|
|
 |
|
|
Mengubah
Nasib
|
|
Oleh: Ubaydillah,
AN
|
|
Jakarta,
9 Januari 2003
|
|
Persoalan
nasib masih akan tetap menjadi perdebatan sengit
meski sampai
hari kiamat tiba. Sebagian memahami sifatnya yang passive-constant
dan mutlak,
sementara
sebagian lagi memahami sifatnya yang active-dynamic
dan changeable
(dapat
diubah). Tidak berhenti pada titik itu
saja, beberapa pertanyaan juga timbul, misalnya apakah
anda diberi kebebasan untuk
menciptakannya
atau hanya kekuatan Tuhan lah
yang
memiliki hak menciptakannya. Masih banyak lagi bentuk
kontroversial yang menyelimuti
tentang nasib. Apapun
pemahaman atau pendapat anda tentang nasib maka
tetap saja tidak ada jaminan kemutlakan apakah pemahaman
tersebut benar atau salah, sebab untuk hal-hal tertentu
memang banyak alasan yang membuat anda meyakini
kebenaran dari pemahaman yang anda miliki. Dalam konteks
tersebut maka menurut saya bukanlah perjuangan yang
sangat penting untuk membawa persoalan pemahaman
nasib ini ke meja perundingan agar bisa diciptakan
pemahaman tunggal yang representative, karena
hampir dipastikan bahwa hal itu tidak akan bisa dicapai. Terlepas dari kontroversi diatas, dalam
tulisan ini saya ingin mengajak anda memahami nasib dari
suatu perspektif tertentu. Kalau anda menjadikan
kehidupan ini sebagai materi belajar, maka cobalah
memahaminya dari sudut perspektif logika: “Pilihan dan
Konsekuensi”. Hal itu senada dengan watak kehidupan, seperti
yang pernah ditulis oleh Jermy Kitson dalam sebuah
artikelnya: "Destiny is not a matter of chance,
it is a matter of choice. It is not a thing to be waited
for, it is a thing to be achieved".
Ketentuan tentang surga dan neraka pun sebenarnya
tidak lepas dari faktor memilih di mana akal, hati,
perasaan, pikiran telah disedikan supaya anda
menjadikannya alat untuk memilih. Kalau pilihan anda
adalah berupa pemahaman bahwa nasib bersifat passive-constant
dan sudah menjadi hak bagi kekuatan x di luar diri anda
(meskipun tidak berarti benar atau salah), maka pilihan
tersebut melahirkan konsekuensi berupa tanda seru yang
menyuruh anda berhenti membicarakan apalagi mengubahnya.
Sebaliknya jika anda memilih untuk memahami bahwa
nasib bersifat active-dynamic dan changeable (meskipun
tidak berarti benar-salah), maka pilihan tersebut
mempunyai konsekuensi bahwa anda diperintah untuk
menemukan jawaban-jawabannya. Di sinilah sesungguhnya
makna belajar terjadi . Seperti dinyatakan oleh
para tokoh pengembangan diri, termasuk Charles
Handy yang mengatakan: “The real learning is self
discovery by exploration”. Belajar berarti
mengubah situasi ke arah yang lebih baik berdasarkan
proses kemampuan anda.
Dengan memahaminya sebagai materi pembelajaran
diri maka nasib adalah situasi tertentu yang terjadi
secara repetitive akibat dari pilihan anda
terhadap mindset (pola pikir) tertentu. Seperti
anda ketahui, mindset adalah satu
perangkat software yang cara kerjanya telah
memberi ilham pencipta komputer atau mesin fotocopy
di mana print-out atau hasil copy-an adalah
bentuk fisik dari kandungan materi di dalam layar.
Artinya realitas eksternal bukanlah matter of real
tetapi lebih merupakan matter of attitude, atau
meminjam istilah Stephen Covey, “Apa yang tampak
di luar diciptakan dari apa ada yang di dalam”.
Nah, berangkat dari logika tersebut, maka perubahan
nasib harus dimulai dari mengubah konstruksi dan
substansi software anda. Untuk mengubahnya
pelajarilah materi hidup berikut.
|
|
1. Kesadaran
|
|
Sampai tahun 2003 nanti berakhir, kemungkinan
besar masih terdapat sembilan wilayah hidup
yang dianggap sebagai wilayah berharga di mana
warna-warninya ditentukan berdasarkan warna mindset.
