 |
|
|
Makna
Belajar Bagi Orang Dewasa
|
|
Oleh: Ubaydillah,
AN
|
|
Jakarta,
4 Februari 2003
|
|
"Untuk apa sekolah tinggi, toh akhirnya sama
saja, bingung ke mana mencari pekerjaan yang cocok.
Ijazah akademik tidak memberi jaminan identitas
yang segagah gelarnya. Bahkan sudah tidak lagi bisa
dihitung dengan jari jumlah kawan sesama sopir
taksi yang bergelar sarjana. Bukankah hidup itu
yang paling pokok adalah memiliki sumber penghasilan
yang cukup untuk menutup pengeluaran dan sisanya
ditabung buat warisan, benarkan Pak?". Begitulah
perkataan yang pernah diucapkan oleh seorang sopir taksi
dalam suatu pembicaraan santai. Logika dan
pertanyaan pembenar sopir taksi itu bisa dijawab benar
dan tidak benar.
|
|
Kenyataan membuktikan semakin banyak jumlah kaum
akademik yang tidak mendapatkan pekerjaan sesuai dengan
disiplin ilmu atau gelarnya. Artinya ia menjalani
pekerjaan yang semestinya tidak harus dilakukan setelah
ia menyandang gelar akademik kebanggaannya. Ambillah
contoh jika seorang sarjana pendidikan harus menjadi
pedagang es keliling atau seorang sarjana hukum 'mencari'
makan dengan menjadi pedagang beras kaki lima.
Atau sarjana ekonomi menjadi
seorang sopir taksi.
Tidak terdapat bentuk pelanggaran undang-undang
apapun jika SPd menjadi penjual es keliling, jika SH
menjadi penjual beras kaki lima, atau SE menjadi sopir
taksi. Mengapa? Banyak alasan yang mendukungnya, antara
lain: 1) mencari pekerjaan sama sulitnya dengan
menahan godaan untuk mendapatkan tiket surga; 2)
hukumnya halal secara juridis; 3) kebutuhan harian
sesaat (short term survival) yang tidak bisa
ditunda; 4) pandangan lingkungan yang miring jika
sarjana nongkrong di rumah. Dan masih banyak lagi alasan
lainnya.
Menjalani pekerjaan yang tidak sesuai dengan
disiplin akademik memang sudah menjadi bentuk pemakluman
bersama. Persoalan akan muncul ketika pekerjaan tersebut
hanya bisa memenuhi sebagian kecil dari motivasi bekerja,
misalnya uang saja atau hanya bebas dari asumsi
lingkungan yang tidak-tidak. Di sisi lain, menjadi
pengalaman kesyukuran hidup ketika ketidakcocokan
tersebut membawa anda ke dalam keadaan yang sesungguhnya
menjadi kemujuran tak disengaja. Sudah menerima gaji
tinggi, simbol status sosial membanggakan, kemudian
seluruh potensi mendapat tempat pemberdayaan secara
optimal, meskipun pekerjaan itu tidak sesuai dengan
latar belakang akademik anda.
Permasalahan timbul ketika individu yang melakoni
pekerjaan yang tidak sesuai latar belakang akademiknya
dengan motif keterpaksaan semata dalam upaya menghindar
tekanan eksternal. Keterpaksaan inilah letak kesalahan
yang sebenarnya, bukan bidang atau job title tertentu.
Mengapa? Ketika motivasinya hanya terpaksa maka hidup
tidak lagi berupa pilihan-pilihan untuk belajar
berkembang melainkan kepastian dan kepasrahan. Padahal
kepastian dan kepasrahan itu tidak memberinya banyak
arti baik material dan non-material. Akan sangat berbeda
jika pilihan diarahkan untuk belajar, berubah, dan
berkembang.
|
|
Definisi
Belajar
|
|
Salah satu iklan produk terkenal yang anda lihat
kira-kira berbunyi, "Menjadi tua itu pasti, menjadi
dewasa itu pilihan". Anda pasti sudah memahami
maksud tersiratnya. Tanpa harus anda ciptakan, masa tua
akan tiba, tetapi untuk menjadi dewasa anda harus
menciptakannya. Bagimana anda menciptakannya? Tidak lain
hanyalah belajar dengan basis kehidupan menjadi dewasa.
Artinya kehidupan ini harus dijadikan materi untuk
belajar dari titik keterbatasan tertentu menuju titik
kemampuan berikutnya.
