|
|
 |
Saatnya
Mengaudit Langkah
|
|
Oleh: Ubaydillah,
AN
|
|
Jakarta, 6 Januari 2006 |
|
Hidup
adalah sebuah pilihan
Jika
hingga detik ini Anda merasa sudah berusaha kemana-mana,
sudah mengerahkan segala daya upaya yang paling optimum
menurut perasaan Anda, sudah berdo’a dengan redaksi yang
paling hebat, sudah menghubungi siapa saja yang menurut
Anda pantas dihubungi, dan ternyata hasilnya masih jauh
dari yang Anda inginkan, atau bahkan sama sekali tak
match, maka ada satu hal yang penting untuk dihindari dan
ada satu hal yang perlu untuk dilakukan.
Satu
hal yang penting untuk dihindari adalah membiarkan diri
kita larut, hanyut, dan tenggelam ke dalam kesedihan
meratapi nasib yang menurut perasaan kita “kok jauhnya
minta ampun banget” dengan impian kita. Alasan yang
perlu kita sederhanakan antara lain bahwa selain bukan
hanya kita seorang saja di dunia ini yang merasakan
perasaan demikian, munculnya “bad-surprise” dalam
nasib kita itu adalah sesuatu yang diizinkan Tuhan untuk
ada di muka bumi ini.
Karena
atas izin-Nya, maka ia ada dan terjadi bukan untuk sebuah
kesia-sian belaka, melainkan ada kegunaan yang bisa
dimanfaatkan, meskipun harus diakui bahwa menurut
perspektif manusia, tentulah tidak ada dari kita yang
menginginkannya; tidak ada yang ingin merasakannya; dan
tidak ada yang ingin mengalaminya, selain juga tidak boleh
mengharapkannya.
Lantas
apa kegunaan itu? Sampai pada tahap ini, sering sekali
kita melupakan satu hal bahwa yang dipersilahkan untuk
memilih kegunaan tertentu itu adalah kita, bukan malah
balik bertanya kepada dunia tentang apa gunanya atau malah
memasang sikap apatis yang menolak untuk menggali kegunaan
selain yang sudah kita rasakan. Penderitaan itu memang
membuat manusia menderita, upset, hopeless, distress,
frustasi, dan seterusnya, tetapi soal untuk apa itu akan
kita gunakan, adalah pure pilihan kita.
Semua
itu pilihan kita, mau digunakan untuk menghancurkan diri,
atau untuk pembangkit energi. Mau dijadikan racun, atau
dijadikan obat – meski obat seringkali pahit rasanya.
Mau dijadikan bencana atau mau dijadikan lentera –
pencerahan jalan hidup. Semua balik lagi terserah pilihan
kita, manusia.
Satu
hal lain lagi yang perlu kita ingat bahwa tentu saja untuk
mengusahakan dan mewujudkan kegunaan positif itu lebih
sulit dari pada memilih kegunaan yang negatif. Dunia ini
mengajarkan bahwa untuk mendapatkan hal-hal positif,
dibutuhkan inisiatif sementara untuk mendapatkan hal-hal
negatif hanya dibutuhkan pengabaian dan membiarkan. Tetapi
di sisi lain, dunia juga mengajarkan bahwa untuk
berinisiatif, biasanya beban yang ditanggung satu ons
tetapi dengan mengabaikan, beban yang kita tanggung bisa
kelak menjadi satu ton.
|
|
|
Defining
Moment |
|
|
Satu dari sekian kegunaan positif
yang sudah dipilih oleh orang-orang positif di dunia ini
adalah menjadikan hal-hal buruk yang tidak diinginkannya
sebagai ”defining moment”. Artinya, penderitaan yang
dialami, entah itu besar atau kecil, dadakan atau
berkepanjangan, dijadikan dorongan yang benar-benar
tepat (pil) untuk melakukan perubahan, perbaikan, audit,
dan seterusnya. Bahkan ada yang menjadikannya sebagai
moment untuk menaikkan standar prestasi yang telah
ditetapkan sebelumnya.
Dalam kaitan dengan pembahasan
kita kali ini, mungkin kita perlu menjadikan kenyataan
buruk yang kita alami sebagai moment untuk meng-audit
hal-hal berikut:
1.
Sasaran yang kita tetapkan
Termasuk dalam cakupan sasaran di
sini antara lain: cita-cita, keinginan, tujuan, target,
dan seterusnya. Mengapa sasaran yang perlu diaudit? Jika
kita tidak punya sasaran, ibaratnya seperti orang
bingung sedang jalan-jalan. Jika kita punya sasaran
tetapi telalu tinggi menurut ukuran riil kita,
kegoncangan akan muncul. Jika kita turunkan terlalu
rendah menurut ukuran riil kita, maka kemandekan
mengancam.
