| |
Problem
Kelekatan
|
| |
|
| |
Oleh
Jacinta F. Rini
|
| |
Team
e-psikologi
|
| |
Jakarta,
1 April 2002
|
| |
|
| |
Setiap mulainya tahun
ajaran baru, banyak orangtua sibuk mendorong sang
batita dan balita agar segera masuk sekolah. Ternyata
masalah tidak berakhir setelah niat – nya kesampaian,
karena sang batita dan balita kok malah rewel
dan nangis terus....pengasuhnya harus kelihatan
olehnya..kalau tidak, bisa panik.... Ada pula yang
ngadat nggak mau sekolah ...Ada pula yang susah
menyesuaikan diri dengan lingkungannya, mojok terus dan
membisu, kalau didekati guru malah ketakutan.....Sementara
itu, ada pula orangtua yang pusing karena mendapat
laporan guru kalau anaknya suka memukuli teman di kelas.....
|
| |
|
| |
Problem
tersebut banyak dialami oleh anak-anak terutama pada
saat mereka menghadapi situasi, lingkungan atau orang
baru. Berbagai sikap dan perilaku aneh kemudian muncul
sebagai reaksi terhadap ketidaknyamanan yang
dirasakannya. Namun demikian, tidak setiap anak
mengalaminya karena ada pula yang mudah menyesuaikan
diri dengan lingkungannya dan bahkan bisa menjalin
komunikasi yang interaktif dengan teman-teman serta
gurunya. Sebenarnya, keberadaan problem tersebut bisa
menjadi pertanda adanya masalah psikologis yang harus
dicermati oleh orangtua agar bisa diketahui faktor
penyebab dan strategi yang bisa dilakukan untuk
menanganinya agar problem ini tidak sampai
berlarut-larut dan mengganggu perkembangan psikologis
dan kemampuan sosial sang anak.
|
| |
|
| |
Berawal
dari Pola Hubungan Orangtua-Anak
|
| |
|
| |
Dari
kaca mata psikologi, banyak masalah yang dialami
anak-anak antara lain bersumber dari pola hubungan yang
buruk antara orangtua dengan anak atau penyebab lain
yang akan dibahas kemudian. Dalam artikel ini akan
dibahas seputar pentingnya kelekatan hubungan yang
positif antara anak dengan orangtua dan pengaruhnya
bagi perkembangan psikologis sang anak.
|
| |
|
| |
Apakah yang disebut kelekatan ?
|
| |
|
| |
Banyak orang takut jika
kelekatan antara bayi dengan ibunya bisa membuat anak
jadi “bau tangan”, manja, dan cengeng sehingga
muncul nasehat-nasehat seperti :
|
| |
kalau
anak menangis, biarkan saja...tidak usah ditanggapi...nanti
juga diam sendiri...dia cuma minta perhatian...Latihlah
disiplin...mereka sekali-sekali harus dikerasi supaya
tidak manja....Jangan sering-sering memeluk anak, nanti
dia bisa menjajah orangtuanya....Jangan sering-sering
mencium anak, nanti dia jadi manja...Bayi jangan
sering-sering dipeluk atau digendong.....taruh saja di
tempat tidur biar tidak bau tangan.....
|
| |
|
|
|
Begitulah
nasehat-nasehat yang sering diperdengarkan pada calon
ibu atau ibu-ibu muda kita. Nasehat tersebut kerap kali
membuat mereka jadi bingung karena
pada prakteknya sering mengalami konflik batin, antara
keinginan untuk memberi perhatian penuh dengan
kekhawatiran kelak anak jadi manja atau tidak tahu diri.
|
|
|
|
|
|
Para
ahli psikologi perkembangan dewasa ini makin menilai
secara kritis pentingnya kelekatan (positif) antara anak
dengan orangtua. Kelekatan adalah sebuah proses
berkembangnya ikatan emosional secara resiprokal (timbal
balik) antara bayi/anak dengan pengasuh (orangtua).
