|
 |
|
| |
Fobia
Sekolah
|
| |
Oleh
Jacinta F. Rini
|
| |
Team
e-psikologi
|
| |
Jakarta,
10 Oktober 2002
|
| |
Aku
nggak mau sekolah....pokoknya
enggaaaaak !!! hari ini aku mau ikut Mama ke kantor aja..!
|
| |
Perutku
sakit, Maaaa....aku nggak enak badan...jadi hari ini aku
boleh nggak usah masuk sekolah, yaaaa..!
|
| |
Adek
mau main di rumah saja, Ma....please.....Adek takut sama
Bu Guru...soalnya Bu Guru galak sekali, Adek takut
dimarahi sama Bu Guru.....boleh ya Ma....boleh ya.....
|
| |
Pokoknya
aku nggak mau ke
sekolah...aku nggak suka sekolah....aku mau di rumah
ajaaaa !!
|
| |
Kalimat-kalimat
diatas mungkin tidak asing di telinga kita ketika
menghadapi anak yang tiba-tiba mogok sekolah. Beberapa
alasan tersebut memang seringkali dikemukakan oleh
anak-anak ketika mereka tidak ingin pergi ke sekolah.
Tidak jarang orangtua hanya bisa terdiam dan termenung
bahkan bingung ketika mendengar kata-kata tersebut
diucapkan oleh anak tercintanya.
|
| |
Banyak
orangtua yang bingung menghadapi perubahan sikap anaknya
yang tiba-tiba mogok tidak mau sekolah dengan berbagai
alasan, mulai dari sakit perut, sakit kepala, sakit kaki
dan seribu alasan lainnya.
Bagi orangtua yang anaknya masih kecil,
pemogokkan ini tentu bikin pusing karena menimbulkan
kebingungan apakah alasan tersebut benar atau hanya
dibuat-buat. Orangtua menjadi bingung: memaksa anak
untuk tetap berangkat sekolah takut nanti anaknya
menjadi stress; atau kalau ternyata benar apa yang
dikemukakan anak, lantas bagaimana harus bersikap?
Sementara itu problem yang hampir sama dialami orangtua
yang bingung menghadapi penolakan anaknya yang sudah
waktunya bersekolah tapi masih saja belum mau masuk
sekolah.
Menghadapi
kenyataan dan kondisi di atas, apa yang sebaiknya
dilakukan orangtua agar kendali pendidikan dan
pengasuhan anak tetap berada di pundak mereka sehingga
tidak terjadi hal-hal negatif yang dapat merugikan
perkembangan fisik dan mental anak di masa yang akan
datang. Dalam artikel ini saya mencoba untuk mengulas
apa yang dimaksud dengan fobia sekolah (mogok atau tidak
mau ke sekolah), apa faktor penyebabnya dan bagaimana
orangtua harus menyiasati kondisi ini.
|
| |
Apakah
Fobia Sekolah?
|
| |
Fobia
sekolah adalah bentuk kecemasan yang tinggi terhadap
sekolah yang biasanya disertai dengan berbagai keluhan
yang tidak pernah muncul atau pun hilang ketika “masa
keberangkatan” sudah lewat, atau hari Minggu / libur.
Fobia sekolah dapat sewaktu-waktu dialami oleh setiap
anak hingga usianya 14-15 tahun, saat dirinya mulai
bersekolah di sekolah baru atau menghadapi lingkungan
baru atau pun ketika ia menghadapai suatu pengalaman
yang tidak menyenangkan di sekolahnya.
|
| |
Tingkatan
dan Jenis Penolakan Terhadap Sekolah
|
| |
Para
ahli menunjuk adanya beberapa tingkatan school
refusal, mulai dari yang ringan hingga yang berat (fobia),
yaitu :
|
| |
1.
|
Initial
school refusal behavior
|
| |
|
adalah
sikap menolak sekolah yang berlangsung dalam waktu yang
sangat singkat (seketika/tiba-tiba) yang berakhir dengan
sendirinya tanpa perlu penanganan.
|
| |
2.
|
Substantial
school refusal behavior
|
| |
|
adalah
sikap penolakan yang berlangsung selama minimal 2 minggu.
|
| |
3.
|
Acute
school refusal behavior
|
| |
|
adalah
sikap penolakan yang bisa berlangsung 2 minggu hingga 1
tahun, dan selama itu anak mengalami masalah setiap kali
hendak berangkat sekolah
|
| |
4.
|
Chronic
school refusal behavior
|
| |
|
adalah
sikap penolakan yang berlangsung lebih dari setahun,
bahkan selama anak tersebut bersekolah di tempat itu.
|
| |
Tanda-tanda
Fobia Sekolah
|
| |
Ada
beberapa tanda yang dapat dijadikan sebagai kriteria
fobia sekolah atau pun school refusal, yaitu:
-
Menolak
untuk berangkat ke sekolah.