Kesembilan wilayah hidup tersebut antara lain: kesehatan
fisik, kewibawaan professional, kemakmuran finansial,
keharmonisan hubungan, ketenangan spiritual,
keseimbangan mental, keharuman reputasi moral,
kewibawaan kelas sosial, dan apa yang digolongkan
oleh lingkungan sebagai calon penghuni surga.
Kalau kaitannya dengan nasib, pertanyaan yang patut anda
renungkan adalah bagaimana kesadaran anda mendifinisikan
hal-hal tersebut yang secara repetitive terjadi
di dalam hidup anda selama ini.
Dalam hal keuangan, apakah anda selama ini
merasakan kemakmuran atau kemelaratan? Apakah anda
tipe manusia yang mudah terserang penyakit atau
sebaliknya? Apakah anda seorang yang mudah mendapatkan
pekerjaan atau sebaliknya? Apakah anda tipe orang yang
setiap kali mengakhiri hubungan dengan konflik atau
sebaliknya? Apakah anda selama ini digolongkan
orang yang layak dipercaya atau sebaliknya? Apakah
anda diperlakukan sebagai individu dengan kelas sosial
tinggi atau sebaliknya? Apakah anda merasa selama ini
orang yang sering rugi atau sebaliknya.
Berilah definisi dari kedua situasi yang menyimpan
perbedaan diametral tesebut. Terimalah semuanya itu
dengan kesadaran tinggi apapun definisi yang anda
miliki.
Pertanyaan kedua dan paling mendasar bagi anda adalah
mengapa keadaan tersebut berlangsung secara
berulang-ulang sehingga nampak seperti kemutlakan atau
pengecualian. Bahkan terkadang perubahan sekuat apapun
yang dilakukan, tetap tidak menembus pada akar pokoknya.
Hampir dapat dipastikasn bahwa penyebabnya adalah karena
akar pokoknya bukan pada persoalan mengubah situasi
eksternal melainkan meningkatkan (upgrading)
kualitas personal. Mengapa tidak banyak orang
miskin menjadi kaya, tidak banyak orang bodoh
menjadi pintar, tidak banyak orang yang berkasta sosial
rendah menjadi kasta kelas satu? Padahal mereka awalnya
menggunakan udara yang sama untuk bernafas dengan orang
kaya, orang pintar, atau orang terhormat.
Itulah kebenaran logis yang bisa anda jadikan
rujukan bahwa kualitas internal menentukan situasi
eksternal. Jika anda bernai jujur maka akan nampak bahwa
bukan kemakmuran yang sulit anda dapatkan, tetapi
karakter kemelaratan yang terus menyelimuti bahkan anda
keloni. Bukan kebahagian yang tidak anda temukan, tetapi
rasa nestapa dan rasa tidak memiliki harga diri yang
tidak mampu anda lawan. Bukan pekerjaan yang sulit
didapatkan tetapi karakter dan keyakinan penganggur yang
belum sepenuhnya anda lawan. Jadi persoalannya lebih
kepada “how do you feel about youself?”. Dan
itulah “the mindset”, yang perubahannya
menjadi awal dari perubahan nasib.
|
|
2. Kepemilikan
|
|
Kesadaran bahwa anda sudah memiliki definisi
tertentu tentang nasib anda baru berupa angka nol
tetapi tidak berarti sia-sia, karena dari angka tersebut
semua hitungan dimulai. Untuk mengubah nasib anda ke
arah yang lebih baik, anda masih membutuhkan angka satu,
dua, dan tiga. Dan sekali lagi jangan lupa, perubahan
tersebut harus dimulai dari dalam bukan dari
perubahan konstruksi keadaan di luar. Langkah anda
mengubah situasi eksternal bisa jadi hanya mampu
mengubah format situasi tetapi ujung-ujungnya kembali
lagi pada pola nasib anda semula.
Angka satu yang anda butuhkan adalah merebut
kepemilikan hidup. Kepemilikian adalah full
responsibility and ownership. Andalah yang
bertanggung jawab atas segala sesuatu yang terjadi di
dalam hidup karena andalah yang memilikinya. Jika
kepemilikan tidak pernah terjadi pada anda maka
kemungkinan besar karena anda menggunakan naskah hidup
orang lain atau anda menyerahkan naskah tersebut kepada
orang lain. Hal itu menyebabkan muatan mindset
anda adalah anda bisa berubah kalau lingkungan atau ada
orang lain mengubah anda. Praktek yang sering terjadi
adalah berupa penudingan kepada pihak lain atas sesuatu
yang menimpa anda, meskipun bisa jadi benar, tetapi jika
anda telaah secara cermat dan jujur pernahkah penudingan
tersebut berhasil mengubah kehidupan anda ke arah yang
lebih baik?