Kelekatan yang baik
dan sehat dialami seorang bayi yang menerima
kasih sayang yang stabil dari kehadiran orangtua yang
konsisten; sehingga bayi atau anak dapat merasakan
sentuhan hangat, gerakan lembut, kontak mata yang penuh
kasih dan senyuman orangtua.
|
|
|
|
|
|
Apakah manfaat dari
hubungan kelekatan antara anak-orangtua ?
|
| |
|
|
|
Rasa
percaya diri
|
|
|
Perhatian dan kasih
sayang orangtua yang stabil, menumbuhkan keyakinan
bahwa dirinya berharga bagi orang lain. Jaminan adanya
perhatian orangtua yang stabil, membuat anak belajar
percaya pada orang lain.
|
|
|
Kemampuan membina
hubungan yang hangat
|
|
|
Hubungan yang diperoleh
anak dari orangtua, menjadi pelajaran baginya untuk
kelak diterapkan dalam kehidupannya setelah dewasa.
Kelekatan yang hangat, menjadi tolok ukur dalam
membentuk hubungan dengan teman hidup dan sesamanya.
Namun hubungan yang buruk, menjadi pengalaman
traumatis baginya sehingga menghalangi kemampuan
membina hubungan yang stabil dan harmonis dengan orang
lain.
|
|
|
Mengasihi sesama dan
peduli pada orang lain
|
|
|
Anak yang tumbuh dalam
hubungan kelekatan yang hangat, akan memiliki
sensitivitas atau kepekaan yang tinggi terhadap
kebutuhan sekitarnya. Dia mempunyai kepedulian yang
tinggi dan kebutuhan untuk membantu kesusahan orang
lain
|
|
|
Disiplin
|
|
|
Kelekatan hubungan dengan
anak, membuat orangtua dapat memahami anak sehingga
lebih mudah memberikan arahan secara lebih
proporsional, empatik, penuh kesabaran dan pengertian
yang dalam. Anak juga akan belajar mengembangkan
kesadaran diri, dari sikap orangtua yang menghargai
anak. Sikap menghukum hanya akan menyakiti harga diri
anak dan tidak mendorong kesadaran diri. Anak patuh
karena takut.
|
|
|
Pertumbuhan
intelektual dan psikologis
|
|
|
Bentuk
kelekatan yang terjalin, kelak mempengaruhi
pertumbuhan fisik, intelektual dan kognitif serta
perkembangan psikologis anak.
|
| |
|
| |
Faktor
Penyebab Gangguan Kelekatan Pada Anak
|
| |
|
| |
Banyak
faktor yang menyebabkan seorang anak tidak mendapatkan
kelekatan kasih sayang yang tulus, hangat dan konsisten
dari kedua orangtuanya. Dan menurut ahi psikologi
perkembangan, hingga usia 2 tahun adalah masa paling
kritis. Erik Erikson, seorang bapak perkembangan
berpendapat, masalah yang terjadi dalam masa-masa
tersebut berpotensi mengganggu proses perkembangan
psikologis yang sehat.
|
| |
|
| |
Perpisahan yang tiba-tiba
antara anak dengan orangtua/pengasuh
|
| |
Perpisahan traumatik bagi
seorang anak bisa berupa : kematian orangtua, orangtua
dirawat di rumah sakit dalam jangka waktu lama,
atau anak yang harus hidup tanpa orangtua karena
sebab-sebab lain
|
| |
Penyiksaan emosional (dan
pengabaian), penyiksaan fisik atau pun penyiksaan
seksual
|
| |
Setiap
anak rentan terhadap penyiksaan emosional maupun fisik
dari orangtua/pengasuh sebagai bagian dari
pola asuh dan interaksi sehari-hari (lihat artikel: Penyiksaaan
& Pengabaian Terhadap Anak). Sistem pendidikan
tradisional yang seringkali menggunakan cara hukuman (baik
fisik maupun emosional) untuk mendidik dan
mendisiplinkan anak. orangtua sering bersikap menjaga
jarak dan bahkan ada yang membangun image
“menakutkan” agar anak hormat dan patuh pada
mereka. Padahal cara ini malah membuat tumbuh menjadi
pribadi yang penakut, mudah berkecil hati dan tidak
percaya diri. Anak akan merasa bukan siapa-siapa atau
tidak bisa berbuat apa-apa tanpa orangtua.
