|
|
 |
Setiap
Orang Butuh Bimbingan
|
|
Oleh: Ubaydillah,
AN
|
|
|
Jakarta, 28 April 2004 |
|
Di
zaman mudanya, konon Ronggowarsito yang punya nama asli
Bagus Burham itu dikenal seorang anak muda dari kelas
sosial atas yang nakalnya minta ampun. Karena nakal itulah
sang ayah mengirim Ronggo didampingi seorang emban Ki
Tanujoyo ke seorang tokoh masyarakat berpengaruh pada
zaman itu, yaitu Kyai Imam Besari, di daerah Tegalsari
Ponorogo Jawa Timur untuk berguru. Setelah beberapa bulan
di situ, ternyata Ronggowarsito tidak banyak berubah
bahkan uang 500 real untuk modal belajar dan dua kudanya
dijual untuk judi.
Ki
Tanujoyo dinilai terlalu lemah oleh Kyai Imam Besari yang
selalu meng-iya-kan keinginan Ronggowarsito. Akhirnya
mereka secara diam-diam meninggalkan Tegalsari menuju
tempat yang jauh. Mendengar berita ini ayah Ronggowarsito
memohon agar Kyai Imam Besar ikut membantu mencari dimana
Ronggowarsito berada. Sampai akhirnya ditemukan dan dibawa
lagi ke Tegalsari, saat itulah Kyai Imam Besar konon marah
besar kepada Ronggo yang punya tabiat tidak baik di
samping prestasi akademiknya jatuh.
Setelah
dimarahi-langsung oleh Sang Kyai, Ronggowarsito mulai
berubah bahkan konon sampai membuat banyak orang kagum
atas sedemikian dahsyat perkembangan intelektual /
prestasi akademik yang dicapai. Itulah bagian awal
perjalanan Ronggowarsito menjadi seorang pujangga, pejabat
keraton, intelektual, dan bahkan dalam sejarahnya banyak
murid-murid Ronggowarsito yang datang dari luar negeri
yang bisa disebut nama-namanya antara lain: C.F Winter,
Jonas Portier, CH Dowing atau Jansen dan lain-lain.
Ada
kemungkinan besar sekali bahwa dalam praktek hidup, proses
yang terjadi tidaklah se-otomatik seperti yang tertulis di
dalam naskah di mana ada orang yang langsung berubah
setelah dimarahi atau ditegur orang lain. Dalam kenyataan,
proses belajar dan berubah ini ibaratnya proses tarik-ulur
tambang kesadaran yang berkali-kali. Sudah pasti tidak
semua orang punya cita-cita atau perjalanan hidup seperti
Ronggowarsito atau Soekarno yang berguru pada Cokroaminoto
atau tokoh-tokoh sekarang yang dulunya adalah murid khusus
M. Natsir, namun kalau tradisi ini malah bermanfaat bagi
perkembangan dan kemajuan diri kita, mengapa tidak
dilakukan saja? Apakah kebutuhan untuk berguru terhadap pembimbing pribadi
ini tidak bisa dipenuhi dari pendidikan formal yang sudah
ada? Pada bagian tertentu jelas sudah bisa dipenuhi
tetapi hal mendasar yang mesti kita sadari tentang
pendidikan formal / non-formal adalah sistemnya yang sudah
sejak awal dirancang untuk kebutuhan orang banyak
(generic) dan sudah dipatok harus memenuhi
kebenaran-metodelogis tertentu yang sudah dilegalkan. Di
sisi lain meskipun kita sebagai manusia memiliki kesamaan
tetapi secara pribadi kita memiliki keunikan tersendiri
yang membutuhkan model sentuhan yang berbeda.
|
|
Manfaat
belajar dari pembimbing pribadi
Mengapa kita membutuhkan pembimbing pribadi ? ada
beberapa alasan yang dapat kita lihat bersama:
|
|
|
a. |
Belajar dari kesalahan masa lalu
|
|
|
|
Satu dari sekian alasan mengapa kita butuh pembimbing
pribadi adalah bahwa pengalaman dan wawasan mereka,
merupakan pelajaran amat bernilai, dalam mengantisipasi
terulangnya kesalahan yang mungkin akan kita lakukan, jika
kita tidak belajar dari kesalahan atau kegagalan mereka.
Namun dalam praktek hidup sehari-hari menunjukkan sebuah
kebiasaan bahwa amat jarang orang mau membagikan sesuatu
yang berharga bagi dirinya, apalagi jika hanya sekedar
“kenal” dan “tahu sama tahu”walaupun orang itu secara
struktural menjadi atasan kita dan setiap hari bertemu.
Dalam pekerjaan (di kantor) sehari-hari, ada fakta umum
yang mudah kita temukan bahwa sebanyak apapun pengetahuan
kita tentang pekerjaan tertentu, namun ketika sampai pada
pelaksanaannya, tetap saja ada hal-hal tertentu yang belum
kita ketahui. Sebaliknya, sesederhana apapun pekerjaan
yang kita lakukan, tetapi jika dikerjakan dengan sepenuh
hati dan dengan segenap kreativitas demi mencapai hasil
yang terbaik, maka kita seringkali menemukan pengetahuan
dan pemahaman baru (insight and understanding, knowledge
and awareness).
