 |
|
|
Antara
Sebab & Akibat
|
|
Oleh: Ubaydillah,
AN
|
|
Jakarta,
8 Juli 2003
|
|
Bagian
dari pasal Hukum Alam ini berbunyi kurnag lebih sebagai
berikut: "Semua peristiwa diciptakan oleh penyebab (the
cause) atau kalau dibalik: peristiwa hanyalah hasil/akibat
(effect)". Sampai pada pengertian ini tidak
ada yang merasa sulit memahaminya. Tetapi ketika dikaitkan
dengan diri kita dan realita hidup yang kita terima,
barulah menjadi persoalan tersendiri. Konon Mark Victor
Hansen, pengarang buku berseri Chicken Soap for
the Soul harus memutar pertanyaan antara "are
you the cause or the effect?" sebanyak 287 (dua
ratus delapan puluh tujuh)
kali untuk memastikan pilihan setelah mengalami
kebangkrutan bisnis secara total yang memaksanya hidup
menggelandang. Ia akhirnya memilih bahwa semua peristiwa
hidup (realita) adalah ‘effect’ dan
dirinyalah ‘the cause’ itu. Karena Mark yakin
bahwa masih banyak individu yang berpikir sebaliknya,
maka ia menuangkan pikiran-pikirannya dalam buku tersebut
diatas. Karya Mark telah menjadi best seller
dan mengantarkannya menerima piala Horatio Alger Award.
Tak syak lagi, kalau kita
amati sebenarnya problem hidup Mark adalah representasi
dari problem besar umat manusia
terlepas apakah hal itu disadari atau tidak sama
sekali. Problem tersebut terletak pada penyikapan pilihan.
Ada yang memilih bahwa realita yang dihadapi adalah
penyebab mengapa dirinya menjadi seperti sekarang ini. Tak
terhitung jumlah kejahatan dalam berita TV dari mulai
level kecil sampai besar
yang diakui oleh pelakunya karena ‘dipaksa’
oleh keadaan. Ungkapan dipaksa dalam berbagai variasinya
merupakan indikator bahwa
individu tersebut sebenarnya menjadi korban (effect).
|
|
|
Pilihan
|
|
|
Memang tidak akan ada
lembaga pengadilan manapun yang memveto hukuman atas
pilihan kita antara sebagai the cause atau the
effect. Tetapi
pilihan kita menciptakan konsekuensi yang sangat
membedakan. Kalau
kita memilih sebagai the effect, maka penyikapan
hidup yang paling dekat adalah adanya resistensi untuk
mengubah diri dan berarti telah melawan pasal hukum alam
lain lagi bahwa semua kemampuan aktif manusia diperoleh
dengan cara menjalani proses pembelajaran (baca:
mengubah diri dari ketidakmampuan masa lalu menjadi
kemampuan baru). Lebih sering lagi, kesadaran sebagai the
effect mudah menyulut kita untuk menyalahkan orang
lain dan keadaan ketika effect yang kita terima
tidak sesuai dengan keinginan atau yang diharapkan. Sementara dengan memilih
sebagai the cause, optimalisasi dan kontrol
berada di tangan kita. Di level pengetahuan, rasanya
tidak sulit menebak kalau dikatakan semua orang ingin
menjadi the
cause bagi dirinya. Tetapi yang dibutuhkan bukan
sekedar mengetahui melainkan apa yang disebut oleh Mark
dengan “Awakening Call”, sebuah kesadaran
baru adanya panggilan untuk mengubah diri dari the
effect ke the cause. Kesadaran baru demikian
bukanlah anugerah melainkan murni proses pencapaian yang
dibarengi dengan menyingkirkan benda-benda yang tidak
kita butuhkan tetapi kita abadikan di dalam sehingga
benda tersebut benar-benar menjadi penghalang
transformasi.
|
|
|
Membiarkan
|
|
|
Salah satu penghalang
transformasi kesadaran
adalah tembok
yang sering diistilah dengan sebutan “Self-excusing”.
Dari pendapat para pakar ditemukan perbedaan mendasar
antara self excusing dengan self-forgiving meskipun
sama-sama punya arti literal ‘memaafkan’. Self
excusing adalah membiarkan diri anda tak terurusi (letting
yourself down), sementara self-forgiving
adalah memaafkan dalam arti mengakui kesalahan dan
bergerak (moving & acknowledging) untuk
membenarkannya (Frank Gilbert: 1999). Dengan kata lain, self-excusing
adalah penyikapan
yang kurang gagah menghadapi diri atau rasa tidak
percaya diri (low self confidence) mulai dari
domain cara pikir (mindset) sampai ke
tindakan. Umumnya kita lebih terfokus untuk memasang
mekanisme penyerangan agar bisa lebih gagah menghadapi
orang lain dan sebaliknya menghadapi diri sendiri sering
membuat kita minder. Jadi telah terjadi pemutarbalikan
fungsi kegagahan. Mekanisme
self-excusing
diungkapkan melalui berbagai macam bentuk mulai
dari pemikiran,
perasaan, keyakinan, dan tindakan. Sebagian di antaranya
dapat disebutkan di sini:
|
|
|
1.