Sementara
itu, penyiksaan seksual tidak mustahil terjadi pada
anak, yang dilakukan oleh orang dewasa di sekitarnya,
entah itu orangtua maupun anggota keluarga atau pihak
lain. Hal ini kemungkinan terjadi karena orang
tersebut mengalami problem psikologis yang menyebabkan
dirinya mengalami hambatan pengendalian dorongan
seksual.
|
| |
Pengasuhan yang tidak
stabil
|
| |
Pengasuhan yang
melibatkan terlalu banyak orang, bergantian, tidak
menetap oleh satu/dua orangtua, menyebabkan
ketidakstabilan yang dirasakan anak, baik dalam hal
“ukuran” cinta kasih, perhatian, kelekatan dan
kepekaan respon terhadap kebutuhan anak. Anak jadi
sulit membangun kelekatan emosional yang stabil karena
pengasuhnya selalu berganti-ganti tiap waktu. Situasi
ini kelak mempengaruhi kemampuannya menyesuaikan diri
karena anak cenderung mudah cemas dan kurang percaya
diri (merasa kurang ada dukungan emosional).
|
| |
Sering
berpindah tempat/domisili
|
| |
Seringnya berpindah
tempat membuat proses penyesuaian diri anak menjadi
lebih sulit, terutama bagi seorang batita atau balita.
Situasi ini akan menjadi lebih berat baginya jika orangtua
tidak memberikan rasa aman dengan
mendampingi mereka dan mau mengerti atas sikap/perilaku
anak-anak yang mungkin saja jadi “aneh” akibat
dari rasa tidak nyaman saat harus menghadapi orang
baru. Tanpa kelekatan yang stabil, reaksi negatif anak
(yang sebenarnya normal) akhirnya menjadi bagian dari
pola tingkah laku yang sulit diatasi
|
| |
Ketidakkonsistenan
cara pengasuhan
|
| |
Banyak
orangtua yang
tidak konsisten dalam mendidik anak. Misalnya, pada
suatu saat orangtua menghukum anak dengan sangat
keras, tapi di lain waktu (mungkin karena merasa
bersalah) memenuhi semua keinginan anak (misal
membelikan mainan mahal). Ketiadaan kepastian sikap orangtua, membuat anak sulit membangun kelekatan
tidak hanya secara emosional tetapi juga secara fisik.
Sikap orangtua yang tidak dapat diprediksi, membuat
anak bingung, tidak yakin dan sulit mempercayai (dan
patuh) pada orangtua.
|
| |
Problem psikologis yang
dialami orangtua
|
| |
orangtua
yang mengalami
problem emosional atau psikologis sudah tentu membawa
pengaruh yang kurang menguntungkan bagi anak. Hambatan
psikologis, misalnya gangguan jiwa, depresi atau
problem stress yang sedang dialami orangtua tidak
hanya membuat anak tidak bisa berkomunikasi dan ngobrol
enak dengan orangtua, tapi membuat orangtua kurang
peka terhadap kebutuhan dan masalah anak. Bahkan, orangtua
sering terlalu sensitif dan emosional,
menjadi lebih pemarah dan kurang sabar menanggapi
perilaku anak-anak. Tidak jarang anak dimarahi atau
dipukul, disiksa, atau diberi perlakuan yang sangat
tidak proporsional dibandingkan dengan “kenakalan”
yang dilakukan. Tindakan tersebut beresiko
menghancurkan harga diri seorang anak.
|
| |
Problem neurologis/syaraf
|
| |
Ada kalanya, gangguan
syaraf yang dialami anak bisa mempengaruhi proses
persepsi atau pemrosesan informasi anak tersebut,
sehingga ia tidak dapat merasakan adanya perhatian
yang diarahkan padanya. Contohnya, ada kasus seorang
bayi yang rewel terus dan restless karena dalam
tubuhnya terdapat unsur cocaine, atau zat addictive
yang sudah mempengaruhi pertumbuhan struktur syaraf
otak sejak masa konsepsi (pembentukan jaringan).
