|
|
 |
|
|
Menjaga
Stabilitas Hidup
|
|
Oleh: Ubaydillah,
AN
|
|
Jakarta,
10 Maret 2003
|
|
Baik secara pribadi atau
organisasi, stabilitas hidup diciptakan dengan terus-menerus
menciptakan perubahan internal sebagai jawaban dari
siklus perubahan eksternal. Jawaban tersebut harus
berupa reaksi yang cocok sebab kalau tidak, perubahan
yang anda lakukan untuk menjawab bisa jadi justru berupa
problem alias terjadi gap dan instabilitas.
Kesimpulannya, kunci reaksi yang cocok tersebut terdapat
pada keberanian meninggalkan sebagian norma lama yang
tidak memadai dan sebagai gantinya,
menciptakan norma baru yang lebih memadai. Lalu
apa saja yang harus anda pahami agar terjaga stabilitas
hidup anda?
|
|
|
The
Science of Cybernetics
|
|
Selama Perang berkecamuk
antara tahun 1939 – 1945, sebuah investigasi oleh pakar
militer Amerika menemukan sistem kontrol yang digunakan
untuk mendeteksi serangan musuh yang disebut anti-aircraft.
Tidak saja terhadap pesawat melainkan juga peralatan
perang lainnya. Semula system ini hanya digunakan sebatas
mengatur hubungan antara manusia dan peralatan perang
serta bagaimana mereka mengoperasikan. Tetapi kemudian
berkembang ke wilayah industri baik pada pribadi dan
perusahaan yang kemudian dikenal lebih popular dengan
sebutan The Science of Cybernetics.
Dari investigasi ditemukan
bahwa ciri khas paling menonjol dari sebuah system makhluk
hidup, adalah adanya fenomena feedback yang identik
dengan proses komunikasi di dalam bisnis atau kehidupan
secara menyeluruh. Lebih spesifik, feedback mengacu
pada pengertian seperti yang dijelaskan dalam Principles
of Management [A.H. Taylor AACCA, GT Britain, 1977]
sebagai: automatic response to external change.
Contoh: begitu salah satu anggota badan bersentuhan
dengan ancaman faktor eksternal misalnya saja api atau
lainnya maka
secara automatic anda langsung menarik untuk
menemukan norma baru yang stabil.
Yang perlu disayangkan, Ilmu
Sibernetika telah diformulasikan menjadi sebuah paket
materi tertentu untuk profesi tertentu dengan berbagai
aksesoris teknologi yang tidak dimiliki kecuali kalangan
tertentu. Artinya, lebih ditekankan pada aspek penguasaan
pada bagaimana benda-mati bekerja. Padahal esensi yang
melatar-belakangi Ilmu tersebut sangat berguna bagi umat
manusia, terutama dalam hal mengupayakan keseimbangan
hidup antara perubahan internal dan eksternal. Artinya
bagaimana pribadi atau organisasi bisa menciptakan reaksi
yang cocok dengan perubahan eksternal melalui proses
komunikasi mental dan pemahaman. Tujuannya tidak lain agar
keadaan hidup masing-masing pribadi atau organisasi selalu
dalan situasi on-line alias terkontrol secara tepat.
Masih melihat dari kacamata
sejarah, bahwa hasil investigasi menemukan adanya support
system yang telah dipasang di dalam masing-masing
makhluk hidup, yang memungkinkan terjadinya proses
komunikasi antara manusia, keadaan, benda-benda, hewan,
dll. Dalam strategi perang dikatakan bahwa kemenangan
akan menjadi hak milik bagi yang menguasai keadaan.
Tentu ini isyarat bahwa sebenarnya telah dipasang networking
cable antara manusia dan makhluk hidup lain
supaya mereka bisa berkomunikasi. Lalu dari komunikasi
inilah jurus yang tepat untuk merumuskan reaksi yang cocok.
Hanya seorang pawang bisnis yang bisa menjinakkan
bisnis sama ibaratnya dengan pawang harimau atau binatang
buas lainnya. Artinya, menguasai keadaan setelah terjadi
komunikasi, interaksi, identifikasi dan reaksi.
Karena manusia tidak saja
sekedar organisme hidup (living organism),
tetapi juga the human, maka istilah lain yang lebih
popular digunakan adalah reflective, bukan automatic.
Artinya anda harus memiliki sensitivity feeling
yang tajam pada setiap perubahan eksternal agar bisa
menemukan reaksi yang cocok dengan cara mengubah tatanan
internal agar terjaga keseimbangan hidup. Reflective
artinya sudah terbiasa, conditioned by the habit,
dengan membiasakan diri untuk selalu online, connected,
atau on. Alasannya adalah karanea perubahan
eksternal bisa terjadi di luar kontrol anda. Bisa kapan
saja atau dalam bentuk apa saja. Satu-satunya yang bisa
anda kontrol adalah diri anda. Kontrol diri artinya anda
dengan sadar menentukan pilihan reaksi yang positif.
Dengan kontrol diri, minimal anda tidak menambah problem
dengan problem yang akan menghasilkan problem
baru melainkan memposisikan problem diadu dengan
solusi.
Lantas bagaimana The
Natural Science of Cybernetics bisa diaplikasikan ke
dalam kehidupan pribadi atau organisasi? Jika esensinya
berupa reflective control to external change, maka
anda bisa mengaplikasikannya dengan mengikuti formula “C.Y.T”
yang ditawarkan oleh Tom Payne dalam The 7 Dynamic Keys
that will Transform Your Life. Formula C.Y.T. adalah
singkatan yang berarti:
|
|
|
-
Catch yourself Thinking
- Control Your Thoughts
-
Create Your Thoughts
|
|
Jika anda merasakan
perubahan yang menuntut jawaban dalam bentuk reaksi yang
cocok, maka pertama kali yang perlu anda lakukan adalah
menangkap diri anda secara utuh. Menangkap adalah
memiliki sense of ownership and responsibility.
