|
| |
Aku
Anak Mbak ....
|
| |
Oleh
Martina Rini S. Tasmin, SPsi.
|
| |
Jakarta,
30 Mei 2002
|
| |
Lolo
ayo mandi.
Sebentar
Mbak, Lolo masih nonton…
|
| |
Iin
ini makanannya sudah siap. Suster suapin ya...
Tapi
Iin maunya makan sambil main….
|
| |
Mbak,
berapa
sih 10 + 5 ?
10
+ 5 = 15,
Ela.
|
| |
Nia,
sekarang sudah waktunya tidur siang..
Iya
Suster, Nia cuci kaki dulu ya…
|
| |
Dialog
diatas merupakan gambaran situasi yang terjadi antara
anak dengan pengasuhnya. Lolo, Iin, Ela dan Nia adalah
tipikal anak-anak kota besar jaman sekarang, yang
pengasuhan sehari-harinya diserahkan kepada pembantu
atau pengasuh (nanny/baby
sitter) di rumah. Bukan lagi diasuh oleh orangtua,
karena ayah dan ibunya bekerja. Tapi kalau diamat-amati,
anak-anak sekarang sebenarnya kebanyakan tetap diasuh
dan memiliki pengasuh sekalipun ibunya tidak bekerja.
Anak lebih banyak menghabiskan waktu dengan pengasuhnya
daripada dengan orangtua. Tidak heran kalau banyak anak
lebih dekat dengan pengasuh daripada dengan orangtuanya.
Ada anak-anak yang jika sedang sakit, tidak mau disuapi
makanan atau obat oleh orangtua, tetapi hanya mau
disuapi oleh pengasuh. Kalau pengasuh pulang kampung,
jadi sedih dan tidak nafsu makan, begitu harus tidur
malam hari jadi gelisah dan mencari-cari pengasuhnya.
Bahkan ada anak yang terang-terangan mengatakan "Aku
anaknya mbak", "Aku sayang sama suster banyak,
sayang sama mama papa sedikit" (dengan gaya lucu
menggemaskan, tapi cukup membuat hati orangtua nelangsa).
|
| |
Menghadapi
kenyataan dan kondisi di atas, apa yang sebaiknya
dilakukan orangtua agar kendali pendidikan dan
pengasuhan anak tetap berada di pundak mereka sehingga
tidak terjadi hal-hal negatif yang dapat merugikan
perkembangan fisik dan mental anak di masa yang akan
datang.
|
| |
Kerjasama
Dengan Pengasuh
|
| |
Pengasuh
(nanny/baby
sitter)
tidak
lagi sekedar orang upahan, tetapi sudah menjadi bagian
dari suatu rumah tangga dan merupakan partner orangtua
dalam mengasuh anak. Beberapa sekolah yang ada di
Jakarta, bahkan sudah sangat menyadari fenomena ini,
sehingga di sekolah-sekolah tersebut secara rutin
diadakan workshop bagi pengasuh mengenai anak dan
cara pengasuhannya. Sebagai partner, orangtua tidak bisa
menyepelekan keberadaan pengasuh, dan berpikir ah kan cuman pengasuh; cuman orang luar; saya orangtua; saya majikan. Karena seperti kenyataan yang terlihat, banyak anak
lebih dekat dengan pengasuhnya. Partner berarti orang
yang bekerjasama, bukan bekerja sama-sama. Sebagai
partner berarti harus kompak dan seiya sekata.
|
| |
Mengapa
orangtua dan pengasuh harus kompak? Tentu saja bukan
semata untuk kepentingan orangtua dan pengasuh, tapi
terutama demi anak yang diasuh. Anak membutuhkan
lingkungan yang konsisten dan terprediksi untuk
berkembang dengan benar. Bagi orangtua dan pengasuh pun
ada keuntungannya jika mereka kompak, karena anak akan
lebih mudah diasuh dan menurut. Paling tidak satu sama
lain tidak saling memboikot, sehingga anak tidak bisa
mengambil keuntungan dari situasi ini. Yang dimaksud
dengan memboikot adalah misalnya hal-hal yang dilarang
oleh orangtua, tetapi diam-diam diperbolehkan oleh
pengasuh atau sebaliknya hal-hal yang dilarang pengasuh
malah diperbolehkan oleh orangtua.