-
Mau
datang ke sekolah, tetapi tidak lama kemudian minta
pulang
-
Pergi
ke sekolah dengan menangis, menempel terus dengan
mama/papa atau pengasuhnya, atau menunjukkan
“tantrum”-nya seperti menjerit-jerit di kelas,
agresif terhadap anak lainnya (memukul, menggigit,
dsb) atau pun menunjukkan sikap-sikap melawan/menentang
gurunya.
-
Menunjukkan
ekspresi/raut wajah sedemikian rupa untuk meminta
belas kasih guru agar diijinkan pulang – dan ini
berlangsung selama periode tertentu.
-
Tidak
masuk sekolah selama beberapa hari.
-
Keluhan
fisik yang sering dijadikan alasan seperti sakit
perut, sakit kepala, pusing, mual, muntah-muntah,
diare, gatal-gatal, gemetaran, keringatan, atau
keluhan lainnya. Anak berharap dengan mengemukakan
alasan sakit, maka ia diperbolehkan tinggal di rumah.
-
Mengemukakan
keluhan lain (di luar keluhan fisik) dengan tujuan
tidak usah berangkat ke sekolah.
|
| |
Waktu
Berlangsungnya Fobia Sekolah
|
| |
Berapa
lama waktu berlangsungnya fobia sekolah amat tergantung
pada penanganan yang dilakukan oleh orangtua. Makin lama
anak dibiarkan tidak masuk sekolah (tidak mendapat
penanganan apapun), makin lama problem itu akan selesai
dan makin sering / intens keluhan yang dilontarkan anak.
Namun, makin cepat ditangani, problem biasanya akan
berangsur-angsur pulih dalam waktu sekitar 1 atau 2
minggu.
|
| |
Faktor
Penyebab
|
| |
Ada
beberapa penyebab yang membuat anak seringkali menjadi
mogok sekolah. orangtua perlu bersikap hati-hati dan
bijaksana dalam menyikapi sikap pemogokan itu, agar
dapat memberikan penanganan yang benar-benar tepat.
Alangkah baiknya, jika orangtua mau bersikap terbuka
dalam mempelajari dan mencari semua kemungkinan yang
bisa terjadi. Konsultasi dengan guru di sekolah, sharing
dengan sesama orangtua murid, diskusi dengan anak,
konsultasi dengan konselor/psikolog, (kalau perlu)
memeriksakan anak ke paramedis/dokter sesuai keluhan
yang dikemukakannya, hingga introspeksi diri – adalah
metode yang tepat untuk mendapatkan gambaran penyebab
dari fobia sekolah anak. Berhati-hatilah untuk membuat
diagnosa secara subyektif, didasarkan pada pendapat
pribadi diri sendiri atau keluhan anak semata. Di bawah
ini ada beberapa penyebab fobia sekolah dan school
refusal :
|
| |
1.
|
Separation
Anxiety
|
| |
|
Separation
anxiety pada umumnya
dialami anak-anak kecil usia balita (18 – 24
bulan). Kecemasan itu sebenarnya adalah fenomena yang
normal. Anak yang lebih besar pun (preschooler, TK
hingga awal SD) tidak luput dari separation anxiety.
Bagi mereka, sekolah berarti pergi dari rumah untuk
jangka waktu yang cukup lama. Mereka tidak hanya akan
merasa rindu terhadap orangtua, rumah, atau pun
mainannya – tapi mereka pun cemas menghadapi tantangan,
pengalaman baru dan tekanan-tekanan yang dijumpai di
luar rumah.