Supaya kegoncangan yang kita alami
tidak berkepanjangan, maka sasaran yang sudah kita
teorikan di kepala perlu diaudit, entah itu diturunkan
sementara, diperbaiki, diperjelas, dipendekkan,
di-spesifik-kan, berdasarkan keadaan-diri kita pada hari
ini. Meskipun ini tidak mengubah kenyataan buruk sedikit
pun, tetapi kegoncangan batin yang kita alami sudah kita
datangkan obatnya.
2.
Cara, strategi, kebiasaan yang kita pakai
Hal lain yang perlu diaudit adalah
cara, strategi atau seperangkat kebiasaan yang biasa
kita gunakan selama ini untuk meraih sasaran yang kita
inginkan dan ternyata masih gagal. Menurut hasil
renungan Napoleon Hill, kebanyakan kita gagal usahanya
bukan karena kita tidak mampu mewujudkan keberhasilan
yang kita inginkan, melainkan karena kita mempertahankan
satu cara yang sudah jelas-jelas gagal di lapangan.
Bahkan jika dilihat dari
penjelasan firman Tuhan kepada kita semua,
mempertahankan cara atau strategi yang sudah nyata-nyata
gagal dan menolak untuk mengais cara lain, termasuk
bukti dari keputusasaan kita terhadap rahmat-Nya, yang
dalam bahasa agama sering disebut sesat atau gelap.
Karena itu, yang diperintahkan kepada kita adalah
meyakini adanya pintu lain yang sudah terbuka jika kita
mendapati satu pintu yang tertutup. Sayangnya, terkadang
kita terlalu lama memandangi pintu yang sudah
nyata-nyata tertutup sehingga kita gagal menemukan pintu
lain yang sudah terbuka.
Cara, strategi atau kebiasaan yang
perlu diaudit, bukan semata yang
dalam bentuk fisik, melainkan yang lebih penting
lagi, adalah cara berpikir, strategi berpikir, kebiasaan
berpikir atau sesuatu yang ada di dalam batin kita. Jim
Rohn berpesan: “Semua yang ada di luar dirimu akan
berubah jika kamu mengubah dirimu.” Hal ini karena
semua kreasi fisik, entah itu tindakan atau hasil
tindakan, awalnya diciptakan dari dalam batin kita
(kreasi mental). Tindakan yang jitu lahir dari pikiran
yang jitu, tindakan yang masih meleset lahir dari
pikiran yang belum pas, kira-kira begitulah.
3.
Orang, lingkungan atau jaringan yang kita masuki
Jika dalam bisnis perumahan ada
kata pusaka yaitu: lokasi, lokasi, dan lokasi, maka
dalam meng-audit langkah atau mengubah nasib kita,
mungkin kata pusaka itu perlu diganti menjadi: orang,
orang dan orang. Orang, lingkungan dan jaringan yang
kita masuki, memang tidak membuat / mengubah kita
menjadi apapun tetapi jika kita ingin mengubah diri
dalam arti yang luas, maka ini perlu mengubah jaringan
orang yang kita kenal, entah dengan cara menambah,
mengurangi, memperluas, memperdalam hubungan, dan
lain-lain.
Dengan mengubah jaringan orang
yang kita kenal, maka ini akan menciptakan jalan bagi
perubahan pola berpikir, strategi, kepercayaan,
kebiasaan, pengetahuan, metode, dan seterusnya. Mungkin,
saking pentingnya peranan orang itu bagi kita,
sampai-sampai ahli filsafat bisnis Amerika, Jim Rohn,
mengatakan: “Jika buku yang anda baca dan orang yang
anda ajak bergaul sama, maka dalam lima tahun ke depan,
kemungkinan besar nasib anda masih sama.”
Untuk mengubahnya, sudah pasti membutuhkan modal, tetapi modal di sini
tidak mutlak identik dengan uang yang banyak atau
sejumlah modal yang saat ini tidak ada di tangan kita.
Prakteknya sering membuktikan bahwa orang yang perlu
masuk dalam daftar “jaringan” itu sudah disediakan
Tuhan di sekeliling kita tetapi selama ini jarang kita
perhatikan, jarang kita bedakan, jarang kita telaah, dan
jarang kita gali.
|
|
|
Menjaga
3K
|
|
|
Menjalani hidup memang berbeda
seribu derajat dengan membahas kehidupan. Dalam membahas
kehidupan seperti dalam tulisan ini, enak saja kita
mengganti, mengubah dan meng-audit langkah sekehendak
kita, tetapi dalam menjalani, tentu saja tidak bisa kita
meng-audit dan mengubah sekehendak kita. Hemat saya, ada
sedikitnya tiga hal yang perlu dijaga seiring dengan
keputusan kita untuk meng-audit dan memperbaharui
langkah, yaitu:
1.