Penudingan atau blaming others sama
artinya dengan memberi peluang kepada pihak lain untuk
mengontrol kehidupan anda. Oleh karena itu amatlah
penting bagi anda untuk segera menjadi master bagi
kehidupan pada saat anda mulai merebut tanggung jawab
hidup. Dari sinilah perubahan akan dimuali.
Begitu sudah tertanam rasa tanggung jawab yang penuh
atas hidup anda, maka kekuatan yang muncul berupa
kekuatan untuk menciptakan situasi tertentu bukan
kekuatan untuk membiarkan situasi terjadi. Penyebab yang
paling dominan mengapa nasib buruk bisa terjadi secara
berulangkali adalah karena anda membiarkan situasi
tersebut terjadi dan telah masuk ke dalam sistem
keyakinan anda bahwa bukan menjadi tanggung jawab anda
untuk mengubahnya.
|
|
3. Kristalisasai
|
|
Seperti apakah perubahan nasib yang anda
kehendaki jika anda telah menerima definisinya dan
bertanggung jawab penuh untuk menciptakan perubahannya?
Perubahan bukanlah tempat di mana anda akan menginjakkan
kaki terakhir atau Island of end, tetapi
lebih merupakan manner of traveling. Sama juga
dengan kesuksesan hidup bahwa ia bukanlah destination,
akan tetapi the process of how. Karena
berupa quality of process, maka jangan sampai
anda masuk ke dalam perangkap utopis yang menawarkan
kata-kata ‘nanti’. Anda dibujuk untuk merencanakan
perubahan setelah anda sukses atau tiba di island of
end yang berarti tidak akan pernah terjadi.
Merubah situasi hidup identik dengan mengubah
naskah hidup dan harus mulai anda lakukan dengan melawan
paradigma ‘nanti’ sebagai pertanda bahwa anda tidak
menunggu perubahan eksternal terjadi. Awalilah perubahan
dengan mulai menulis naskah hidup kedua di atas kertas
sejarah dengan tinta imajinasi dan
cat visualisasi. Naskah yang sudah anda pinjamkan kepada
orang lain anggaplah sudah menjadi sejarah yang berarti
pelajaran tetapi jangan sampai anda menjadi terbelenggu
oleh keberadaannya. Anda membutuhkan imajinasi dan
visualisasi mental tentang format perubahan nasib yang
anda kehendaki.
Jika anda bertanya anugerah Tuhan yang jarang
dimanfaatkan oleh bangsa dunia yang berkasta rendah,
maka jawabnya adalah imajinasi dan visualisasi kreatif,
meskipun dipersembahkan secara gratis. Akibatnya
terciptalah tradisi yang menghargai tahayul
‘jangan-jangan’ ketimbang keberanian mengambil
resiko; menghargai pasrah terhadap situasi ketimbang
bereksplorasi. Padahal seluruh kemajuan membutuhkan
perubahan, meskipun tidak semua perubahan melahirkan
kemajuan.
Sekarang jika anda sudah tidak menemukan alasan
lain untuk menafikan kebenaran bahwa semua kreasi
manusia di alam ini diciptakan pertama kali oleh
imajinasi mental mulai dari model kursi duduk sampai
pesawat tempur, nah begitu juga dengan model perubahan
yang ingin anda wujudkan. Kristalisasi mental adalah
proses di mana anda menggunakan potensi imajinasi atau
visualisasi tentang anda secara bayangan sampai ke
tingkat mengkristal ke dalam karakter. Imajinasi adalah
apa yang anda inginkan untuk terjadi, “the wanting
to”, bukan apa yang anda miliki saat ini, “the
fear from”. Jangan hidup di dalam sejarah
dan di dalam realitas jika perubahan nasib menjadi
agenda anda, tapi hiduplah dengan imajinasi anda untuk
mengubah sejarah dan realitas.
|
|
Pemaparan diatas mungkin tidak lengkap dan masih
tersedia cara-cara lain untuk bisa merubah nasib anda.
Satu hal yang pasti adalah: Segeralah miliki kendali
hidup diri anda sendiri. Jangan pernah menunggu orang
lain merubahnya dan cobalah memulai semua itu sekarang
juga. Semoga berguna.(jp)
|
| |
_____________________________
|
|