh anda lakukan adalah mengabaikan kesempatan
memunculkan sudut pandang pribadi anda terhadap
persoalan tersebut. Bukan dalam konteks 'menentang'
untuk 'berlawanan' tetapi murni eksplorasi diri agar
anda tidak gampang larut dalam berbagai hal.
Kehilangan Jarak. Ketika sudah terformat
bahwa anda dan situasi yang sedang muncul sama, maka
artinya anda sudah larut. Mengubah situasi dari yang
tidak diinginkan terjadi menjadi apa yang anda inginkan
terjadi jelas menuntut posisi di mana anda memiliki
jarak yang memungkinkan terciptanya kendali terhadap
suatu situasi.
|
|
|
2.
|
Jangan
Lari
|
|
|
|
Asas praduga mengapa anda tidak diperbolehkan
lari dari situasi yang anda anggap sulit adalah karena
setiap persolan akan memiliki wilayah polarisasi yang
mengandung unsur solusi meskipun juga mengandung unsur
persoalan lain. Solusi biasanya sudah memiliki
bagian-bagian tertentu sebagaimana juga persoalan,
tidak berdiri sendiri. Ketika anda tidak bisa
menciptakan solusi secara utuh maka yang tidak boleh
anda lakukan adalah menciptakan problem dari situasi
yang sudah sarat problem. Sebaliknya anda bisa memilih
bagian dari solusi yang dilihat paling sederhana.
Ketika sudah kehilangan asas praduga seperti di
atas maka tidak ada pilihan lain kecuali anda harus lari
dari tanggung jawab untuk menyelesaikan persolan atau
pasrah-pasang-badan. Dalam keadaan lari, maka
selain merugikan orang lain terkait dengan situasi
tersebut, juga di sisi lain telah menyedot energi fokus
dari pengembangan diri menjadi penghindaran diri.
Oleh karena itu tidak salah jika dikatakan bahwa
mengerahkan fokus dan konsentrasi dibutuhkan ketenangan
diri. Tanpa ketenangan, maka mudah terjadi pembiasan ke
hal lain yang bisa jadi jauh dari esensi pengembangan.
Sehingga memang harus dikatakan bahwa upaya yang paling
penting adalah menciptakan antisipasi atas kemungkinan
munculnya situasi yang membuat anda berpikir untuk lari.
|
|
|
3.
|
Jangan
Takut
|
|
|
|
Anda kehilangan kompas yang menunjukkan ke mana
arah kiblat yang sebenarnya. Pada situasi demikian maka
tidak ada lagi fokus kecuali ketakutan yang tidak
beralasan. Ketika ketakukan sudah mendominasi
muatan pikiran, maka jangan salah jika ketakutan
tersebut mewakili keinginan. Artinya, jika orang takut
gagal tidak berarti menginginkan sukses malainkan justru
menginginkan kegagalan terjadi, karena dominasi muatan
pikiran berupa ketakutan dan pikiran anda hanya akan
bekerja menurut apa yang mendominasi muatannya, terlepas
baik atau buruk; tahu atau tidak tahu. Maka diajarkan
kepada kita, siapa yang takut terjerumus, ia akan
terjerumus.
Dengan kata lain, untuk memiliki kemampuan
mengerahkan fokus jelas dibutuhkan "Management
of Fear". Dalam hal ini maka keberanian bukan
berarti tidak ada lagi rasa takut melainkan lebih tepat
dipahami sebagai kemampuan menjinakkan rasa
takut (the mastery of fear). Tentu sangat
beralasan dikatakan 'mastery' karena selama
manusia masih hidup maka tetap memiliki rasa takut,
tetapi yang dibutuhkan adalah mengelola rasa
takut tersebut menjadi kekuatan konstruktif.
Dengan pengelolaan, ketakutan bisa menjadi keberanian.
Hal Yang penting adalah jangan takut hidup hanya
semata karena rasa takut lalu kalut kemudian
membuat seluruh kecerdasan anda tumpul. Sebaliknya
gunakan ketakukan tersebut menjadi alat menciptakan
keberanian bertindak untuk mengatasi situasi yang
menganggu fokus pengembangan diri. Dan ini menuntut
penemuan sebuah format sudut pandang yang berbeda karena
ia akan menjadi pondasi. Begitu anda merasakan getaran
rasa takut yang kian mendominasi, cepatlah kembali pada
pertanyaan mendasar, sudut pandang model apa yang anda
gunakan. Lalu kembali bertanya, mengapa tidak mengganti
sudut pandang yang menciptakan keberanian.
|
|
|
Belajar dari pengalaman kemenangan para jagoan
perang dari sejak masa keemasan Sun Tzu di China lalu
Musashi dengan Samurai di Jepang, bahkan sejak
peperangan para nabi
membawa misi ke-Tuhan-an ditemukan bahwa penguasaan
situasi memiliki kontribusi kemenangan terbesar. Artinya
apa? Kemenangan atau kekalahan dalam perang sangat sedikit
sekali
relevansinya
dengan kekuatan atau kelemahan musuh
tetapi
lebih kepada mbagaimana sebuah pasukan menemukan sudut pandang
"Kemenangan" yang diyakini
bersama. Anda juga punya kesempatan sama untuk menemukan sudut pandang menang
atau meraih tujuan
hidup. Ketika anda menemukannya maka
anda
tinggal
memfokuskannya dengan energi konsenstrasi yang total kemudian
memberi instruksi mental ke arah mana langkah kaki
diinginkan. Semoga berguna. (jp)
|
| |
_____________________________
|
|