|
| |
Belajar
Lebih Penting Daripada Bermain?
|
| |
Oleh
Martina Rini S. Tasmin, SPsi.
|
| |
Jakarta,
25 April 2002
|
| |
|
| |
Ibu
|
:
|
Arieeeeeeeef,
kok masih juga main mobil-mobilannya, Mama kan sudah
bilang dari tadi, kamu sekarang harus mengerjakan pr dari sekolah, sebentar lagi
kan mau berangkat les
kumon.
|
|
|
Anak
|
:
|
Aaaah
Mama, nanti dulu deh, Arief kan mainnya baru sebentar
banget, belum selesai nih Ma. Ini kan ambulans,
ambulansnya lagi antar Lala ke rumah sakit, nggak boleh
berhenti di jalan harus cepat sampai, kalau
brenti-brenti kan kasian Lalanya, nanti nggak cepat
sembuh. Brem brem brem brem breemmmmmmmmm
|
| |
Sepenggal
pembicaraan diatas menunjukkan betapa anak-anak sangat
senang bermain dengan mainannya. Mereka sangat menikmati
waktu bermain sehingga tidak jarang mereka lupa makan,
lupa belajar bahkan tidak mau melakukan aktivitas
lainnya jika sedang bermain. Orangtua
pun harus tarik urat dahulu jika menyuruh anaknya
berhenti bermain dan mau mengerjakan pekerjaan rumah
(pr) atau belajar. Hal ini seringkali menyebabkan
orangtua menganggap bahwa anaknya malas belajar dan
maunya cuma bermain saja.
|
| |
Benarkah
anak-anak kita lebih banyak menghabiskan waktu untuk
bermain daripada belajar? Jika mau melihat secara lebih
cermat dan memperbandingkannya dengan anak-anak pada
masa sebelumnya (era 1970 - 1980an), sebenarnya justru
terlihat kalau anak-anak masa sekarang lebih banyak
menghabiskan waktu untuk belajar daripada bermain jika
dibandingkan dengan anak-anak pada masa sebelumnya.
Beberapa kritikan dari para ahli pendidikan tentang
kurangnya waktu bagi anak untuk bersosialisasi dan
mengembangkan hobby atau bakatnya (termasuk bermain)
karena sebagian besar waktu terpakai untuk
kegiatan-kegiatan belajar demi mengejar prestasi
akademik di sekolah sudah sangat sering kita dengar.
Sekolah-sekolah untuk anak-anak bahkan ada yang sudah
dimulai dari anak umur 1,5 tahun (walaupun sekolah usia
ini tentunya belum mulai belajar). Banyak TK yang
menekankan kurikulumnya untuk mengajar anak membaca,
menulis dan berhitung, bukan lagi sekedar bermain-main.
Anak-anak SD bersekolah dengan waktu sekolah yang lebih
panjang. Pulang sekolah anak masih harus mengikuti
bermacam-macam les, misalnya kumon, sempoa, menggambar,
balet, piano,
komputer, dll. Selain untuk sekolah dan
les, anak-anak juga masih perlu waktu untuk mengerjakan
pr, mandi, makan dan istirahat (tidur). Jika melihat
kenyataan ini, jadi kapan dong waktu anak-anak untuk
bermain?
Lalu sebenarnya, apakah anak-anak memang malas
belajar atau mereka memang tidak cukup waktu untuk
bermain?
|
| |
Orangtua
sekarang ini seringkali sangat ambisius terhadap
anak-anaknya, mereka ingin anaknya sepintar mungkin, dan
diwujudkan dengan mengikutkan anak pada berbagai macam
les untuk menambah pengetahuan dan ketrampilan yang
telah diperoleh anak di sekolahnya. Hal tersebut memang
tidak salah, namun kebutuhan anak untuk bermain
hendaknya jangan diabaikan karena bermain adalah hal
yang penting bagi perkembangan fisik dan mental anak.
|
| |
Bermain
|
|
|
Papalia
(1995), seorang ahli perkembangan manusia dalam bukunya Human
Development, mengatakan bahwa anak berkembang dengan
cara bermain. Dunia anak-anak adalah dunia bermain.
Dengan bermain anak-anak menggunakan otot tubuhnya,
menstimulasi indra-indra tubuhnya, mengeksplorasi dunia
sekitarnya, menemukan seperti apa lingkungan yang ia
tinggali dan menemukan seperti
apa diri mereka sendiri. Dengan bermain,
anak-anak menemukan dan mempelajari hal-hal atau
keahlian
baru dan belajar (learn)
kapan harus menggunakan keahlian tersebut, serta
memuaskan apa yang menjadi kebutuhannya (need). Lewat bermain, fisik anak akan terlatih, kemampuan kognitif
dan kemampuan
berinteraksi dengan orang lain akan berkembang.
|
|
|
Bermain
tentunya merupakan hal yang berbeda dengan belajar dan
bekerja. Menurut Hughes (1999), seorang ahli
perkembangan anak dalam bukunya Children, Play, and
Development, mengatakan harus ada 5 (lima)
unsur dalam suatu kegiatan yang disebut bermain. Kelima
unsur tersebut adalah:
|
|
|
-
Tujuan
bermain adalah permainan itu sendiri dan si pelaku
mendapat kepuasan karena melakukannya (tanpa
target), bukan untuk misalnya mendapatkan uang.
-
Dipilih
secara bebas. Permainan dipilih sendiri, dilakukan
atas kehendak sendiri dan tidak ada yang menyuruh
ataupun memaksa.
-
Menyenangkan
dan dinikmati.
-
Ada
unsur kayalan dalam kegiatannya.
