|
|
 |
Menangkap
Kebahagiaan
|
|
Oleh: RR.
Ardiningtiyas Pitaloka, S.Psi.**
|
|
Jakarta, 5 Agustus 2004 |
|
Pernahkah Anda merasa begitu kecil di tengah
dunia yang semakin terlihat gemerlap? Atau, apakah Anda
menghela nafas melihat para ABG mengikuti berbagai kontes
kecantikan di televisi untuk mendapatkan kekayaan
sementara beribu anak lain terlantar di negeri ini?
Kesenjangan antara si kaya dan si miskin memang begitu
nyata namun menjadi selebritis atau terkenal adalah hak
setiap insan. Jika nurani Anda terusik, Anda harus
bersyukur masih memiliki rasa itu. Namun jika Anda selalu
merasa tidak puas pada apa yang telah dicapai kini,
mungkin Anda mengalami deprivasi relatif.
|
|
|
Deprivasi
Relatif (Relative
Deprivation,selanjutnya disebut RD) |
|
|
Manusia adalah makhluk sosial di samping juga sebagai pribadi yang unik,
psikologi telah meyakinkan dalam berbagai studi bahwa
tidak ada satu pun orang yang sama, meski terlahir
kembar identik. Sebagai makhluk sosial, siapapun Anda
membutuhkan orang lain untuk berbagi, bercanda,
bercerita, berdiskusi bahkan bertengkar (it takes two
to tango!). Dalam berinteraksi, adalah wajar jika
terjadi pembandingan-pembandingan terhadap perbedaan
yang ada, itu pula yang akan memacu seseorang untuk
berusaha lebih dan lebih lagi. Hal ini dikenal sebagai
stres positif atau eustress namun adakalanya Anda
mundur dan merasa begitu tersiksa, inilah distress
atau stress negatif di mana stressor (pemicu stress)
lebih sebagai penghalang bukan tantangan.
Anda mungkin tidak hanya menjadi tertekan atau stres, Anda bisa saja
mengalami RD saat apa yang Anda dapat jauh berbeda
dengan yang diinginkan. Seperti dinyatakan oleh Gurr
& Crosby,
”RD is a perceived discrepancy between an individual’s
subjective ‘value expectations’ and ‘value
capabilities’. Value expectations’ denote the goods
and conditions to which individu believe they are
rightfully entitled; and value capabilities’ refers to
the goods and conditions of life they think they are
capable of attaining.”(dalam Walker & Pettigrew,h.4,2003)
Teori ini pertama digagas oleh Stouffer, dkk tahun 1949 dalam terma
masyarakat, artinya suatu kelompok masyarakat juga bisa
mengalami RD terhadap kelompok lain, masa lalu atau
kategori sosial lain. Gurr & Crosby pada tahun 1970
kembali menformulasi dalam terma individu. Jadi RD
merupakan suatu kesenjangan yang dialami tidak hanya
secara personal namun juga kolektif.
Tidak dapat disalahkan sepenuhnya jika Anda merasa kurang dan kurang, karena
dunia semakin mengglobal, konsumerisme semakin
merajalela, dunia terasa instan. Televisi juga turut
memicu RD, lihat saja berbagai sinetron glamor yang bisa
ditonton siapa saja baik di metropolitan atau pelosok
desa, sangat mungkin jika seseorang yang awalnya
‘damai’ dalam kesederhanaan menjadi resah karena
tidak memiliki benda mewah. Lalu bagaimana jika teman
Anda menuduh, bahwa itu salah Anda sendiri yang terlalu
tinggi berangan-angan? Jangan dulu marah, karena
sesungguhnya setiap orang hidup dengan dua motivasi
dasar yaitu kebutuhan untuk beradaptasi dan untuk
menjadi diri sendiri (aktualisasi diri), menurut Allport
(dalam Fiest & Fiest,2002):
People are driven both by the need to adjust and by the
tendency to grow or to become more and more
self-actualized. Adjustment needs and growth needs
exists side by side within the same person. (Allport dalam Fiest & Fiest, h. 420, 2002)
Garin Nugroho juga menyatakan bahwa manusia sesungguhnya akan selalu
dihadapkan dengan ciptaan dan penemuan manusia itu
sendiri (1998). Jika seminggu yang lalu Anda masih tidak
mau memiliki telepon selular karena merasa tidak pernah
‘kemana-mana’ dan hari ini Anda terpaksa pergi ke
kawasan Roxy untuk membeli hp setelah teman dan saudara
Anda mengeluh,”Aduuh..,dari hp ke telepon rumah kan
mahal, kalo ada hp kan tinggal sms aja!”, itu
salah satu jawaban dari cipta karya anak manusia itu
sendiri.