Separation
anxiety bisa saja dialami anak-anak yang berasal
dari keluarga harmonis, hangat dan akrab yang amat dekat
hubungannya dengan orangtua – singkat kata, tidak ada
masalah dengan orangtua. Orangtua mereka adalah orangtua
yang baik dan peduli pada anak, dan mempunyai kelekatan
yang baik. Namun tetap saja anak cemas pada saat sekolah
tiba. Tanpa orangtua pahami, anak-anak sering
mencemaskan orangtuanya. Mereka takut kalau-kalau orangtua
mereka diculik, atau diserang monster atau mengalami
kecelakaan sementara mereka tidak berada di dekat orangtua.
Ketakutan itu tidak dibuat-buat, namun merupakan
fenomena yang biasa hinggap pada anak-anak usia batita
dan balita. Oleh sebab itu, mereka tidak ingin berpisah
dari orangtua dan malah lengket-nempel terus pada mama-papanya.
Peningkatan kecemasan menimbulkan rasa tidak nyaman pada
tubuh mereka, dan ini lah yang sering dikeluhkan (perut
sakit, mual, pusing, dsb).
Sejalan dengan perkembangan kognisi anak,
ketakutan dan kecemasan yang bersifat irrasional itu
akan memudar dengan sendirinya karena anak mulai bisa
berpikir logis dan realistis.
Separation
anxiety bisa muncul kala anak selesai menjalani masa
liburan panjang atau pun mengalami sakit serius hingga
tidak bisa masuk sekolah dalam jangka waktu yang panjang.
Selama di rumah atau liburan, kuantitas kedekatan dan
interaksi antara orangtua dengan anak tentu saja lebih
tinggi dari pada ketika masa sekolah. Situasi demikian,
sudah tentu membuat anak nyaman dan aman. Pada waktu
sekolah tiba, anak harus menghadapi ketidakpastian yang
menimbulkan rasa cemas dan takut. Namun, dengan
berjalannya waktu, anak yang memiliki rasa percaya diri,
dapat perlahan-lahan beradaptasi dengan situasi sekolah.
Peneliti
berpendapat, anak yang mempunyai rasa percaya diri yang
rendah, berpotensi menjadi anak yang anxiety
prone-children (anak yang memiliki kecenderungan
mudah cemas) dan cenderung mudah mengalami depresi.
Banyak orangtua yang tidak sadar bahwa sikap dan pola
asuh yang diterapkan pada anak ikut menyumbang
terbentuknya dependency (ketergantungan),
rasa kurang percaya diri dan kekhawatiran yang
berlebihan. Contohnya, sikap orangtua yang overprotective
terhadap anak hingga tidak menumbuhkan rasa percaya diri
keberanian dan kemandirian. Anak tidak pernah
diperbolehkan, dibiarkan atau didorong untuk berani
mandiri. Orangtua takut kalau-kalau anaknya kelelahan,
terluka, jatuh, tersesat, sakit, dan berbagai alasan
lainnya. Anak selalu berada dalam proteksi, pelayanan
dan pengawalan melekat dari orangtua. Akibatnya, anak
akan tumbuh menjadi anak manja, selalu tergantung pada
pelayanan dan bantuan orangtua, penakut, cengeng, dan
tidak mampu memecahkan persoalannya sendiri. Banyak orangtua
yang tanpa sadar membuat pola ketergantungan ini
berlangsung terus-menerus agar mereka merasa selalu
dibutuhkan (berarti, berguna) dan sekaligus menjadikan
anak sebagai teman “abadi”. Padahal, dibalik
ketergantungan sang anak terhadap orangtua, tersimpan
kebutuhan dan ketergantungan orangtua pada
“pengakuan” sang anak. Akibatnya, keduanya tidak
dapat memisahkan diri saat anak harus mandiri dan sulit
bertumbuh menjadi individu yang dewasa.
|
| |
2.
|
Pengalaman
Negatif di Sekolah atau Lingkungan
|
| |
|
Mungkin saja anak menolak ke sekolah
karena dirinya kesal, takut dan malu setelah mendapat
cemoohan, ejekan atau pun di”ganggu” teman-temannya
di sekolah. Atau anak merasa malu karena tidak cantik,
tidak kaya, gendut, kurus, hitam, atau takut gagal dan
mendapat nilai buruk di sekolah. Di samping itu,
persepsi terhadap keberadaan guru yang galak, pilih
kasih, atau “seram” membuat anak jadi takut dan
cemas menghadapi guru dan mata pelajarannya.