Anda adalah pemilik dari kehidupan yang anda rasakan
saat ini, bukan menjadi bagiannya, dan karena sebagai
pemilik maka andalah yang bertanggung terhadap segala
hal yang menimpa. Terhadap keadaan hidup yang anda
rasakan, pilihannya cuma dua yaitu
menerima untuk mengubah atau menerima untuk
membiarkan. Kendali kontrol pilihan tersebut sepenuhnya
harus anda miliki.
Kenyataannya, pilihan tersebut akan memberikan
dampak berupa berupa benih-benih konsekuensi hidup
sebesar sukses – gagal; benih-benih antara menjadi
pencipta perubahan dan menjadi korban perubahan;
benih-benih bahagia dan nestapa. Maka, anda harus dalam
kondisi sadar dengan pilihan-pilihan itu. Dalam
pengertian memiliki keputusan untuk melakukan sesuatu
yang punya akses langsung terhadap situasi.
Atas dasar pilihan tersebut,
maka sejumlah ahli nampaknya sepakat untuk
mendeklarasikan bahwa di dunia ini tidak ditemukan
realitas dalam arti baik atau buruk, negatif atau
positif, menyenangkan atau menyedihkan. Realitas
bersifat netral yang bisa anda rasakan menurut makna
yang anda bubuhkan. Anthony Robbins mengatakan: “ You can't always control the wind, but you can
control your sails”. Melengkapi perkataan Robbin
tersebut, Jan Tincher mengatakan:
“Reality is for people with no imagination -- and nothing is good or
bad, but thinking makes it so”. Jadi realitas
tidak menciptakan pemaknaan apapun atas dirinya kecuali
yang telah anda ciptakan.
|
|
|
Wilayah
Hidup
|
|
Agar stabilitas hidup bisa
anda rasakan, maka anda perlu memahami
apa saja wilayah hidup yang membutuhkan situasi
stabil. Dan bagaimana anda meletakkan stabilitas hidup
dalam perspective yang proporsional.
|
|
|
1.
|
Wilayah
Internal
|
|
|
|
Kalau dipukul rata, semua manusia akan menjadikan sejumlah
wilayah hidup seperti fisik, mental, emosional,
intelektual, spiritual, sosial dan finansial
sebagai zone sentral. Jika keseimbangan tidak
terjadi dapat dipastikan bahwa hidup akan mengalami
kegoncangan. Sedangkan
untuk menemukan kesimbangan harus
diwujudkan ke dalam upaya untuk mengembangkannya sesuai
porsi yang dibutuhkan baik secara pribadi atau
organisasi.
|
|
|
2.
|
Wilayah
Eksternal
|
|
|
|
Seperkasa apapun pribadi
atau organisasi tidak akan sanggup menghentikan
perputaran siklus eksternal. Strategi manajemen bisa
tiba-tiba dinyatakan tumpul oleh lingkungan dan
persaingan. Dan andapun bisa saja tiba-tiba terkena mental
block. Seluruhnya terjadi berada di wilayah yang di luar kontrol anda tetapi
memiliki implikasi terhadap kehidupan pribadi atau
organisasi. Contoh sepele adalah fenomena krisis moneter.
Semula hanya orang tertentu yang merasa harus bingung
menemukan pemecahannya. Tetapi karena belum ketemu,
akhirnya berimbas ke mana-mana termasuk harga barang
yang anda konsumsi setiap hari.
Belajar dari gambaran
tersebut, maka dibutuhkan feedback system. Di
sinilah lahir potret pribadi antara yang reaktif dan
proaktif; antara solution-based atau problem-based
living; antara realitas permukan dan realitas
esensial. Reaktif adalah feedback yang tidak seimbang
dan tidak proporsional. Katakanlah jika biasanya anda
berangkat ke kantor bisa dengan nyaman tetapi kemudian
tiba-tiba musim hujan terus mengguyur sepanjang hari.
Bagi sebagian orang, hujan bisa menjadi masalah yang
sebesar ukuran bahagia atau nestapa padahal bisa jadi
yang benar-benar dibutuhkan
hanya sebuah payung atau rompi.
|
|
|
3.
|
Kualitas
Ideal
|
|
|
|
Stabilitas adalah kualitas
hidup dan karena berupa kualitas,
maka ia berada di alam ideal, bukan realita. Sama
halnya seperti kebahagian, kesuksesan atau lainnya.
Maksudnya apa? Jadikan ia sebagai acuan pencapaian atau
bintang di langit yang anda gunakan cahayanya untuk
melangkah di bumi realitas.
Sebagai kualitas, maka ia adalah
achievement process, bukan one-off
target. Bukan
wilayah di mana kaki anda akan berakhir, melainkan cara
yang anda gunakan menempuhnya, the way of traveling.
Ia diberangkatkan dari sebuah paradigma possibility,
choice, perbaikan yang berkelanjutan bukan dogma
pasti, keniscayaan, atau realitas sebagai kepastian
absolut. Sebab kenyataannya, selain kematian tidak
ditemukan bentuk masa depan yang pasti. Semoga
bermanfaat. (jp)
|
| |
_____________________________
|
|