|
Jika
ini dikaitkan dengan upaya kita untuk meningkatkan
prestasi di bidang pilihan kita, entah itu pekerjaan,
usaha, akademik, dan lain-lain, maka ada sedikitnya tiga
alasan mendasar yang layak untuk diingat, yaitu:
1.
Sasaran fokus
Kalau
dipukul rata bisa dikatakan bahwa semua orang yang pergi
ke tempat kerja, ke sekolah / kampus atau ke tempat
usaha, memiliki tujuan yang bagus, dari mulai mencari
nafkah, mencerdaskan diri, meningkatkan prestasi dan
seterusnya. Namun sayang dalam prakteknya, fokus kita
melenceng pada orang yang tidak kita suka / kita musuhi,
bukan pada sasaran utama kita – untuk mengejar
cita-cita. Akibatnya, sasaran kita jadi terlantar.
Ada
saatnya untuk patut curiga, jangan-jangan
ketidak-optimalan kita mencapai sasaran itu bukan karena
kita tidak mampu tetapi karena kita jarang
memikirkannya. Jangan-jangan pikiran kita lebih sering
kita gunakan mengurusi orang lain yang kita musuhi
ketimbang orang lain yang baik sama kita. Secara umum
mungkin kita perlu menjadikan ungkapan Robert McKain
sebagai bahan renungan: “Alasan mengapa kita sering
gagal, karena kita telah menggunakan waktu kita untuk
mengerjakan hal-hal yang kurang utama bagi sasaran
kita.”
Menurut
pengalaman Bruce Lee, mewujudkan sasaran atau tujuan,
menuntut upaya batin dalam mengerahkan fokus pada
sasaran seperti sinar laser. Fokus pada sasaran seperti
sinar laser ini bukan hanya akan membuat kita melupakan
permusuhan batin yang kita buat sendiri, melainkan bisa
membuat kita terkadang lupa sarapan, seperti yang
diungkapkan oleh Charles Schewabb.
2.
Praktek Reaktif
Kalau
boleh didefinisikan, praktek reaktif adalah tindakan
yang didasari oleh dorongan eksternal (stimuli) yang
tidak lagi kita saring menurut tujuan, sasaran, atau
kebutuhan. Dalam kehidupan sosial kemasyarakatan sering
dicontohkan bahwa di sana ada banyak orang yang
membangun rumah atau membeli barang-barang rumah tangga
bukan karena memang itu dibutuhkan tetapi karena
tetangganya membeli.
Jika
dijelaskan menurut Teori Logika, praktek demikian lahir
dari keputusan reaktif yang biasanya didorong oleh
keinginan asal-beda, asal tidak kelihatan kalah, supaya
bisa kelihatan lebih unggul dari orang lain, dan
lain-lain. Menurut Teori itu, keinginan demikian sangat
berpotensi melahirkan keputusan yang salah dalam praktek
atau minimalnya (meminjam istilah Stephen Covey)
melahirkan kebiasaan hidup tidak efektif. Kita melakukan
sesuatu bukan atas dasar tujuan, sasaran, kebutuhan,
keinginan dan keuntungan kita, melainkan atas keinginan
supaya bisa mengalahkan atau supaya tidak kelihatan
kalah. Praktek demikian tentu sulit dipisahkan dari
permusuhan batin yang kita buat sendiri.
Harus
diakui bahwa terkadang keinginan demikian sulit
dihindari dan mungkin terkadang dibutuhkan.Tetapi jika
kadarnya sudah berlebihan dan kita menempati posisi
sebagai pihak yang dikuasai hawa nafsu, maka dampak
buruk tak dapat dielakkan.
Kita
diajarkan untuk memasuki wilayah persaingan (kompetisi)
karena di sini merupakan wadah mengasah keunggulan.
Tetapi yang tidak boleh kita lakukan adalah permusuhan
atau persaingan yang tidak sehat (kongkurensi, to
conquer, menaklukkan).
3.
Burn-out
Merujuk
pada penjelasan Henry Neil dalam “13 Signs of Burnout
and How To Help You Avoid It “ (IAN, International
Assessment Network and MAPP: 2003), Burn-out adalah
virus yang menyerang kita sampai membuat kita kehilangan
motivasi, kehilangan inspirasi, dan kehilangan jurus
dalam beraksi, "missing-action", entah itu
berkaitan dengan karir, usaha, olahraga atau kegiatan
akademik.
Apa
yang menyebabkan kita terkadang seperti seorang penyair
yang kehabisan kata-kata? Tentu sebab-sebabnya tidak
bisa didetailkan satu persatu dalam tulisan tetapi salah
satunya yang perlu diaudit adalah adanya bentuk
permusuhan batin yang tidak kita hentikan atau yang kita
biarkan. Karena itu Danien Goleman yang kita kenal telah
banyak menaruh perhatian di bidang Kecerdasan Emosional
menjelaskan bahwa orang yang menolak mencerdaskan
emosinya akan mendapatkan dampak buruk yang antara lain
adalah (Emotional Intelligence And You, Doug Gray,
Action Learning Associates, Inc. 2001 - 2005 ):
a.
Mudah
dibikin kalut oleh perubahan buruk
b.
Kurang
mampu bekerjasama, mudah patah dalam menjalin hubungan
dengan orang lain
c.
Sering
terputus hubungan dengan diri sendiri akhirnya gampang
kalap
d.
Mudah
terserang virus yang bernama "burn-out"
e.
Mudah
terkena "over" antara: mudah kebablasan atau
terlalu hati-hati)
Harus
diakui memang bahwa untuk memiliki kemampuan memfokus
pada tujuan seperti sinar laser, untuk membiasakan
praktek proaktif, dan untuk melangkah secara lancar
(tanpa burn-out), tidak bisa diwujudkan dengan hanya
menghilangkan permusuhan batin semata tetapi ketika
permusuhan batin ini tidak kita hentikan, maka
keberadaannya akan mengganggu fokus, kelancaran dan
praktek kita.
|