Atau, ada hal lain yang membuatnya cemas, seperti
mobil jemputan yang tidak nyaman karena ngebut,
perjalanan yang panjang dan melelahkan, takut pergi
sendiri ke sekolah, takut sekolah setelah mendengar
cerita seram di sekolah, takut menyeberang jalan, takut
bertemu seseorang yang “menyeramkan” di perjalanan,
takut diperas oleh kawanan anak nakal, atau takut
melewati jalan yang sepi. Para ahli mengatakan, bahwa
masalah-masalah tersebut sudah dapat menimbulkan stress
dan kecemasan yang membuat anak menjadi moody,
tegang, resah, dan mulai merengek tidak mau sekolah,
ketika mulai mendekati waktu keberangkatan.
Masalahnya,
tidak semua anak bisa menceritakan ketakutannya itu
karena mereka sendiri terkadang masih sulit memahami,
mengekspresikan dan memformulasikan perasaannya. Belum
lagi jika mereka takut dimarahi orangtua karena dianggap
alasannya itu mengada-ada dan tidak masuk akal. Dengan
sibuknya orangtua, sementara anak-anak lebih banyak
diurus oleh baby sitter atau mbak, makin membuat
anak sulit menyalurkan perasaannya; dan akhirnya yang
tampak adalah mogok sekolah, agresif, pemurung,
kehilangan nafsu makan, keluhan-keluhan fisik, dan
tanda-tanda lain seperti yang telah disebutkan di atas
|
| |
3.
|
Problem
Dalam Keluarga
|
| |
|
Penolakan
terhadap sekolah bisa disebabkan oleh problem yang
sedang dialami oleh orangtua atau pun keluarga secara
keseluruhan. Misalnya, anak sering mendengar atau bahkan
melihat pertengkaran yang terjadi antara papa-mamanya,
tentu menimbulkan tekanan emosional yang mengganggu
konsentrasi belajar. Anak merasa ikut bertanggung jawab
atas kesedihan yang dialami orangtuanya, dan ingin
melindungi, entah mamanya – atau papanya. Sakitnya
salah seorang anggota keluarga, entah orangtua atau
kakak/adik, juga dapat membuat anak enggan pergi ke
sekolah. Anak takut jika terjadi sesuatu dengan
keluarganya yang sakit ketika ia tidak ada di rumah.
|
| |
Penanganan
|
| |
Ada
beberapa cara yang dapat dilakukan orangtua dalam
menangani masalah fobia sekolah atau pun school refusal.
|
| |
1.
|
Tetap
menekankan pentingnya bersekolah
|
| |
|
Para
ahli pendidikan dan psikolog berpendapat bahwa terapi
terbaik untuk anak yang mengalami fobia sekolah adalah
dengan mengharuskannya tetap bersekolah setiap hari (the
best therapy for school phobia is to be in school every
day). Karena rasa takut harus diatasi dengan cara
menghadapinya secara langsung. Menurut para ahli
tersebut, keharusan untuk mau tidak mau setiap hari
masuk sekolah, malah menjadi obat yang paling cepat
mengatasi masalah fobia sekolah, karena lambat laun
keluhannya akan makin berkurang hari demi hari. Makin
lama dia “diijinkan” tidak masuk sekolah, akan makin
sulit mengembalikannya lagi ke sekolah, dan bahkan
keluhannya akan makin intens dan meningkat. Selain itu,
dengan mengijinkannya absen dari sekolah, anak akan
makin ketinggalan pelajaran, serta makin sulit
menyesuaikan diri dengan teman-temannya.
Kemungkinan
besar anak akan coba-coba bernegosiasi dengan orangtua,
untuk menguji ketegasan dan konsistensi orangtua. Jika
ternyata pada suatu hari orangtua akhirnya “luluh”,
maka keesokkan harinya anak akan mengulang pola yang
sama. Tetaplah bersikap hangat, penuh pengertian, namun
tegas dan bijaksana sambil menenangkan anak bahwa semua
akan lebih baik setibanya dia di sekolah.
|
| |
2.
|
Berusahalah
untuk tegas dan konsisten dalam bereaksi terhadap
keluhan, rengekan, tantrum atau pun rajukan anak yang
tidak mau sekolah.
