|
| |
Ketika
Anak Menonton
Televisi
|
| |
Oleh
Martina Rini S. Tasmin, SPsi.
|
| |
Jakarta,
18 April 2002
|
| |
|
| |
Pikiran Orangtua:
|
| |
Malu,
mau marah dan jantung rasanya mau copot ketika tiba-tiba
mendengar Edu berteriak "bajingan kau!!!".
Entah belajar darimana, tapi rasanya kok sebagai
orangtua tidak pernah mengatakan hal-hal kasar seperti
itu, pembantu di rumah juga tidak ada yang bicara
seperti itu, Wah jangan-jangan dari anak tetangga
sebelah rumah. Aaaaaah ternyata Edu mendengarnya di televisi.
Di televisi? Bukankah program tayangan Teletubbies
kesayangan Edu tidak ada bahasa kasar seperti itu?
Ooooooh ternyata Edu juga suka menonton telenovela
bersama nenek. Aduh.... kan tidak mungkin melarang nenek
menonton telenovela, jadi yang perlu dipikirkan sekarang
adalah bagaimana caranya supaya Edu tidak ikutan
menonton telenovela bersama nenek dan hanya menonton
acara anak-anak saja.
|
| |
|
| |
Pikiran Anak:
|
| |
Aduh,
Mama/Papa marah nih, gara-gara Edu tadi bilang "bajingan
kau!!!". Padahal kan Edu lihat ada om jagoan
ganteng di televisi bilang begitu, Edu cuman meniru saja
kok. Memangnya "bajingan kau" itu apa sih? Kata mama, itu
kata-kata kasar, memangnya kata-kata kasar itu apa sih?
Edu kan ingin seperti om jagoan ganteng di televisi itu,
banyak yang suka, banyak yang sayang, nenek dan mbak
saja tiap hari harus lihat om itu, mama juga kalau di
rumah lihat om itu. Tapi, Edu jadi bingung sama Mama dan
Papa, kalau Edu hafal cerita-cerita film yang ada di televisi,
Mama dan Papa bangga. Mama dan Papa sering bilang sama
om dan tante Edu: "wah Edu pintar loh, dia bisa
hafal semua cerita-cerita film televisi". Kalau
Edu hafal iklan-iklan di televisi Mama dan Papa juga
bangga, katanya Edu pintar, terus kalau Edu lagi
menirukan iklan televisi katanya Edu lucu dan
menggemaskan. Tapi kalau Edu nonton televisi
terus-terusan, Mama dan Papa marah, katanya Edu malas.
Padahal kalau nggak nonton kan nggak bisa hafal film dan
iklan yang di televisi. Aduuuuuuh Edu jadi bingung.
|
| |
|
|
|
Sebagai
orangtua, pernahkah anda mengalami situasi seperti di
atas? Kadang-kadang marah karena anak menirukan adegan
di televisi, tetapi seringkali juga memuji dan bangga
kalau anak hafal dengan cerita-cerita atau iklan-iklan
yang ada di televisi. Kalau dilihat sepintas sepertinya
ada standard ganda di sini, walaupun sebenarnya tidak.
Sebagai orangtua kita sudah tahu dengan pasti mana yang
pantas dan mana yang tidak, mana yang baik dan mana yang
buruk, sehingga kita bisa menetapkan mana program yang
boleh ditonton dan ditiru dan mana yang tidak. Orangtua
juga tahu kapan menonton televisi, kapan waktu belajar.
Tetapi apakah anak sudah tahu dengan pasti mengenai hal
baik dan buruk tersebut, apakah anak sudah mengetahui
program televisi mana saja yang diperbolehkan untuk
ditonton dan apakah anak sudah menyadari benar-benar
mengenai pembagian waktu? Anak mungkin bingung dan tidak
mengerti, ditambah lagi kalau standard yang ditetapkan
oleh orangtua berbeda dengan yang ditetapkan oleh
pengasuh (termasuk dalam pengasuh adalah suster,
kakek-nenek dan om-tante yang ikut serta dalam
pengasuhan sehari-hari). Nah, pertanyaan kita
kemudian adalah bagaimana orangtua menyikapi anak dalam
menonton televisi?
|
|
|
Darimana
Anak Meniru Adegan Kekerasan ?