Kenyataan demikian mengkonfirmasi pernyataan Bruce Lee
bahwa hidup ini adalah sebuah sekolah. Kita perlu selalu
berada dalam keadaan belajar, karena sekolah kehidupan
terlebih dahulu memberikan ujian-ujian, baru kemudian
materi pelajarannya. Oleh karena itu, “sharing knowledge”,
saling berbagi pengalaman satu orang dengan yang lain,
akan memperkaya diri kita dengan berbagai materi dan
pengalaman hidup orang lain sehingga kita bisa belajar
mengantisipasi kesalahan dan kegagalan yang mungkin bisa
terjadi dalam proses belajar menunju kemajuan.
|
|
|
|
b. |
Merobohkan tembok mental dan persepsi diri
yang keliru |
|
|
|
Setiap orang cenderung pernah memiliki mispersepsi
terhadap diri sendiri (misperception about self).
Perasaan tidak mampu, tidak sanggup atau tidak bisa,
belum tentu benar-benar disebabkan tiadanya kemampuan
actual / kemampuan riil. Persepsi negative yang membuat
kita ragu pada diri sendiri, tanpa disadari menjadi
sebuah tembok, yang membatasi kemampuan, kesempatan dan
kemajuan kita sendiri. Mahatma Gandhi mengatakan, orang
tidak akan bisa mengalahkan tantangan di luar dirinya,
sebelum mengalahkan tantangan (merobohkan tembok mental)
di dalam dirinya.
Dalam seni kehidupan, faktor mental, fisik dan
ketrampilan (skill) – ketiganya memiliki pengaruh yang
signifikan, karena kalau yang satu terganggu maka yang
lain biasanya ikut terganggu. Pernyataan Henry Ford
yang terkenal “Baik anda berpikir bisa dan tidak bisa,
keduanya benar.” Berpikir tidak bisa akan membuat kita
benar-benar tidak bisa (tidak mampu) meskipun pada
hakekatnya kita punya kemampuan untuk bisa. Pengalaman
Greg Phillips yang menggeluti bidang SDM juga
berkesimpulan senada bahwa awal kemampuan seseorang
meraih prestasi itu adalah kekuatan mental yang positif
di mana seseorang meyakini kemampuannya lebih besar
dibanding tantangan hidup yang dihadapi. Persepsi keliru terhadap diri sendiri, yang menghalangi
pertumbuhan dan keberhasilan diri, membuat peran guru
pembimbing menjadi amat berarti bagi kita.
Jim Rohn dari
pengalamannya menggeluti bidang SDM menyimpulkan bahwa
“man not lack of capacity but lack of teaching.” Banyak
hal yang semula kita simpulkan tidak bisa tetapi karena
kita diajari oleh orang lain yang lebih dahulu menguasai
dan menggeluti masalah itu, akhirnya kita mampu
menjalaninya dengan baik. Kita sudah melihat kendala
yang dialami pembimbing dan belajar dari kesalahan dan
kebangkitan mereka – hingga dalam diri kita bisa tumbuh
keyakinan, bahwa kita sendiri sesungguhnya mampu. Dan
keyakinan ini lah yang akhirnya membuat kita benar-benar
mencapai keberhasilan.
|
|
|
c. |
Meneguhkan keyakinan diri |
|
|
|
Dalam praktek hidup banyak sekali yang membuktikan bahwa
semua yang diciptakan Tuhan di dalam diri kita tidak
main-main, alias sebuah materi yang kalau disentuh dengan
pemberdayaan akan berguna bagi kita, termasuk misalnya
saja rasa malu atau rasa takut. Padahal, keduanya kalau
dibiarkan jelas bisa menghambat keinginan kita untuk maju.
Tetapi kalau diberdayakan (baca: diolah menjadi energi
positif), rasa malu bisa menjadi semacam pil penguat
stamina mempertahankan komitmen pada usaha meraih
keinginan.
Kebutuhan kita terhadap guru pembimbing diperlukan untuk
membuat kita memahami diri sendiri (emosi dan persepsi)
dan mengendalikan diri – atas dasar pemahaman yang lebih
dalam terhadap diri sendiri. Sebab, kita seringkali masih
perlu diingatkan bahwa emosi dan persepsi yang tidak tepat,
dapat membuat kita bereaksi secara tidak tepat dan
akhirnya menghambat kita melakukan tindakan yang positif,
tepat dan sehat. Kita sering ragu dan takut melakukan
sesuatu, hanya karena dikuasai ketakutan dan keraguan.
Sebaliknya, ada pula yang tidak berpikir dalam dan panjang
– tanpa pertimbangan dan emosional sehingga dapat
melakukan tindakan nekat atau berbahaya. Untuk itu,
keberadaan guru pembimbing menjadi sangat penting. Pepatah
mengatakan: manusia sebenarnya tidak membutuhkan
pengetahuan sebanyak kebutuhannya terhadap terhadap
bimbingan dan peringatan / arahan.
|
|
|
Bagaimana proses belajar yang efektif?
|
|
|
Siapa saja yang bisa kita jadikan guru pembimbing ?
