| |
Pendidikan anak dewasa ini semakin menjadi perhatian utama dan prioritas
para orang tua. Ada beberapa penyebab : Kesadaran akan
pentingnya “bersekolah” dan kesadaran akan arti
“sekolah”, namun tidak jarang ada pula penyebab
lain, yakni ingin menyerahkan beban pendidikan / tugas
pendidikan ke sekolah (dan para pendidik) – entah
karena memahami adanya “value added” di sekolah,
atau karena frustrasi, sulit mengarahkan anaknya sendiri
di rumah (jadi biar tidak pusing-pusing, anaknya di
sekolahkan saja)…Apapun alasan kita para orang tua
dalam menyekolahkan anak, seyogyanya kita memahami
prinsip bahwa :
Keluarga adalah tempat pertama dan utama pendidikan seorang anak.
Keluarga = sekolah plus. Selama ini, kita
mencari sekolah plus, untuk bisa mengatasi
“kekurangan” yang ada di rumah atau di dalam pola
asuh kita terhadap anak. Namun, kita sering lupa,
setelah kita memasukkan anak ke sekolah “plus”, kita
tidak mempelajari dan mengambil “nilai plus-nya”
untuk diterapkan di rumah. Akibatnya, di rumah tetap
minus dan “plus”-nya tertinggal di sekolah.
Konsekuensi
Ketika musim sekolah telah berjalan, timbul beberapa kesulitan dan
masalah – yang tanpa sadar merupakan dampak dari
tertinggalnya nilai “plus” di sekolah.
1.
Problem belajar
2.
Problem motivasi
3.
Problem perilaku
4.
Problem emosional
5.
Problem sosial
6.
Problem nilai
1.
Problem belajar
|
|
Belajar di
sekolah
|
Belajar di rumah
|
|
Pola belajar
|
Pola
belajar dengan proses sistematik, termasuk
pemberian instruksi yang sistematik, jelas, tegas,
sederhana, kongkrit, sequencial dan sesuai dengan
kemampuan / kesiapan anak. Pola ini mempermudah
penyerapan materi pelajaran dan instruksi, apalagi
jika diberikan secara learning
by doing and playing.
|
Pola
sistematik di sekolah, seringkali “bubar”
ketika di rumah karena toleransi orang
tua/pengasuh yang berlebihan terhadap anak (tidak
tahan terhadap rengekan dan tantrum anak).
Pola short-cut,
sering dilakukan orang tua, dengan memangkas
proses yang seharusnya dilalui anak, karena orang
tua sendiri yang tidak tahan menghadapi proses
tersebut, yang di”bumbui” oleh rengekan anak.
|
|
Suasana belajar
|
Suasana
belajar yang ceria, non-judgmental, non-ambisius
(tidak dipengaruhi ambisi pribadi sang pengajar),
namun ada nuansa kompetisi (antar teman) akan
membuat anak “betah” dan “asik” menjalani
proses belajar-nya di sekolah
|
Suasana di
rumah yang “fun”,
santai, longgar,
no target, no clear “rules – regulations &
boundaries/batasan”, apalagi tidak ada
competitor, tidak menggiring dan membentuk suasana
belajar. Yang muncul, adalah suasana “murni
bermain” dan bersantai, melakukan kegiatan yang
tak terarah dan tak bermakna
|
|
Stimulus
|
Stimulus
diberikan secara sistematik, terencana, terpola
(tidak random dan simultan –
all in one), memperkaya wawasan, skill /
ketrampilan anak. Pemberian stimulus yang minimal
(tidak sesuai dengan kapasitas anak) menyebabkan
kebosanan dan keresahan. Stimulus yang berlebihan,
membuat anak resah dan inferior karena merasa
“sulit” menghadapi stimulus tersebut.
|
Di rumah,
anak mudah sekali kebanjiran ‘stimulus” entah
dalam bentuk permainan (meskipun sifatnya
edukatif) maupun pelajaran. Artinya, anak
diberikan banyak mainan atau pun pelajaran untuk
dikerjakan dalam waktu yang sama. Pola ini,
membuat anak sulit menyusun skala prioritas
konsentrasi, pengolahan & penyaluran energi.
Akhirnya, anak mudah beralih perhatian saat masa
belajarnya di satu hal belum selesai (saat ia
belum mendapatkan kesimpulan dan pemahaman atas
pola yang ditemukan dari permainan / kegiatannya
itu).
Pemberian
pelajaran yang berlebihan di rumah tanpa
mempertimbangkan kemampuan anak (missal karena
ambisi orang tua), dapat mengundang penolakan anak
atau rasa rendah diri (merasa tak mampu)
|
2.