Belajar bagi orang dewasa adalah mencari untuk
menemukan sesuatu tentang hidup tidak sebagaimana
anak-anak yang hanya menerima dan terkadang masih jauh
dari isu-isu kehidupan riilnya. Sejumlah definisi atau
konsep yang dikemukakan para ahli tentang definisi
belajar bagi orang dewasa bisa anda jadikan rujukan,
antara lain:
|
|
|
1.
|
Reg Revans (Penggagas Action Learning)
|
|
|
Belajar bagi orang dewasa, menurut Reg Revans
(1998) adalah proses menanyakan sesuatu bermula dari
pengalaman ketidaktahuan tentang apa yang akan dilakukan
karena jawaban yang ditemukan saat itu tidak lagi
valid untuk mengatasi situasi yang sedang terjadi.
Dengan kata lain, "Learning is
experiencing by exploration and discovery".
|
|
|
2.
|
Bob
Sadino
|
|
|
Dalam banyak wawancara yang dikutip oleh sejumlah
media cetak, Bob Sadino, seorang pakar di bidang
agrobisnis, seringkali melontarkan kata-kata
pendek tetapi membutuhkan penjelasan yang tidak cukup
dibeberkan dalam satu sessi seminar. Kata-kata itu tidak
lain adalah: Cukup lakukan saja! Pernyataan
tersebut mengandung makna yang dalam dimana belajar
merupakan bentuk
transformasi visi ke
suatu tindakan lalu berakhir dengan achievement.
|
|
|
3.
|
Charles Handy
|
|
|
Dalam bukunya Inside Organization
(1999), Charles Handy mengemukakan bahwa siklus belajar
orang dewasa diawali dengan mempertanyakan sesuatu
dengan kuriositas
tinggi; menemukan jawaban-jawaban teoritis; melakukan
testing di lapangan; dan terakhir refleksi – sebuah
pemahaman mengenai sesuatu yang bekerja dan yang mandul di dalam diri.
Thomas Edison, seorang penemu, adalah contoh
paling reliable sepanjang zaman. Dikisahkan bahwa
secara pendidikan formal akademik,
Edison tergolong siswa yang tidak hebat tetapi ia
lebih banyak menggunakan waktunya untuk mengunjungi
perpustakaan publik karena Edison menemukan sesuatu yang
lebih bekerja terhadap hidupnya yang ia tidak dapatkan
di bangku sekolah.
Dengan proses belajar di perpustakaan tersebut Edison
menemukan pelajaran
tentang relaksasi mental. Meski tidak seorang guru pun
yang memahamkannya, tetapi naluri Edison tahu bahwa
relaksasi mental lah yang membantunya menciptakan
temuan-temuan yang tercatat lebih dari 1000 hak paten
hingga ia wafat tahun 1931.
|
|
|
4.
|
Alvin
Toffler
|
|
|
Penulis buku terkenal ini
mendifinisikan belajar sebagai proses mempersiapkan cara
atau strategi menghadapi situasi baru. Perangkatnya
meliputi pemahaman, aplikasi dari metodologi baru, keahlian, sikap
dan nilai.
|
|
Dari
definis-definisi diatas dapatlah diambil kesimpulan
bahwa belajar bagi orang dewasa ternyata memiliki
berbagai dimensi. Oleh
karena itu menjadikan pendidikan (education)
sebagai representasi tunggal dari proses belajar tidak
jarang meninggalkan warisan mindset yang kurang
menguntungkan terutama bagi pihak atau individu yang
berkemampuan rata-rata atau minus.
Lembaga sekolah, selain menciptakan birokrasi formal
yang memberikan stigma bahwa sekolah adalah escalator
tunggal yang
mahal harganya,
juga menunjukkan ketertinggalannya dengan
kemajuan yang dicapai oleh dunia luar. Akibatnya
timbul gap antara pendidikan dengan tuntutan atau
kebutuhan yang ada di masyarakat. Hal inilah yang
akhirnya menjadi dasar mengapa pengangguran tidak bisa
dihindari lagi. Pendidikan belum sepenuhnya menjadi
media yang mampu menterjemahkan makna belajar. Hal
ini karena makna belajar yang sesungguhnya adalah
melakukan sesuatu, kemudian membebaskan diri dari
situasi atau tekanan yang diakibatkan ketidaktahuan.