|
| |
|
Entah
karena pusing mendengar suara anak atau karena amat
mengkhawatirkan kesehatan anak, orangtua seringkali
meluluskan permintaan anak. Tindakan ini tentu tidak
sepenuhnya benar. Jika ketika bangun pagi anak segar
bugar dan bisa berlari-lari keliling rumah atau pun
sarapan pagi dengan baik, namun pada saat mau berangkat
sekolah, tiba-tiba mogok – maka sebaiknya orangtua
tidak melayani sikap “negosiasi” anak dan langsung
mengantarnya ke sekolah. Satu hal penting untuk diingat
adalah hindari sikap menjanjikan hadiah jika anak mau
berangkat ke sekolah, karena hal ini akan menjadi pola
kebiasaan yang tidak baik (hanya mau sekolah jika diberi
hadiah). Anak tidak akan mempunyai kesadaran sendiri
kenapa dirinya harus sekolah dan terbiasa memanipulasi orangtua/lingkungannya.
Anak jadi tahu bagaimana taktik atau strategi yang jitu
dalam mengupayakan agar keinginannya terlaksana.
Jika
sampai terlambat, anak tetap harus berangkat ke sekolah
– kalau perlu ditemani/ diantar orangtua. Demikian
juga jika sesampai di sekolah anak minta pulang, maka orangtua
harus tegas dan bekerja sama dengan pihak guru untuk
menenangkan anak agar akhirnya anak merasa nyaman
kembali. Jika anak menjerit, menangis, ngamuk,
marah-marah atau bertingkah laku aneh-aneh lainnya, orangtua
hendaknya sabar. Ajaklah anak ke tempat yang tenang dan
bicaralah baik-baik hingga kecemasan dan ketakutannya
berkurang/hilang; dan sesudah itu bawalah anak kembali
ke kelasnya. Situasi ini dialami secara berbeda antara
satu orang dengan yang lain, tergantung dari kemampuan orangtua
menenangkan dan mendekatkan diri pada anak. Namun jika orangtua
mengalami kesulitan dalam menghadapi sikap anaknya,
mintalah bantuan pada guru atau sesama orangtua murid
lainnya yang dikenal cukup dekat oleh anak. Terkadang,
keberadaan mereka justru membuat anak lebih bisa
mengendalikan diri.
|
| |
3.
|
Konsultasikan
masalah kesehatan anak pada dokter
|
| |
|
Jika
orangtua tidak yakin akan kesehatan anak, bawalah segera
ke dokter untuk mendapatkan kepastian tentang ada/tidaknya
problem kesehatan anak. orangtua tentu lebih peka
terhadap keadaan anaknya setiap hari; perubahan sekecil
apapun biasanya akan mudah dideteksi orangtua. Jadi,
ketika anak mengeluhkan sesuatu pada tubuhnya (pusing,
mual, dsb), orangtua dapat membawanya ke dokter yang
buka praktek di pagi hari agar setelah itu anak tetap
dapat
kembali ke sekolah. Selain itu, dokter pun dapat
membantu orangtua memberikan diagnosa, apakah keluhan
anak merupakan pertanda dari adanya stress terhadap
sekolah, atau kah karena penyakit lainnya yang perlu
ditangani secara seksama
|
| |
4.
|
Bekerjasama
dengan guru kelas atau
asisten lain di sekolah
|
| |
|
Pada
umumnya para guru sudah biasa menangani masalah fobia
sekolah atau pun school refusal (terutama
guru-guru preschool hingga TK). Hampir setiap
musim sekolah tiba, ada saja murid yang mogok sekolah
atau menangis terus tidak mau ditinggal orangtuanya atau
bahkan minta pulang. Orangtua bisa minta bantuan pihak
guru atau pun school assistant untuk menenangkan
anak dengan cara-cara seperti membawanya ke perpustakaan,
mengajak anak beristirahat sejenak di tempat yang tenang,
atau pada anak yang lebih besar, guru dapat
mendiskusikan masalah yang sedang memberati anak. Guru
yang bijaksana, tentu bersedia memberikan perhatian
ekstra terhadap anak yang mogok untuk mengembalikan
kestabilan emosi sambil membantu anak mengatasi
persoalan yang dihadapi – yang membuatnya cemas,
gelisah dan takut. Selain itu, berdiskusi dengan guru
untuk meneliti faktor penyebab di sekolah (misalnya
diejek teman, dipukul, dsb) adalah langkah yang
bermanfaat dalam upaya memahami situasi yang biasa
dihadapi anak setiap hari.