|
Pembenaran
Diri
|
|
|
|
Keinginan kita untuk berubah
terhalang oleh keyakinan atas kebenaran sendiri yang
berlawaan dengan kebenaran universal (the universal
principles). Jika kita meyakini kalau tidak
melanggar aturan kita tidak akan hidup maka keyakinan
demikian akan membuat kita menjadi korban karena
keyakinan itulah yang akan menjadi realita hidup.
Padahal peristiwa yang sebenarnya terjadi adalah
murni masalah model penyikapan yang kita pilih.
|
|
|
2.
|
Penipuan
Diri
|
|
|
|
Transformasi kesadaan dari the
effect ke the cause juga dihalangi oleh
mekanisme ‘politicking’ atau menipu diri
secara halus. Contoh yang sering dibuktikan oleh realita
adalah kemandirian orang cacat (maaf, misalnya orang
buta) yang menolak menipu-diri dengan menjalani profesi
tertentu seperti ahli pijat, tokoh masyarakat. Logikanya,
kalau ada orang cacat fisik bisa mandiri berarti tidak
akan ada orang normal yang tidak bisa hidup mandiri.
Tetapi kenyataan yang terjadi tidak demikian. Mandiri
dan tidak mandiri tidak ada hubungan mutlak dengan
kenormalan fisik tetapi berhubungan dengan kualitas
menolak politiciking. Memanjakan diri juga sering
menjebak kita pada praktek politicking di mana
kita merasa tidak mampu mengoptimalkan potensi.
|
|
|
3.
|
Perbandingan
|
|
|
|
Mekanisme
perbandingan yang sering menghalangi transformasi adalah
perbandingan dalam hal negatif. Begitu kita
membandingkan dengan sisi kelemahan/kejelekan orang
lain, maka yang muncul adalah semangat untuk membiarkan
diri . Perbandingan yang dianjurkan adalah membandingkan
keunggulan orang lain dengan diri kita untuk dipelajari.
Atau dalam
bisnis dikenal dengan istilah kompetisi, bukan
kongkurensi
|
|
|
4.
|
Kerelaan
Menjadi Korban
|
|
|
|
Mekanisme yang biasa kita
terapkan
untuk merelakan-diri adalah
menuding orang lain atau keadaan sebagai penyebab yang
menghalangi kita menjadi the cause atas diri kita.
Biasanya kerelaan ini disebabkan oleh kesalahan membuat
kalkulasi ukuran diri dan ukuran masalah yang kita
hadapi atau ketidakmampuan mengambil keputusan
berdasarkan fakta aktual tentang diri kita (who are
we?).
|
|
|
5.
|
Penolakan
Tanggung Jawab
|
|
|
|
Mekanisme menolak adalah
pembatas yang kita ciptakan sendiri atau kesengajaan
untuk menghentikan perjalanan proses transformasi di
dalam diri yang umumnya tidak kita sadari. “Orang
miskin seperti saya mana mungkin bisa menjadi kaya”.
Ungkapan demikian adalah pernyataan-diri bahwa kita
dengan demikian tidak dikenai tanggung jawab untuk
mengubahnya dan melemparkan tanggung jawab ini kepada
orang lain yang kita anggap harus bertanggung jawab.
|
|
|
6.
|
Penolakan
Konsekuensi
|
|
|
|
Apapun yang kita pilih
akan melahirkan konsekuensi tertentu yang apabila
kita terima dengan pengakuan dan pemahaman akan
mendekatkan jarak transformasi dari the effect ke
the cause. Tetapi, umumnya kita menciptakan
pilihan dan menolak konsekuensi yang muncul kemudian.
Kalau kita memilih tidak mau mengembangkan diri,
mestinya secara rasional kita merelakan diri dengan
konsekuensi ketinggalan, bukan menyalahkan orang lain
yang lebih maju. Dengan menolak berarti memperlambat
proses transformasi.
|
|
|
7.
|
Kebrutalan
|
|
|
|
Kebrutalan
(dehumanization) adalah mekanisme menolak
kebenaran yang diyakini. Orang bisa bertindak brutal
kalau dirinya mengunci hati, pendengaran dan penglihatan.
Bahkan kebrutalan tersebut akan semakin menjadi-jadi
ketika tidak secara cepat dilakukan upaya menarik diri.