Problem ini bisa disebabkan masalah alkoholisme atau
obat-obatan yang biasa dikonsumsi orangtua sebelum
dan selama masa kehamilan; atau karena efek samping
obat-obatan yang harus diminum anak akibat penyakit
yang sedang dideritanya.
|
| |
|
| |
Dampak
Problem Kelekatan
|
| |
|
|
|
Anak-anak
yang kebutuhan emosionalnya tidak terpenuhi akibat
problem kelekatan yang dialami, berpotensi mengalami masalah
intelektual, masalah emosional dan masalah
moral dan sosial di kemudian hari.
|
|
|
|
|
|
Masalah
Intelektual
|
|
|
1.
Mempengaruhi
kemampuan pikir seperti halnya memahami proses
“sebab-akibat”
|
|
|
Ketidakstabilan atau ketidakkonsistenan sikap
orangtua, mempersulit anak
melihat hubungan sebab-akibat dari perilakunya dengan
sikap orangtua yang diterimanya. Dampaknya akan meluas
pada kemampuannya dalam memahami kejadian atau
peristiwa-peristiwa lain yang dialami sehari-hari.
Akibatnya, anak jadi sulit belajar dari kesalahan yang
pernah dibuatnya.
|
|
|
2. Kesulitan
belajar
|
|
|
Kurangnya kelekatan dengan
orangtua, membuat anak lamban dalam memahami
baik itu instruksi maupun pola-pola yang seharusnya bisa
dipelajari dari perlakuan orangtua terhadapnya atau
kebiasaan yang dilihat/dirasakannya.
|
|
|
3.
Sulit
mengendalikan dorongan
|
|
|
Kebutuhan emosional yang tidak perpenuhi, membuat anak sulit menemukan
kepuasan atas situasi / perlakuan yang diterimanya,
meski bersifat positif. Ia akan terdorong untuk selalu
mencari dan mendapatkan perhatian orang lain. Untuk itu,
ia berusaha sekuat tenaga, dengan caranya sendiri untuk
mendapatkan jaminan bahwa dirinya bisa mendapatkan apa
yang diinginkan.
|
|
|
|
|
|
Masalah
Emosional
|
|
|
1. Gangguan bicara
|
|
|
Menurut sebuah hasil
penelitian, problem kelekatan yang dialami anak sejak
usia dini, dapat mempengaruhi kemampuan bicaranya. Dalam
dunia psikologi, hingga usia 2 tahun dikatakan sebagai
masa oral, dimana seorang anak mendapat kepuasan melalui
mulut (menghisap – mengunyah makanan dan minuman).
Oleh sebab itu lah proses menyusui menurut para ahli
merupakan proses yang amat penting untuk membangun rasa
aman yang didapat dari pelukan dan kehangatan tubuh sang
ibu. Ada kemungkinan anak yang mengalami hambatan pada
masa ini akan mengalami kesulitan atau keterlambatan
bicara.
Memang, secara psikologis
anak yang merasakan ketidaknyamanan akan kurang percaya
diri dalam mengungkapkan keinginannya. Atau, kurangnya
kelekatan tersebut membuat anak berpikir bahwa orangtua tidak mau memperhatikannya sehingga ia lebih banyak
menahan diri. Akibatnya, anak jadi tidak terbiasa
mengungkapkan diri, berbicara atau mengekspresikan diri
lewat kata-katanya. Ada pula penelitian yang mengatakan,
bahwa melalui komunikasi yang hangat seorang ibu
terhadap bayinya, lebih memacu perkembangan kemampuan
bicara anak karena si anak terpacu untuk merespon
kata-kata ibunya.
|
|
|
2.
Gangguan pola makan
|
|
|
Ada banyak
orangtua yang
kurang responsif / kurang tanggap terhadap tangisan
bayinya. Mereka takut jika terlalu menuruti tangisan
bayinya, kelak ia akan jadi anak manja dan menjajah orangtua. Padahal, tangisan seorang bayi adalah suatu
cara untuk mengkomunikasikan adanya kebutuhan seperti
halnya rasa lapar atau haus. Ketidakkonsistenan orangtua
dalam menanggapi kebutuhan fisiologis anak, akan
ikut mengacaukan proses metabolisme dan pola makan anak.
|
|
|
3.