|
| |
Mengapa
anak lebih mudah diasuh dan menurut kalau orangtua dan
pengasuh kompak? Hal tersebut terjadi karena, anak tahu
apa yang tidak boleh berarti tidak boleh, dan tidak
mencari persetujuan ke tempat lain. Anak juga akan
melihat kedua belah pihak sebagai figur otoritas yang
harus ditaati dan dihormati, dan tidak menunjukkan
ketaatan palsu. Ketaatan palsu adalah ketika anak
pura-pura menurut pada orangtua, tapi di belakang
mencari persetujuan dari pengasuh ketika orangtua tidak
ada. Atau pura-pura menurut pada pengasuh, tetapi ketika
orangtua ada di rumah, langsung mencari persetujuan
orangtua dan menyepelekan pengasuhnya. Kondisi seperti
ini, sebenarnya menunjukkan bahwa anaklah yang memegang
otoritas, sehingga akan banyak waktu dimana anak misbehave,
dengan mencoba mengatur orang-orang disekitarnya, tidak
peduli dihukum karena toh
tetap bisa mendapatkan apa yang diinginkan.
|
| |
Dengan
latar belakang pendidikan, sosial, ekonomi dan budaya
yang seringkali sangat berbeda, menyebabkan orangtua dan
pengasuh memiliki nilai-nilai, pemikiran dan tindakan
yang berbeda. Dengan kondisi tersebut bekerjasama
bukanlah hal yang mudah dilakukan. Tapi mau tidak mau
harus dilakukan demi kesejahteraan anak. Bagaimana
caranya? Di bawah ini ada beberapa cara
yang mungkin dapat dilakukan orangtua dalam bekerjasama
dengan pengasuh:
|
| |
1.
Perlakukan sebagai teman
|
| |
|
Jalin
komunikasi yang baik dan keakraban dengan pengasuh.
Berteman dengan pengasuh akan membuatnya lebih mau
terbuka. Pengasuh juga akan segan bergosip tentang
majikannya, lebih tulus ketika mengasuh anak dan semoga
akan lebih menurut pada perintah majikan. Pengasuh yang
diam-diam merasa sebel pada majikan, mungkin bisa
memboikot majikannya.
|
| |
2.
Membagi pengetahuan tentang perkembangan anak
|
| |
|
Orangtua
memiliki pendidikan lebih dari pengasuh, untuk beberapa
hal juga akan memiliki pengetahuan yang lebih tentang
perkembangan anak. Pengasuh yang berpengalaman juga
dalam beberapa hal akan lebih tahu dari orangtua.
Cobalah untuk saling membagi pengetahuan ini, supaya
jika ada perbedaan, dari awal sudah bisa diketahui dan
dicari jalan tengahnya. Dengan saling berbagi,
pengetahuan masing-masing akan bertambah dan tidak
saling mempertanyakan dan saling menuduh sok tahu dalam
hati masing-masing.
|
| |
3.
Mengutarakan dengan jelas aturan-aturan dan
kebiasaan-kebiasaan yang ada
|
| |
|
Utarakan
dengan rinci
cara-cara mengasuh anak yang diharapkan orangtua, apa
yang boleh apa yang tidak boleh (bagi anak dan bagi
pengasuh, misalnya pengasuh tidak boleh memukul anak
apapun alasannya, anak sama sekali tidak boleh makan
permen) dan hal-hal harian apa saja yang harus
dilaporkan kepada orangtua. Utarakan secara jelas dan
mendetail, untuk menghindari kesalahpahaman. Hal ini
penting, karena dengan demikian berarti orangtua sebagai
pemegang kendali kebijaksanaan pengasuhan anak.
|
| |
4.