-
Dilakukan
secara aktif dan sadar.
|
|
|
Di
luar pendapat Hughes, ada ahli-ahli yang mendefinisikan
bermain sebagai apapun
kegiatan anak yang dirasakan olehnya menyenangkan dan
dinikmati (pleasurable
and enjoyable). Bermain dapat menggunakan alat (mainan)
ataupun tidak. Hanya sekedar berlari-lari keliling di
dalam ruangan, kalau kegiatan tersebut dirasakan
menyenagkan oleh anak, maka kegiatan itupun sudah dapat
disebut bermain.
|
| |
Manfaat
Bermain
|
| |
Membaca
uraian tentang pentingnya bermain, orangtua mungkin
berpikir hal-hal tersebut di atas bisa didapatkan anak
dengan cara belajar (study). Malah dengan belajar anak bisa pintar, kalau main
terus-terusan anak tidak bisa pintar. Pendapat ini ada
benarnya juga, terutama jika kepintaran hanya
berhubungan dengan kemampuan akademik seperti membaca,
menulis dan berhitung. Tapi dalam kehidupan sehari-hari,
kepintaran bukan hanya sekedar membaca, menulis dan
berhitung, dan juga kemampuan akademis bukan
satu-satunya hal yang penting dan dibutuhkan. Ada hal
lain yang penting dan dibutuhkan, misalnya kemampuan
berkomunikasi, memahami cara pandang orang lain dan
bernegosiasi dengan orang. Hal-hal tersebut tidak bisa
didapatkan hanya dengan belajar. Perasaan senang,
menikmati, bebas memilih dan lepas dari segala beban
karena tidak punya target, juga tidak bisa didapatkan
dari kegiatan belajar.
|
| |
Ketika
bermain, anak berimajinasi dan mengeluarkan ide-ide yang
tersimpan di dalam dirinya. Anak mengekspresikan
pengetahuan yang dia miliki tentang dunia dan kemudian
juga sekaligus bisa mendapatkan pengetahuan baru, dan
semua dilakukan dengan cara yang menggembirakan hatinya.
Tidak hanya pengetahuan tentang dunia yang ada dalam
pikiran anak yang terekspresikan lewat bermain, tapi
juga hal-hal yang ia rasakan, ketakutan-ketakutan dan
kegembiraannya. Orangtua akan dapat semakin mengenal
anak dengan mengamati ketika anak bermain. Bahkan lewat
permainan (terutama bermain pura-pura/role-playing)
orangtua juga dapat menemukan kesan-kesan dan harapan
anak terhadap orangtuanya dan keluarganya. Bermain
pura-pura menggambarkan pemahamannya tentang dunia
dimana ia berada.
|
| |
Kreativitas
anak juga semakin berkembang lewat permainan, karena
ide-ide originallah yang keluar dari pikiran anak-anak,
walaupun kadang-kadang terasa abstrak bagi orangtua.
Mengingat bahwa
tidak hanya orangtua yang mengalami stres, anak-anak
juga bisa. Stres pada anak dapat disebabkan oleh beban
pelajaran sekolah dan rutinitas harian yang membosankan.
Bermain dapat membantu anak untuk lepas dari stres
kehidupan sehari-hari.
|
| |
Apa
yang Sebaiknya Dilakukan Orangtua ?
|
|
|
Apakah
anak perlu bermain? Tentu saja sudah jelas jawabannya
bahwa anak perlu bermain. Mungkin yang dikawatirkan
orangtua adalah kalau anak terlalu banyak bermain dan
tidak mau belajar. Kembali kepada ilustrasi awal, yang
perlu dipastikan adalah apakah anak masih punya waktu
bermain, setelah kegiatan belajar yang padat. Kalau
memang sebenarnya anak punya waktu bermain, lalu
berlanjut terus hingga tidak mau belajar, maka
masalahnya adalah bagaimana kita memotivasi anak agar
mau belajar.
|
|
|
Beberapa
hal yang sebaiknya dilakukan oleh orangtua untuk
membimbing anaknya dalam bermain sehingga benar-benar
berguna bagi anak tersebut, diantaranya adalah sebagai
berikut:
|
|
|
-
Pastikan
dalam jadwal kesibukan anak sehari-hari, masih
terdapat waktu luang yang cukup untuk anak bermain.
-
Sesekali
ikut bermain bersama anak, pahami dirinya,
kegembiraan, ketakutan dan kebutuhannya. Siapa tahu
setelah itu tidak lagi menjadi orangtua yang terlalu
ambisius.
-
Mendukung
kreativitas permainanan anak, sejauh apa yang
diperbuat anak dalam permainan bukanlah perbuatan
yang kurang ajar, tidak merugikan, tidak menyakiti
dan tidak membahayakan diri sendiri dan orang lain.
-
Membimbing
dan mengawasi anak dalam bermain, tapi tidak over-protective.
Anak mungkin tidak tahu kalau apa yang dilakukannya
dalam permainan adalah perbuatan yang salah, karena
itu mereka perlu dibimbing. Tapi jangan bersikap over-protective sampai menghalangi kebebasannya. Misalnya, kalau
anak bermain lari-larian dan pernah terjatuh adalah
wajar, jadi tidak perlu melarang anak bermain
lari-lari karena takut anak jatuh. Tapi kalau anak
mengebut ketika bermain sepeda, tentunya perlu
dilarang karena berbahaya.
|
|
|
Sekalipun
dunia bermain adalah dunia anak-anak, tapi anak
membutuhkan peran orangtua untuk dapat berada dalam
dunianya itu secara aman dan nyaman.
Dengan bermain, tidak hanya anak merasa senang
dan bahagia ketika melakukannya; tapi dengan bimbingan
yang tepat dari orangtua, potensi diri anak juga dapat
berkembang, anak dapat menjadi pintar lewat sarana
permainan. Anak senang dan orangtua bahagia. (jp)
|
| |
_____________________________
|
|