|
|
 |
|
|
Pemahaman Hidup Anda
|
|
Oleh: Ubaydillah,
AN
|
|
Jakarta,
10 Februari 2003
|
|
Pemahaman anda (cara anda memandang dan mengerti akan segala sesuatu)
adalah garis pembatas yang membentuk sebuah pigura di
mana anda berada di dalamnya. Ruangan yang diluar garis
pembatas tersebut adalah dunia dan isinya. Bagaimana
anda memahami segala sesuatu tergantung sepenuhnya
dengan ukuran pigura tersebut dibuat. Keterbatasan yang
anda pahami sebagai takdir atau bukan takdir pada
prakteknya lebih mengisyaratkan adanya keterbatasan anda
memahami sesuatu yang anda ciptakan sendiri. Ketika
pemahaman menyeluruh sudah anda dapatkan, maka secara
otomatis keterbatasan tersebut hilang. Tentu
keterbatasan yang dimaksud adalah keterbatasan dalam
konteks kemanusiaan-duniawi. Ketika pemahaman sudah anda
miliki, maka tugas anda adalah menentukan pilihan, bukan
ditentukan.
|
|
Memahami bagaimana dunia dan isinya ini bekerja memiliki implikasi langsung
pada situasi konkrit tertentu di dalam hidup anda,
terutama berhubungan dengan kemajuan dan kemunduran atau
kesuksesan dan kegagalan. Oleh karena itu pemahaman
perlu disempurnakan atau didinamiskan menurut
perkembangan situasi yang anda hadapi. Kuncinya adalah
menerima perubahan dunia dari satu titik ke titik
berikutnya sebagai materi untuk mengembangkan diri alias
memperluas ukuran pigura anda.
Alasannya sangat mendasar ketika
pemahaman anda tentang
obyek kehidupan ini stagnant sementara
realitas eksternal dinamis maka
pemahaman anda mandul alias tidak bekerja
menciptakan kemajuan melainkan
jalan di tempat.
Dari sinilah awal dari semua yang anda namakan problem,
yaitu ketika pemahaman konseptual tidak lagi sejalan
dengan realitas eksternal. Gap tersebut
menciptakan sikap yang membenarkan kenyataan secara
pasif atau sikap menyatakan kebenaran yang bertentangan
dengan kebenaran lain.
|
|
Dalam rangka menciptakan pemahaman yang sinergis dengan
perkembangan situasi, maka terlebih dahulu anda perlu
memahami dari mana pemahaman hidup anda diciptakan.
Dengan mengetahui sumber-sumber pemahaman dan memahami
bagaimana cara kerjanya, maka jalan untuk mengauditnya
akan terbuka lebar. Berikut adalah sebagian dari sumber
dominan di mana anda memperoleh pemahaman hidup dan
bagaimana individu dapat mengaplikasikannya ke dalam
situasi konkrit.
|
|
|
1.
|
Hukum
Universal
|
|
|
Hukum Universal mengandung kebenaran yang diartikulasikan ke dalam
pesan-pesan moral yang sifatnya generally applicable (berlaku
umum). Selain
itu, hukum tersebut juga merupakan kebenaran mutlak yang
tidak memberi hak siapa pun untuk mengubahnya. Institusi
yang paling banyak mengungkapkan kebenaran tersebut
adalah agama-agama, kepercayaan, tradisi, atau sebagian
dari adat istiadat. Kebenaran mutlak jelas berupa
kebenaran langit dan supaya dapat didistribusikan ke
bumi ia membutuhkan tool atau alat bantu
agar bisa menciptakan penafsiran,
pemahaman, persepesi, paradigma mental, dan
karakter behavioral.
Ketika sudah berbicara tool, pemahaman, interpretasi, atau paradigma, maka hakekatnya tidak berlaku
lagi kemutlakan melainkan choice dan consequence (pilihan
dan konsekuensi). Intinya hidup anda bukan dibentuk oleh
kemutlakan tetapi pilihan, meskipun anda memilih
meyakini kemutlakannya. Pertanyaannya, sejauhmana
pilihan anda bekerja
membentuk kemajuan
secara positif? Jika pilihan anda tidak bekerja
membentuk kemajuan positif tidak berarti kandungan
kemutlakan dari kebenaran langit telah berkurang, tetapi
tool
anda yang sudah kadaluwarsa sehingga ia bukan software
yang memberi support tetapi virus yang
menjadi penghambat. Maka tugas anda adalah mengganti
kelayakan alat
bantu yang telah dipilih
agar dapat menghasilkan pemahaman hidup yang
produktif atau sinergis dengan situasi hidup anda.