Perkembangan konsep diri
yang negatif
|
|
|
Ketiadaan perhatian
orangtua, sering mendorong anak membangun image
bahwa dirinya mandiri dan mampu hidup tanpa bantuan
siapa pun. Image itu berusaha keras ditampilkan
untuk menutupi kenyataan yang sebenarnya. Padahal, dalam
dirinya tersimpan ketakutan, rasa kecewa, marah, sakit
hati terhadap orangtua, sementara ia juga menyimpan
persepsi yang buruk terhadap diri sendiri. Ia merasa
tidak diperhatikan, merasa disingkirkan, merasa tidak
berharga sehingga orangtua tidak mau mendekat padanya (dan,
memang ia juga merasa tidak ingin didekati)
Tanpa sadar semua
perasaan itu diekspresikan melalui tingkah laku yang
aneh-aneh, yang orang menyebutnya “nakal”,
“liar”, “menyimpang”. Mereka juga terlihat suka
menuntut secara berlebihan, suka mencari perhatian
dengan cara-cara yang negatif, sangat tergantung, tidak
bisa memperhatikan orang lain (tapi menuntut perhatian
untuk dirinya), sulit mencintai dan menerima cinta dari
orang lain.
|
|
|
|
|
|
Masalah
Emosional
|
|
|
Anak
akan sulit melihat mana yang baik dan tidak, yang boleh
dan tidak boleh, yang penting dan kurang penting, dari
keberadaan orangtua yang juga tidak bisa menjamin ada
tiadanya, yang tidak dapat memberikan patokan moral dan
norma karena mereka mengalami kesulitan dengan dirinya
sendiri, kesulitan dalam memenuhi kebutuhan emosional
mereka sendiri, kesulitan dalam mengendalikan dorongan
mereka sendiri. Akibatnya, anak hanya meniru apa yang
dilihatnya dari orangtua dan mencari cara agar tidak
sampai terkena hukuman berat.
Tidak
jarang anak-anak tersebut memunculkan sikap dan tindakan
seperti : suka berbohong (yang sudah tidak wajar),
mencuri (karena ingin mendapatkan keinginannya), suka
merusak dan menyakiti (baik diri sendiri maupun orang
lain), kejam, dan menurut sebuah penelitian, mereka
cenderung tertarik pada darah, api dan benda tajam.
|
|
|
|
| |
Bagaimana
Membangun Kelekatan yang Baik Dengan Anak ?
|
| |
|
| |
Kesiapan
mental untuk menjadi orangtua
|
| |
Memiliki anak membawa implikasi yang luas, tidak hanya merubah peran dari
suami / istri, menjadi seorang ayah / ibu. Ada
komitmen dan tanggung jawab yang harus disadari dan
dijalankan. Oleh sebab itu, perlu “hati dan pikiran”
yang tenang untuk menjalani proses menjadi orangtua.
Hati dan pikiran yang tenang, akan menciptakan rasa
nyaman pada janin yang sedang dikandung; dan, jangan
lupa bahwa ketenangan dan kesiapan hati tersebut
mendorong keseimbangan hormon yang mendukung
proses kehamilan yang sehat. Selain itu, kesiapan
mental juga merupakan suatu kondisi yang diperlukan
terutama untuk menghindari konflik dan ketegangan yang
bisa muncul di antara suami-istri akibat perubahan
yang terjadi. Kesiapan tersebut membuat masing-masing
sadar dan berusaha menahan diri untuk tidak saling
menyakiti, karena dilandasi kesadaran, bahwa kedua nya
saling membutuhkan untuk saling menguatkan.
|
| |
Ciptakan
komunikasi yang hangat sejak dini
|
| |
Berkomunikasi dengan anak
tidak dimulai sejak anak lahir, melainkan sejak ia
dalam kandungan. Sejak itu proses kelekatan pun
dimulai. Berbicaralah padanya meski ia masih belum
tampak secara lahiriah. Sapa lah dia, bernyanyilah
untuknya dan pelihara/pertahankan
kestabilan emosi. Sudah banyak penelitian yang
menyatakan bahwa seorang anak bisa memahami apa yang
terjadi dalam diri sang ibu meski ia belum lahir. Hal
itu bisa dibuktikan dari munculnya kecenderungan
tertentu yang ada pada anak, misalnya pencemas, super
sensitif atau pemarah – dihubungkan dengan persoalan
yang sedang dihadapi sang ibu pada masa dan pasca
kehamilannya.
|
| |
Upayakan
program menyusui
|
| |
Proses menyusui, bukan hanya sekedar memberikan ASI yang berkualitas. Namun
menyusui merupakan proses yang melibatkan dua belah
pihak, bahkan tiga belah pihak : suami – istri dan
anak. Kegiatan menyusui merupakan moment yang
sangat ideal untuk membangun kontak batin yang erat,
melalui kelekatan fisik dan kontak mata yang intensif.