Lalu, apakah kemudian menjadi bahagia adalah harus mahal? Meyers mencoba
meyakinkan Anda dalam Psychology Today,
menurutnya, usia, ras, atau penghasilan sama sekali
bukan petunjuk seseorang bahagia atau tidak. Meski tidak
ada satu rumusan pasti, Meyers mencoba memberi beberapa
tips:
|
|
|
a. |
Tidak ada
kebahagiaan abadi.
|
|
|
|
Bayangkan suatu saat
Anda berhasil mendapatkan bea siswa ke luar negeri
setelah empat kali mencoba, senang? Pasti, mungkin Anda
akan berteriak girang dan ingin semua orang tahu, tapi
yakinlah itu tidak akan terus terjadi, satu atau mungkin
dua minggu kemudian
perasaan Anda akan kembali seperti sedia kala, masa
euforia berakhir juga. Pendapatan penduduk Amerika kini
dua kali lipat lebih besar jika dibandingkan dengan
tahun 1957, tapi apakah tidak ada orang depresi? Tidak
juga, bahkan krisis moneter di Indonesia tidak selamanya
membuat kita melipat wajah kan? Maka Meyers menyarankan
untuk tidak perlu merasa iri pada kekayaan, karena
menurutnya,”happiness is less a matter of getting
what we want than wanting what we have.”
|
|
|
b.
|
Nikmati tiap detiknya....... |
|
|
|
Hampir
setiap orang berlomba untuk menyiapkan masa depan
sebaik-baiknya, bahkan di kota metropolitan ini matahari
seringkali ‘kalah’, mungkin Anda salah satu yang
sering berlari sebelum mentari muncul dan kembali ke
rumah saat mentari terlelap. Sadarkah bahwa kita
seakan-akan tidak hidup di masa kini tapi berharap untuk
hidup seperti juga mempersiapkan kebahagiaan, bukankah
tidak seharusnya selalu begitu. Kebahagiaan tidak berada
nun jauh di sana, coba sejenak tengok bunga mawar di
taman depan, atau senyum si kecil yang mengusik Anda
kala menyiapkan presentasi, sudahkah Anda merasakannya? |
|
|
c.
|
Kendalikan waktu |
|
|
|
Salah satu cara agar lebih merasa berkuasa adalah
dengan mengendalikan waktu Anda. Psikolog dari
Universitas Oxford, Michael Argyle mengatakan, “For
happy people, time is ‘filled and planned’, for
unhappy people time is unfilled, open and uncommitted;
they postpone things and are inefficient.” Agar
efektif lakukan rencana besar dalam rencana-rencana
kecil. Menyusun laporan dalam satu malam mungkin bisa
Anda kerjakan tapi pasti lebih membuat lelah, akan lebih
ringan jika Anda telah menyiapkan bahan-bahan untuk
laporan tiga-empat hari sebelumnya. |
|
|
d.
|
Berlaku bahagialah |
|
|
|
Bisa
juga mencoba salah satu prinsip dalam psikologi sosial: We
are as likely to act ourselves into a way of thinking as
to think ourselves into action. Dalam satu
eksperimen, orang yang berpura-pura memiliki percaya
diri tinggi ternyata dapat merasa lebih baik, bahkan
saat mencoba ekspresi tersenyum. |
|
|
e.
|
Manfaatkan waktu luang |
|
|
|
Adakalanya
seseorang merasa tertekan dan stres, di saat lain bisa
juga merasa bosan dan tidak bersemangat (underchallanged),
di antara keduanya ada zona yang disebut ‘flow’
(mengalir) oleh Mihaly Csikszentmihalyi, psikolog
dari Universitas Chicago. Pada zona ini seseorang merasa
tertantang namun tidak terlalu cocok sehingga ia
‘tersedot’ dan tanpa sadar kehilangan waktunya.