Problem motivasi
|
Belajar di
sekolah
|
Belajar di rumah
|
|
Pola action-consequence dan sequence yang
jelas (sesudah pelajaran ini, akan dilanjutkan
dengan kegiatan “mengasikkan” berikutnya –
jadi kalau sampai tidak selesai, nanti tidak bisa
ikut belajar yang selanjutnya), membuat anak
belajar untuk memahami apa akibatnya kalau dia
tidak mengerjakan seperti seharusnya.
|
Pola action
– consequence seringkali tidak konsisten
yang bersumber dari ketidakmampuan orang tua
bersikap konsisten pada anak dan toleransi yang
terlalu longgar dalam menerapkan pola
action-consequences maupun sequences serta
kemandirian dalam bertindak (tidak tergantung
orang lain – autonomous
& independent).
Akibatnya,
anak jadi mudah frustrasi, kurang punya daya juang
(gampang menyerah), malas, mengikuti impuls-nya
semata.
Rasa ingin
tahu, kebutuhan eksplorasi dan keinginan anak
untuk mencoba mudah “kalah” oleh keengganan,
rasa malas atau pun tuntutan untuk dibantu
orang tua.
|
3.
Problem perilaku
|
Belajar di
sekolah
|
Belajar di rumah
|
|
Pola
belajar yang komprehensif, kombinasi dari kegiatan
fisik (heavy physical activity) dan non fisik (contoh :
thinking, reading, scrabbling, drawing, singing,
interacting) membuat energy anak (pada
umumnya) terolah
dan tersalur secara produktif & efektif
dalam rentang waktu yang relative proporsional
|
Energi
anak yang berlebihan, kurang tersalur secara
terarah. Banyak waktu, tapi untuk bermain yang
non-produktif; banyak mainan, namun kurang diberi
makna / arahan, sehingga mainan yang ada pun tidak
bermanfaat secara optimal untuk perkembangan anak,
dan hanya sekedar “for
fun”. Akibatnya, anak mudah bosan, tidak
menghargai mainan, tidak kreatif (pemain pasif dan
penerima “mainan” pasif), tidak inovatif.
Energi yang tidak tersalur, berputar di dalam,
menimbulkan keresahan yang seringkali tidak dapat
dikendalikan oleh sang anak, hingga terkesan
“hyperaktif”, agresif, sulit konsentrasi,
tidak bisa diam, dsb
|
4.
4.
Problem
emosional
|
Belajar di
sekolah
|
Belajar di rumah
|
|
Beragamnya
aktivitas dan teman-teman bermain, membuat anak
belajar mengelola emosi-nya sendiri berikut
kebutuhan dan keinginan mereka (untuk
diperhatikan, dinomersatukan, dilayani, dibantu,
dsb – yang bersifat egosentris / terpusat pada
diri sendiri). Kompleksitas situasi di sekolah,
menghadapkan anak pada situasi yang sering tak
dapat dikendalikannya. Di sekolah, mau tidak mau
anak belajar mengelola frustrasi, kesedihan,
perasaan marah, ketakutannya, iri hati,
kebosanannya, atau pun kekesalannya terhadap
sesuatu. Kompleksitas situasi di sekolah, pada
dasarnya membantu proses perkembangan kematangan
emosi anak.
|
Jika orang
tua heran, melihat anaknya disekolah yang lebih
“dewasa” tapi ketika di rumah jadi
“manja”, tukang merengek, mudah menangis dan
tantrum, bisa diteliti kembali, bagaimana
pola-pola di rumah. Sikap orang tua yang sangat
toleran dan tidak konsisten, tidak ber-prinsip
(tidak didasari prinsip logika rasional dalam
menerapkan aturan) dalam menyikapi tantrum anak
atau pun emosi anak, pada akhirnya menyulitkan
proses “pencerdasan emosional” anak.
Orang tua,
seringkali salah memfokuskan perhatian, bukan pada
tujuan akhir dari kebijakan, kebiasaan, aktivitas,
pembelajaran –nya, namun lebih pada tantrum dan
reaksi emosi anak. Contoh : mudah luluh / kesal /
marah mendengar anak merengek tidak mau makan
sendiri sehingga supaya tidak merengek dan mau
makan banyak, akhirnya “disuapi” lagi –
akhirnya, tujuan pendidikan tidak tercapai, dan
anak tidak se-mandiri ketika di sekolah
|
5.
Problem sosial
|
Belajar
di sekolah
|
Belajar
di rumah
|
|
Banyaknya
teman di sekolah, membuat anak belajar perilaku
sosial, seperti halnya berbagi (sharing),
toleransi, bergiliran, empati, menolong teman,
dsb. Banyaknya jumlah anak di dalam kelas, membuat
sang anak belajar menghadapi kenyataan bahwa bukan
dia satu-satunya anak yang membutuhkan bantuan ibu
guru atau diperhatikan oleh pak guru. Pola ini,
secara positif dapat menumbuhkan kemandirian anak
(tidak tergantung dari orang lain, tapi mampu
mengusahakannya sendiri).
