|
Meski kita ingin segera dapat mengatasi depresi, tetapi
tak jarang kita malah mempraktekkan hal-hal yang
memperparah depresi itu. Ini antara lain bisa dijabarkan
sebagai berikut:
1. Hanya
mencari-cari tip, saran atau tehnik yang jitu untuk
mengatasi depresi. Tip dari buku, saran dan tehnik dari
orang lain itu sangat kita butuhkan tetapi posisinya di
sini bukan sebagai penentu, melainkan sebagai pembantu (bantuan.
Kita membutuhkan semua itu tetapi tidak boleh
mengandalkan pada semuanya. Artinya, tip dan saran itu
akan berguna ketika kita dalam keadaan sedang berusaha
untuk mengatasi depresi dan tidak berguna kalau kita
duduk dan diam saja.
2.
Tidak percaya, menolak atau skeptis terhadap
saran, pendapat atau bantuan orang lain. Ini adalah
bentuk padanan yang ekstrim dari yang pertama. Menutup
diri, menutup-nutupi, melecehkan semua orang atau
menjauhi orang kerapkali justru akan membuat kita
semakin ‘depressed’ dengan keadaan kita.
3. Hanya
menyalahkan keadaan atau orang. Mungkin saja yang
membuat kita depresi itu adalah dunia ini yang telalu
kejam atau orang lain. Tetapi akan malah berbahaya kalau
yang kita ingat dan yang kita lakukan adalah hanya
mengutuk dunia dan mengutuk orang lain. Harus ada
inisiatif dari dalam diri kita untuk mengobati diri
sendiri.
4. Kurang
kreatif dalam menemukan cara atau terlalu “taat” pada
rutinitas yang biasa-biasa. Ini juga bisa membuat
depresi itu makin mendalam. Ada saran agar kita membagi
aktivitas menjadi tiga: a) aktivitas positif yang wajib,
b) aktivitas yang untuk fun atau pleasurable, dan c)
aktivitas yang untuk menabur kebajikan pada orang lain
seperti membantu atau menyambung hubungan.
5.
Membiarkan munculnya definisi diri negatif,
misalnya saja: saya sudah tidak punya apa-apa lagi, saya
muak melihat diri saya, hidup saya sudah hancur dan
tidak bisa diperbaiki lagi, dan seterusnya. Ini adalah
definisi atau kesimpulan atau label tentang diri sendiri
yang kita buat sendiri. Jika ini terus berlanjut akan
mempersulit upaya recovery.
6. Menolak
realitas dengan cara yang merugikan. Realitas itu kalau
ditolak dengan tujuan menolak yang asal menolak (denial),
ini akan memperparah pertengkaran yang membuat depresi
itu makin mencengkeram. Tetapi bila kita terima dengan
pasrah dan kalah (larut dan hanyut), ini juga tidak
menyembuhkan. Yang diharapkan adalah menerima untuk
memperbaiki. Seperti yang ditulis Dr. Felice Leonardo
Buscaglia, “ Trauma yang abadi di adalah penderitaan
yang tidak diikuti dengan perbaikan.”
7.
Menganut paham perfeksionis yang tidak rasional.
Dari pengalaman sejumlah ahli dalam menangai penderita
depresi, konon yang menghambat upaya recovery
adalah ketika seseorang berpikir bahwa dia harus bebas
dari depresi seketika itu dan langsung, tidak usah
repot-repot. Mengatasi depresi butuh proses yang
berkelanjutan, dan jika kita menolak proses itu bukan
malah cepat tetapi malah semakin lama.
Tujuh hal di atas dapat kita gunakan untuk menjelaskan
realitas di mana ada orang yang semakin buruk langkahnya,
makin buruk hubungannya dan makin buruk caranya dalam
menghadapi hidup saat depresi. Anda mungkin punya teman,
keluarga atau tetangga yang malah semakin tertutup,
semakin tidak persuasif, semakin tidak bijak, semakin
sempit, semakin tertutup dan sejumlah “semakin” yang
negatif lainnya.