Sesungguhnya, semua orang yang menurut kita memiliki
nilai diri yang berkualitas dan pengalaman yang kompleks
(baik pengalaman sukses maupun gagal), atau mereka yang
terlebih dahulu berprestasi, dapat menjadi pembimbing
kita. Sayangnya, keberadaan mereka di sekeliling kita
pun tidak menjamin keberhasilan kita bertumbuh dan
berkembang. Hal ini bukan disebabkan ketidakmauan sang
pembimbing, namun bisa disebabkan ketidaktahuan diri
sendiri akan apa yang benar-benar kita perlu pelajari
dalam hidup ini. Untuk memahami apa yang menjadi
kebutuhan belajar kita, ada beberapa cara yang bisa
dilakukan: |
|
|
1. |
Mempelajari nilai dan prinsip utama yang dituntut oleh
profesi dan pekerjaan |
|
|
|
Kita harus memahami nilai dan prinsip kerja yang
diperuntukkan bagi kita, sesuai bidang kerja dan jabatan
yang kita emban saat ini. Meminjam istilah Gardon Dryden
& Dr. Jeannette Vos (Learning Revolution: 1999) isu
besar itu dapat pula kita artikan dengan “prinsip utama”
yang mengatur suatu pekerjaan. Prinsip dan nilai
tersebut akan berbeda antara satu pekerjaan / peran
dengan yang lainnya, dan berbeda industri – akan berbeda
pula nilai serta prinsipnya. Oleh sebab itu, belajarlah
dari pembimbing yang dapat membuat kita bercermin dan
menemukan, apa yang masih harus kita lengkapi dan
kembangkan, atau bahkan diubah – sesuai dengan tuntutan
situasi kondisi kerja saat itu. Dari pembimbing, kita
pun belajar bagaimana menghadapi masalah-masalah yang
secara spesifik cenderung muncul dalam proses kerja
sehari-hari. Kita harus mempelajari, prinsip dan nilai
apakah yang perlu dipertahankan dan diperjuangkan,
sehingga kita bisa survive dan sukses dalam bekerja.
|
|
|
2.
|
Menetapkan batasan
(setting boundaries and priorities)
|
|
|
|
Menentukan batasan-batasan yang harus kita ketahui dan
pelajari, baik secara konseptual maupun praktek, agar
kita dapat tahu apa yang diperlukan untuk mampu
beradaptasi terhadap tuntutan pekerjaan (memfokuskan
diri pada prioritas utama di dalam ruang lingkup
pekerjaan, sehingga apa yang kita pelajari dan lakukan,
lebih pasti, jelas dan relevan – bermanfaat bagi
prestasi dan karir) |
|
|
3.
|
Menentukan siapa
pembimbing yang tepat
|
|
|
|
Menentukan orang-orang tertentu yang menurut kita bisa
memberikan informasi akurat berdasarkan pengetahuan dan
pengalamannya (pembimbing pribadi). Ibarat dalam perang,
mendapatkan informasi dari sumber terpercaya diakui oleh
Sun Tzu sebagai aset yang menentukan keberhasilan.
Setelah itu, berusahalah menemukan dan menggunakan cara
belajar yang paling sesuai dengan karakteristik sang
guru pembimbing. Merujuk cara Einstein atau Dale
Carnegie, bahwa sebagian dari prinsip utama berguru itu
sesungguhnya dilakukan dengan memunculkan sebanyak
mungkin tanda tanya di dalam diri murid - untuk kemudian
sang murid lah yang harus mencari jawabannya sendiri.
Atau, mengajukan pertanyaan dengan cara yang dikehendaki
oleh guru dan lebih banyak menggunakan telinga untuk
mendengarkan, karena mendengarkan adalah cara yang
paling efektif untuk menarik perhatian sang guru.
|
|
|
4.
|
Belajar sendiri - Learning by doing
|
|
|
|
Mengolah dan menjalankan sendiri – bukan menjiplak atau
mengikuti secara mentah-mentah. Mengolah dan menjalankan
sendiri setiap prosesnya, adalah dua faktor yang menurut
pendapat Gib Atkin, membedakan knower dengan learner.
Knower berarti, hanya sebatas tahu saja dan pengetahuan
itu pun dipamahami sebagai sebuah konsep. Namun, learner
adalah orang yang menjadikan pengetahuan sebagai
kekuatan dan penggerak untuk menciptakan definisi diri
serta berbagai penemuan yang baru (new person, new
experiences, new discoveries). |
|
|
Kalau kita sampai hari ini belum menemukan guru manusia
yang sesuai, maka guru yang terdekat dan paling mudah
ditemui adalah dengan membaca buku dan mempraktekkannya,
baik di lingkungan kerja maupun di dimensi lain dalam
kehidupan. Dengan demikian, kita selalu memperbaharui
dan mengembangkan self-knowledge, atau pemahaman diri,
sehingga akhirnya, setiap hari kita menjadi orang baru.
Semoga bermanfaat!(Jr) |
| |
_____________________________
|
|