Proses ini membutuhkan “hati” yang tenang dan
penuh kasih, karena produksi ASI akan terpengaruh oleh
faktor fisik dan emosional. Oleh sebab itu, perlu
kerja sama yang baik dan sikap saling memahami serta
saling menghargai antara suami-istri agar segala
persoalan yang terjadi bisa diselesaikan dengan baik
tanpa menyebabkan ketegangan dan tekanan emosional
yang mengganggu hubungan dengan anak.
|
| |
Tanggapilah tangisan bayi
/ anak secara positif
|
| |
Banyak
orangtua yang
menganggap bahwa tidak baik selalu menanggapi tangisan
bayi, karena bayi perlu dilatih untuk tidak menjadi
manja dan supaya jantungnya kuat. Memang, pada
beberapa kasus pemikiran tersebut bisa diikuti, tapi
tidak selamanya. Karena, hanya melalui menangis–lah
seorang bayi dapat mengkomunikasikan ketakutannya,
kelaparannya, kehausannya, keinginannya akan
kehangatan, keinginannya untuk dibelai, rasa tidak
enak badan, kedinginan, kepanasan dan rasa tidak enak
yang lain. Jangan lupa, bayi adalah makhluk paling
tidak berdaya dan tidak berdosa, tidak punya maksud
buruk. Jadi, tangisannya adalah murni muncul dari
kebutuhannya. Bayangkan, jika orangtua menunda respon
terhadap ketakutannya, maka bayi akan merasa frustrasi.
Dari situ lah ia juga belajar, bahwa orangtuanya
tidak bisa memberikan jaminan akan kasih sayang, bahwa
dirinya tidak terlalu berharga untuk diperhatikan
kebutuhannya.
|
| |
Upayakan kebersamaan
dalam keluarga inti
|
| |
Jaman sekarang, banyak
keluarga yang menggunakan jasa baby sitter untuk
mengasuh anak. Ironisnya, ada beberapa ibu rumah
tangga yang tidak bekerja, tidak mempunyai kegiatan
apapun kecuali arisan, ke salon dan shopping,
mempunyai banyak asisten dan pembantu – namun
anaknya sepenuhnya diurus oleh baby sitter. Tidaklah
mengherankan jika kelak antara dia dengan anaknya
tidak terlihat suatu kelekatan yang positif karena
anaknya lebih nempel dengan ‘suster-nya.
Situasi ini tidak mendorong proses perkembangan
psikologis dan identitas yang sehat. Anak tetap
melihat dirinya diabaikan oleh ibunya sementara sang
ibu memperhatikan anak melalui berbagai barang dan
mainan yang dibeli atau pun uang jajan yang berlebihan.
|
| |
|
| |
Kelekatan yang positif,
membutuhkan kerja sama setiap angota keluarga. Ciptakan
waktu kebersamaan yang konsisten, dipenuhi perasaan
tenang, senang dan santai. Jika bepergian bersama, (dan
jika memungkinkan), berlatihlah sejak dini untuk tidak menyertakan sang suster – agar anak terbiasa berada
bersama dan dekat orangtua, agar anak lebih dapat
belajar dan berkomunikasi dengan orangtua, agar anak
bisa merasakan senangnya jalan-jalan dengan
‘mama-papa. Sementara itu, orangtua juga belajar dari
anaknya, dan melihat hasil didikannya selama ini melalui
sikap dan perilaku anak. Dengan demikian, orangtua bisa
memahami perilakunya sendiri, mana yang perlu diubah dan
mana yang perlu ditingkatkan. (jp)
|
| |
_____________________________
|