Tetapi ada juga sekelompok orang yang mulai menunjukkan
bukti-bukti perbaikan diri, perbaikan hubungan dan
perbaikan cara dalam menghadapi realitas. Semakin jelas
langkah yang ditempuh, semakin open dan bijak,
semakin bisa memilih orang, semakin ramah, semakin soleh
hidupnya, dan seterusnya. Sebisa mungkin kita perlu
berjuang untuk menjadi manusia kelompok kedua.
Agenda Reformasi
Secara umum, agenda reformasi itu bisa kita buat
berdasarkan poin-poin berikut ini:
1.
Membangun citra diri positif
Citra diri berasal dari bagaimana kita menyimpulkan diri
sendiri atau beropini tentang diri sendiri. Yang positif
membuahkan citra positif. Untuk membangun yang positif
ini diperlukan tiga hal:
§
Anda perlu menciptkan definisi, opini atau kesimpulan
yang positif
§
Anda perlu melawan munculnya opini, definisi atau
kesimpulan negatif dengan cara menghentikan, mengganti
atau membatalkan
§
Anda perlu menciptakan alasan-alasan faktual, bukti
nyata untuk mendukung kesimpulan positif yang Anda
ciptakan
Sedikit tentang alasan faktual itu, saya ingin memberi
contoh misalnya saja Anda berkesimpulan bahwa hidup Anda
memang masih bermakna (untuk diri sendiri dan untuk
orang lain). Kesimpulan ini lebih positif ketimbang Anda
punya kesimpulan yang sebaliknya. Tetapi jika yang Anda
lakukan hanya sebatas merasa atau menyimpulkan (tanpa
diiringi dengan perbuatan dan hasil atau pembuktian
bertahap), lama kelamaan kesimpulan Anda ini akan kalah
oleh fakta yang ada tentang diri Anda. Jangan pernah
berpikir bahwa perbaikan diri itu bisa ditempuh dengan
cara tidak melakukan sesuatu. Forget it.
2.
Menjalankan agenda perbaikan berkelanjutan yang
realistis
Kesalahan kita saat terkena depresi adalah: kita hanya
merasakan bagaimana depresi itu tetapi kurang berpikir
tentang apa saja yang masih bisa kita lakukan untuk
memperbaiki diri di masa depan. Kita tenggelam ke dalam
masa lalu yang buruk dan lupa meng-imajinasi-kan masa
depan yang lebih bagus. Padahal, masa lalu itu sudah
tidak bisa diubah. Padahal, masa depan itu masih “open”
buat kita. Agar ini tidak terjadi, Anda boleh memilih
agenda perbaikan di bawah ini:
§ Anda
merencanakan program atau jadwal tentang apa yang perlu
anda lakukan dan apa yang perlu Anda hindari agar hidup
Anda menjadi lebih bagus di hari esok berdasarkan
keadaan Anda.
§
Anda mencanangkan target yang benar-benar ingin Anda
raih sebagai bukti adanya perbaikan dalam diri Anda,
misalnya mendapatkan pekerjaan, mendapatkan orang yang
lebih bagus, mendapatkan tempat yang lebih bagus, dan
seterusnya.
§ Anda
merumuskan tujuan jangka pendek atau panjang yang ingin
Anda wujudkan, seperti misalnya menyelesaikan kuliah,
meningkatkan penguasaan bidang, menambah pengetahuan
atau skill, dan lain-lain
Tiga hal di atas perlu dilakukan dengan catatan harus
realistis: bisa dilakukan dari mulai hari ini, dengan
menggunakan sumber daya yang sudah ada, dan dari lokasi
hidup di mana Anda saat ini berada. Hindari membuat
program atau target yang “mengkhayal” atau hanya
berfantasi atau terlalu tinggi sehingga tidak bisa
dilakukan dan tidak bisa diraih.
3.
Menggunakan ketidakpuasan
Saat depresi, pasti kita tidak puas dengan hidup kita.