Csikszentmihalyi melihat orang menemukan pengalaman
menyenangkan dalam zona ini, dan bisa memperpanjang
waktu luang. Ironisnya lebih banyak waktu luang yang
tersedia untuk begitu saja mengalir. Orang lebih suka
menghabiskan waktu di depan layar tv dan biasanya tidak
mendapatkan sesuatu yang berguna. Padahal ada banyak
yang bisa dilakukan seperti merapikan taman, mengundang
teman, main bola dengan si kecil, jalan-jalan sejenak
dengan keluarga atau menulis surat pada sahabat lama
maka Anda akan lebih mendapatkan kesenangan |
|
|
f.
|
Olah raga |
|
|
|
Beberapa studi menunjukkan erobik dapat mencegah
depresi ringan dan kecemasan. Pilihan olah raga bisa
disesuaikan dengan kondisi masing-masing orang, sebab
dalam satu survai dilaporkan jika kondisi fisik membaik,
orang akan cenderung lebih percaya diri, tidak stres dan
lebih bersemangat |
|
|
g.
|
Cukup istirahat |
|
|
|
Resep utama untuk berenergi, salah satunya dengan
menjalani hidup dengan tersenyum, karena itu sisihkan
waktu untuk tidur dan istirahat yang cukup agar bangun
dalam kondisi bugar dan semangat |
|
|
h.
|
Jalin persahabatan |
|
|
|
Tidak ada yang dapat menangkal ketidakbahagiaan
dari pada persahabatan yang erat dengan seorang yang
benar-benar memperhatikan dan menyayangi Anda. Mereka
yang memiliki banyak teman dekat untuk berbagi,
bercerita cenderung lebih berbahagia dan sehat.
Karenanya Meyers menyarankan bagi yang telah menikah
untuk lebih menetapkan hati dan berikan yang terbaik
bagi pasangan, dukung dan berbagi dalam cinta maka Anda
berdua akan merasa lebih muda |
|
|
i.
|
Menjaga rohani |
|
|
|
Faith doesn’t promise immunity from suffering,
but it does enable a streghthened walk through valleys
of darkness. Semua
yang terjadi adalah kehendak-Nya, menjalin hubungan yang
erat dengan sang pencipta merupakan sandaran yang
menjanjikan, seperti juga dikatakan Meyers di atas bahwa
keyakinan tidak berarti Anda bebas dari derita namun
keyakinan akan menolong melewati semua itu. |
|
|
Penutup
|
|
|
Ternyata banyak hal yang bisa membuat kita tersenyum di setiap jengkal
kehidupan ini. Penulis pernah membaca satu buku yang
menceritakan seseorang yang selama hidupnya merasa akan
bahagia jika memiliki A dan setelah mendapatkannya ia
kembali akan merasa bahagia jika mendapatkan B, begitu
seterusnya sampai akhirnya tertulis di batu nisan,
“Telah meninggal seorang yang akan berbahagia”. Tentu
kita tidak ingin seperti itu, jadi mulailah untuk
menemukan kebahagiaan di mana pun dan kapan pun. Penulis
pun senang dapat berbagi tips dengan Anda, semoga berguna.
Smile.., and the world will smile for you....
|
|
|
SUMBER
|
|
|
Meyers,
David G. (1993) Pursuing happiness; where to look, where
not to look. Dalam Psychology Today- publication date
Jul/Aug 93. www.psychologytoday.com
|
|
|
Nugroho,
Garin (1998) Kekuasaan dan hiburan. Yogyakarta;
Yayasan Bentang Budaya.
|
|
|
Feist,
Jess., Feist, Gregory J., (2002) Theories of
personality-fifth edition. Boston: McGraw Hill
|
|
|
Walker,
Iain., Pettigrew, Thomas F. (2003) Relative deprivation
theory: an overview and conceptual critique. Dalam
Michael A. Hogg (ed) Social psychology-volume
iv:intergroup behavior and social context. London: Sage
publication
|
|
|
|
|
|
**
Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana Psikologi Sosial
Sains Universitas Indonesia (680 100 1093)
|
| |
_____________________________
|
|