Lalu, bagaimana memilih tool yang produktif? Tool
yang masih berupa mitos dalam arti menafikan
proses-proses ilmiah dan alamiah yang menjadi ciri khas
ilmu dan tehnologi terbukti tidak memiliki daya ledak
tinggi untuk meruntuhkan konstruksi realitas, bahkan
terjadi seakan-akan missing-link dengan realitas.
Sehingga misi kebenaran langit yang mestinya untuk
memperbaiki manusia justru membelenggunya.
Tidak heran jika terjadi fenomena di mana
seseorang menggunakan ajaran agama saat beribadah tetapi
ketika mencari makan ia menggunakan ajaran komunisme atau
atheisme. Agama, ajaran moral – dipahami -
tidak mendukungnya untuk menjadi kaya.
|
|
|
2.
|
Hukum
Personal
|
|
|
Di dalam diri anda sebagai “the person” yang utuh telah
diciptakan dua kekuatan yang berlomba merebut posisi
kepemimpinan atas kehidupan anda. Kekuatan pertama berupa The Self
dan kedua berupa The Ego.
The Self adalah kekuatan yang memberi
instruksi agar anda memahami diri, menjadi diri
dan menjadi
master bagi
diri anda: "To Know, To become, dan Tobe”.
Dialah yang menciptakan pemahaman bahwa kehidupan
eksternal ditentukan sepenuhnya oleh kekuatan internal. The
Self berbicara tentang sesuatu yang sebenarnya anda
kehendaki dan menjadi hak
sehingga dalam banyak redaksi doa,
The Self adalah permohonan tentang
kehidupan surga.
Tidak demikian halnya dengan The Ego. Kekuatannya
berupa instruksi untuk mendorong anda menyerahkan naskah
hidup asli kepada pihak lain dengan kompensasi anda
menggunakan naskah hidup mereka. Kekuatan inilah yang
menyuntikkan drug bahwa kehidupan
eksternal tidak dipandu oleh kekuatan
internal sehingga pada gilirannya sang diri hilang,
lenyap tanpa kekuatan dan suara. The Ego
adalah bentuk ketergantungan terhadap kekuatan eksternal.
Ia adalah bentuk penghindaran yang sering anda ucapkan
dalam doa-doa.
Para ahli mendapatkan temuan bahwa mayoritas dari anda hanya menggunakan
kekuatan minimal ketika
urusannya berupa ‘menginginkan sesuatu’ dan baru
bisa mengeluarkan
secara maksimal ketika ‘menghindar dari sesuatu’,
apalagi jika
konsekuensinya hidup – mati. Dari temuan tersebut
disimpulkan bahwa pembeda antara orang genius dengan
orang biasa bukan terletak pada kadar potensi atau
kemampuan yang diturunkan sejak lahir, tetapi bagaimana
menggunakan kemampuan atau potensi tersebut dengan
cara-cara tertentu dan maksimal (William W. Hewitt,
1994, dalam “The Truth About Mind Power").
Contoh nyata individu yang dapat dijadikan contoh dalam menggunakan
potensi secara maksimal dengan cara-caranya yang khusus
adalah Thomas A. Edison. Mungkin anda bertanya-tanya
apakah makhluk seperti Edison atau para avatar lainnya
sudah dicetak untuk berbeda dengan anda? Awalnya adalah
sama. Ia tetap memiliki fluktuasi emosi antara
kecewa dengan kegagalan dan bahagia dengan kesuksesan
bahkan mungkin sempat putus asa. Bahkan sekolahnya
Edison dikenal sebagai siswa yang tidak memiliki
prestasi gemilang sehingga akhirnya sang guru bosan
merawatnya. Lalu kekuatan apakah yang terus
mendorongnya sehingga rintangan apapun tidak bisa
menghambatnya? Kuncinya adalah menemukan cara bagaimana
menggunakan mengeluarkan kekuatan The Self sebanding
dengan kekuatan The Ego. Apa diraih Edison, tidak
mustahil dapat juga diraih oleh anda seandainya
etos kerja atau motivasi anda belajar menggunakan energi
yang anda gunakan untuk bercinta? Jika ini yang terjadi
maka pastilah akan muncul kegigihan yang tidak sanggup
dibendung oleh diri anda sendiri.