Ini bisa positif dan bisa negatif, tergantung bagaimana
kita menggunakan. Bagaimana supaya bisa positif? Salah
satu caranya adalah dengan menggunakan ketidakpuasan itu
sebagai dorongan / motivasi unntuk melakukan sesuatu (menjalankan
program, meraih target atau tujuan). Anda bisa
menggunakan ketidakpuasan atas masa lalu dan hari ini
sebagai pemacu untuk memperbaiki atau mengubah hari esok.
Jika PHK telah membuat Anda depresi, jadikan itu sebagai
motivasi untuk memperluas jaringan, memperbaiki skill,
membangun karakter yang lebih positif, dan seterusnya.
Ini jauh lebih positif ketimbang kita hanya merasakan
depresi, mengasihani diri sendiri dan menyalahkan orang
lain.
4.
Memperbaiki / memperluas hubungan
Wilayah hubungan yang perlu diperbaiki adalah: a)
hubungan dengan diri sendiri: control diri, meditasi,
dialog diri, dll, b) hubungan dengan orang lain dan c)
hubungan dengan Tuhan (meningkatkan iman). Memperbaiki
hubungan dengan diri sendiri akan membuat kita cepat
mengontrol atau menarik diri dari keadaan yang tidak
menguntungkan kita. Kalau kita sadar bahwa kita sedang
depresi dan sadar bahwa kita harus segera mengambil
tindakan, tentunya ini akan beda persoalannya.
Memperbaiki hubungan dengan manusia akan membantu usaha
yang kita lakukan dalam mengatasi depresi. Kita tetap
harus ingat bahwa manusia itu bisa digolongkan menjadi
dua: a) ada manusia yang menjadi sumber depresi buat
kita, dan b) ada manusia yang menjadi bantuan solusi
atas depresi. Yang kita butuhkan (sebanyak-banyaknya)
adalah manusia kelompok kedua. Jangan sampai kita
menjauhi semua manusia, trauma kepada semua manusia,
atau tidak percaya pada semua manusia.
Bagaimana memperbaiki hubungan dengan Tuhan? Ada banyak
cara untuk memperbaikinya, antara lain: a) meningkatkan
iman, b) menjalankan ajaran agama yang kita pilih
(formal dan non-formal) sampai benar-benar kita merasa
dan meyakini ada semacam “kebersamaan”. Kebersamaan di
sini bukan kebersamaan yang “halusinasi” (tidak berdasar
dan tidak berefek), tetapi kebersamaan yang mendorong
kita untuk melakukan hal positif dan menghindari hal
negatif. Kebersamaan seperti ini akan memperkuat dan
mencerahkan.
5.
Mengganti paham “perfection” menjadi “excellence”
Dengan bahasa yang sederhana dapat dijelaskan bahwa
perfection adalah menuntut kesempurnaan (dari orang
lain, dari diri sendiri dan dari dunia ini). Sementara,
excellence adalah mengusahakan kesempurnaan
secara bertahap, perbaikan berkelanjutan. Perfection
lebih dekat pada keyakinan yang tidak rasional.
Keyakinan seperti ini lebih mudah terkena depresi pada
saat kita ingin mengatasi depresi, misalnya saja kita
tidak mau gagal lagi (kemungkinan untuk gagal itu selalu
ada), kita anti toleransi terhadap kelemahan orang lain
(semua orang punya kelemahan), dan seterusnya.
Menurut Susan Dunn, MA, (When Perfect Isn't Good Enough,
www.selfgrowth.com,
perfeksionis dapat mengakibatkan hal-hal buruk yang
antara lain adalah: a) dapat mengantarkan kita pada
isolasi diri, b)dapat mengantarkan kita menjadi orang
yang takut menghadapi resiko hidup, c) dapat
mengantarkan kita pada kesulitan dalam membuat keputusan
atau sasaran hidup yang tepat, d) dapat mengantarkan
kita pada kesalahan dalam menilai diri (overestimate),
e) dapat mengantarkan kita menjadi orang kerdil yang
sulit mempercayai orang lain.
Selamat mempraktekkan! |