Cara terbaik untuk mempelajari sesuatu adalah dengan
melakukannya, seperti yang ditulis oleh Rex dan Carolyin
Sikes: "We learn about a city from being there,
not from a map or guide book. We learned to walk and
talk without reading instructions or following
recipes. Learning is doing something, then getting
rid of the unwanted parasitic movements".
|
|
Aplikasi
Belajar
|
|
Merujuk pada sekian pandangan tentang belajar
bagi orang dewasa, maka yang perlu anda lakukan adalah
menjadikannya sebagai konsep hidup personal yang
implementatif berdasarkan situasi dan kondisi yang anda
hadapi. Konsep tersebut harus diformulasikan ke dalam
pemahaman khusus yang anda rasakan bekerja mengubah
hidup dan situasi, seperti yang dialami Edison.
Guru anda adalah situasi konkrit yang anda alami dengan
materinya berupa tantangan. Inilah makna esensial dari
petuah yang sering anda dengar bahwa mencari ilmu itu
hukumnya wajib. Ilmu yang tidak memiliki relevansi
dengan situasi hidup anda oleh karena itu menjadi tidak
wajib. Bagaimana anda mendapatkannya? Ikutilah formulasi
berikut:
|
|
|
1.
|
Sadari
keadaan anda saat ini
|
|
|
|
Terimalah keadaan atau situasi hidup apapun saat
ini dengan penuh kesadaran karena kesadaran itu
akan menjadi syarat mutlak untuk menaklukkan segala
tantangan yang menghadang. Jika anda menerimanya dengan
kepasrahan atau penolakan maka selamanya keadaan atau
situasi yang tidak menyenangkan tidak bakal meninggalkan
anda. Bahkan lambat laun menciptakan lilitan yang lebih
tinggi dari kapasitas anda. Tanpa kesadaran untuk
berubah, maka perubahan situasi atau kondisi eksternal
hanya memberi anda perubahan dalam waktu singkat
dan sisanya anda kembali lagi ke format lama.
Bahkan ketika anda naik jabatan mendadak, jabatan
tersebut hanya anda rasakan kenikmatannya sebentar
lalu anda lupa rasanya.
|
|
|
2.
|
Pahami
proses
|
|
|
|
Salah satu pertanda inti dari orang dewasa adalah
pemahamannya terhadap bagaimana dunia konkritnya bekerja.
Dengan memahami bagaimana sesuatu bekerja menurut hukum
alamnya, maka akan membuat anda menjadi bijak menjalani
hidup. Tidak lagi berpikir dengan mood atau
menerjang kaidah-kaidah hidup yang benar. Di samping itu,
pemahaman tersebut akan menyalurkan energi positif
ketika proses sedang anda jalani. Di sinilah yang
membedakan apakah anda merasakan tantangan sebagai
proses untuk dinikmati atau proses yang anda rasakan
dengan kepedihan.
|
|
|
3.
|
Kemana
anda akan melangkah
|
|
|
|
Setiap pekerjaan yang anda lakukan, setiap bidang
yang anda geluti, setiap profesi yang anda sandang
sebenarnya sudah diciptakan tangga kastanya di dalam.
Termasuk seperti yang di alami kawan sopir taksi
di atas. Ia boleh menjadi sopir , pedagang beras kaki
lima, penjual es keliling selamanya meskipun tetap
terbuka lebar peluang untuk menjadi manajer atau
direktur bahkan pemegang saham di suatu perusahaan.
Tangga kasta itulah yang menjadi simbol status anda.
Dengan aplikasi prinsip belajar, maka hidup adalah
realisasi gagasan, bukan lagi intimidasi orang atau
keadaan. Tetaplah berjuang untuk hidup dengan
imajinasi anda bukan hidup di dalam sejarah masa lalu
atau jebakan realitas sementara.
|
|
Dengan memahami makna belajar diharapkan anda
dapat menjalani hidup anda dengan penuh sukacita dan
tidak didasarkan atas unsur keterpaksaan dan kepasrahan.
Terlepas apapun profesi yang anda geluti, baik yang
sesuai dengan latar belakang akademik maupun tidak,
kesuksesan anda akan sangat tergantung pada bagaimana
anda memahami hal tersebut sebagai suatu proses belajar.
Semoga berguna.(jp)
|
| |
_____________________________
|