 |
|
|
Instruksi
Internal
|
|
Oleh: Ubaydillah,
AN
|
|
Jakarta,
1 April 2003
|
|
Kisah kesuksesan Ford di industri otomotif
setidaknya telah membuka kesadaran banyak orang tentang
betapa besar kekuatan yang dapat dibangkitkan oleh
kemampuan mental dalam meraih suatu kesuksesan. Dengan
pengetahuannya di bidang engineering yang
dikatakan sangat minim, tidak menghalangi Ford untuk
merealisasikan gagasannya menjadi raja di industri ini.
Bukan berarti Ford memahami bahwa pengetahuan engineering
tidak dibutuhkan untuk membangun industri otomotif atau
menolak menerima peranan pengetahuan engineering
tetapi Ford memahami bahwa tatanan umum itu sebatas
menawarkan pilihan.
|
|
Selain Ford masih banyak ditemukan sejumlah orang
sukses di sekeliling kita yang proses meraih kesuksesan
itu tidak ditempuh melalui tangga sebagaimana yang telah
divetokan oleh tatanan umum meskipun tidak menolak
kebenarannya. Lebih tepat dikatakan, Ford dan orang sukses
semisalnya lebih menaruh perhatian dan lebih mematuhi
petunjuk yang diberikan oleh kekuatan di dalam dirinya.
Petunjuk itulah yang dinamakan Internal Instructor.
Apa itu Internal instruktur dan bagaimana memahaminya?
|
|
|
Apakah
Instruksi Internal?
|
|
|
Instruksi Internal, seperti yang pernah ditulis
oleh Anne S. Doody dalam artikelnya The Power of
Knowing Who You Are (Center for Change: 2001)
adalah dorongan internal yang membimbing anda meraih
sesuatu dan menyelamatkan dari sesuatu. Ford memahami
bahwa dorongan internalnya menunjukkan gagasan di bidang
industri otomotif dapat direalisasikan dengan menerapkan
keunggulan dirinya dalam hal "Managing and
Organizing People". Dengan keunggulan itu Ford
menggabungkang people dan technology
engineering yang akhirnya membawa "the
dynamic in the world". Hanya saja secara
kebetulan, dorongan yang diberikan oleh instruksi
internal itu berlawanan arus dengan tatanan umum yang
sedang berjalan di lingkungannya.
Tatanan umum memiliki "rule" dan
standard umum sementara realisasi gagasan membutuhkan
usaha pemberdayaan lebih keras dan lebih cerdas di atas
ukuran rata-rata yang dipahami oleh umum yang kemudian
terkesan sebagai pengecualian. Munculnya pengecualian
ini, menurut Anne tidak lepas dari watak dasar instruksi
internal yang antara lain dijelaskan sebagai berikut:
|
|
|
1.
|
Tidak
Populer
|
|
|
|
Semua orang memiliki instruksi internal yang
menjadi petunjuk menemukan keunggulan di bidang tertentu
di balik mayoritas kesamaan keinginan umum. Dengan
sifatnya yang tidak populer itu sering terjadi
kesalahpahaman di level umum dalam bentuk konotasi ganda.
Kalau semua orang berpikir bahwa untuk membangun
industri otomotif harus memahami engineering di
tingkat konsep dan praktek, sementara Ford tidak
demikian, maka Ford layak dijuluki unpopular yang
lebih berkonotasi aneh, gila, hebat dll. Kenyataan ini
tidak terjadi hanya kepada Ford. Secara umum bisa
diamati bahwa semakin besar kepatuhan seseorang terhadap
instruksi internalnya, semakin banyak ditemukan bentuk
tertentu yang berbeda dengan tatanan umum yang bisa jadi
searah atau berlawanan.
|
|
|
2.
|
Tidak
Terlihat
|
|
|
|
Watak kedua ini menggambarkan sifatnya yang
sangat personal sehingga tidak bisa dilihat oleh mata
tatanan umum atau oleh diri sendiri kecuali sering
berusaha melihatnya dan menemukan vibrasi riilnya di
dalam. Napoleon Hill menamakan dengan Unseen
Guide. Jika teori kemanusiaan mengatakan semua
orang sudah dibekali keunggulan atau bakat alamiah
tetapi kenyataannya hanya sedikit orang yang berhasil
memanfaatkannya hal itu pertanda bahwa mayoritas orang
lebih sering mengarahkan penglihatan mayornya ke
luar pada minor object. Padahal untuk bisa
melihatnya dibutuhkan major sight ke dalam
pada major object yang sangat personal.
|
|
|
3.
|
Pengecualian
|
|
|
|
Watak ketiga dari instruksi internal adalah sering
memunculkan definisi pengecualian yang diekspresikan ke
dalam sudut pandang orisinil tersendiri secara kokoh.
Instruksi tersebut bila praktekkan bisa berbentuk
penolakan terhadap konformitas tatanan umum ketika
dirasakan tidak bekerja.
Kekokohan itulah yang menjadi alasan kuat
untuk melakukan sesuatu berdasarkan instruksi dengan
dalih personal yang tidak bisa dibendung meskipun oleh
dirinya sendiri.
Hal ini bisa dibedakan dengan kekokohan yang
dihasilkan dari dependensi pada instruksi eksternal.