Sayangngya dalam kehidupan nyata banyak individu yang lebih didominasi
oleh kekuatan The Ego sehingga diri sendiri
bukanlah sesuatu yang menjadi sumber segala kekuatan
melainkan kekuatan eksternal atau dominasi pemahaman
yang tidak produktif. Walhasil ancaman lebih punya
peranan dominan ketimbang keinginan meraih sesuatu.
Individu lebih terfokus pada menghindari kesengsaraan
hidup ketimbang meraih kemakmuran; menciptakan
kekhawatiran untuk dipecat ketimbang menciptakan
prestasi kerja yang gemilang; mendewakan tahayul
“jangan-jangan” ketimbang keyakinan untuk meraih
kesuksesan, kesehatan, kebahagian, dst.
|
|
|
3.
|
Hukum
Lingkungan
|
|
|
Lingkungan diversikan ke dalam berbagai ungkapan bahasa mulai dari
keluarga, saudara, relasi, persahabatan dan lain-lain di
mana masing-masing memiliki instruksi berupa instruksi
psikologis dan instruksi keadaan yang sifatnya
ditawarkan. Andalah yang pada akhirnya menentukan
keputusan itu meskipun sayangnya keputusan anda adalah
keputusan dengan tidak memutuskan apapun. Di samping
memiliki pengaruh di mana semua manusia tidak bisa
melepaskannya, lingkungan juga memiliki standard asumsi, persepsi atau penilaian
tentang bagaimana lingkungan tersebut melihat
dunia. Seorang penakluk tembok raksasa China dieluk-elukan
bagai raja ketika ia memasuki perkampungan di mana
masyarakatnya punya penilaian seorang jagoan yang
perkasa tetapi ketika ia memasuki kampung yang berbeda,
ia dianggap orang gila : “Mengapa tembok sepanjang itu
ia taklukkan?”.
Pendek kata, pemahaman anda tentang hukum lingkungan punya hubungan
kausalitas dengan bagaimana anda ingin diperlakukan dan
bagaimana anda memperlakukan orang lain.
Jika levelnya keinginan, tentu saja anda
menginginkan bentuk
perlakuan terhormat atau sesuai dengan yang anda
inginkan. Semua
manusia bahkan hewan pun sama
tetapi kuncinya terdapat pada pemahaman anda
terhadap instruksi psikologis dan keadaan yang
menciptakan perbedaam diametral antara anda
dimanfaatkan dan dihormati; antara anda menjadi korban
lingkungan dan menciptakan adaptasi.
Kenyataan yang sulit dipungkiri adalah
bahwa anda membutuhkan lingkungan untuk menciptakan
kemajuan hidup. Tetapi di sisi lain, anda memerlukan
upaya membersihkan diri dari pengaruh yang diciptakan
oleh pembawaan umum lingkungan yang bisa menjadi
penghambat bagi kemajuan hidup anda.
Pembawaan umum itulah yang oleh Samuel A. Malone
dalam Mind Skill for Manager disebut Conformity
yang menjadi ancaman kreativitas untuk merealisasikan
keunggulan anda. Menurut Advance Dictionary,
Conformity adalah "Action or
behavior in agreement with what is usual,
accepted or required by custom". Dengan
kata lain, konformitas adalah ketakutan untuk menjadi
diri sendiri yang berbeda dengan orang lain karena
didorong oleh oleh keinginan untuk diterima oleh
lingkungan.
Kualitas pemahaman instruksi lingkungan dengan begitu sebanding dengan
kualitas kecerdasan bersikap saat anda menjatuhkan kartu
hidup. Ketika anda larut ke dalam konformitas, maka
bukan penghormatan yang akan anda terima, melainkan
pemanfaatan. Saat itulah kebaikan yang anda berikan bisa
jadi kebodohan yang anda lakukan. Bahkan lingkungan
tidak memiliki makna kualitas apapun
ketika anda tidak menemukan peluang belajar
mengisi muatan pikiran sukses dari orang yang lebih atas;
atau ketika anda tidak menemukan celah
mengukur kemajuan dari orang yang sepadan; atau
ketika anda tidak bisa membangun empati dari orang yang
lebih rendah.
|
|
Dengan
melihat dan memahami bagaimana hukum-hukum tersebut diatas
berproses maka diharapkan anda dapat mengaudit pemahaman
anda sehingga pigura anda semakin bertambah besar. Jika
anda merasa memiliki pemahaman hidup yang keliru maka
secepat mungkin mulailah mengubah cara pandang anda
tersebut sebelum kekuatan eksternal mengambil alih kendali
hidup anda. Selamat mencoba dan semoga berguna. (jp)
|
| |
_____________________________
|
|