Anak
juga belajar, aksi-reaksi, dari sikap dan
tindakannya sendiri. Lama kelamaan, anak akan
berpikir sebelum bertindak, sehingga dia tidak
lagi terlalu impulsif dan “mau menang sendiri”
sebab ada akibat sosial yang akan dia alami.
|
Ketika
di rumah, anak cenderung menjadi “prince
– princess”, di mana semua kebutuhannya
dilayani dan dia menjadi pusat perhatian.
Akhirnya, jika di sekolah anak terlihat
mandiri, tapi di rumah jadi anak super manja.
Ketidaksinkronan dan ketidakkonsistenan antara
pola di rumah dengan di sekolah, akan menghambat
berkembangnya kesadaran internal akan tanggung
jawab sosial (social
responsibility).
|
6.
Problem nilai
|
Belajar
di sekolah
|
Belajar
di rumah
|
|
Di
sekolah, anak mendapatkan pelajaran nilai secara
langsung dari pengalaman mereka sehari-hari,
misalnya : kejujuran, toleransi, kedisiplinan,
kemandirian, ketekunan, ketaatan, kepatuhan, kerja
sama, “kerja keras” dan “usaha”, tanggung
jawab, menghargai teman, mengucapkan terima kasih,
dsb. Lingkungan sekolah yang sangat natural
(memunculkan instant reaction), memudahkan anak
untuk belajar nilai secara konsisten di lingkungan
sekolah.
|
Para
orang tua maupun pengasuh, seringkali sulit
menanamkan nilai-nilai seperti halnya di sekolah,
karena banyaknya benturan nilai. Misalnya : jika
di sekolah anak harus bisa makan sendiri, di rumah
disuapi. Jika di sekolah membereskan mainan
(tanggung jawab) sendiri, di rumah dibereskan
mbak. Jika di sekolah disiplin dalam hal waktu, di
rumah boleh nonton sepuasnya.. Jika disekolah
mengerjakan sesuatu hingga selesai, kalau di rumah
bisa suka-suka sendiri. Jika di sekolah harus
mengambil mainan sendiri, kalau di rumah, tinggal
teriak dan menjerit maka akan ada yang
mengambilkan. Akhirnya hal ini menghambat
pembentukan nilai dan kesadaran moral pada anak.
Anak akan “suka-suka” dan terbiasa bersikap “short
cut”, ambil jalan pintas – yang enak, yang
mudah, tidak mau melalui proses-nya, tidak mau
menerima konsekuensinya. Pola ini, memupuk mentalitas anak yang lembek, mudah
frustrasi, manipulatif dan narsisistik (merasa
diri hebat dan layak untuk memperoleh apa yang dia
inginkan).
Selain
itu, anak jadi taat, patuh, “baik” karena
takut dimarahi – bukan karena kesadaran (yang
akan terbangun melalui belajar nilai dari action-consequnces
secara logis)
|
Apa
yang harus dilakukan?
Orang
tua perlu mencari benang merah dan sinkronisasi beberapa
hal yang utama, yang membantu anak mengembangkan hal-hal
dasar dalam kepribadiannya. Sebagaimana orang tua
memilih sekolah yang sesuai dengan orientasi nilai dan
harapan mereka, begitu juga orang tua seyogyanya
mengadaptasikan pola-pola pendidikan yang konstruktif
dan positif dari sekolah. Paling tidak, di antara
keduanya, saling mengisi – dan bukan saling
meniadakan. Untuk itu lah, komunikasi orang tua dengan
anak, dan komunikasi antara orang tua dengan pihak
sekolah, menjadi hal yang sangat penting untuk
dilakukan. Kita tidak bisa bersikap “tahu beres”
baik terhadap anak maupunn pihak sekolah. Karena, ketika
terjadi ketidakberesan, kita tidak bisa semata-mata
menunjuk pihak sekolah sebagai “biang keladi” dari
persoalan yang dihadapi anak. Bisa saja persoalan
dimulai / terjadi di sekolah, namun kita harus
melihatnya secara bijaksana, karena reaksi seorang anak
terhadap sesuatu, sangat dipengaruhi oleh proses belajar
yang dilaluinya dan pola asuh yang paling mendominasi
bentukan sikap dan kepribadiannya.
Jadi,
keluarga, adalah tempat utama pendidikan dan
pengembangan seorang anak. Sekolah, pada dasarnya
mengarahkan, memberikan bimbingan dan kerangka – bagi
anak untuk belajar, bertumbuh dan berkembang. Sementara
keluarga, justru menjadi center of education yang utama, pertama dan mendasar.
|