Jika terjadi
pemboikotan segera dibicarakan dan diatasi
|
| |
|
Jika
secara tidak sengaja (karena masing-masing pihak belum
tahu atau tidak mengerti kebiasaan pihak lain, dan ada
yang tertinggal dari diskusi awal) terjadi pemboikotan,
maka sebaiknya dibicarakan baik-baik, mencari kata
sepakat dan tidak memboikot kembali di depan anak.
|
| |
Idealnya
memang akan lebih baik bagi orangtua jika bisa
mendapatkan pengasuh yang berpengalaman, penurut, dan
memiliki nilai-nilai yang sama. Tapi tentunya tidak
semua orangtua bisa seberuntung ini. Oleh karena itu
ketika orangtua memutuskan untuk menerima seseorang
sebagai pengasuh, orangtua hendaknya sudah memiliki
persyaratan tertentu, minimal orang tersebut bersih dan
rapi (kuku kaki dan tangan terpotong rapi, pendek, dan
bersih, tidak bau badan dan mulut, pakaiannya bersih)
dan tentunya bisa membaca menulis (jadi ketika mengasuh
anak, bisa sambil membacakan cerita dan bisa juga
sedikit-sedikit mengajarkan anak membaca dan menulis).
|
| |
Tetap
Lekat Dengan Anak
|
| |
Sekalipun
orangtua bekerja dari pagi hingga malam, dan
meninggalkan anak dalam asuhan orang lain, pastilah
orangtua ingin anaknya tetap lekat dengannya. Anak ada
di hati orangtua dan orangtua ada di hati anak. Orangtua
pasti tidak berharap mendengar perkataan dari mulut anak
"Aku anaknya Mbak Yem".
|
| |
Beberapa
ahli mengatakan yang penting bukanlah kuantitas waktu
yang dihabiskan bersama anak, tapi kualitas waktu ketika
sedang bersama anak.
Apa yang dimaksud dengan waktu yang berkualitas?
Dalam buku When
Others care For Your Child (1987), waktu berkualitas
adalah saat-saat dimana orangtua
menghabiskan waktu bersama anak dengan fokus dan
perhatian penuh pada anak dan masalah-masalah yang
dialami anak. Waktu tersebut bisa sambil mengobrol saja
ataupun melakukan suatu kegiatan bersama (nonton televisi,
main games, makan malam). Saat-saat tersebut benar-benar
tidak terbagi, hanya untuk anak dan orangtua. Orangtua
tidak sambil menerima telpon bisnis dari rekan kerja,
sambil membicarakan masalah di kantor, ataupun
membicarakan deadline yang harus dipenuhi.
|
| |
Hal
pertama yang sebaiknya dilakukan ketika orangtua sampai
di rumah tentunya adalah menghampiri,
memeluk dan mencium anak, bukannya menyalakan televisi
atau langsung masuk kamar untuk istirahat sebentar.
Ketika orangtua sudah berada di rumah, pengasuhan anak
sebaiknya dikembalikan ke orangtua dan tidak lagi
dipegang oleh pengasuh. Kalau anak makan masih disuapi,
maka orangtua lah yang seharusnya menyuapi, yang
memandikan (kalau belum mandi), mengganti baju dan sikat
gigi sebelum tidur, mengantar ke tempat tidur (sambil
menyanyikan lagu nina bobo maupun membacakan dongeng).
|
| |
Dengan
demikian anak akan mengerti bahwa pengasuh hanya
membantu ketika orangtua sedang bekerja, tetapi pengasuh
bukanlah orangtua. Anak pun akan tahu bahwa orangtua
menganggap anak-anaknya penting dan menyayangi mereka.
Ketika ada yang menanyakan anak siapa dia, anak bisa
mengatakan "Aku anak Mama Dina dan Papa Dani",
dan kalau ditanya Mbak Yem itu siapa, anak akan menjawab
"Mbak Yem itu suster aku". (jp)
|
| |
_____________________________
|
|