Seandainya Pramoedya Ananta Tur mematuhi instruksi
eksternal sebagaimana rule tatanan umum
bahwa untuk menghasilkan karya sastra haruslah didukung
dengan fasilitas referensi, tehnologi, ketenangan hidup
dan lain-lain, tentu tidak satu pun karya sastra yang
dihasilkan dari tangannya. Sebab
sebagian besar waktunya dihabiskan di penjara
ditambah dengan penyiksaan fisik.
|
|
|
Kunci
Pembuka
|
|
|
Dari penjelasan singkat tentang watak atau sifat
umum Instruktur Internal di atas, maka sangat logis
jika dikatakan oleh Anne bahwa kunci untuk mengenalnya
lebih dekat adalah mengetahui diri kita (know
yourself). Selain memahamkan watak instruktur
internal lebih dekat, Socrates bahkan sempat mengatakan
bahwa memahami diri adalah pintu untuk mengetahui orang
lain dan dunia. Tidak hanya itu, esensi ajaran agama
yang menjadi bagian dasar hidup kita pun mengatakan
memahami Tuhan harus diawali dari upaya memahami diri.
Perlu ditambahkan bahwa diri yang dimaksudkan di
sini adalah “The Self” yang berarti memberi
kemenangan kepadanya atas “The Ego”.
Karena kemenangan lebih sering diberikan kepada The
Ego – dorongan dari luar ke dalam, maka kunci
untuk memahami instruksi internal yang akan menunjukkan
kita pada bakat alamiah akhirnya tidak berfungsi
sebagaimana mestinya atau hanya berfungsi secara
minimalis dengan hasil rata-rata.
Begitu besarnya kekuatan yang dihasilkan dari
pemahaman diri. Oleh karena itu layaklah kita bertanya,
dari mana dimulai? Sebelumnya perlu digaris-bawahi bahwa
memahami diri adalah tahapan dari pencapaian proses
sehingga tidak lepas dari upaya untuk
meletakkannya sebagai materi belajar.
|
|
|
Aplikasi
Belajar
|
|
|
Orang tidak menjadi langsung tahu siapa dirinya
begitu ia dilahirkan, tetapi dapat menjadi tahu melalui
proses pemberdayaan dari dalam ke luar. Materi
pemberdayaan berikut bisa dijadikan langkah awal untuk
memahami diri:
|
|
|
1.
|
Eksplorasi
|
|
|
|
Dari sekian banyak rutinitas dan keharusan lain
yang menjadi bagian tatanan umum sering
menciptakan pagar mental antara diri kita dan keadaan
eksternal yang tidak jarang menggoda untuk
dipahami sebagai bentuk kekuatan
manipulatif atau intimidatif. Kalau dikembalikan
bahwa "the reality is the shadow of mindset",
maka pemahaman tersebut bukan "absolute
truth" melainkan pilihan antara mengubah the
mindset atau tidak mengubahnya. Eksplorasi diri bisa
diartikan sebagai pilihan mengubah mindset untuk
dapat merasakan perubahan realitas.
Contoh sederhana adalah niat kita ke kantor. Hal
itu bisa dipahami sebagai keharusan yang punya
konsekuensi reward dan punishment tetapi
di sisi lain menawarkan kesempatan untuk dipahami
sebagai bagian penting dari eksplorasi diri. Dengan
memahaminya sebagai wilayah eksplorasi maka akan
memunculkan optimalisasi tanggung jawab yang secara
tidak langsung akan membuka cakrawala tentang diri kita
lebih luas.
|
|
|
2.
|
Labelisasi
|
|
|
|
Dari eksplorasi mental yang anda lakukan, buatlah
label yang membedakan antara diri anda dan orang lain,
antara sesuatu yang bekerja dan sesuatu yang mandul,
antara situasi spesifik dan situasi umum. Semakin
banyak daftar label yang membedakan antara anda dan
orang lain, maka semakin jelas anda memahami siapa diri
anda. Hanya saja sedikit perlu dicatat bahwa membuat
label tidak bisa disamakan dengan membandingkan diri
anda dan orang lain. Label adalah membuat posisi mental
dengan arah-fokus pada pemahaman ke dalam sementara
membanding tidak punya arah-fokus demikian bahkan lebih
sering berupa veto pengadilan-diri.
|
|
|
3.
|
Refleksi
|
|
|
|
Sulit diingkari bahwa banyak yang sudah kita
jalankan atau gunakan tetapi banyak makna yang tidak
terserap karena tidak
kita ciptakan pemaknaan dengan sengaja. Refleksi
diri adalah menciptakan zona bebas interaksi
kecuali hanya dengan ‘the self’ tentang ‘the
self’ untuk menemukan makna
di dalam diri mengingat begitu besar makna
yang dikandung. Tetapi perlu diakui, justru sebagian
besar energi, waktu dan perhatian sering kita habiskan
untuk menemukan makna di luar.
|
|
|
Walhasil, mengikuti tatanan umum jelas tidak
salah karena di satu sisi rule yang terdapat di
dalam tatanan itu merupakan representasi dari kebenaran
umum. Tetapi ketika sudah berbicara pemberdayaan personal, maka membutuhkan
seleksi yang ketat untuk mengetahui bagian yang bekerja
dan bagian lain yang mandul. Yakin sekali, tidak hanya
Ford atau orang lain yang hanya bisa dikenal namanya
lewat pertemuan imajinatif yang diberi kesempatan untuk
memahami instruksi internal. Bisa jadi orang lain yang
dekat dengan anda bahkan diri anda sendiri pun bisa.
Selamat mencoba. (jp)
|
| |
_____________________________
|