Kebutuhan
Kata orang yang sudah sering kita
dengar, kebutuhan itu tidak mengenal kata nanti, bahkan
ampun pun tidak. Ungkapan lain mengatakan bahwa lebih
enak ngomong sama orang yang marah ketimbang ngomong
sama orang yang lapar. Ini semua menunjukkan bahwa
kebutuhan itu tidak bisa diganggu-gugat dan karena itu,
agenda apapun yang akan kita jalankan, hendaknya jangan
sampai menganggu aktivitas kita dalam memenuhi
kebutuhan. Atau
dengan kata lain, hendaknya kita tetap menjalankan
aktivitas yang sasarannya untuk memenuhi kebutuhan yang
sifatnya tidak bisa diganggu-gugat di tengah-tengah
kesibukan kita memikirkan tiga hal yang perlu diaudit di
atas. Jika kebutuhan ini terancam, maka kita semua sudah
tahu akibatnya.
2.
Keinginan
Meskipun kebutuhan itu tidak
mengenal ampun dan kata nanti, tetapi jika pikiran ini
terlalu kita fokuskan hanya untuk kebutuhan, hanya apa
adanya, tanpa visi, tanpa imajinasi, tanpa cita-cita,
tanpa keinginan, maka Mohamad Ali mengibaratkan seperti
seandainya bumi ini tanpa langit: kering dan gelap.
Marylin King, mantan seorang atlet, menyimpulkan:
“ Astronot, atlet dan eksekutif
perusahaan memiliki tiga hal kembar. Mereka punya
sesuatu yang sangat berarti bagi mereka; sesuat yang
benar-benar ingin mereka lakukan. Kami menyebutnya
gairah. Mereka memandang tujuan dengan sangat jelas dan
mengimajinasikannya secara ajaib sehingga tampak begitu
kuat dan mereka membayangkan dirinya menapaki
langkah-langkah kecil dalam perjalanan menuju tujuan
itu. Kami menyebutnya visi.
Akhirnya mereka melakukan sesuatu setiap hari,
sesuai dengan rencana yang akan membawa mereka selangkah
lebih dekat ke mimpi mereka. Kami menyebutnya aksi.”
Artinya, selain kita perlu
memprogam aktivitas yang sasarannya kebutuhan, kita pun
perlu memprogram aktivitas yang sasarannya adalah
mewujudkan keinginan (visi, cita-cita, dst) yang belum
terwujud atau beru terwujud sebagian, agar tidak kering
dan gelap (demotivator dan apatis), seperti bagaikan
bumi tanpa langit, bagaikan burung tanpa sayap, bagaikan
mobil yang rodanya terpendam lumpur “kebutuhan”.
3.
Kelancaran
Tak cukup sepertinya jika kita
hanya memprogram aktivitas yang kita lakukan hari ini
semata untuk sasaran kebutuhan dan keinginan. Ada satu
hal lain yang perlu kita programkan, yaitu mengatasi
masalah-masalah, entah itu tehnis, hubungan, dan
lain-lain yang kedatangannya tidak diundang. Membiarkan
masalah, bukan berarti menghilangkan masalah.Tetapi jika
kita mengerahkan seluruh pikiran dan aktivitas kita
hanya untuk mengurusi masalah, maka keinginan dan
kebutuhan kita akan yatim, yang juga masalah.
Jadi, menurut nasehat Anthony
Robbins, gunakan 10 % saja untuk memikirkan masalah
(what and why), lalu gunakan sisanya untuk memikirkan
pemecahan masalah (how). Tenggelam dalam memikirkan
masalah, justru malah akan membuat kita bermasalah.
Nasehat lain bisa kita dengarkan dari Brian Tracy,
seorang konsultan SDM, yang mengatakan: “bukan dimana
saat ini kita berada; yang menentukan kita, melainkan ke
mana langkah ini akan kita gerakkan.” Masalah tidak
membuat kita keman-mana tetapi apa yang akan kita
lakukan terhadap masalah itu akan menentukan di manan
nanti kita berada.
Dengan belajar menjalani tiga hal
di atas, minimal kita tidak perlu bertengkar dengan
kenyataan yang ada di hadapan kita, pun juga kita tidak
tenggelam di dalam kenyataan itu, serta tidak terhanyut
ke dalam memikirkan masalah siang dan malam. Sekali lagi
perlu kita ingat, ini baru membahas kehidupan, belum
masalah menjalani kehidupan. Selamat menjalankan.
|
| |
_____________________________
|
|