|
|
|
Televisi,
si kotak ajaib yang keberadaanya sudah menjadi bagian
dalam kehidupan sehari-hari, seringkali menimbulkan
kecemasan bagi orangtua yang anaknya masih kecil. Cemas
kalau anak jadi malas belajar karena kebanyakan nonton televisi,
cemas kalau anak meniru kata-kata dan adegan-adegan
tertentu, cemas mata anak jadi rusak (minus), dan cemas
anak menjadi lebih agresif karena terpengaruh banyaknya
adegan kekerasan di televisi. Namun demikian harus
diakui bahwa kebutuhan untuk mendapatkan hiburan,
pengetahuan dan informasi secara mudah melalui televisi
juga tidak dapat dihindarkan. Televisi, selain selalu
tersedia dan amat mudah diakses, juga menyuguhkan banyak
sekali pilihan, ada sederet acara dari tiap stasiun televisi,
tinggal bagaimana pemirsa memilih acara yang dibutuhkan,
disukai dan sesuai dengan selera. Sehingga walaupun
semua orang mungkin sudah tahu akan dampak negatif
yang bisa ditimbulkannya, keberadaan televisi tetap saja
dipertahankan.
|
|
|
Kecemasan
orangtua terhadap dampak menonton televisi bagi
anak-anak memang sangat beralasan, mengingat bahwa
banyak penelitian menunjukkan televisi memang memiliki
banyak pengaruh baik negatif maupun positif. Misalnya
penelitian yang dilakukan Liebert dan Baron, menunjukkan
hasil: anak yang menonton program televisi yang
menampilkan adegan kekerasan memiliki keinginan lebih
untuk berbuat kekerasan terhadap anak lain, dibandingkan
dengan anak yang menonton program netral (tidak
mengandung unsur kekerasan).
|
|
|
Dalam
benak banyak orang dewasa, film-film kartun dan
film-film robot dianggap merupakan film anak-anak dan
cocok dikonsumsi oleh mereka karena format penyajiannya
disesuaikan dengan perkembangan anak-anak. Benarkah
demikian? Jawabnya tidak semua film-film tersebut cocok
dikonsumsi anak-anak. Contohnya Bart Simpson dan Crayon
Sinchan yang cukup populer di Indonesia, sebenarnya
tidak cocok untuk anak-anak, karena bercerita dalam
bahasa yang kasar dan tingkah laku urakan. Tetapi
diawal kemunculannya, orangtua membiarkan kedua film
tersebut ditonton oleh anak-anak karena format penyajian
dan jam tayangnya yang pas dengan waktu anak menonton
televisi. Setelah berjalan beberapa lama barulah
orangtua menyadari kalau tontonan tersebut tidak cocok
dan ramai-ramai mengajukan protes kepada stasiun
televisi. Akhirnya kemudian film tersebut diberi
keterangan bukan untuk konsumsi anak-anak.
|
|
|
Kalau
mau lebih teliti, sebenarnya banyak film "anak-anak"
yang justru menampilkan adegan kekerasan dan kata-kata
yang kasar (meski tidak sekasar film dewasa sih),
walaupun banyak juga terdapat adegan-adegan kebaikan (karena
biasanya film-film tersebut bercerita tentang
pertentangan antara kebaikan dan kejahatan). Contoh
film-film yang memiliki kedua unsur tersebut adalah film
Popeye the Sailor Man, Batman & Robin, Power Puff
Girls, Power Ranger dan Saras 008. Film-film
ini sangat populer di dalam dunia anak-anak kita
sehingga seringkali menjadi model yang ditiru oleh
anak-anak. Meskipun mengandung adegan kekerasan, namun
film-film ini sepertinya tidak menimbulkan kecemasan
bagi orangtua, karena para orangtua sampai sekarang merasa
aman meninggalkan anak-anak ketika menonton film-film
ini. Sementara itu kalau ada film dewasa, baik yang
menampilkan adegan kekerasan maupun tidak, anak-anak
seringkali tidak diperbolehkan menonton. Hal ini sudah
menunjukkan standard ganda yang diberikan orangtua
kepada anak. Adegan kekerasan dalam film dewasa tidak
boleh ditonton, tetapi adegan kekerasan dalam film
anak-anak boleh ditonton, jadi kekerasan boleh atau
tidak? Lalu apakah tidak ada kemungkinan bahwa
anak justru dapat juga meniru adegan kekerasan atau
kata-kata kasar yang ada dalam film-film tersebut karena
mereka melihat bahwa orangtua membiarkan mereka menonton
film tersebut dengan bebas?
|
|
|
Apa
yang Sebaiknya Dilakukan Orangtua ?
|
|
|
Mengingat
bahwa sangatlah sulit (bahkan tidak mungkin) bagi
orangtua untuk menjauhkan anak dari televisi, maka ada
baiknya orangtua melakukan beberapa hal sebagai berikut:
|
|
|
Dampingi
anak ketika menonton dan beri penjelasan
|
|
|
Sebenarnya
daripada orangtua tiba-tiba mengomel ataupun memuji anak,
hal pertama yang sebaiknya dilakukan adalah memberi
pengertian dan mendampingi anak ketika menonton televisi.