Mekanisme demikian jelas akan menghalangi proses
transformasi kesadaran dari the effect ke the
cause.
|
|
|
Evolusi
Diri
|
|
|
Self-excusing yang
menghalangi kita menyadari sebagai the cause dari
realita yang kita terima saat ini merupakan produk yang
dihasilkan oleh sejumlah pilihan yang berlangsung sejak
kecil tepatnya usia remaja di mana kita baru mulai
bersentuhan dengan konflik. Dapat dipastikan, kebanyakan
orang memiliki ketujuh hambatan di atas atau lebih,
tetapi yang membedakan adalah kandungan kadarnya. Untuk
menentukan jumlah kadar yang terberat dibutuhkan
penemuan terhadap prinsip hidup (pendirian), nilai/keyakinan,
cita-cita yang telah dirumuskan ke dalam tujuan hidup
dan posisi di mana kita berada saat ini. Perubahan diri
yang tidak diberangkatkan pada aspek kedirian yang
mendasar seringkali kalah oleh virus kehidupan yang
membuat keinginan berubah dari the effect ke the
cause menjadi keinginan umum yang tidak punya nyali.
Adapun alasan mengapa lebih
tepat memilih jurus evolusi ketimbang revolusi adalah
karena perubahan diri identik dengan perubahan nasib (peristiwa
yang secara sirkulatif/repetitif terjadi). Untuk
mengubah nasib memang di atas kertas putih membutuhkan
dunia baru tetapi pada prakteknya
kenyataan sering menunjukkan bahwa hal tersebut
tidak membutuhkan perubahan peristiwa eksternal. Mungkin lebih
tepat kalau
dikatakan, dunia
baru dibutuhkan tetapi bukan syarat mutlak kalau memang
tidak bisa dilakukan sekarang ini, tetapi yang mutlak
dibutuhkan adalah diri yang baru (sikap, pola pikir dan
perilaku baru).
Langkah
evolutif yang dapat kita jalankan untuk mengubah diri (menjalankan
transformasi kesadaran) adalah:
|
|
|
1.
|
Menyadari
|
|
|
|
Orang akan tetap
mempertahankan diri meskipun salah, jika dirinya tidak
sadar bahwa kesalahan itu memang benar-benar salah.
Teori manajemen menjelaskan, perubahan harus diawali
dengan proses kesadaran membuat identifikasi tentang apa/bagian
mana yang kita inginkan untuk diubah dan mengapa
perubahan tersebut kita inginkan (baca: alasan paling
mengakar). Dalam hal ini perlu kita ingat bahwa
kesadaran tersebut harus menyatakan keinginan bukan
ketakutan. Jika ini yang terjadi maka yang diketahui
seseorang hanyalah bagaimana menghindari kegagalan,
bukan meraih kesuksesan.
|
|
|
2.
|
Mengganti
|
|
|
|
Apa
yang telah kita sadari untuk diubah itulah yang harus
kita ganti. Begitu kita menyadari adanya godaan untuk
menggunakan kebenaran sendiri, segera kita ganti dengan
lawannya. Tehnik lain adalah dengan cara challenging
(menantang) bahwa kita melawan bentuk keyakinan,
pemikiran, dan perasan yang kita yakini salah. Tehnik
lain lagi adalah membuat affirmasi secara berulang-ulang
(baca: metode dzikir) ketika kesadaran muncul saat
dialog-diri berlangsung. Ketiga tehnik ini dapat
mempertebal kualitas, apa yang sering disebut ‘the
moment of truth’ atau ‘critical accident’
di mana kita memiliki ‘personal picture’ yang
lebih jelas seperti yang kita inginkan atau cara
pendekatan yang lebih gamblang bagaimana mengubah diri.
|
|
|
3.
|
Mengintrospeksi
|
|
|
|
Untuk mendeteksi sejauhmana stabilitas
transformasi telah berlangsung, maka kita membutuhkan
intropeksi. Di sini yang kita lakukan adalah membuat
penilaian apa yang sudah diraih dan apalagi yang perlu
untuk dilakukan. Di samping itu instropeksi juga berguna
untuk mendeteksi kadar self-excusing yang bisa
jadi masih tetap bercokol dalam diri kita hanya
gara-gara lupa
membuat elaborasi, analogi, atau
interpretasi dalam memahami dan melaksanakan.
Misalnya saja politicking. Kalau praktek yang
kita rekam sejelas perbedaan antara orang buta yang
mandiri dan orang normal yang tidak mandiri, pikiran
kita bisa langsung paham tetapi bagaimana dengan
mentalitas ‘begging’ (baca: meminta-minta,
bukan meminta) yang di-politicking? Memang
diperlukan pengakuan yang jujur untuk berani mengatakan
kitalah yang menjadi penyebab ‘nasib’ kita hari ini. Selamat memilih.
(jp)
|
| |
_____________________________
|