|
| |
5.
|
Luangkan
waktu untuk berdiskusi/berbicara dengan anak
|
| |
|
Luangkan
waktu yang intensif dan tidak tergesa-gesa untuk dapat
mendiskusikan apa yang membuat anak takut, cemas atau
enggan pergi ke sekolah. Hindarkan sikap mendesak atau
bahkan tidak mempercayai kata-kata anak. Cara ini hanya
akan membuat anak makin tertutup pada orangtua hingga
masalahnya tidak bisa terbuka dan tuntas. Orangtua perlu
menyatakan kesediaan untuk mendampingi dan membantu anak
mengatasi kecemasannya terhadap sesuatu, termasuk jika
masalah bersumber dari dalam rumah tangga sendiri.
Orangtua perlu introspeksi diri dan kalau perlu merubah
sikap demi memperbaiki keadaan dalam rumah tangga.
Orangtua
pun dapat mengajarkan cara-cara atau strategi yang bisa
anak gunakan dalam menghadapi situasi yang menakutkannya.
Lebih baik membekali anak dengan strategi pemecahan
masalah daripada mendorongnya untuk menghindari problem,
karena anak akan makin tergantung pada orangtua, makin
tidak percaya diri, makin penakut, dan tidak termotivasi
untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.
|
| |
6.
|
Lepaskan
anak secara bertahap
|
| |
|
Pengalaman
pertama bersekolah tentu mendatangkan kecemasan bagi
anak, terlebih karena ia harus berada di lingkungan baru
yang masih asing baginya dan tidak dapat ia kendalikan
sebagaimana di rumah. Tidak heran banyak anak menangis
sampai menjerit-jerit ketika diantar mamanya ke sekolah.
Pada kasus seperti ini, orangtua perlu memberikan
kesempatan pada anak menyesuaikan diri dengan lingkungan
baru-nya. Pada beberapa sekolah, orangtua/pengasuh
diperbolehkan berada di dalam kelas hingga 1-2 minggu
atau sampai batas waktu yang telah ditentukan pihak
sekolah. Lepaskan anak secara bertahap, misalnya pada
hari-hari pertama, orangtua berada di dalam kelas dan
lama kelamaan bergeser sedikit-demi sedikit di luar
kelas namun masih dalam jangkauan penglihatan anak. Jika
anak sudah bisa merasa nyaman dengan lingkungan baru dan
tampak “happy” dengan teman-temannya – maka
sudah waktunya bagi orangtua untuk meninggalkannya di
kelas dan sudah waktunya pula bagi orangtua untuk tidak
lagi bersikap overprotective, demi menumbuhkan
rasa percaya diri pada anak dan kemandirian.
|
| |
7.
|
Konsultasikan
pada psikolog/konselor jika masalah terjadi
berlarut-larut
|
| |
|
Jika
anak tidak dapat mengatasi fobia sekolahnya hingga
jangka waktu yang panjang, hal ini menandakan adanya
problem psikologis yang perlu ditangani secara
proporsional oleh ahlinya. Apalagi, jika fobia sekolah
ini sampai mengakibatkan anak ketinggalan pelajaran,
prestasinya menurun dan hambatan penyesuaian diri yang
serius – maka secepat mungkin persoalan ini segera
dituntaskan. Psikolog/konselor akan membantu menemukan
pokok persoalan yang mendasari ketakutan, kecemasan anak,
sekaligus menemukan elemen lain yang tidak terpikirkan
oleh keluarga – namun justru timbul dari dalam
keluarga sendiri (misalnya takut dapat nilai jelek
karena takut dimarahi oleh papanya). Untuk itulah
konselor/psikolog umumnya menghendaki keterlibatan
secara aktif dari pihak orangtua dalam menangani masalah
yang dihadapi anaknya. Jadi, orangtua pun harus belajar
mengenali siapa dirinya dan menilai bagaimana perannya
sebagai orangtua melalui masalah-masalah yang timbul
dalam diri anak.
|
| |
Jadi,
persoalan mogok sekolah seyogyanya bukanlah masalah yang
serius (kecuali ada masalah kesehatan serius). Namun
jika dibiarkan berlarut-larut dapat benar-benar menjadi
masalah serius. Semoga berguna. (jp)
|
| |
_____________________________
|
|