Jika anak bertanya jawablah pertanyaan tersebut dengan
rinci dan sesuai dengan perkembangan anak. Banyak hal
yang belum diketahui oleh seorang anak, oleh karena itu
kalau tidak ada yang memberi tahu ia akan mencari
sendiri dengan mencoba-coba dan meniru dari orang dewasa.
Apakah hasil percobaan maupun peniruannya benar atau
salah, anak mungkin tidak tahu. Di sinilah tugas
orangtua untuk selalu memberi pengertian kepada anak,
secara konsisten. Kebingungan anak karena standar ganda
yang diterapkan orangtua juga bisa teratasi kalau
orangtua memberi penjelasan kepada anak.
|
|
|
Buat
jadwal kegiatan anak
|
|
|
Anak
juga perlu diajarkan bahwa ada waktu tersendiri untuk
setiap kegiatan-kegiatannya. Atur waktu yang jelas,
kapan menonton televisi, kapan belajar dan kapan bermain.
Walaupun anak sudah relaks dengan menonton televisi,
anak tetap butuh waktu untuk bermain. Televisi
mengkondisikan anak menjadi pasif, hanya menerima dan
menyerap informasi dengan posisi tubuh yang juga pasif (cukup
dengan duduk), karena itu anak tetap perlu waktu untuk
bermain (terutama bermain dengan anak-anak lain) supaya mereka
tetap aktif dan mampu bersosialisasi. Mereka tetap butuh
waktu untuk berlari-larian, mengobrol dengan teman-teman
dan bermain dengan mainan. Pengaturan waktu bisa
mengkondisikan anak untuk selalu menonton televisi
dengan didampingi orangtua.
|
|
|
Seleksi
program tayangan televisi yang cocok untuk anak
|
|
|
Kalaupun
tidak sempat mendampingi anak, orangtua sebaiknya
menyeleksi program televisi mana yang benar-benar cocok
untuk anak. Sebelum anak diijinkan untuk menonton
program televisi tertentu, orangtua sudah mengetahui
program tersebut cocok atau tidak untuk anak, jadi
orangtua sudah pernah terlebih dulu menonton program
tersebut dan melakukan evaluasi. Jangan sampai terjadi
lagi kasus Crayon Sinchan. Untuk melakukan hal ini tentu
saja dibutuhkan kesabaran dan pengorbanan dari orangtua,
untuk sementara orangtua harus mengorbankan kesenangannya
sendiri menonton televisi demi mencari-cari dan
menyeleksi program televisi yang cocok untuk anak
tercinta.
|
|
|
Bangun
kerjasama dengan seluruh anggota keluarga
|
|
|
Bangunlah
kerjasama dengan seluruh anggota keluarga, karena kerja
sama dari seluruh anggota keluarga (termasuk pengasuh)
sangat diperlukan. Pastikan bahwa seluruh keluarga
memiliki pengertian yang sama mengenai anak dan masalah televisi
tersebut. Berikan pengertian kepada anggota keluarga
bahwa bagaimanapun juga mereka kadang-kadang harus
mengorbankan kesenangan mereka demi kebaikan sang anak.
Jangan sampai standard yang sudah diterapkan orangtua
terhadap anak, ternyata tidak diterapkan oleh anggota
keluarga lainnya ketika orangtua tidak ada
ditempat.
|
|
|
Konsisten
dalam bertindak
|
|
|
Orangtua
dan pengasuh perlu untuk selalu bertindak secara
konsisten dan tidak bosan-bosannya dalam memberikan
pengertian kepada anak, sehingga anak tahu dengan jelas
mana yang boleh mana yang tidak, mana yang baik dan mana
yang buruk. Oke.....semoga bermanfaat (jp)
|
| |
_____________________________
|
|